Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 22. Insiden Ledakan Sekolah, Sophia


__ADS_3

Point of View: Kanda Sophia


Aku menonton pertandingan antar guru dari bangku penonton. Sebuah kejadian mengejutkanku, untuk pertama kalinya. Aku melihat Ibu Erika dikalahkan dengan telak. Dia bagaikan tidak berkutik ketika menghadapi Ibu Fredrica.


"Apa yang terjadi pada Ibu Erika?" Aku bertanya pada orang sekitar.


"Dia terlihat seperti dihasut, konsentrasinya dihancurkan. Dia bahkan tidak bisa memanah dengan benar." Moka yang duduk di sampingku menjawab pertanyaanku.


Bebeapa saat kemudian, Pak Rasyid kembali ke bangkunya seperti tidak terjadi apa-apa. Aku pernah dengar rumor, kalau Ibu Erika sedang dekat dengan Pak Rasyid tapi aku menganggapnya itu hanya sebatas rumor.


'Itu hanya rumor, kan?' Aku menunduk dan merasa gelisah saat mendengar rumor itu.


Aku ingin menanyai tentang Erika, tapi Pak Rasyid duduk sambil fokus ke ponselnya. Dia seperti berbalas pesan dengan seseorang. Tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi bingung, dia berdiri dan pergi lagi meninggalkan kami muridnya.


"Dia pasti pergi melihat Ibu Erika." Moka membisikiku.


"Hahhhh..." Aku hanya bisa menghela nafas sedih


"Dia lebih peduli Ibu Erika ya?..." Moka malah membuat mentalku semakin hancur.


"Ya untuk sekarang akan kubiarkan dulu, Ibu Erika hanya sedang terluka...hihihi." Aku tertawa kecut menutupi kesedihan.


Tetttttt


"Wah, sepertinya sudah waktunya istirahat untuk pergantian babak. Sophia, mau kantin?" Moka mengajak.


"Ayo..." Aku tersenyum menerima ajakannya.


Saat di kantin kami duduk melingkar di meja yang melingkar pula. Wajahku mengekrut kecewa pada Moka, aku menatapnya dengan cemberut.


"Kukira kau hanya mengajakku." Aku menekuk bibir dan menyilangkan tanganku.


Kukira Moka hanya mengundangku, tapi kenyataannya dia membawa beberapa orang. Stevent si Pangeran sombong, Gita si badut kelas, dan Hakam si pecundang kelas. Dan kenapa semuanya laki-laki?


"Maaf ya...Ini akan lebih baik jika beramai-ramai." Moka tersenyum sambil mengangkat tangannya.


"Aku tidak keberatan sih, asalkan aku bisa makan gratis. Aku menerimanya." Gita sangat bersemangat.


"Aku hanya mengikuti Tuan Stevent, mengerti." Hakam bicara dengan muka datar layaknya bodyguard.


"Sudah kubilang! Jangan bawa-bawa pekerjaan ke sekolah!" Stevent keberatan akan perilaku Hakam.


Moka melihat kedekatan Hakam dan Stevent langsung menjadi kepo.


"Jadi kau benar-benar bekerja sebagai pelayannya Pangeran Stevent, ya Kam?" Moka bertanya.


"Hmm(mengangguk)...Pak Rasyid yang memberiku pekerjaan, jadi sekarang aku bisa memenuhi kebutuhan hidupku dan adikku." Hakam mennjawab dengan nada gembira.


"Hebat sekali kau, Kam. Kau sudah bisa mengurus hidup sendiri dan adikmu di umur yang masih segini." Aku juga memujinya.


"Tidak...ini tidak seberapa. Jika bukan karena Pak Rasyid, mungkin aku juga tidak akan pindah." Hakam tersipu sambil menggarut-garut rambutnya.


"Seharusnya kau juga berterima kasih pada kakakku. Dia juga menolong, kan?" Stevent mulai menyombong.


"Heh(tersenyum)...Iya." Hakam hanya bisa menjawab seperti itu.


"Ngomong-ngomong...Hebat sekali Pak Rasyid. Bukan hanya menyelesaikan masalah finansial Hakam dengan tepat. Dia juga bisa melawan musuh dengan sekali tebas, kupikir dia awalnya hanya orang payah yang masuk lewat orang dalam." Stevent memuji Pak Rasyid dengan senyum lebar.


