
Di depan kelas yang terkunci itu, aku menempelkan indra pendengaranku pada pintu.
Meskipun aku bisa menggunakan kekuatan KODE...
Tapi, aku tidak mau terlalu bergantung padanya.
"Apakah kau serius dengan pertunangan ini?" Ucap salah seorang wanita.
Dia Putri Tyas Anjani, kan?
"Pertunangan... Aku tidak tahu jawabannya..."
'Xander?'
"Lagipula, ini semua adalah akal-akalan ayahku, bukan?" (Xander)
"Lalu kenapa, kau masih melanjutkannya?" (Xander)
"Aku... Aku..., Tch!" (Anjani)
"Hemm?"
Woah... Ada pertempuran hebat ini...
Jadi, semua ini cumanlah settingan politik, ya?
Tapi dari pendengaranku, sepertinya Anjani menanggapi serius pertunangan ini.
"Tapi, kalau begitu, kenapa kau bewatak seperti itu saat itu?!" (Anjani)
"Saat itu? Kapan?"
"Tentu saja saat pertunangan kita, bodoh!"
"Ah..." Suaranya panjang.
"Saat itu, ya?"
"Saat itu karena..."
Xander tiba-tiba menghentikan kalimatnya.
......................
Point of View: Ear Xander Xander.
Aku tiba-tiba merasakan ada keberadaan orang yang menguping pembicaraan kami.
"Kenapa tiba-tiba terhenti?"
"Bukan, bukan apa-apa."
"Hah?! Cepat beritahu aku!"
"Kau tidak menyadarinya?" Nadaku serius.
"Menyadari apa?"
"Kau saja tidak menyadari sutuasi saat ini! Bagaimana aku mau peka!"
Kenapa tiba-tiba aku menjadi kekanak-kanakan seperti ini?
Tapi itu tidak boleh kujadikan alasan.
Sebaiknya dengan segera aku memeriksa penguping itu.
TAK TAK TAK
Langkahku cepat ke sudut kelas.
BRAK!
Saat kubuka, aku merasakannya...
Aura-aura membunuh datang dari mereka.
'Sepertinya para penculik sudah bersiap!'
Dari jendela ini, aku bisa merasakan lokasi-lokasi mereka.
"Anjani... Mereka datang!" Ucapku sambil menatap serius tunanganku.
"Ekh? Sudah bergegas secepat ini?!"
"Kita harus bergegas juga!"
"Ekh.. Iya..." Suaranya terdengar ragu.
BRAK!
Suara langkah kami berdua pergi meninggalkan kelas itu menuju tempat aman.
Mungkin ini pertama kalinya buatku, untuk memegang tangan perempuan lain selain dia.
......................
Point of View: Rasyid Londerik
"Hampir saja ketahuan." Ucapku tepat di belakang pintu yang hampir menampar wajahku.
Lagipula...
Ngapain aku nguping pembicaraan mereka?
Gak guna blass, apa lagi topiknya ngomongin masalah politik dan cinta.
Kedua topik itu membuatku mual.
Tapi jika yang dikatakan Xander benar soal para penculik itu.
Maka sebaiknya para murid tidak kubiarkan terlibat lagi.
"Pak Rasyid? Kenapa anda bersembunyi dibalik pintu?" Suara seorang laki-laki mengalihkan pandanganku dari dua pasangan politik itu.
Saat aku berbalik, Gita seketika melebarkan matanya.
"Pak... Kenapa hidung anda?" Sambil tertawa lirih.
__ADS_1
"Aku terpleset..." Ucapku datar.
"Oh gitu ya? Kukira anda menabrak pintu karena mencoba menguntit!"
"Menguntit... Siapa?"
Aku tidak tahu beneran.
"Eh, bapak tidak tahu?!" Ucapnya tersentak.
Aku menggelengkan kepalaku dengan memasang wajah yang datar.
"Hah(menghela nafas)... Aku masih tidak percaya kalau kalian ini beneran pacaran apa tidak..."
Dia menahan kepalanya dengan jemarinya sambil menunduk kepala dengan lemas.
Pacar?
"Oh, jadi ini kelas Dahlia saat ujian?"
