Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 48. Pangeran dalam Kurungan pt.2


__ADS_3

"Meminta maaf?!...." Stevent mengalihkan pandangannya dariku.


"Tidak mungkin aku-(kupotong)


"Kalau gitu ya sudah," berjalan pergi meninggalkannya.


"Tidak, tidak... aku hanya bercanda..." Senyum kecut dan benci padaku terlihat di wajahnya.


Aku menghentikan langkahku dan melihatnya yang sedang sedih.


"..." tatapanku diam saat melihatnya sambil menunggunya menjawab.


Stevent yang merasa tidak enak dilihat olehku akhirnya menjawab. "Baik-baikkah...! Aku hanya perlu minta maaf, kan?!" Dia memekik ke arahku.


"hmm(mengangguk)" Aku tersenyum datar ke arahnya.


TAK TAK TAK!


Suara langkah kaki berjalan mendekat ke arah sini dengan cepat.


Aku dengan segera meninggalkannya karena sudah mendengar langkah kaki seseorang. Akan kacau kalau ada orang yang melihatku berada di sekolah saat aku mengambil cuti. Untunglah Stevent orangnya agak..., lupakan saja.


"He-hey! Mau kemana kau?!" Stevent memanggilku yang dengan cepat menghilang.


Tak lama setelah itu, Hakam tiba dan menghadap ke Stevent dengan raut muka yang tajam.


"Ini! Barang-barangmu sudah kuambil dari kelasmu." Hakam menyerahkan tas milik Stevent.


Stevent mengambilnya dengan perasaan bersalah. Matanya kembali tidak berani menatap pelayannya. Tapi dia harus melakukannya, jika tidak, harga dirinya di depan guru itu akan hancur.


"Hakam..." Stevent memanggilnya dengan lirih.


Seketika Hakam menatap bingung tuannya. Dia memiringkan kepalanya seperti tidak paham apa yang terjadi. "Heh?"


Tiba-tiba, Stevent memegangi dadanya dengan tangan kanan sambil sedikit membungkuk. Badannya mulai bergetar saat melakukannya.


"Mohon maaf atas apa yang telah kulakukan!" Air mata turun dari matanya.


Hakam tiba-tiba tertegun kaget saat melihatnya. Tuannya yang sombong tiba-tiba menundukkan kepala padanya yang hanya merupakan seorang pelayan.


"Kenapa kau, Stevent?" Hakam perlahan mendekati tuannya.

__ADS_1


"Aku minta maaf yang sedalam-dalamnya karena sudah menyinggungmu, atas nama Xan-... bukan, tapi atas nama diriku! Aku minta maaf!" Stevent dengan tegas meminta maaf dengan membawa harga dirinya.


Hakam terlihat sungkan setelah mendengar permintaan maaf dari pangeran itu. Tangannya mulai menggarut kepalanya yang bingung.


"Ti-tidak apa, aku tadi... hanya merasa kesal. Tapi tenanglah, aku tidak berniat keluar sungguhan." Hakam tersenyum setengah hati ke pangeran itu.


"Be-benarkah?" Stevent menatap lega anak itu setelah tahu dia tidak jadi keluar.


"hmm(mengangguk), aku hanya kesal dengan kelakuanmu saja." Hakam menatap ke atas sambil berjalan-jalan kecil di sekitaran pagar itu.


"Kelakuanku? Jadi memang itu, ya? Maafkan aku soal itu." Stevent menundukkan kepalanya.


"Kenapa, kenapa kau menjadi seperti itu?" Hakam bertanya.


"Seperti itu? Maksudmu apa?" Stevent bingung dengan apa yang Hakam maksud.


"Tidak mungkin, kan? Kau tiba-tiba menjadi pangeran yang bodoh dan buta akan apa itu yang namanya kehormatan." Hakam memegangi salah satu kran air yang bengkok. "Pasti ada alasannya kau memberontak dari kewajiban para pangeran, dan yang pastinya untuk mendapat pengakuan seseorang itu adalah tujuannya, kan?" Hakam memperbaiki kran itu


Bola mata Stevent membesar menandakan dia paham apa yang dimaksud oleh Hakam.


Seketika, dia mencoba melihat ke arah pagar yang menjadi tempatku pergi. "Menjadi pangeran mungkin adalah keinginan para siswa yang merasa tidak beruntung saat dilahirkan, tapi menjadi pangeran harus memegang beban di dalam diri mereka."


"Apalagi saat kau memiliki yang namanya saudara. Jika salah satu dari mereka lebih hebat darimu maka kau akan dibanding-bandingkan bahkan di depan orang lain." Dia duduk di tanah itu dengan santai tanpa takut kotor.


"Makanya, aku mencoba membuat diriku terlihat. Meskipun itu dalam hal buruk sekalipun, aku tidak peduli. Selagi mereka menganggapku ada, itu sudah cukup." Stevent mengangkat tangannya ke atas sambil membayangkan dia bisa mencengkram matahari yang sudah mau terbenam itu.