Jarang bagiku untuk melihat Stevent yang terkenal sombong, memperlihatkan muka bangganya saat membicarakan orang selain dirinya.


Suasana hatiku entah kenapa sangat damai. Setiap kali ada nama Pak Rasyid disebutkan perasaan nyaman selalu mengitariku.


"Nyammmm nyam nyam nyam." Gita makan ayam geprek tanpa tata krama makan.


Suaranya terdengar sampai sebelah, kenyamanan hatiku yang baru saja kudapat langsung hancur begitu saja. Aku hanya bisa menahan senyumku yang sudah mau hancur.

__ADS_1


"Astaga Gita! Kau makan benar-benar tanpa tata krama." Moka menatapi Gita dengan wajah tajam.


Tubuh Gita hanya bisa terdiam gugup dengan keringat turun di mukanya.


"Hehe." Gita hanya bisa menjawab dengan itu.


"Tak heran kau disebut badut kelas, kan Kam." Stevent mengangkat kedua bahunya dan menghadap ke Hakam.


"Hmm(mengangguk dengan senyum)." Hakam menjawab Stevent.


"Oh ya ngomong-ngomong, apa kalian tahu rumor tentang Pak Rasyid dan Ibu Erika?" Moka mengganti topik.


"Oh tentang hubungan mereka ya? Aku tidak terlalu peduli, asalakan Pak Rasyid tidak tertekan. Aku akan mendukungnya." Hakam menyatakan pendapatnya.


Gita dan Stevent hanya mengangguk setuju terhadapa opini Hakam. Aku yang mendengar itu, tiba-tiba merasakan hatiku sakit. Jika benar mereka punya hubungan, apakah aku akan mundur.


Aku hilang dalam kebimbangan.


Duar!!!


Suara keras terdengar dari toilet dekat UKS.


"Apa yang terjadi?"


Gita yang sedang makan langsung meninggalkan makanannya dan berdiri mengambil langkah untuk melindungi kami semua. Dia mengeluarkan pageblug-nya dan menembakkan api dari riffle-nya. Sebuah barrier terbuat mengelilingi kami. Dia tampak berbeda saat ini.


Kami berlima terbaring ke lantai karena guncangan yang sangat keras. Pageblug milik Gita, bahkan langsung hancur saat menahannya.


"Ada apa ini?!" Moka bertanya.


Ting Ning Ning


Toa sekolah berbunyi untuk menyampaikan pengumuman.


Aku mencoba berdiri dan berjalan keluar dari kantin. Saat keluar aku melihat pemandangan yang tidak


pernah kupercaya akan kulihat. Terdapat 8 makhluk yang terbuat dari sihir elemental mengamuk di sekolah. Kuda air, macan api, naga petir, phoenix es, kura-kura tanah, babi angin, tupai cahaya, dan kerbau kegelapan.


Aku pernah dengar, makhluk elemental hanyalah fiksi para peniliti. Mereka tidak benar-benar ada, bila adapun hanya dengan makhluk dengan kekuatan sihir yang sangat tinggi yang dapat mengeluarkannya. Itupun hanya satu saja.


Wajah seseorang tiba-tiba terbenak dipikiranku, 'Pak Rasyid, apakah itu anda?' Aku menggelengkan kepalaku. Saat itu aku melihatnya menggunakan sihir api, tapi meskipun begitu. Ini ada 8 makhluk elemental, mustahil sekali.


"Apa itu?!" Moka dan yang lainnya berjalan ke sebelahku.


"Mengerikan sekali!" (Stevent)


"Mereka ada banyak." (Hakam)


"Semua element, terkumpul di sekolah ini." (Gita)


"Mereka semua besar sekali." (Moka)


Aku mencoba memikirkan langkah kami,


"Babi!" Stevent menunjuk ke arah babi yang menyeruduk ke arah sini.


"Serahkan padaku!" Gita mengeluarkan sihir api dari tangannya.


"Bodoh, itu membesarkannya!" Hakam menegur Gita namun terlambat.