"Benar sekali..." Suaranya lembek.
Aku benar-benar lupa soal itu.
Tapi untuk informasi seperti di mana murid-muridku duduk, aku benar-benar tidak diberitahu.
"Pak..." Gita melekukkan mulut menjadi berbentuk ✓.
"Apa?"
Dia mau melakukan sesuatu yang aneh.
"Saat anda melatih Stevent dan yang lainnya... Aku sudah berakting seperti yang anda inginkan, dan anda menjanjikan suatu hal, bukan?" Dia mengingatkanku tentang bisnis kami berdua saat itu.
Note: Yang dimaksud Gita adalah saat pertarungan 'Pangeran dalam Kurungan' pt.8 ke atas.
Saat di panggilan itu, aku meminta Gita datang dengan persiapan yang matang.
Kemampuan aktingnya adalah yang kubutuhkan saat itu.
Dengan rapi, dia bisa terlihat memainkan perannya dengan baik seperti yang kuperintahkan.
"Jadi kau mau apa?"
"Kalau gitu, kunci jawa-
BUK!
Sebuah bogem kulandaskan ke pipinya yang tersenyum itu.
"Kalau minta yang sesuai dengan pertukaran dong!"
"Maaf maaf..." Sambil memegangi bengkaknya.
"Kalau begitu, aku minta-
"Rasyid." Suara yang lembut tiba-tiba muncul di belakangku.
Sebuah sepasang tangan mengunci perutku seakan menjadi sebuah ikat pinggang.
Dan kelihatannya Gita terganggu oleh kehadirannya.
"Lama tidak berjumpa."
Sebuah senyuman lemah, pelan, dan anggun ia berikan untuk mencairkan wajahku yang gersang.
"Hmm(mengangguk), lama tidak berjumpa."
Sebagai pergerakan yang natural, tanganku tiba-tiba bergerak ke arah rambutnya.
Di depan kelas itu, aku mengusap lembut rambut siswi itu.
"Kalau begitu, aku pergi dulu!"
Gita yang berada di depan kami berpamit.
Dia sepertinya merasa sungkan melihat kami.
Ya, setidaknya aku selamat dari perjanjian itu.
"Terima kasih, Dahlia..."
"Untuk apa?"
"Bukan apa-apa..."
"Apakah anda sudah mengetahuinya?"
"Mengetahui apa?"
"Tidak, bukan apa-apa."
Dia membalas perbuatanku.
Ya setidaknya begini juga tidak apa-apa.
Menyembunyikan sesuatu adalah hal yang wajar, selagi itu bukan sesuatu yang menganggu mentalnya, maka aku akan biarkan saja.
Dan sebentar lagi, ujian akan dimulai.
Mungkin akan tidak enak buat mereka(para murid) karena harus serius disaat diluar ada sebuah pesta besar.
......................
Point of View: Dahlia Puspita
Mundur ke beberapa hari sebelumnya.
Malam hari, setelah aku dan Rasyid diserang oleh para bule-bule itu.
"Ya, terima kasih."
BIP
Suara ponsel yang dimatikan.
Aku sudah menelpon polisi seperti yang ia suruh.
__ADS_1
Namun, kini dia pergi meninggalkanku.
Dia bilang, dia akan langsung menghajar ketua mereka.
Tapi apakah dia benar-benar bisa?
Tapi ini aneh sekali, aku bisa merasakannya.
Merasakan setiap alasan dari tindakannya.
Sedangkan di sini, aku hanya berdiri di kegelapan dengan para orang-orang kekar yang terbaring kaku.
Mereka memang tidak mati, malah itu mustahil.
Tapi dilihat dari lekuk badan mereka, terutama bagian tangan dan kaki.
Sepertinya mereka habis mengalami hal yang luar biasa mengerikan saat melawan Rasyid yang sendirian.
Mereka semua mengalami dislocated(terkilir) yang sangat brutal dan tidak tanggung-tanggung, bahkan ada yang sampai semua tulangnya menghadap ke arah yang salah.
Mataku terus berkeliling menatapi bule-bule itu.
Sampai pada seketika, sebuah kresek belanjaan milik pacarku masuk dalam indra penglihatanku.
