
"PERTARUNGAN DIMULAI!"
Haran langsung mengubah arena menjadi lautan api dalam sekejab sesaat setelah aba-aba terdengar.
"Kau benar-benar tidak menahan diri, ya?!" Ucapku sambil membuat zirah dari air.
"Kenapa aku harus menahan diri saat melawan bawahan dari Nova. Mengalahkanmu adalah langkah awalku dalam menghancurkan nenek itu!"
Haran membuat cakram yang ada di punggungnya berputar lebih cepat.
Kondisi arena dibuat berubah-ubah seperti saat melawan Xander.
Saat ini kondisi arena menjadi berair.
"MADU HARAN TIDAK MENAHAN DIRI SAMA SEKALI! DIA LANGSUNG MENGGUNAKAN JURUS PAMUNGKASNYA UNTUK MELAWAN RASYID! APAKAH DIA AKHIRNYA TAHU KEKUATAN SEBENARNYA DARI GURU KELAS 1 FISIK ITU!"
Akan sangat bahaya bila aku terkena cuaca dingin.
Tapi tepat setelah itu, arena berubah menjadi es dan membekukan air-air di sekitarku.
"Sial sekali kau."
Zirahku juga ikut membeku.
CRASH!
Aku menghancurkan zirah yang beku menggunakan kekuatan fisikku.
"Ada apa? Kenapa kau tidak menggunakan kekuatan aslimu?!" Haran memprovokasiku.
Keinginannya untuk menghancurkan nenek itu tidaklah kecil. Dia sampai menyiapkan ini semua.
Haran mengubah pageblug menjadi berbentuk panah.
"Rasakanlah penderitaan ini!" Dia membidik ke arahku dengan senyuman yandere.
Aku yang melihat bahaya datang langsung membuat perisai dengan tangan kiriku.
"Apa-apan pageblug-mu itu?! Bagaimana bisa benda itu punya dua data senjata sekaligus?!"
"Kau tidak perlu tahu, babu."
SRATTT!
Anak panah yang diberi elemen es melesat ke arahku.
"PAGEBLUG MILIK HARAN MEMILIKI DUA DATA SEKALIGUS?! APAKAH ITU ADALAH VERSI TERBARU DARI PAGEBLUG SAAT INI?!"
Para penonton terkagum saat melihat produk pageblug baru itu.
Saat aku melihat kekaguman penonton, aku tersadar wajah dari orang itu. Wajah dari pemilik perusaahan pembuat pageblug, Halim.
Dia pasti yang sudah memberinya pageblug jenis terbaru. Lagipula aneh saat Halim lebih memilih siapa yang akan memenangkan final sebagai taruhan. Dia dan Haran sudah bersekongkol sejak awal.
Sementara itu, di dalam kapal terbang presiden.
"Ternyata kau bersekongkol, ya?" Nova menatap layar dengan santai.
"Kenapa kau bertanya? Bukannya itu jelas, tidak mungkin aku menggunakan kemenangan Rasyid sebagai taruhan. Aku jelas akan kalah karena kemenangan pria itu absolut, makanya aku memilih orang yang tepat untuk itu." Halim menyeringai sambil menahan dagunya dengan satu tangan.
"Kau punya tujuan lain selain itu." Nova menyadarinya.
"Kau pintar seperti biasa, aku akan beritahu saja karena percuma menyembunyikannya. Ini juga akan jadi ajang promosi untuk pageblug-ku. Dan lebih lagi, blueprint yang kupertaruhkan akan masuk dalam masa ketinggalan jaman." Halim mengeluarkan blueprint pageblug-nya dengan senyum puas.
Nova tidak akan mendapat apa-apa saat menang. Teknologi pageblug sudah meningkat, blueprint yang ditaruhkan juga sudah merupakan versi lama.
"Tenanglah kalaupun itu versi lama sekalipun, itu tetap akan berguna bagiku." Nova menutup matanya perlahan.
"Benarkah? Terserahlah..., Aku tidak sepertimu yang membuat semua pengguna Anitya lebih lemah darimu. Aku akan mengembangkan pageblug ini dengan setara!" Halim mengangkat genggamnya.
Nova diam tidak mendengarkan
"Tch..., pura-pura tidur."
Kembali ke arena.
Anak panah menembus perisaiku dan menusuk tubuhku.
"Kuat sekali?!"
Aku menahan rasa sakit dari tancapan panah diperutku.
"Bahkan perisaimu saja sampai jebol oleh kekuatan senjata dari pageblug ini?! Ini sangat hebat!" Haran mengelap busurnya dengan tatapan mesum.
"WOAH! ANAK PANAH MELESAT MENEMBUS PERISAI BAHKAN SAMPAI MENEMBUS PERUT RASYID! SUNGGUH KEKUATAN YANG TIDAK BIASA!"
Arena berubah menjadi daratan es.
Aku mencabut anak panah yang menancap di perutku dan menoleh ke arah Haran dengan tatapan tajam.