Babi itu sekarang sudah membesar dan sekarang punya perisai api mengelilinginya. Mata Gita hanya bisa melebar dan mengangakan mulutnya.


"Tch...Kalau sudah begini apa boleh buat!" Stevent mengeluarkan sihir air dengan menyatukan kedua tangannya ke depan.


Kekuatan babi tersebut berkurang, aku langsung tersadar. Element babi itu langsung berubah setelah Gita menembakan api padanya. Jika begitu.

__ADS_1


"Gita! Ayo gabungkan sihir es dan api kita dan tembakan ke arah babi itu!" Aku memberi perintah.


"Baiklah!"


"Stevent terus tembaki babi itu dengan sihir air mu. Hakam dan Moka beri support pada kami!"


"Hanya kali ini saja aku akan menurut!" Stevent setuju dengan sedikit kesal.


"Ya!" Moka dan Hakam setuju.


Babi itu menghindari serangan-serang kami, dia menggunakan meja-meja kanti untuk bertahan dari serangan kami.


"Tch! Dia lincah sekali! Kita hanya bisa menyerangnya dari jarak dekat!" Stevent menyerah dan mengaktifkan pageblug-nya.


"Aku akan menyerangnya dari dekat! Serahkan ini padaku!"


Stevent maju membawa pedangnya yang sudah dia masukkan sihir air. Dia melompat saat jarak sudah dekat dan menebaskan pedangnya pada babi itu.


"Kena kau!" Stevent mengenai tubuh babi itu.


"Hyah hyah hyah!"


Dia tidak mau seperti di film-film. Stevent melanjutkan tebasannya tanpa membiarkan babi itu regenerasi atau apalah yang terjadi.


"Ngok!!!" Babi itu marah.


Stevent terpental ke meja-meja kantin. Dia ditangkap oleh murid-murid yang berada di sana.


"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya salah satu siswa kelas 1 sihir 3.


"Aku baik-baik saja, begitu pula babi itu." Stevent menunjuk ke babi yang mengobarkan api itu


"Sepertinya karena temanmu, babi itu malah jadi element api."


"Maaf ya."


"Tidak, ini malah jadi semakin lebih mudah."


"Semuanya! Yang bisa menggunakan sihir air, tembakan sihir kalian bersama-sama ke babi itu!"


Suara terdengar dari tempat Stevent terjatuh.


Puluhan siswa yang ada di kantin berdiri dan bersatu. Mereka menghadapkan kedua telapak tangan mereka ke babi itu, sebuah sihir akan mereka tembakan.


"Tembak!" Laki-laki itu memberi perintah pada seluruh siswa.


Puluhan tembakan sihir air membasahi tubuh babi itu. Suara erang darinya mulai terdengar.


'Tapi ini terlalu lama!' Butuh sekitar 2 menit baru babi itu mengerang kesakitan. Mereka akan kehabisan tenaga sebelum babi itu benar-benae musnah.


Tiba-tiba bayangan hitam melompat dari atas kami. Dia berlari ke arah babi dan melesatkan pedang-pedangnya. Tidak sampai situ dia juga menghantam babi itu dengan gabungan sihir petir dan air terus menerus. Keringat muncul di wajah pak Vicky.


Butuh sekitar 12 kali tembakan untuk babi itu lenyap. Semua siswa kelelahan dan tumbang ke tanah. Pak Vicky berdiri kelelahan, keringat membasahi seluruh kulitnya. Aku berjalan ke arahnya.


"Terima kasih, Pak." Aku berterima kasih.


Guru yang kuanggap adalah pengacau rupanya rela menyelamatkan murid-murid demi reputasinya. Setidaknya dia bukanlah orang yang mementingkan diri sendiri.


"Bukan apa-apa!" Vicky mengalihkan kepalanya dan pergi.


Aku berjalan keluar, saat kulihat semua makhluk elemental telah hilang. Mereka yang berada di sekolah pasti juga melawan makhluk-makhluk itu.


Saat itu juga, seorang nenek berjalan masuk ke kantin dengan santainya. Aku merasakan adanya aura yang sangat kuat padanya, apakah dia adalah dalangnya.


Aku tidak sebaiknya berprasangka buruk dulu.

__ADS_1


__ADS_2