Kresek itu, seharusnya menjadi sumber senyum bersinarnya.
Namun saat ini, benda itu tidak lebih dari rongsokan yang hancur.
TOK TOK TOK
Suaraku pelan menghampiri kresek itu.
Benda yang disebut action figure itu hancur, bahkan ada yang sudah tidak berbentuk.
Sambil kuangkati satu-satu, aku bertanya-tanya pada mereka.
"Kenapa anda suka sekali tokoh pemimpin, yang?"
-
"Mungkin karena dia ingin menjadi seorang pejabat?" Suara misterius tiba-tiba terdengar di belakangku.
Nadiku tiba-tiba mengencang dan dengan segera mengaktifkan sihir esku.
"Woy-woy! Hati-hati dengan sihirmu!" Bayangan itu mengangkat kedua tangannnya.
Dia berjalan mendekat tanpa menurunkan tangannya.
Sebuah siluet muka terbentuk, dan berakhir wajahnya terkespos.
"Stevent, kan?"
Nadiku mengendur tenang.
Aku masih belum mengenal nama murid-muridnya. Tapi untuk tidak mengenal orang ini, mungkin akan menjadi sebuah kesalahan.
"Oh, ternyata kau masih ingat." Raut senyum itu adalah khasnya.
"Kenapa kau di sini malam-malam, lalu kenapa dengan bule-bule ini?" Sambil menunjuk dengan kelima jarinya ke arah para calon pasien itu.
Aku harus menjawabnya dengan hati-hati.
Rasyid mungkin tidak akan senang bila pekerjaannya didengar, terutama dengan orang seperti dia.
"Kami diserang," suaraku datar.
"Kami? Oh maksudmu sama dia? Lalu, kenapa kau sekarang malah sendirian?"
Stevent enggan menyebut nama pacarku.
Dendam kesumat apa yang dia miliki padanya?
"Dia memanggil polisi." Aku membelokkan retinaku.
"Ekh...? Ternyata begitu, ya? Aku yakin ditengah jalan dia pergi bersama guru-guru lainnya!"
"Guru yang lainnya?" Aku terkejut, namun nadiku tidak mengencang lagi.
Saat mendengar pertanyaanku, Stevent membalikkan badannya membelakangiku.
Kepalanya menatap ke arah hitamnya langit.
Dan jemarinya menahan kacamatanya yang terlihat turun.
"Aku tadi bertemu dengan guru yang lain, tapi mereka(guru) malah melarangku mengikuti mereka(penculik), dan bila intuisiku benar, sepertinya akan terjadi sesuatu yang besar."
Pelan, laki-laki itu melirik tanganku yang memegang benda rusak itu.
"Itu apa?"
"I-ini?! Ini barang belanjaan milik Rasyid, tapi sekarang dibuang karena sudah tidak berguna."
Aku tidak bisa menahan sedihku, tapi beruntungnya, kerutan yang memburukkan wajahku tertutupi oleh gelapnya malam.
"Jadi dia suka yang beginian, ya?" Stevent menganalisa benda itu dengan kacamatanya.
Apa yang akan dia perbuat?
......................
"Tuan, mobilnya sudah siap! Apakah anda mau melanjutkan?!" Suara keras terdengar dari jauh.
Suara itu berasal dari orang dengan pakaian bak seorang butler.
Mungkin dia salah satu supirnya.
Mendengar itu, Stevent menaruh kedua jemari yang melebar lalu ditempelkan di sebelah mulutnya.
"Tidak, kita langsung berjalan ke rumah saja!" Suaranya berteriak keras.
"Kenapa langsung pulang?"
"Ada beberapa hal yang tidak bisa kita lakukan, bila begitu, maka biarkan dan lihat saja bagaimana orang dewasa melakukannya!"
Sesaat setelah itu, dia pamit dan berjalan dengan elegan ke arah mobilnya.
Tak lama kemudian, polisi datang dan menahan para bule-bule itu.
__ADS_1
Dan karena khawatir seorang gadis terutama masih seorang pelajar berjalan-jalan di malam hari.
Mereka mengantarku ke rumah dengan mobil mereka.