Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 138.


__ADS_3

Sampai mana aku berpikir tadi?


Aku lupa...


Aku tidak ingat sampai mana.


Yang kutahu adalah sekarang aku sedang berjalan ke tempat di mana kakakku berada.


Mulai dari memasuki pintu dari bangunan yang rusak, sampai menaiki tangga demi tangga.


Pikiranku seperti kosong dan tak berisi, ini bukan karena aku dikendalikan. Namun, aku hanya merasa... Apakah ini akan mengakhiri semua?


Sudahlah, lupakan saja...


Saat ini, yang terpenting adalah untuk memukulnya.


Langkah demi langkah akhirnya membawaku ke tempat tujuan, di teras lantai 2 reruntuhan ini, Kakakku menunggu sambil melihati pemandangan yang sudah kubuat di balik pagar besi yang sudah berkarat.


"Akhirnya kau datang juga, Rasyid." Memasang senyum meringis tanpa dosa, kakakku, Rizki berbalik dan menyapaku sambil bersenden di pagar itu.


"Lama tidak berbicara, Rizki!"


Aku tidak bisa berkata lama tidak berjumpa karena aku tinggal dengannya. Kami berdua hanya tidak pernah berbicara lagi.


"Apa kau datang ke sini untuk mencari jawabanmu?"


"Ya, aku ke sini untuk mencari jawaban yang selalu kau sembunyikan dariku."


"Jika begitu..." Rizki mengaktifkan pageblugnya dan mengangkat sebuah peti mati yang kelihatannya cukup berat di tangannya itu. "...Ayo kita berlatih untuk kedua kalinya, sama seperti pertarungan kita berdua saat itu."


Menjawab tantangannya, aku mulai menyiapkan pedangku dan mengambil ancang-ancang bertarung.


Tidak ada basa-basi di antara kami berdua. Yang boleh mendapatkan keinginan mereka hanyalah mereka yang kuat, sedangkan yang lemah hanya harus diam di pojokkan dinding.


"Aku akan dengan senang hati untuk menghancurkanmu, Kak!"


......................


"Kita sampai!" (Tasya


Suara terengah-engah dari ke lima orang itu terdengat bergantian dan berirama. Mereka terus mengatur nafas mereka sambil memegangi lutut mereka karena kelelahan berjalan dan berlari.


"Jadi- Disini- Tempat Pak Rasyid- Berada~?!" Dengan suara yang terbata-bata, Stevent mencoba bertanya sambil memegangi kacamatanya yang berembun karena keringat.


"Ya, di sini tempatnya, sesuai dengan yang mereka beri tahu kepadaku." (Tasya)


Baik Tasya dan Samuel sudah mendapat pesan dari grup sekolah mengenai keberadaan Rasyid. Hanya saja mereka tidak diberi tahu kenapa guru-guru lain pergi ke sana. Mereka hanya punya satu jawaban, namun itu mustahil untuk dilakukan.


"Tempat ini terlihat seperti ditinggalkan..." Hakam mendangak ke atas melihat papan nama di atas pintu gerbang yang sudah sulit untuk terbaca.


"Aku pernah dengar kalau tempat ini sangatlah berhantu!" Moka merinding bukan main saat mengingatnya.

__ADS_1


"Mau bagaimana lagi, sekolah ini menjadi titik pusat terjadinya fenomena Musim Panas Api." Stevent mengkerutkan raut mukanya sambil mengingat betapa chaos-nya peristiwa itu.


Meskipun saat itu dia dan keluarganya sudah terlindungi oleh Anitya, namun mengingat bagaimana teriakan-teriakan yang bergema diseluruh tempat membuatnya ketakutan.


Hakam yang saat itu keluarganya menjadi korban dari peristiwa itu hanya bisa menundukkan kepalanya sambil menahan takut dan sedih.


Moka di lain sisi, dia hanya melihat sekilah itu sebagai tempat berhantu tanpa menyadari kalau kakak tertuanya adalah penyebab peristiwa itu ter-trigger.


"Di sini adalah saksi bisu kapan orang mulai menggunakan Anitya." (Gita)


Kalimat Gita menarik perhatian Tasya yang tidak menyangka kalau ada murid selain keluarga kerajaan yang mengetahui soal ini.


"Kau cukup tahu, ya?" (Tasya)


"Tidak, aku hanya berspekulasi." Gita mencoba menepis kecurigaan gurunya. "Jika Stevent bilang tempat ini adalah titik pusat peristiwa itu, maka tempat ini juga yang membuat orang harus menggunakan Anitya agar tidak takut lagi terbunuh oleh peristiwa yang serupa seperti ini."


"Hmm..." Tasya menurunkan kecurigaannya, dan menandakan kalau Gita lagi-lagi berhasil mengecoh gurunya.


"Ngomong-ngomong Samuel, kenapa kau dari tadi diam saja?" Tasya menoleh ke arah Samuel yang berdiri di paling belakang, dia tidak terlihat berniat mengucapkan sepatah katapun sejak pertama kali sampai di sini.