"Ini mungkin saatnya..." ucapku lirih.
__ADS_1
Aku menghentakkan tanah dengan kuat. Guncangan tanah terasa disekitaran arena. Lantai arena mengalami retakan.
"APA YANG TERJADI?!" Bahkan Bahar pun merasakan guncangannya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi tidak akan kubiarkan!"
Haran mengubah pageblug-nya menjadi cakram lagi.
Benda itu berputar dipunggungnya dengan cepat.
Arena diubah menjadi lautan api kembali.
Seketika es mencair dan masuk ke dalam sela-sela tanah yang retak.
"Kena kau..." senyum kejam terlukis di wajahku.
Retakan di tanah menjadi rapat dan air yang masuk ke sela-sela retakan muncrat sehingga membuat tebasan kuat yang dapat menebas kulit manusia.
"GYAHHH!"
Kedua tangan Haran yang merentang saat memutarkan cakram yang berputar di punggungnya terpotong oleh tebasan air.
Haran tumbang tapi tidak memperlihatkan tanda-tanda menyerah.
"Tidak akan kubiarkan!"
Haran berteriak dan ratusan es berbentuk shuriken melesat ke arahku.
Shuriken itu merobek-robek kulitku bahkan sampai memotong tangan kiriku.
"Hahaha...Tangan kita sama-sama terputus saat ini. Pertarungan jelas akan berubah menjadi pertarungan sihir!" Haran tersenyum puas.
"Hahahahaha..." Aku tertawa senang.
"kenapa kau?!" Haran yang tadi tersenyum berubah kebingungan.
"HAHAHAHAHHAHAHAHAHA..., SUDAH LAMA AKU TIDAK MERASAKAN RASA SAKIT SEPERTI INI! KAU ADALAH ORANG YANG BENAR-BENAR BISA MELUKAIKU!" Aku tertawa keras.
"APA YANG TERJADI PADA PAK RASYID. KENAPA DIA SENANG SETELAH TERKENA SERANGAN YANG BEGITU BRUTAL?!"
Para penonton yang kebingungan menatapku dengan aneh.
Di sisi lain, para muridku menatapiku dengan terkejut.
"Jangan-jangan..., dia ada dalam mode masokis?!" Sophia berkeringat gugup.
"Apa maksudmu mode masokis?!" Moka bertanya dengan nada keras diikuti dengan para murid yang lain.
"Saat dalam mode masokis, Pak Rasyid tidak bisa merasakan sakit sedikitpun. dia akan terus maju, sampai musuhnya dikalahkan!" Sophia menambahkan dengan matanya yang melebar ketakutan saat berlatih denganku.
"Semengerikan itukah?!"
Semua muridku ketakutan saat mendengarnya.
Kembali ke pertarungan.
Aku maju dan mengayunkan pedangku dengan cepat tanpa bantuan sihir sama sekali.
SLING
Haran menghindar ke samping dengan raut muka yang ketakutan.
"Kau ini kenapa?!"
Perasaan setelah harus melawan cecunguk-cecunguk terbayarkan.
Saat ini aku mendapat sebuah lawan yang bisa melukaiku. Sejak menjadi guru, aku hanya melawan lawan yang lemah.
Selama jalannya turnamen, aku hanya melihat bosan lawanku. Aku sampai berpikir 'ini sekolah petarung bergengsi?' Mereka bahkan lebih lemah daripada tukang kebun dari orang ningrat.
"Aku hanya merasa senang..., sudah lama sejak terakhir kali aku benar-benar merasakan apa itu bertarung." Aku menoleh ke arahnya dengan tersenyum bahagia.
Mata Haran terlihat melebar saat melihat wajahku yang seram. Tapi dengan cepat dia menajamkannya lagi, kebenciannya pada sesuatu yang berhubungan dengan Nova sangatlah besar.
"Aku tidak peduli apa yang kau katakan, aku harus mengalahkanmu! Balas dendamku akan kumulai darimu! Lihatlah putriku, ibumu akan menghabisi orang yang membuatmu menderita!"
Kedua tangan milik Haran telah beregenerasi saat dia mengoceh.
Cakram milik Haran melayang kedepannya. Sebuah cahaya terang muncul di tengah-tengah lingkaran itu. Ukuran cahaya semakin lama semakin besar.
"Kau mau menembak?!" Aku menatapnya dengan rendah.
"Tidak akan kubiarkan!" Aku menancapkan pedangku ke tanah.
Sebuah tembok dari lumpur yang tebal muncul didepanku.
Hujan tiba-tiba turun di alun-alun.
JDAARRRR!
Cakram itu menembakkan sebuah laser yang mengarah padaku.
__ADS_1
GUBLUK GUBLUK GUBLUK!
"Apa, tidak bereaksi sama sekali?!"
Haran terkejut karena lasernya tidak bisa menembus tembok lumpur itu.
