
Sudah sekitar 5 menit sejak aku mengajukan 4 nama itu. Namun tak ada yang mau mengangkat tangan dan melakukannya sukarela.
Ada apa dengan mereka? Bukannya waktu itu sudah kuberi tahu?
Beban berat ini membuatku memegangi keningku. Jika mereka tidak mau, maka aku harus memilih saja.
"Jika tidak ada dari kalian yang mengangkat tangan, maka biar bapak pilih saja sendiri." Aku mengucapkan kata-kata menakutkan bagi mereka.
Sebenarnya hal seperti ini tidak boleh kulakukan. Ini adalah sekolah bergengsi dan punya nama baik di hati dan telinga masyarakat. Para murid bukan hanya diutus untuk belajar mengenai sains dan tarung, tapi juga sopan santun, dan kesigapan.
Dan hasilnya, mereka malah diam saja tanpa membalas perkataanku.
Stevent yang waktu itu berserah diri menjadi ketua, kini malah memalingkan wajahnya dan tak berani menatapku.
Mungkin dalam pikirnya. 'Aku sudah pernah melakukannya, kini giliran orang lain yang harus naik ke atas panggung.' Kurang lebih seperti itu.
Moka? Dia tidak mungkin bisa, bila kuingat. Tadi malam dia kerja sangat lembur, dan bukan hanya itu saja. Tadi malam aku menghancurkan mentalnya dengan memperlihatkan bagaimana Erika bisa menang melawan Tesi yang mempunya keuntungan elemen.
Jadi, sekarang hanya ada dua pilihan.
Aku menatap ke arah Hakam yang ada di depan dan Gita yang ada di belakangku. Salah satu dari mereka harus kupilih. Namun saat mencoba kupikirkan, nama Gita bukanlah orang yang cocok menjadi ketua. Dia hanya bisa lebih fokus pada tim yang kecil ketimbang yang luas.
Maka, satu-satunya harapan...
Aku mengalihkan pandanganku ke arah Hakam. Hakam yang menyadari pandanganku langsung membuka lebar matanya. Dia tahu kemana arah tatapan itu akan berakhir.
Dia hanya pasrah dan mengangguk. "Baiklah, aku Hakam Surya. Akan menjadi pemimpin pasukan penyerang."
Stevent yang ada di sampingnya langsung menatap kaget. "Hakam, kau beneran?!" Dia tidak percaya.
"Ya, aku siap. Lagipula pemimpin pasukan dalam regu penyerang punya peran yang berbeda. Bila aku gugur pun tak ada masalah."
"Itu memang benar, tapi apakah kau mampu?"
"Tuan- bukan... Stevent, ingatlah! Selalu percaya pada temanmu," dengan itu, Hakam melebarkan senyumannya.
"Jika kau memaksa, maka aku tidak bisa menahanmu lebih jauh."
Mendengar Stevent yang pasrah. Kini hanya Hakam-lah yang harus menyiapkan mental. Meskipun dia tidak apa-apa gugur, tapi posisinya sebagai pemimpin akan menjadi sumber moral utama. Bila dia tereliminasi di awal, maka kekalahan akan menjadi sesuatu yang pasti.
"Hyahhh!"
"Hidup Hakam!"
"By all means, we will protect you!"
__ADS_1
Para murid sangat gembira dengan ini. Jarang sekali ada yang mencoba melakukan ini. Tapi kini, tak ada yang perlu ditakutkan. Semua akan dan pasti berjalan lancar...
KRAK!
Setelah mendengar suara-suara keras di ruangan ini. Pintu yang dipakai untuk berjalan ke kastil terbuka.
-Kecuali yang satu ini.
Sophia terlihat masuk ke dalam ruangan dengan tatapan yang murung. Tak ada satupun murid yang menyadari hawa keberadaannya. Dia bagaikan hantu di antara mereka.
Apakwh sebaiknya aku tolong, tapi seperti apa yang Gita katakan. Selarang ada ujian yang harus kuawasi. Bila aku hanya fokus pada satu murid, maka murid lain akan iri dan kehilangan moralnya.
......................
Tak lama setelah itu, aku berjalan terpisah dengan murid-muridku. Sekarang ini aku berada di dalam bis dan mengawasi mereka dengan monitor yang ada di dalamnya.
"Tak kusangka, bis yang kita pakai tadi punya hal seperti ini!" Ryan yang duduk di sampingku menatapi takjub isi bis ini.
