
Para murid yang ditinggal di sekolah hanya bisa terdiam dan duduk seperti orang bodoh. Mereka tidak tahu apa yang seharusnya mereka lakukan di sini. Tidak ada yang bisa mereka di sini.
"Ah! Kenapa kita ada di sini dan harus melihat banyak patung es?!" Moka yang dari tadi duduk di atas batu seketika berdiri dengan memaki langit.
"Memangnya apa yang bisa kita lakukan sekarang? Di sana ada monster yang bisa melahap keabadian kalian!" Astra berjalan ke arah Moka sambil menunjuk ke arah guru-guru itu keluar dengan mobilnya.
"Ta-tapi..."
"Tapi apa?"
"Setidaknya beri kami sesuatu apa kek! Masa iya kita disuruh diam bengong di sini selagi tidak tahu apakah mereka selamat atau tidak?!"
"Kita bisa bebaskan mereka?!"
Astra menunjuk ke arah patung-patung es yang ada di sekitar mereka.
"Tidak, itu malah akan membuat masalah baru buat mereka(guru) dan kita."
"Kalau begitu bisa berhenti mengeluh! Aku sebenarnya juga mau menghajar gurumu itu sampai hancur! Tapi lihat! Kita hanyalah murid yang tidak berdaya di sini!"
Kalimat fakta itu menusuk hati Moka sampai menembusnya keluar.
Dia seketika terdiam dan tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Arghhh!" Moka kesal dan berteriak kembali, dan setelah semua emosinya dikeluarkan. Dia kembali duduk di atas batu seperti tadi.
Dia menoleh ke arah lain, dan menangkap sesuatu yang tidak biasa di dekat gerbang keluar sekolah.
"Gita, apa yang kau lakuakan di sana?" Tanya Moka dari kejauhan.
"Oh?" Mendengar panggilan itu, Gita memasukkan benda kecil yang baru dia dapatkan dari sana.
Dia berjalan mendekati merekdua berdua dengan memasang senyum bodoh. "Tidak ada yang spesial, hanya menghilangkan jenuh."
"Eh..."
"Kau tidak sedang melakukan yang aneh-aneh, kan?"
"Tentu saja tidak! Kau memikirkan apa emangnya?"
"Bukan apa-apa!" Pipinya memerah karena memikirkan yang tidak-tidak.
Apa yang Gita ambil adalah apa yang pesanan yang baru saja dia dapat dari atasannya tadi. Benda itu adalah Pageblug model terbaru yang memiliki dua data senjata di dalamnya. Makanya itu, dia tidak bisa begitu saja memberi tahu pada temannya dengan apa yang dia dapat.
"Sudahlah, daripada kita berdebat, ayo kita melakukan sesuatu yang sedikit... Membawa kesenangan." Gita mencoba mengalihkan perhatian mereka ke sesuatu yang lain.
Ini juga tidak ada salahnya, mereka tidak melakukan apa-apa sejak tadi.
"Hakam! Apakah kau mau ikut?!"
Gita memanggil Hakam yang ada jauh dari mereka.
Dia melihati langit yang memancarkan panas di tengah salju yang dingin. Pikirannya terbang ke tempat lain, ke tempat yang mungkin dia anggap penting.
Apakah adikku selamat? Dia memikirkan nasib adiknya.
Apakah dia berhasil dievakuasi, atau berakhir menjadi batu sama seperti yang lainnya. Dia tidak tahu sama sekali, namun dia hanya bisa lega karena tahu es ini tidak akan membunuhnya. Yang menjadi sumber ketakutannya hanyalah apakah adiknya akan mengalami trauma apa tidak. Trauma menjadi satu-satunya hal yang paling menakutkan di sini.
*buk!
"Hah?!"
Dia terkejut karena sebuah tangan tiba-tiba menyentuh bahunya dari belakang.
Saat berbalik, Hakam melihat wajah temannya yang selalu bertingkah konyol seperti biasa.
"Gita?"
"Mau main?" Ucap Gita sambil tetap tersenyum.
__ADS_1
"Main?" Hakam memiringkan kepalanya dengan rasa penuh bingung.
"Ya, sebuah permainan..." Saat Gita mengatakan itu, entah mengapa Hakam tiba-tiba merasakan hawa dingin yang bercampur merinding. "...Nama permainannya adalah... 'Kabur! Ada anjing penurut pemerintahan!'" Dengan senyuman menakutkan, Gita seketika mengaktifkan Pageblugnya dan mengubahnya menjadi sebuah pisau.
Merasakan bahaya, Hakam seketika mundur dengan sihir cahayanya.
"Oh, miss rupanya!" Gita tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya.
Wajahnya yang tersenyum memperlihatkan dia seperti sedang bermain-main dalam serangan tadi. Namun, saat mata Hakam terkunci dengan sesuatu yang ada di belakang temannya itu.
Dia seketika terkejut, matanya berbinar takut dan marah. Di belakangnya ada dua tubuh yang terbaring pingsan karena luka tusukan di leher.
"Gita, apa yang kau lakukan pada Moka dan Astra?!" Hakam bertanya meskipun dia tahu itu tidaklah perlu.
Dia seketika mengaktifkan pageblugnya dan memegang erat halberdnya.
Dia tidak mau ada waktu yang terbuang, jika sampai Astra saja terkecoh dengan Gita, apalagi dirinya. Begitulah pikirnya.
"Kau mau menyerangku dengan senjatamu yang lambat itu?"
"Setidaknya aku tidak selambat yang kau kira!"
Meskipun diejek, namun Hakam tetap waspada pada lawannya. Dia memperkuat cengkramannya pada senjatanya dan bersiap dengan serangan yang akan tiba-tiba muncul.
