Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 73. Penipu yang Berhati


__ADS_3

Aku keluar dari ruangan itu, dan berakhir melihati wajah-wajah yang familiar.


"Kalian semua? Kenapa ada di sini?" Tanyaku pada mereka yang memasang wajah sedih.


"Kami semua mencemaskanmu, bodoh!" Erika yang duduk di sofa lorong tiba-tiba berdiri dan mengangkat kerahku.


"Kami semua sangat takut saat tiba-tiba mendengar Anitya-mu lenyap dan tak terdeteksi." Air mata yang keluar dari wajahnya mengindikasikan bahwa dia serius.


"Anitya?"


Mendengar ucapan wanita itu, aku langsung mencoba mengangkat telapak tangan kananku ke atas.


"Kumohon bisalah!"


....


Para guru yang datang, dan murid-muridku menatapi kenihilan itu.


Sihirku tidak bisa keluar, pasti ada yang salah dengan intinya.


'Orang itu pasti tahu jawabannya!' Erangku pada diri sendiri.


"Mohon bersabarlah Pak Rasyid, mungkin ini sudah menjadi takdir..." Moka yang duduk bersama teman-temannya memberiku ketabahan.


"Hmm... Terima kasih, Moka."


Aku memberinya salam dengan membungkukkan badanku.


"Eh, bukan apa-apa?!" (Moka)


Mataku berkeliling melihati satu persatu guru-guru dan murid-muridku.


"Dia mana?" Tanyaku pada keramaian itu.


"Dia? Siapa? Xander, kah?" Samuel menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang salah.


Tapi karena dia tiba-tiba menyebut nama itu, jadi aku juga merasa bertanya-tanya kemana dia.


"..."


"Xander masih sibuk dengan tunangannya, mungkin dia akan menyusul dengan segera." Samuel menggarut bagian yang gatal di rambutnya dengan memberikan senyuman ampas.


Aku tidak perlu informasi ini, tapi mendengar itu saja membuatku lega karena baik Anjani maupun Xander tidak menjadi korban saat ini.


"Lalu, dimana dia? Siswi itu!" Aku memperjelas pertanyaanku.


Mereka memberi tatapan 'Bagaimana cara menjelaskannya?' padaku.


Sepertinya ada hal buruk yang menimpa anak itu.


"Jika kau mau mencari Sophia, dia ada di ruangan pemeriksaan mental. Para perawat menanyai banyak hal padanya." (Bahar)


"Terlebih lagi, tentang masalah pesawat itu, bagaimana bisa itu terjadi?!" Orang yang bertopi koboi itu tiba-tiba menanyaiku pertanyaan.


"Maksudmu?"


Saat ini aku harus pura-pura bodoh agar tidak dicurigai mereka.

__ADS_1


Aku yang sudah kehilangan sihir saja sudah menjadi masalah terhadap karirku, apalagi saat mereka tahu soal sihir KODE.


"Ada sekitar 50-an pesawat yang melesat ke sebuah satu titik! Dan menurutmu, kenapa itu bisa terjadi?!" Orang itu mengintrogasiku.


Tapi untungnya, saat ini aku masih punya beberapa alibi yang memperkuat kalau aku tidak tahu apa-apa.


"Entahlah, ada banyak hal yang tidak kuketahui, seperti tiba-tiba aku dan wanita itu berhasil mengalahkan mafia terkuat, Akash Singh, namun tiba-tiba aku, wanita itu, dan para murid-muridku berada di kondisi sebaliknya..."


"Berada di kondisi sebaliknya?" Erika memiringkan bibirnya setelah mendengar itu.


"Hmm(mengangguk).... Saat itu, aku seperti terkena ilusi, dan berakhir berada di sebuah gedung."


Dari pengamatan mataku saat mengatakan hal itu, terdapat 2 orang yang memasang wajah terkejut dan bermandikan keringat.


Zarbeth Paniati, dia adalah mantan peneliti Anitya, dari dataku yang bekerja di sana, dia mengerti soal sihir KODE, dan karena itu juga dia dapat menggunakan semuan elemen Anitya kecuali sihir kegelapan dan cahaya.


Widodo Surya, aku tidak tahu banyak soal dia, tapi dari ekspresinya setelah mendengar itu, dia jelas tahu apa itu sihir KODE, tapi siapa dia sebenarnya?


Zarbeth yang dari tadi diam saja tiba-tiba berperilaku aneh.


"Ra-Rasyid, mungkin lebih baik anda segera menemui murid itu! Dia sedang depresi berat saat ini!"


Nenek ini mencoba menyembunyikan sesuatu, namun dia sepertinya tidak terlalu pandai dan berakhir membuat tingkahnya malah ketahuan.


'Dan bodohnya, karena dia sudah tua, dia tidak mengingatku, biarlah, aku akan menggunakan kebohonganku sebagai senjata...'


