Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 137.


__ADS_3

Aku menarik nafasku dalam-dalam dan membiarkan emosi yang meluap keluar sampai tak bersisa.


Ini tidak bisa kubiarkan... Aku harus tetap dalam diriku.


"Tidak... Aku tidak akan membunuh kalian berdua." Dengan berat hati aku menyatakan itu sambil memasang wajah kesal.


Aku tidak bisa langsung melihat ke arah mereka. Perasaan kesal dan kecewa bersatu dalam diriku.


Jika saja aku mengikuti maunya, maka aku hanya akan masuk dalam skenarionya. Aku tidak mau itu, aku bukanlah orang yang bisa jatuh dalam perangkap murahan itu.


"Wah, tidak disangka kau memilih untuk membiarkan kami berdua hidup." Sambil tersenyum hina ke arahku, Widodo mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Apa yang membuatmu berubah pikiran secepat itu?"


"Aku sudah berubah... Aku tidak akan ikut campur dalam skenario apapun."


Selama ini aku terus-terusan terjebak dalam skenario yang dibuat oleh orang lain tanpa kusadari. Dan hasil dari itu semua malah membawa kesengsaraan bagi kedua belah pihak.


Aku tidak mau melihat diriku yang mengenaskan di masa lalu.


Aku juga tidak mau melihat penderitaan yang telah terjadi pada Xander dan kekasihnya terulang lagi.


Jika saja ada skenario baru yang terbentuk di dekatku, maka aku hanya harus memutar baliknya.


"Berubah, ya?" Dia mulai tersenyum dan bersiap mencipratkan sejuta fakta pahit kepadaku. "Menurutmu, dengan membunuh mereka semua yang ada di sini, kau bisa menyebut dirinu berubah?" Widodo merentangkan kedua tangannya sambil memperlihatkan kekacauan yang telah kuperbuat.


"Terutama yang terjadi pada mereka bertiga, apakah ini adalah sesuatu yang disebut perubahan? Kau malah menggunakan kekuatan KODE hanya untuk memikat wanita!" Dia menunjuk ke arah Sophia, Haran, dan Dahlia yang sudah tersungkur secara bergantian.


Apa yang dia katakan di luar perkiraanku, aku bahkan tidak mengetahui kalau kekuatan KODE memiliki pemikat di dalamnya sebelumnya.


Orang ini hanya akan membuat suasana semakin keruh bila diteruskan. Aku harus mencari cara agar membuatnya bungkam.


Tanpa sengaja, saat mulai memikirkan rencana untuk menutup mulutnya, aku telah membuat wajah mengkerut di sekujur kulitku.


"Apa yang mau kau lakukan? Apa kau sudah tidak tahan dengan mulutku?" Widodo tidak merasa takut sama sekali dengan wajah itu, dia malah tersenyum meringis melihatnya.


Dia di antara terlihat mengerikan dan bodoh secara bersamaan.


Aku mulai mendekatinya dengan perlahan, langkah kedua kakiku bergerak secara pelan dan lambat.


Semakin banyak aku melangkah, semakin dekat pula aku dengab Widodo dan Tesi.


Tesi yang berada di sampingnya mulai memasang posisi siap-siap, chakram raksasanya mulai dipegang erat untuk menyambut datangnya serangan kejutan


"Kenapa mendekat? Apa kau mau memenggalku dengan pedangmu itu?!" Widodo merentangkan tangannya sambil memperlihatkan lehernya secara lebar-lebar.


"Aku ingin bertanya soal lain..." Masih ada sesuatu yang mengganjalku saat ini.

__ADS_1


Widodo yang tadi mengejekku dengan pose-pose anehnya seketika terdiam dan melirik ke arahku secara pelan namun mematikan.


Di sisi lain, Tesi mulai meregangkan pegangannya pada Chakram yang ia gunakan.


"Bertanya?" Tesi membuat wajah bingung.


Namun tidak sepertinya, Widodo seperti memperlihatkan wajah kecewa.


Apakah dia benar-benar sangat ingin kubunuh sampai memasang wajah seperti itu?


"Saat pertama kali kalian berdua datang ke sini, bukankah kalian menembak salah satu wanita yang mencoba membunuh, bukan?"


Aku masih tidak mengerti bagaimana dia tahu kalau Widya adalah orang jahat. Seharusnya saat melihat Widya yang sangat ingin aku mati itu, Widodo bisa saja mengajaknua bersekutu dengannya.


"Ya, memang kenapa?" (Widodo)


"Bukankah kalian tahu kalau wanita itu adalah Widya, mantan kekasihnya Xander."


"Tidak..." Tesi menjawab dengan jujur.


Namun di sisi lain, Widodo hanya tersenyum tipis dan meliriki mayat beku dengan kepala yang berlubang itu dari kejauhan.


"Jadi kau tahu, ya?"