Tembok dari lumpur sebenarnya hanya melambatkan laser yang menembus sampai berhenti.
"menyedihkan sekali, padahal aku ingin lebih merasakan rasa sakit yang berlebih lagi. Kau sama-sama mengecewakan seperti mereka." Aku menatap Haran dengan rendah.
"Oh tanganku sudah kembali." Tangan kiriku beregenerasi.
Kami berhadapan satu sama lain dengan kelelahan.
"Aku akan akhiri ini!" Aku memasang kuda-kuda untuk bersiap menyerang.
"Apa yang kau pikirkan kali ini, babu?" Haran berjalan mengitariku.
"Lihat saja," senyumku menyeringai.
Aku mengangkat pedangku ke atas.
Petir menyambar pedangku, sambaran itu kutebaskan dan menciptakan sebuah shockwace yang melesat ke arah guru malang itu.
Haran yang kaget langsung mengeluarkan sebuah barrier yang sangat kuat.
Percikan antara listrik dan api terjadi di arena itu.
"Apa, kau bisa menggunakan sihir listrik?!" Haran keheranan sambil menahan shockwave milikku.
"Itu bukan sihir, tapi kekuatan alam!"
Sebuah ledakan terjadi, barrier milik Haran rusak dan shockwave-ku hilang.
Mungkin ini sudah jadi sebuah kebiasaan untukku. Aku berlari dan menebas keatas ke arah tubuh Haran yang masih kelelahan itu, dia bahkan tidak sempat terkejut.
Tubuhnya tumbang ke belakang sambil menahan pageblugnya yang mau diubah menjadi busur.
'Apa yang akan dia lakukan?'
Oh jangan-jangan...
Dia mau mengaktifkan sihir itu, namun tidak bisa karena aku sudah menyegelnya.
"Malang sekali kau, semoga kau bisa melewati ujian ini."
Aku berjalan keluar arena sebelum pemenenang ditentukan.
"TEST...TEST...TADI ADA MASALAH TEKNISI..., AKHIRNYA PEMENANGNYA DITENTUKAN, SUNGGUH TIDAK DIDUGA. PEMENANGNYA KALI INI ADALAH RASYID LONDERIK DARI KELAS 1 FISIK 1!" Bahar menyatakan pemenangnya dengan mata yang berbinar-binar.
"AKHIRNYA SETELAH SEKIAN LAMA BERADA DI KURSI KEMENANGAN. KELAS 3 SIHIR HARUS TURUN MENJADI KE POSISI 5. SUNGGUH PENURUNAN YANG SANGAT DRASTIS, APAKAH KARENA DUA DARI KALIAN MELAWAN RASYID? HAHAHAHAHA, SUDAHLAH AKU TIDAK PEDULI. MARI KITA LIHAT EVALUASI PERTARUNGAN INI."
Akhirnya setelah mengoceh Bahar mengatakan bagian pentingnya.
"UNTUK
PERINGKAT 6 ADA DI TANGAN KELAS 2 FISIK
PERINGKAT 5 ADA DI TANGAN KELAS 3 SIHIR
PERINGKAT 4 ADA DI TANGAN KELAS 1 SIHIR
PERINGKAT 3 ADA DI TANGAN KELAS 2 SIHIR
PERINGKAT 2 ADA DI TANGAN KELAS 3 FISIK
PERINGKAT 1 ADA DI TANGAN KELAS 1 FISIK.
TUMBEN SEKALI KELAS FISIK MENDOMINASI KALI INI. BIASANYA MEREKA AKAN MENJADI TAMU EKSKLUSIF UNTUK 2 PERINGKAT BAWAH.
DENGAN BEGINI PENILAIAN GURU TELAH BERAKHIR. SELAMAT BAGI PARA PESERTA.
DAN UNTUK 2 KELAS YANG ADA DI BAWAH...
SIAP-SIAP SAJA, HWAHAHAHAHA..."
Bahar menyampaikan posisi juaranya.
"UNTUK SETIAP KELAS YANG MEWAKILI HARAP NAIK KE TEMPAT PODIUM UNTUK MENGAMBIL HADIAH." Bahar melanjutkan
Waktu berlalu tapi tidak ada satupun guru kelas 1 fisik yang naik ke podium.
"ANO.... UNTUK KELAS 1 FISIK, APAKAH TIDAK ADA YANG NAIK?"
Para pengunjung kebingungan. Para muridku hanya bisa menggelengkan kepala karena aku masih juga belum kembali ke bangkuku.
Terpaksa Xander berdiri dan menggantikanku yang telah hilang.
Aku tidak berjalan ke sana, melainkan ke tempat yang lebih tinggi. Tempat ini berada di atas alun-alun.
Aku berdiri di depan Pak Presiden, Nova, dan Halim yang duduk saling berhadapan. Mereka mau memberiku tahuku sesuatu.
__ADS_1
"Jadi bagaimana..." Ucapku pada mereka.