Dengan mendengar nasihat dan saran nenek itu, aku salam pada mereka untuk segera pergi ke sana.


"Apa yang anda katakan mungkin benar, kalau begitu, selamat...(Jam berapa sekarang?)" Suaraku terhenti sambil melihati cahaya di luar. "... malam..."


Aku merasakan Anitya Sophia berada di dekat sini, namun anehnya tempat itu bukanlah tempat yang dimaksud para guru-guru.


TAK TAK TAK!


Saat kuberjalan di depan pintu itu, pintu itu tertulis kata 69, artinya ini adalah ruangan nomor 69.


CKRAK!


Pintu itu perlahan kubuka, dan tak ada satupun nyawa yang terbaring di dua kasur ruangan itu.


Namun saat pintu itu kubuka sepenuhnya, aku melihat sesosok gadis yang menatapi keluar jendela.


Tangannya yang gemetaran sedang memegangi dinginnya kaca di malam hari, gadis yang memakai baju rumah sakit itu bagaikan manusia yang sudah kehilangan hidupnya.


Sayang sekali, Anitya melarang gadis itu untuk mengakhiri hidupnya.


"Pak Rasyid?" Gadis itu memanggilku yang terlihat jelas dicerminan kaca itu.


"Hmm...." Tak ada satupun kata yang bisa kubuat saat ini.


Apakah aku perlu menahan mentalmya seperti dulu?


Tidak, itu tidak bagus, efeknya akan malah merusak mentalnya.


"Dulu... Saat sebelum anda mengajar di sekolah ini, aku merasa kesepian dan mencoba mengakhiri hidupku..."


Dia tiba-tiba bercerita soal masa lalunya saat itu. Saat di mana Fajri masih melakukan hal itu padanya.

__ADS_1


"Tak ada satupun teman yang membantuku, satu-satunya yang mau hanyalah Moka, namun seperti yang anda ketahui saat itu... Moka menghianatiku!"


"Saat itu aku masih belum tahu soal kedok Moka, dan selalu bergantung padanya, namun dia selalu memberi jawaban yang tidak pasti..."


"Kejadian masih berlanjut, dan aku menelepon orang tuaku, namun mereka tidak mempercayai setiap perkataanku, mereka bilang kalau aku ini kuat, tidak mungkin ada yang berani menyakitiku!"


Mata Sophia seperti memudar dan tak terlihat bercahaya.


Dia memasang senyum gila bersamaan dengan setiap katanya.


"Saat tak ada satupun yang bisa kumintai tolong, akhirnya aku mengangkat tali tampar dan menggantung diriku di kamarku..."


"Namun, kekuatan Anitya terlalu kuat, bahkan aku saja malah merasakan sakit dari cekikan itu tali tampar itu."


"Dengab sekuat tenaga, aku melepas tali itu dari atas dan terjatuh ke tanah dengan kepala mendarat terlebih dahulu..."


"Buk, suara kepala itu masih teringat jelas di ingatanku, betapa sakitnya tercekik oleh tali itu, dan betapa sakitnya terjatuh dengan kepala terlebih dahulu..."


"Aku merasa, dunia sudah berakhir... Saat pertama kali anda menjadi guru, aku dengan segera ingin mengakhiri ini, namun hasilnya... Seperti yang anda tahu, sangat menyedihkan, bukan?!"


Tawanya terlihat mengejek dirinya sendiri.


Jika aku biarkan dia tetap seperti ini, maka hasilnya akan terlalu fatal.


......................


TAK TAK TAK


Kakiku melangkah mendekati gadis yang masih bercerita ke kaca ruangan itu.


"Tenangkan pikiranmu..." Ucapku sambil mengelus-elus rambutnya.


Saat ini tidak ada orang lain selain kami, jadi mungkin ini saat yang tepat untuk membuatnya tenang.


"Aku tidak bisa setenang anda..." Air matanya keluar begitu cepat. "Bagaimana caranya agar tidak berekspresi seperti itu?"


Dia semakin tidak terkontrol, aku harus menggunakannya secepatnya.


Tapi, apakah itu baik buatnya? Bila kugunakan, maka mentalnya akan terlalu tenang.


Orang-orang akan mulai beranggapan kalau Sophia itu aneh jika seperti itu.


'Tidak, sepertinya masih ada jalan lain!'


Aku meyakinkan diriku dengan kuat.


"Sophia, sebenarnya... Bapak saat ini sangatlah terpukul, cuman bedanya, bapak harus menjaga image-ku... Kalau bapak menangis, nanti bagaimana aku bisa menghadapi kedua orang tua mereka?!" (Aku)


"Kata maaf saja tidak cukup untuk kelalainku..." (Aku)


"Benarkah?" (Sophia)


"Hmm(mengangguk)..."


Aku harus bisa menenangkannya, bagaimanapun caranya.


Itu adalah misiku...

__ADS_1


__ADS_2