Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 19 Arc 1. Penilaian Guru pt.3


__ADS_3

Aku duduk melihati arena yang kosong, kejadian tadi masih membuatku kepikiran. Apakah semenyenangkan itu, melihat gadis seperti itu tersiksa mental?


"Pak Rasyid, apakah anda kosong?"


Suara dari sebelahku mengalihkan perhatianku. Bahar berdiri di sampingku, dari raut mukanya dia mau membicarakan sesuatu.


Aku berdiri tanpa banyak kata, dan langsung berjalan bersama Bahar. Dia membawaku ke depan toilet tempat bekas Tasya menangis tadi, kelihatannya Erika sudah membawa Tasya pergi dari sini.


Di sana bahar menarik nafas untuk mempersiapkan diri, dia berbalik menghadapku, mukanya seperti ingin memarahiku tapi entah kenapa aku merasa itu tidak mungkin.


"Apa kau menyeret nama sekolah ini juga?"


Dari kata-katanya, sepertinya Bahar tahu apa yang sedang terjadi. Kedatangan tokoh-tokoh penting di nusantara sudah menjadi keanehan di penilain guru ini. Aku mencoba membuka mulutku.


"Tidak, hanya urusanku dan mereka."


Aku tidak akan menyeret nama sekolah ini, hal seperti ini sudah jadi keharusan. Nova pastinya juga akan memarahiku bila aku melakukannya. Nyawaku akan jadi taruhannya.


"Begitu ya?" Bahar menutup matanya lega, "kalau begitu sampai jumpa."


Dia meninggalkanku begitu saja di sini. Sebagai kepala sekolah, dia pasti sangat ketakutan saat ini. Kehadiranku sudah cukup menjadi ancaman buatnya.


Saat aku mau kembali, aku bertatapan dengan Pak Xander yang berjalan ke arah arena. Matanya sudah memiliki aura yang sangat mengerikan. Kekalahan Tasya tadi pasti jadi penyebabnya, kini hanya 4 orang yang bisa diharapkan. Satu persatu dari kami akan gugur.


"Halo Pak Rasyid."


"Hi Pak Xander, sepertinya sekarang waktunya anda ya?"


"Ya(tersenyum)."


"Semoga beruntung, Pak."


"Pastinya! Mari kita perlihatkan kepada Tasya bagaimana kita kelas 1 fisik memenangkan pertarungan!"


Xander mengenggam tangannya ke atas.


"Meskipun itu agak susah untuk melawan kelas 3 sihir..."


Keyakinannya tiba-tiba berubah setelah mengatakan nama kelas itu, dia hanya bisa menggarukkan rambutnya sambil tersenyum tipis.


"Kalo begitu...Aku pergi!"


Xander menepuk pundakku dan pergi ke pintu arena.


Aku kembali ke kursiku, monitor di arena ku pantau. Nama Xander dan Yudi terpampang di layar. 'Kelas sihir ya?' Pak Xander dalam keadaan yang dirugikan.


Pintu arena terbuka, 2 petarung berjalan ke tengah arena. Penonton bersorak keras dan ada yang berdiri, mereka meneriaki nama sang pangeran itu.


"PAK XANDER!"


"PAK XANDER SEMOGA MENANG!"


"LOVE YOU ALWAYS XANDER!"

__ADS_1


Kupingku kesakitan dan langsung refleks menutupnya, murid-murid laki-laki yang lain juga melakukan hal yang sama. Mereka sepertinya sudah terbiasa, setiap kali Pak Xander memasuki arena.


Aku kemudian tersadar sesuatu, hal ini sangat berbeda saat Stevent yang masuk. Meskipun mereka berdua sama-sama pangeran dan tampan, tapi Stevent mendapat perilaku yang berbeda.


Aku melihat ke arah Stevent, wajahnya menunduk seakan tidak mau melihat wajah kakaknya yang akan bertarung di arena. Perbedaan bakat dan sifat sepertinya menjadi masalah utamanya.


"TES TES...123..DI COBA."


"WOY KALIAN! BISA DIAM?! PERTARUNGAN AKAN DIMULAI, JANGAN MENGGANGGU KONSENTRASI PESERTA."


Bahar menegur para penonton menggunakan microphone yang berada di dekat kursi presiden. Pasti Bahar meletakkannya di sana karena mengetahui situasi ini. Jika ditaruh dekat presiden, maka omongannya pasti akan jadi mutlak.


Penonton langsung diam dibuatnya. Tatapanku kembali ke 2 orang yang ada di arena, mereka menyiapkan pageblug mereka dan saling menatap satu sama lain dengan hormat.


Dor!


Suara tembakan terdengar. Kedua pemain langsung berlari ke arah satu sama lain, Mereka berdua beradu pedang.


Xander memiliki kekuatan lebih kuat ketimbang para pengguna sihir, dia menghancurkan pertahanan pedang lawannya.


Dia mengaktifkan sihir kegelapan, semua pandangan arena langsung menjadi gelap. Para penonton tidak bisa melihat apa yang terjadi di arena.