Dari raut wajahnya, aku bisa menyimpulkan kalau Widodo bukan hanya tahu kalau Widya adalah mantan kekasihnya Xander, namun juga sang SANGKUNI yang dicari-cari oleh Nova dan pemerintahan.


Lagi-lagi dia tidak menjawab pertanyaanku dan hanya tersenyum seperti orang bodoh.


"Aku anggap wajah kikukmu itu sebagai jawaban iya!"


Sifatnya seketika berubah 180° setelah aku menanyakan hal tentang Widya, dia bahkan tidak berbicara sama sekali sekarang.


"Tch, sudahlah! Aku sudah muak dengan wajah bodohmu itu!" Aku berbalik mencoba meninggalkan mereka dan langsung berjalan ke tempat kakakku berada.


Tapi sepertinya itu tidak semudah itu...


"Kau masih belum bisa lari, Rasyid." Widodo dengan suara yang mengerikan memberiku peringatan.


Namun aku tidak mengindahkannya dan terus berjalan. Sebagai perlindungan dari kejaran mereka, aku meminta Sophia dan Haran menghalau langkah mereka berdua.


Baik Haran dan Sophia mendengarkan permintaanku dan menyiapkan senjata mereka dan bersiap menghadang mereka berdua. Sophia dengan kipasnya, Haran dengan chakramnya, mereka berdua mengiyakan perkataanku tanpa membantah.


Sebelum benar-benar meninggalkan mereka berempat, aku menyempatkan diriku menoleh ke arah mereka dan mengatakan, "Aku hanya ingin ke tempat tujuanku, jika kalian sejak awal tidak mencoba menghalangi. Mungkin semua akan berbeda."


Setelah mengatakan itu, aku melanjutkan kembali langkahku.

__ADS_1


......................


"Dia sudah pergi?" Widodo memasang kembali kaca mata hitamnya.


"Ya, dia pergi meninggalkan dua wanitanya menghadang kita." (Tesi)


Mereka berdua tidak bisa maju sampai mereka berhasil membersihkan dua wanita itu.


Rasa iba dan tega bukanlah urusan saat ini, bila mereka tidak melawan maka mereka yang mati, dan kelihatannya Haran dan Sophia tidak akan berhenti bertarung sampai nyawanya direbut.


"Bagaimana, apa kau mau melawan Haran?" Canda Widodo.


"Hmm(meringis), apa kau gila... dia bukanlah lawan yang bisa kutangani sendirian. Kau saja yang lawan! kau kan yang tahu kelemahannya."


"Aku? Bukan, bukan aku... Tapi Nova yang tahu, aku hanya mencuri informasi darinya."


"Kau ini... Bingung mau kupanggil gila atau nekat. Jika besoknya aku menemukan dirimu sudah berada dalam tabung percobaan Nova, aku tidak mau tahu, lo!"


"Hahaha, bisa saja..."


Dengan mengakhiri obrolan itu, mereka kembali mencengkram senjata mereka dan bersiap bertarung melawan kedua wanita itu.


......................


"ha... Ha... ha...! Kita sudah berlari cukup jauh, apakah masih jauh?!" Moka mulai terengas-***** dan tak kuat lari lebih jauh lagi.


"Tidak, kita sudah dekat..." Saat mengatakan itu, Tasya sedikit memberi senyuman khawatir. "...Hanya saja..." Dia terus melihati jalanan dan langit berulang kali.


"Apakah kendaraan-kendaraan yang berjalan berlawanan tadi mengganggu pikiranmu?" Samuel menyadari kerisauan wanita pendek itu.


"Hmm(mengangguk), kenapa mereka mundur?!" Tasya berkeringat dingin saat melihat kendaraan-kendaraan itu pergi.


Rombongan kendaraan itu bahkan sampai tidak menyadari wajah familiar dari dua guru itu.


"Emangnya kenapa?" Stevent bertanya seperti orang bodoh.


Sebenarnya yang tidak tahu apa-apa bukan hanya pangeran itu, namun Hakam dan Moka juga tidak mengetahui kalau kendaraan yang berjalan berlawanan tadi adalah kendaraan milik sekolah.


Memiliki status berbeda, Gita menyadari makna dari kendaraan-kendaraan itu.


"Bukan apa-apa, ayo kita lanjutkan perjalanan!" Tak mau memastikan lebih jauh, Tasya menggiring segala kebingungan mereka ke tempat lain. "Kita hanya perlu melihatnya, kan?"


Jalan mereka sudah dekat, namun mereka tidak tahu apa yang sedang menunggu di depan mereka.


Apakah sebuah neraka?

__ADS_1


Atau lebih mengerikan dari itu?


Mereka hanya bisa mengetahuinya bila mereka melangkah lebih jauh dan mengecek sendiri dengan mata kepala mereka sendiri.


__ADS_2