"Sayang sekali, sepertinya kau akan kehilangan kesempatanmu!"
Dengan ejekan yang ringan, Gita memperlihatkan senjatanya yang berubah bentuk. Sama seperti milik Haran di Penilaian Guru saat itu, senjata Gita berubah menjadi bentuk lain, M4a1 senjata kebanggan para tentara.
Tanpa membuang banyak waktu, Hakam seketika mengaktifkan sigir cahayanya dan berlari ke balik Gita.
Sebuah halberd yang panjang diayunkan dari jauh dan mengincar leher lawannya.
Gita yang tahu arahnya serangan langsung berbalik dan menghindar ke belakang.
Saat berada dalam posisi itu, dia mengangkat senjatanya dan menembakkannya.
*dor *dor *dor!
Kini dia berada sedikit jauh dari Gita, dia sekali lagi mengayunkan halberd-nya dari jauh dan membuat sebuah hembusan angin yang kuat.
*Wush!
Hembusan itu mengarah ke Gita, namun dia belum kehabisan akal.
Gita seketika mengeluarkan sihir kegelapan dan membuat angin yang mengarah ke arahnya menjadi miliknya.
Sekarang di sekitar dirinya ada sebuha asap hitam yang akan melambatkan gerakan musuhnya.
"Tch!" Kesalahan telah dibuat Hakam, kini dia tidak bisa menggunakan serangan cahayanya untuk mendekat.
"Sepertinya ini adalah kemenanganku!" Dengan perlahan, Gita mengangkat senapannya dan bersiap menembak ke arah kepala Hakam.
Namun...
"Tunggu!" Hakam berteriak dengan panik ke arah Gita.
Sontak lawannya menghentikan tarikan pelatuknya.
"Apa yang kau rencanakan, Gita?!"
Tanda tanya besar itu muncul dalam benak Hakam.
Kenapa Gita melakukan semua ini. Apa misinya?
Namun bukannya menjawab, Gita malah tersenyum seperti biasa. "Kau tidak perlu tahu."
*Dor!
Gita menarik pelatuknya.
__ADS_1
Namun tepat saay itu juga, Hakam menghindar menggunakan sihir cahayanya dan mendekati lawannya.
"Apa?!"
Saat Hakam sudah di dekatnya, angin hitam yang melindungi Gita seketika menghilang dan membukakan cela padanya.
*Slash!
Gita terpental jauh sampai menabrak bangunan.
*Gubrak!
Tubuhnya lemas tersenden di dinding yang retak karenanya itu.
Tanpa memberi nafas, Hakam seketika melanjutkan serangan dengan mematahkan halberd-nya menjadi dua. Patahan senjatanya seketika ditusukkan ke kedua telapak tangan lawannya sehingga dia tidak bisa melawan. Kini Gita terpaku di dinding itu.
"Arghhh!" Gita menjerit keras karena tusukan yang menembus kulitnya.
"Aku tahu kapan sihirku sendiri, jadi jelas aku tahu kapan anginku akan hilang!" Ucapnya sambil menusukkannya lebih dalam.
"Argghh!"
"Sekarang katakan, apa yang kau rencanakan!" Hakam berteriak ke arahnya.
Amarahnya saat ini bukan hanya sekedar amarah biasa. Dia kecewa dan kesal pada temannya itu.
"Kenapa kau tiba-tiba menyerang kami?!"
Tidak ada jawaban, Gita hanya tersenyum sinis.
"Aku bilang... Apa yang kau rencanakan?!" Ucapnya sekali lagi, dan kali ini dia menusukkannya lebih dalam.
Meskipun kesakitan, namun Gita tetap tidak memberikan jawaban.
Hakam mencoba cara lain, dia mencoba membaca lawannya.
"Kau... Apapaun rencanamu saat ini, kau tidak akan bisa melakukannya." Hakam melepaskan cengkramannya dari senjatanya. "Kau masih tidak berani menghajar temanmu yang sadar, bukan?!"
Gita seketika menatap ke arah Hakam.
"Kau bisa menyerang Moka dan Astra dan membuat mereka pingsan karena itu serangan instan, namun saat berhadapan denganku, kau tidak bisa melakukannya, tanganmu bergemetar karena aku tahu kau sedang mencoba menyerangku."
"Heh... Katakanlah sesukamu, namun... Aku tetap tidak akan mengatakannya."
"Kalau begitu..." Hakam mencoba mengambil sesuatu yang ada di saku Gita. "... Ini milikku sekarang."
Sebuah benda seperti stick dipegangnya dan diperlihatkan pada Gita.
Itu adalah pageblug yang baru dia dapatkan dari sang atasan.
"Apa yang kau coba lakukan?" Gita mulai panik.
"Kau tahu, aku bekerja di bawah Tuan Stevent, dan sebenarnya, aku juga bagian yang mengecek senjatanya... Jadi..." Dia memperlihatkan Citra-nya, benda yang bisa memformat pageblug.
"Kau tidak coba-coba, kan?!"
"Katakan kalau begitu!"
"Tch!" Tak kuat, itulah yang dia rasakan.
Dia bisa berbohong kalau dia memberi tahunya dengan apa yang terjadi sekarang, namun bila pageblug itu terformat, maka atasannya akan segera tahu.
"Sungguh situasi yang tak terduga..."
"Ceritakan...!"
"Baiklah!"
Dengan begitu, Gita menceritakan tugasnya pada Hakam tanpa memberi tahu identitas sebenarnya.
__ADS_1
Hakam seketika mengangkat kedua alisnya dan sedikit terkejut mendengarnya.