Hakam tidak bisa berkata apa-apa setelah mendengarnya. Dia seakan tahu, manusia memang punya masalah yang berbeda. Maka mental mereka juga berbeda. Meskipun yang dirasakan Stevent tidak sesakit Hakam, tapi dia juga menderita.


"Tapi itu semua mulai sedikit berubah sejak guru itu datang." Stevent menyinggung namaku.


Hakam seketika terkejut dan menoleh ke arah Stevent. Seakan tidak percaya dengan yang ia dengar, Hakam mencoba melihat wajah Stevent dengan seksama, dan itu memang benar-benar dia.


"Kenapa?!" Ucap Hakam bingung.


"Dia adalah orang pertama yang menyadari hawa keberadaanku." Stevent tersenyum ke arah langit.


"Bukannya itu karena kau yang pertama kali mengejeknya?" Hakam menyelanya.


"Mungkin, tapi biasanya mereka yang kuejek hanya datang untuk memukulku." Dia masih tersenyum namun sedikit memudar. "Tapi untuk kasusnya, dia seakan mengerti apa itu kesepian. Dia bahkan mencoba menemuiku lagi, bahkan dia..." Tatapannya menurun dan mengingat apa yang telah kukatakan saat itu.


'Mau sampai kapan kau begitu terus?' Kata-kataku ternyata terus tertancap dalam kepalanya.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu." Hakam berjalan mendekat sambil memberikan uluran tangan pada Stevent yang duduk di tanah.


"Kenapa? Ada apa dengan guru itu?" Stevent menangkap tangan Hakam dan berdiri dengan bantuannya.


"Bukan dia yang kumaksud, tapi dirimu. Apa kau sudah lega? Kau sudah mengeluarkan semua kekesalanmu pada dunia ini dengan bercerita tentang masalahmu?" Hakam tersenyum.


"Benarkah? Aku memang merasa lega, tapi kenapa kau ingin mencoba melakukan itu?" Stevent bertanya-tanya, bagaimana Hakam bisa memiliki ide untuk mencoba membuat orang mengeluarkan isi hatinya yang ingin dia muntahkan dengan segera, namun malah tertahan oleh kejamnya dunia.


"Tidak, aku pernah berbicara dengan orang itu saat sebelum menjadi pelayanmu. Dia memintaku mengatakan kenapa alasanku bertarung." Hakam memegangi pipinya. "Awalnya aku ragu, tapi karena dia guruku dan memintanya dengan paksa, maka aku mengatakannya. Setelah mengatakannya, aku merasa lega karena bisa mengatakan apa yang ingin kuteriakkan dengan kencang, aku ingin membuat dunia tahu betapa menderitanya aku setelah ditinggal kedua orang tuaku dan harus mengurus adikku seorang diri." Matanya berair dan dadanya ia pegang dengan tangan kanannya.


Aku tidak menyangka kalau kata-kataku pada Hakam telah mengubahnya.


Aku bahkan tidak sadar kalau aku saat itu ingin menolongnya. Yang kulakukan saat itu hanya kesal karena dia tidak bisa keluar dari belenggu desanya saja.


Tapi ya sudah, nasi suda jadi bubur. Aku secara tidak langsung sudah memotivasinya. Mungkin dia akan menjadi orang yang lebih baik lagi ke depannya. Meskipun aku tidak peduli itu.


Dari balik dinding itu, aku sudah merasa tidak dibutuhkan sekarang. Kupikir ini saatnya untuk pergi keluar untuk cari angin.


Aku dengar ada toko yang menjual figure khusus untuk tokoh-tokoh bersejarah. Semoga aku bisa menemukannya, figure yang sama seperti yang sudah kurusak dulu.


Kembali ke Hakam dan Stevent.


PoV: orang ketiga.


"Hakam... Kau teman terbaikku!" Stevent seketika mau memeluk pelayannya.


Tapi dengan refleks yang cepat dan perasaan jijik. Hakam menghindarinya dengan sangat cepat.


BRAKK!


Stevent tersungkur ke tanah.


"Aduh....." suaranya mengerang.


Dia menoleh ke arah Hakam sambil masih tertidur di tanah. "Apa yang kau lakukan?!" Dia memarahinya lagi


Hakam menatapnya dengan tatapan rendah meskipun dia adalah tuannya. "Aku masih normal..."


Stevent tersadar dan langsung tersenyum bodoh. "Hehehe.... Ha haha ha ha ha ha ha," sebuah tawa yang langka.


Sayang sekali karena guru itu tidak bisa melihat tawa dari murid brengsek itu. Tapi hal seperti ini memang lebih baik hanya diketahui antar dua orang teman.

__ADS_1


Mereka memanglah sahabat yang kompak. Tak disangka mereka akan benar-benar menjadi sahabat yang saling menutupi kekurangan mereka.


Layaknya Master dan Servant, bila dari sudut pandang wibu.


__ADS_2