Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 62. Ujian Sekolah prologue pt.3


__ADS_3

Langkah pelanku yang masuk ke dalam gelapnya gedung mulai terdengar semakin keras.


Suara hentakan kaki terdengar seperti menantang para penculik itu untuk menemuiku.


Satu-persatu dari mereka mulai menunjukkan batang hidungnya yang bengis itu.


Senyuman merendahkan dan sedikit kekhawatiran terpasang di wajah mereka.


"Ba-bagaimana kau bisa masuk?!" Ucap salah satu penculik.


Sayangnya jalanku tidak begitu terlihat, langkahku kuteruskan ke depan dan melewati para paku-paku yang bersuara ke arahku.


"Woy! Aku bicara padamu!" Pitamnya naik.


Kalau satu lawan satu mungkin aku bisa menahan diri untuk tidak mengambil nyawanya, namun kalau sudah keroyokan seperti ini ,akan susah. Terlebih lagi, ini dalam ruangan.


Bagaimanapun juga, aku sudah hampir melupakan tujuan awalku.


'Tidak membunuh lagi!'


Menghabisi nyawa-nyawa orang bagaikan memetik sebuah bunga di taman.


Aku tidak mau kembali menjadi orang seperti itu.


Berjuang! Demi menyelesaikan misiku, misi terakhir dari sahabatku.


Kepalaku terasa seperti tertusuk jutaan jarum setelah mengingat-ingatnya.


Sebuah besi dari tangga yang dingin kucengram kuat untuk menahan diriku yang semakin keluar kendali.


"Woy! Dasar Manusia Budeg!" Mereka mendatangiku dengan raut muka kesal.


JRASSSH!


Aku menyemprotkan partikel es kearah kaki mereka.


Keadaan itu membuat kaki mereka tidak dapat melakukan perpindahan sama sekali.


"A-apa yang kau lakukan?!" Ucapnya sambil menghantam es yang keras itu.


Aku mematung di depan tangga itu, badanku memutar 180° tanpa menyertakan kakiku.


Sebuah tatapan yang hampa kuberikan pada mereka yang melawan.


Seakan ada tekanan yang sangat kuat, para penculik hanya menatap takut diriku.

__ADS_1


Keadaan di lantai dasar sudah berhasil di amankan, kini lantai selanjutnya.


Suara hentakan kakiku yang pelan nan keras semakin terdengar kecil dari kuping mereka.


......................


Angin-angin di ketinggian semakin membuat hidung dan kupingku memerah.


'Semakin tinggi lantainya, semakin dingin, ya?'


Siapa yang membuat tempat ini?


Tidak seperti lantai sebelumnya, lantai ini depenuhi dengan es yang membeku, lantai yang licin, terdapat retakan-retakan di sekitarnya, dan ditambah dengan adanya es yang berbentuk seperti jarum yang terlihat bisa menembus tubuh seseorang bila mereka terpeleset di sana.


Tidak ada orang yang berjaga di sini, namun lantai licin yang dipenuhi jebakan ini sudah cukup untuk menghentikan orang biasa.


"Kalau mau main-main, sebaiknya sama yang lain!"


Aku menebaskan sebuah gelombang api ke arah pertengahan lantai itu.


Dengan seketika, lantai yang dipenuhi jebakan langsung mencair dan surut melalui retakan-retakan tadi.


Bila kuingat, letak retakan itu sama seperti letak di mana aku membekukan orang-orang di lantai bawah.


Semoga saja, tidak terjadi apa-apa.


......................


Langkahku semakin terdengar keras di lantai tiga itu.


Namun suara-suara yang menyambutku masih belum masuk ke telingaku.


Dan saat sampai di sana...


Aku kecewa dengan mereka.


"Terlalu banyak rintangan!" Ucapku jengkel.


Meteran ketahananku yang semakin menurun membuatku harus mengambil jalan pintas.


Bak BAK BAK


Suara langkah senggang kubuat menuju tempat keluar.


PRANG!

__ADS_1


Kaca jendela di lantai itu pecah karena terkena benda yang cepat.


Benda yang menghancurkan kaca itu, seketika mendaki satu persatu lantai sampa yang terujung.


Kaca lantai terakhir, aku tidak boleh gegabah.


Mataku menembus kaca itu dan mulai menyusuri dalam dari lantai itu.


Terdapat orang berambut pirang, berbadan besar, dan berkulit putih sedang memainkan wajah putri itu.


Tubuh membeku dari sang putri tidak memberikan adanya tanda-tanda perlawanan.


Tidak banyak yang bisa kulakukan sekarang, dia benar-benar menjengkelkan.


Melihatnya saja malah membuatku teringat pada kakakku.


PYAR!


Suara kaca pecah mengangetkan seisi lantai.


"Apa itu?!"


Tanpa memberi kesempatan kepada mereka, aku berlari ke arah boss mereka menggunakan sihir cahaya.


Suara langkah-langkah kaki dan tangan yang mencoba menangkap kilatan cahaya itu terlihat sia-sia.


Hanya orang bodoh yang mencoba melawan kecepatan cahaya.


Sampai pada bosnya, aku dengan cepat menyergap leher orang itu dengan pisau dari es.


"Jadi beneran ada, ya? Babu dari Nova!" Dia mencoba bernafas.


"Diamlah, George Chris! mulai sekarang, takdirmu dan semua bawahanmu... Ada di tanganku!" Kekosongan terdengar dari setiap kataku.


Takdir apa yang harus keberikan pada mereka?


Binasah?


Hidup?


Penjara?


Penderitaan?


Kebimbangan yang tidak pernah terjadi saat ini, kembali terasa.

__ADS_1


Aku harus benar-benar memilihnya.


Note: Lagi sibuk, jadi storynya pendek.


__ADS_2