
Hari ini adalah hari kemenangan, aku dan keluargaku mengadakan sebuah perayaan yang hanya diadakan 1 tahun sekali. Kami bermaaf-maafan untuk menyucikan diri.
Jika kuingat, itu adalah lebaran terakhirku bersama keluarga. Sebelum tragedi itu terjadi, aku selalu berpikir, keluargaku akan baik-baik saja sampai aku bisa membahagiakan orang tuaku.
"Ayo Rasyid, kita ke rumah-rumah tetangga!" Ayahku menepuk pundakku.
"Hmm." Aku mengangguk
"Hari ini aku makan apa ya? Di luar sana pasti akan ada banyak makanan yang dihidangkan. Kuharap aku tidak kekenyangan sebelum selesai." Rizki tersenyum dengan mata tertutup.
"Perutku sedang sakit, kalian duluan saja!" Kakak tertuaku, Nazrul beralasan.
Aku tahu kalau apa yang dikatakan Nazrul tidak lebih dari bualan. Dia tidak pernah mau mengerjakan sesuatu, pasti ada saja ribuan alasan akan dia lontarkan untuk menolaknya.
"Heeee..., kebiasaan! Udahlah, ayo Riz, Syid!" Ayahku memimpin dengan nada kecewa.
Kami mendatangi rumah ke rumah, saling bersalaman untuk meminta maaf. Bila kuingat-ingat, ini adalah hal yang paling kutunggu. Aku bisa bersentuhan dengan cewek cantik tanpa ketakutan ditatap najis oleh mereka.
Kami berhenti di depan rumah saudara kami, aku dan Rizki berjalan ke depan pintu dan memberi salam pada tuan rumah. Sepupuku, Ryan keluar menyapa kami.
"Oh kalian sudah sampai ya, tapi mana kakak kalian?" Ryan bertanya.
"Biasalah." Aku menjawab dengan kecut.
"Hehehe." Ryan tersenyum paksa.
"Oooo..., Adikku sudah sampai." Ibu Ryan muncul dari dalam.
Ibu Ryan adalah adik dari ayahku jadi saat aku memanggil Ryan, Kak. Meskipun dia lebih muda dariku.
Suara motor terdengar dari jalan di samping kami. Nazrul naik motor membonceng ibunya dan memberhentikan motor itu di depan teras rumah, Ryan.
"Maaf aku terlambat." Nazrul turun dari motor dengan membantu ibu turun.
Kami berlima masuk ke rumah Ryan. Keluarga besar ini duduk lesehan sambil menikmati jajanan yang sudah disediakan. Sebuah suasana hangat kumpul keluarga memeriahi hari ini, setidaknya hari itu kami bisa bertemu.
__ADS_1
"Mau makan?" Ryan menawariku.
"Hey..., aku tidak serakus itu...."
"Yah siapa tahu, kau kan suka makan."
"Aku tidak akan makan banyak. Aku akan berubah!"
"Ah..., jangan-jangan karena kau tidak mau terlihat jelek di depan pacarmu."
"Bukan seperti itu...." Aku memerah.
"Mukamu tidak bisa menipu." Ryan tersenyum jahil.
Saat itu aku punya pacar, namanya Mawar Rosaliya Arini. Dia adalah wanita periang, suka bersosialisai, dan pintar. Aku merasa beruntung memiliki pacar spek lengkap.
Sampai siang kami bercanda ria di rumah itu. Keluargaku pulang dan mulai menjalani kehidupan normal, tapi aku dan Rizki punya kepentingan sendiri.
"Ibu...Salim, aku mau pergi ke rumah temanku." Amu ijin pada ibuku.
"Ke rumah teman dulu. Aku harus mengutamakan teman, mereka sangatlah berharga dan tak tergantikan."
"Kalau gitu hati-hati."
"Makasih bu."
Dengan begitu aku pamit dari rumah ke tempat yang sudah direncanakan untuk kumpul.
Aku mengendarai motorku dengan kecepatan norma, seseorang sedang menungguku.
Sekitar 10 menit aku tiba di depan rumahnya.
"Halo Syid!" Senyum manisnya saat melambaikan tangannya padaku selalu memberi semangat padaku.
"Hi Rosa." Aku tersenyum malu menjawabnya.
__ADS_1
"Aku cek ponselku, tadi mereka berpesan kalau di sana sudah ramai. Sebaiknya kita cepat, kalau tidak jajan merekan akan habis duluan." Rosa mengatakan itu sambil naik ke jog belakang.
"Ya ya ya."
Aku menjalankan motorku dan pergi ke arah tujuan. Rosa memeluk badanku saat itu, sensasi tubuhnya yang menempel dipunggungku membuatku kehilangan konsentrasi.
"Kau sudah dengar? Katanya teknologi Anitya tahap 2 sudah hampir selesai. Setelah itu juga, umat manusia tidak hanya perlu takut mati, tapi mereka juga bisa mengeluarkan sihir." Rosa memulai pembicaraan di atas motor.
"Aku dengar dari Kakakku, Nazrul. Mereka tinggal butuh kelinci percobaan untuk mengetesnya. Aku harap mereka tidak bersungguh-sungguh berpikir kalau ada kemungkinan gagal pada kelinci percobaan mereka."
Nazrul merupakan salah satu bawahan penting Nova. Dia adalah yang mengembangkan teknologi anitya pada awalnya. Tapi Kakakku tidak puas hanya dengan itu, kini dia mau menambahkan sihir pada Anitya.
"Kata-katamu selalu aneh seperti biasa, Syid. Apakah kegilaan Nazrul tertular padamu?" Rosa tertawa lebar.
"Mana mungkinlah! Aku tidak mau masuk ataupun berurusan dengan penelitiannya. Masyarakat saja masih belum menerima keberadaan Anitya pertama, apalagi yang kedua."
"Aku mengira-ngira apa yang akan masyarakat pikirkan tentangmu, bila mereka tahu kau satu keluarga dengan orang yang menciptakan Anitya?"
"Keluargaku pastinya akan ditendang dari desa," ucapku khawatir.
"Tenanglah, jika itu terjadi. Aku akan menampungmu dan keluargamu!" Rosa mengeratkan pelukan.
"Kau..., sebaiknya jangan gunakan kekuatan uang." Keringat turun dari kepalaku.
"Tenanglah! Aku akan melakukan apapun untuk melindungimu! Meskipun nyawaku harus taruhannya!" Dia mengatakan sesuatu yang gila.
"Kumohon jangan! Lagipula yang pasti akan melindungi itu aku! Akulah yang akan melindungimu dari segalanya!" Aku memberanikan diriku untuk menyatakan sesuatu.
Kami bersenang-senang di atas motor sampai tidak sadar kalau sudah sampai di tujuan. Teman-temanku menyambut kedatangan kami.
Temanku si pemilik rumah mengajak kami masuk. Saat masuk suasana ramai kulihat. Seluruh teman sekelasku berada di satu tempat untuk saling bersilaturahmi. Rosa yang baru datang langsung menyapa semuanya dengan senyum hangatnya.
"Halo semua! Selamat hari raya idul fitri!"
Jika saja aku mendengarkan perkataan sahabatku saat dia menghentikanku. Jika saja aku menahan tangan Rosa yang pergi dengan alasan anehnya. Jika saja aku lebih percaya diri. Pasti aku tidak akan berada di kegelapan dunia ini, mungkin juga Rosa dan Temanku bisa kuselamatkan.
__ADS_1
Ini adalah kenang-kenangan manisku yang terakhir.