"Eh?!" Dia tersentak.


"Melamun?"


"Tidak, hanya saja firasatku tidak enak."


"Apa yang kau lihat, Samuel?" Tasya seketika memasang wajah serius.


"Masih ada seseorang yang bertarung di dalam sana!"


"Apakah itu Rasyid?!"


"Tidak, aku kurang bisa memastikannya, salju menutupi pertarungan mereka. Aku hanya bisa mengonfirmasi kalau ada 2 pria dan 2 wanita yang bertarung menjadi 2 tim."


"Apakah ada ciri-ciri yang bisa kau kenali?"


"Aku hanya bisa melihat pria dengan topi koboi! Apakah itu Widodo?!"


"Tidak salah lagi! Tidak ada orang yang menggunakan topi aneh di saat bertarung." Tasya mengalihkan pandangannya ke arah para murid. "Kalian semua, jika kalian mau ikut bertarung, ikut aku!"


Tanpa ada rasa takut kehilangan, Tasya memimpin grup itu.


......................


"Gyah!" Tesi membakar tubuhnya dan membuat dirinya kebal dari serangan es yang akan datang.


"Tesi, berputar-putarlah sambil mengayunkan chakram raksasamu! Aku akan menambahkan sihir kegelapan dan angin di saat yang bersamaan!"


Dengan perintah itu, Tesi mencengkram kuat Chakramnya dan berputar-putar seperti baling-baling dan membentuk seperti gasing api.


Saat melihat itu, Widodo menembakkan sihir kegelapan ke arah Tesi.

__ADS_1


Putaran pria itu semakin melambat karena terkena sihir itu.


Setelah itu, Widodo memukul udara dan mengarahkannya ke arah Tesi, dan membuat sebuah angin sepoi-sepoi di gasing api itu.


Gasing itu tidak meninggi dan berubah menjadi tornado, melainkan melebar dan membuat jarak serangnya semakin luas.


Widodo yang tahu kalau serangan itu bisa mengenai dirinya sedikit menjauh dari pertarungan dan menggunakan posisinya sebagai penembak jitu di saat ini juga.


Dia berlari ke arah dinding reruntuhan dan sembunyi di baliknya sambil mengisi ulang pelurunya.


Sedangkan itu, Tesi yang berputar-putar seperti baling-baling mulai menggerakkan gasing itu ke arah kedua wanita itu.


Melihat arahnya serangan, Haran terbang ke atas dan mengganti pageblugnya menjadi sebuah busur. Sedangkan Sophia yang memiliki jarak serang pendek dan tak bisa terbang hanya bisa mundur dan mundur.


Jika saja dia berada dalam keadaan sadar, mungkin saja dia akan melompat dan langsung menghantam pria berototo itu.


Menghantamkan serangan angin hanya akan melebarkan luas serangannya, dan menembakkan beberapa jarum es ke arah pria yang terbakar itu hanya akan berakhir menjadi sia-sia.


*SLASH!


Sophia tergores oleh api yang panas dan tidak bisa menghindar lebih jauh.


Jika saja diteruskan seperti ini, dia akan kehilangan kesadarannya secara penuh dan harus menunggu Anitya meregenerasinya.


Melihat sekutunya sedang dalam bahaya, Haran mencoba menembakkan busurnya dari udara tempat dia terbang.


*DOR! *DOR! *DOR!


Namun, Widodo yang merupakan seorang penembak tidak membiarkannya begitu saja.


Dia terus menembakkan peluru-pelurunya, tanpa ada yang mengenainya.


Haran selalu bisa menghindari setiap serangan pria itu.


"Dia terlalu cepat, jika saja aku berhasil mengenainya sekali saja, maka dia akan melambat." Pekik Widodo sambil menembakkan peluru yang diberi sihir kegelapan.


"Tch, menyusahkan saja, bila begini terus, dia akan berhasil menembak Tesi dan menggagalkan proses penyadaran siswi itu."


Mengalahkan mereka berdua dalam kondisi K.O berat berarti membuat mereka merasakan kematian sementara, dan itu artinya mereka akan kembali ke situasi normal, kurang lebih begitu yang mereka pikirkan.


Bila mereka berhasil menghancurkan mereka sampai menjadi seperti bongkar pasang, seharusnya Anitya akan membuat mereka beregenerasi dalam jiwa dan raganya.


*DOR!


Di saat Widodo mengalami kesulitan mengenai wanita yang terbang itu, sebuah peluru melesat ke arah targetnya dan membuat Haran terjatuh dalam satu kali tembakan percobaan.


Widodo hampir terkejut dengan skill menembak itu, namun dia dengan segera tahu siapa yang memiliki mata setajam itu.


"Kau datang juga, Samuel... Dan sepertinya kau tidak sendiri?" Widodo menoleh ke arah Samuek yang sedang merunduk sambil memegang senjata Sniper AWM-nya.


Di sekitarnya terdapat beberala orang yang sedang berlutut agar keberadaan mereka tidak diketahui oleh makhluk terbang itu.

__ADS_1


__ADS_2