Tiba-tiba sebuah cahaya muncul di tengah-tengah kegelapan, cahaya itu berasal dari senjata milik Xander.


Xander berlari sambil menusukkan rapiernya ke arah lawannya, dari sini terlihat seperti pemandangan bintang jatuh, yang kami lihat hanya sebuah cahaya yang berjalan dalam kegelapan.


Sebuah pelindung menyerupai kasti dari es terbuat di tengah arena. Yudi yang menyadari kerugiannya dalam pertarugan langsung membuat bangunan yang tinggi untuk melewati tingginya kabut hitam.


"Di mana kau, Xander?!"


"Jangan-jangan?!"


Yudi menyadari kehilangan cahaya itu, sesuatu berlari dengan cepat naik ke kastil dan mencoba menusuknya.


"Tidak semudah itu!"


Yudi mengeluarkan sihir angin, kastil dan kabut hitam hancur karena terbawa pusaran angin. Di arena kini ada sebuah tornado es yang diselimuti kegelapan.


Tubuh Xander terbawa pusaran itu, dia mencoba menenangkan dirinya dan menunggu waktu yang tepat untuk mendarat.


"Kau terlalu terburu-buru!"


Xander melompat dan menusukkan rapiernya dengan kilatan cahaya ke arah Yudi. Sebuah dinding es menahan serangannya.


"Bukan, kaulah yang terburu-buru."


Yudi tersenyum senang, mangsanya masuk dalam perangkap. Rapier milik Xander nyangkut di dinding itu, dia mencoba menariknya tapi tidak bisa.


"Rasakan ini! Badai Salju!


Gabungan sihir es dan angin terbentuk. Arena yang tadi terkena tornado kini berubah menjadi tempat bersalju yang sangat dingin. Orang-orang bisa terkena frostbite bila terus-terusan di dalam.


"Nikmatilah!"

__ADS_1


Yudi tertawa jahat seakan kemenangan sudah ditentukan, dia mengunci dirinya di dalam kotak es agar tidak terkena efek dari itu. Di sisi lain, Xander mencoba melepaskan rapier-nya yang dari tadi nancep di dinding itu.


"Sial!"


Dengan kekuatan penuh, akhirnya rapier itu terlepas. Tangan menggingil Xander sudah menandakan awal kekalahannya.


"Aku hanya harus menghancurkan kotak es ini, kan?"


Xander menghadapkan rapier-nya ke kotak es yang berisi Yudi yang sedang berlindung. Badannya masih menggigil, namun dia optimis untuk menghancurkan lawannya.


Sihir cahaya dia aktifkan, Xander mengayunkan dengan memutarkan rapier-nya. Sebuah gelombang cahaya keluar dari sana dan melesat ke arah kotak es tersebut.


Kotak terbelah menjadi 4 bagian tidak teratur, tubuh Yudi hancur bersamanya. Badai es yang menyelimuti arena telah berhenti.


Badan Xander langsung tumbang seketika, namun dia tetap dianggap menang. Lawannya, Yudi sudah kalah sejak serangan yang membelahnya menjadi 4 bagian, dia pingsan karenanya.


Sorak penonton histeris. Kemenangan Xander sungguh heroik, dia bisa memikirkan sesuatu dengan sangat cepat meskipun dalam keadaan yang sangat tersudut.


"PAK XANDER KEREN SEKALI!"


"PAK XANDER HEBAT!!!"


"AKU SEMAKIN LOVE LOVE SAMA PAK XANDER!"


Aku dan murid-murid laki-laki yang lain kembali dibuat menutup kupingku. Saat memastikan kondisi para penonton, tatapanku melihat Sophia yang tidak terlihat tertarik sama sekali seperti wanita yang lain.


"Kau tidak ikut-ikutan?"


"Kenapa aku harus? Lagi pula aku lebih ingin melihat pertarungan anda ketimbang dia."


"Oh..."


"Ehm... Ada apa ini? Kenapa hawa di sini panas sekali?"


Moka mendengar pembicaraan kami dan menjaili Sophia. Sophia terdiam dan mengerutkan bibirnya sambil menyilangkan tangannya, tatapan itu ditujukan pada Moka.


Aku perlahan mengembalikan tatapanku ke tengah arena, tidak ada satupun orang di sana. Para petarung sudah kembali duduk di kursi mereka.


Aku menatap monitor, sebuah nama keluar dari pengocokan bagian. Erika melawan Fredrica, lawannya kelas 2 fisik 5.


Sebuah notifikasi dari ponselku berbunyi, nama Erika terpampang di layar.


(Doakan aku menang, Erika Rahmana.)


(Ya, Rasyid Londerik.)


(Singkat sekali 'emot bibir mengerut'.)


(Aku doakan kau menang dengan sempurna)


(-Puas?)


(Ya...Terima kasih 'emot senyum lebar'.)

__ADS_1


Dia aneh sekali.


Pesan lain muncul di layar, tidak tertulis nama pengirim, hanya nomornya. (Datanglah, temui presiden, Nova, dan aku di kelas yang sama seperti kemarin.) Tapi dari isi pesan itu, yang mengirim pasti dia.


__ADS_2