"Untunglah mereka tidak melihatnya, nilai mereka akan langsung tinggi bila mereka tahu ini..." ucapku satir.
"Payah, sebaiknya kau jangan mengatakan yang buruk soal muridmu..." teguran Ryan tidak terdengar serius.
"Hahaha..." Suasana yang terjadi di sini dan di sana sangatlah berbeda.
Ketegangan terlihat di setiap wajah mereka.
Mendengar itu, Ryan memasang wajah masam dan bodoh. "Kau ini, bagaimana kau bisa berpikir kalau musuhmu akan dengan mudah membeberkan informasi penting itu!"
Mendengar itu, aku hanya bisa tertawa kikih. Dia ada benarnya, aku menanyakan hal yang salah. Tapi ini tidak buruk, aku hanya ingin mencairkan suasana.
"Kau benar, informasi adalah barang termahal di dunia. Melebihi segalanya."
"Tanpa informasi kita akan berjalan dengan buta dan tak tahu bahaya apa yang ada di depan. Jika dengan informasi, kita bisa tahu bahaya yang ada di depan dan mempersiapkan untuk melawannya."
Ryan dan aku terus mengobrol layaknya tak ada sesuatu yang bisa dianggap serius.
Namun itu sepertinya hanyalah apa yang ada di dalam pikirku. Seketika, setelah bercanda. Ryan menatap serius dan tajam layar monitor itu.
"Payah!" Dia memanggilku.
"Apa?"
Suara dingin dan tak bernada. Jika sudah begini, dia ingin membicarakan sesuatu yang serius.
"Apa kau sebelum ke sini melihat tingkah laku dari guru kelas 2?"
__ADS_1
Dia menyinggung soal Fredrica?
"Maksudmu soal Fredrica?"
Mendengar itu, dia menggelengkan kepalanya.
"Bukan hanya dia, tapi seluruh guru kelas 2."
Apa yang terjadi? Kenapa Ryan tiba-tiba mengatakan sesuatu yang berskala besar?
"Apa... Yang mau katakan, cupu?"
"Gampangnya begini, banyak yang iri soalmu!"
Apa yang Ryan katakan sungguh di luar nalarku. Bukankah ini Sekolah Podoagung? Lalu kenapa mereka bisa iri hanya karena itu?
Lagipula mereka iri soal apa?!
"Iri?! Iri apa?!"
Ada sesuatu yang tidak kuketahui. Bila mereka iri soal penilain guru saat itu. Maka seharusnya mereka sudah menyerang sejak minggu kemarin. Nyatanya sampai saat ujian tidak ada yang keberatan soal itu.
"Identitasmu..." Ryan mengatakan sesuatu yang kurang spesifik.
"Bagaimana kau masuk ke sekolah ini. Mereka mendengarnya!" Ryan menambahkan.
"Ma-maksudmu tentang bagaimana aku masuk lewat orang dalam?!"
Ryan mengangguk namun itu bukanlah yang terakhir. "Bukan hanya soal itu, rumor kalau kau jugalah penguasa elemen seperti Zarbeth juga sudah beterbangan kemana-mana."
Rumor-rumor aneh semakin liar, bahkan akupun tak menyangka kalau jalannya bakal sampai ke sana.
"Penguasa elemen?!"
"Ada beberapa saksi yang mengatakan, saat terjadi badai pasir di sekolah. Ada guru yang melihatmu menggunakan sihir angin untuk menghentikan sebuah pusaran air yang mengurungmu."
Sepertinya yang dimaksud Ryan adalah saat aku mengajar Stevent saat itu. Mungkinkah ada yang melihat?
Aku tidak meragukan soal itu, badai pasir sebesar itu siapa yang tidak lihat.
Tapi untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam badai pasir itu. Itu adalah hal yang belum pernah kudengar. Mungkin saja ada orang yang bisa mendeteksi elemen dan mulai mencoba mengawasiku.
Tapi siapa? Itulah yang menjadi tanda tanya besar sekarang.
"Oh ujian sudah berjalan! Fokuslah, payah! Kita akan melihat murid kita bertanding. Jadi jangan berpikirk kemana-mana!" Suara Ryan membuatku kembali terfokus pada pekerjaanku.
__ADS_1
"Hmm(mengangguk)..."
Meskipun begitu, apa yang Ryan katakan tetaplah membuatku kepikiran. Seseorang ingin menggulingkanku? Apa tujuannya?