Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 104. Pelayan yang Memimpin End


__ADS_3

Point of View: Rasyid Londerik


Mereka menang, dan aku bangga.


Itulah kalimat yang akan kukeluarkan nanti kepada mereka. Namun, apa itu cukup? Bagiku itu tidak terdengar etis sama sekali. Malah terdengar seperti ejekan.


Di depan bis ini, aku dan Ryan sedang menunggu kedatangan mereka.


Aku tak tahu apa mereka senang atau tidak dengan hasilnya. Tapi menurutku, seharusnya ini sudah cukup buat mereka, kan?


"Cupu, apa yang kau pikirkan?"


Ryan tiba-tiba berbicara, dia sekali lagi hampir membuatku kaget, tapi untungnya aku bisa menyembunyikan kekagetan itu meskipun tidaklah sempurna.


"Payah, menurutmu... Bagaimana hasilnya?"


Mungkin ini waktu yang tepat untuk menanyakan itu, seharusnya saat ini dia tidak akan merasa senang dengan hasilnya. Atau mungkin parahnya lagi, dia kecewa dengan hasil ini.


Tapi, semua ekspetasiku rupanya berbanding terbalik.


Ryan melengkukkan bibirnya sampai membuat dirinya tersenyum bodoh.


"Kelas yang kuajar? Kalau mereka..." Ryan menatap cerahnya mentari yang berada tepat di atasnya sambil menyendenkan dirinya pada moncong bis. "... Aku sudah sangat puas! Mereka kalah, namun dari setiap cara mereka bertarung, dan kekompakan mereka. Itu sudah membuktikan kalau mereka bukanlah kegagalan."


Jawaban yang tak kusangkan dari seorang Ryan.


"Kau aneh sekali... Apa definisi menang bagimu adalah ini?" Aku sedikit bercanda.


"Yang mereka hadapi saat ini bukanlah perang ataupun pertarungan, melainkan masih persiapannya saja."


"Persiapan?"


"Hmm(mengangguk)... Perang sebenarnya buat mereka adalah kehidupan dewasa!"


Seperti yang diduga dari Ryan, jawaban seperti ini memang akan muncil dan keluar dari mulutnya.


Namun, sesaat setelah mengatakan itu. Aku merasakan aura yang sangat menakutkan datang dari dalam dirinya.


"Kenapa...?"


Aku bertanya pada sepupuku itu.


Dia memberikanku tatapan yanh cukup menusuk bahkam bisa membelah kepalaku menjadi dua hanya dengan menatapnya saja.


"Tidak, aku hanya ingin melanjutkan kalimatku..."


"Kalimat?"

__ADS_1


Apakah yang dimaksud adalah kalimat sebelumnya?


"Perang orang dewasa... Bukan dengan adu senjata atau sihir, tapi adu kekuasaan, pangkat, dan orang belakang." Kalimat itu sepertinya menggorok tenggorokanku sampai aku tidak bisa berbicara lagi.


"Terutama..." Dia masih belum selesai. "... Orang semengerikanmu, Rasyid." Suaranya menusuk sampai ke telingaku.


Ryan memanggilku dengan nama, bukan sebutan 'cupu' atau sebutan hina lainnya. Jika sudah seperti ini, maka aku tidak mau berkata sedikitpun. Bukan karena tidak bisa menjawab, namun karena menghormati masa lalunya.


Lucu sekali, aku yang tidak pernah merasa kasihan pada orang yang kubunuh punya rasa hormat seperti ini pada seseorang, apa karena dia sepupuku?


......................


Tak lama setelah mengobrol satu sama lain, dan kehabisan topik pembicaraan. Aku akhirnya menangkap sesuatu dengan mataku.


Itu adalah sebuah gerombolan yang datang kemari dengan wajah yang kelelahan. Wajah yang lelah karena letih habis bertarung selama beberapa pertarungan.


Bila diingat-ingat, pertarungan mereka sudah berlangsung selama kurang lebih 45 menit. Jadi, mereka tidak benar-benar mengambil banyak waktu, bisa kupastikan mereka mendapatkan nilai moral sesuai kriteria.


"Oh, lihat mereka datang..." ucap Ryan sambil melepas sendenannya.


Aku berjalan mendekat ke arah murid-muridku yang masih terlihat letih di sana.


Jarak kami sudah semakin dekat satu sama lain. mataku tidak memberikan emosi apapun pada mereka saat ini, aku saat ini bimbang. Apakah aku harus memuji mereka atau mendisiplinkan mereka?


Kedua itu harus kupilih.


Lupakan soal itu, memberi selamat pada mereka adalah apa yang harus kulakukan dulu sebelum mengevaluasi mereka, terlebih lagi Hakam yang terlihat mengenaskan saat ini.


Sedikit pujian akan meningkatkan moralitas mereka pada diri mereka sendiri.


"Ti-tidak, saya tidak yakim kalau saya melakukannya dengan benar..." Hakam merasa sedih dengan hasilnya.


Baginya, hasil ini tidak memuaskan dirinya sebagai pemimpin pasukan.


Dia bahkan menyebabkan teman-temannya masuk dalam jebakan dan mengakhiri permaianan mereka.


"Tidak perlu berkecil hati, tidak ada yang bisa langsung sempurna saat melakukan pertama kali." (Aku)


"Caramu yang dengan cepat dan tanggap membuat formasi di gerbang luar cukup mengesankan, aku terkesima kau buat." (Aku)


Namun itu cukup, jika dia sudah merasa sangat bersalah dengan itu. Itu semua sudah cukup, tidak perlu ada lebih banyak hal yang perlu lagi disuramkan.


Di saat itu, Hakam tersenyum kecut dan membuat dirinya terpaksa harus melakukannya. Dia seperti merasa tidak enak padaku dan yang lainnya.


"Tapi ngomong-ngomong... Kenapa kalian bisa Knock Out secara bebarengan di akhir?"


Aku ingin tahu itu, sebenarnya jika saja lampu gantung yang terbakar itu jatuh. Benda itu seharusnya malah akan mengurung mereka yang ada di dalam.

__ADS_1


Namun perhitunganku salah setelah itu terjadi. Semua murid yang berada di sana tereliminasi, namun bukan karena lampu gantung itu, ada sebab lain yang menyebabakan.


Saat kulihat dari monitorku, mereka tidak knock out di waktu yang bersamaan, namun knock out satu persatu sampai terbabat habis.


"Sebenarnya, sebelum aku tereliminasi, aku merasakan sebuah bola es yang sangat cepat melesat ke arahku."


Moka tiba-tiba buka suara. Cara bicaranya dengan kedua tangan yang menyilang menunjukkan kalau dia benar-benar menganalisa kejadian ini.


"Aku mencoba menghindarinya, namun tepat saat bola itu berhasil kuhindari. Bola itu seketika berubah menjadi sebuah tangan yang memegang sebuah pedang. Alhasil, aku terkejut dan tidak sempat untuk menghindar." (Moka)


"Tunggu, jadi itu yang sebenarnya terjadi?!" Stevent yang berada di belakangnya tiba-tiba berteriak sehingga semua mata memandangnya.


"Apakah versimu berbeda?" Tanyaku.


"Tidak, hanya saja yang kulihat adalah sebuah makhluk yang menyerupai kuda menabrakku dan menginjak-injakku sampai K.O." (Stevent)


Apa yang dia ucapkan kini malah lebih tidak masuk akal.


"Jika itu yang terjadi padamu, seharusnya Knock Out nya akan sangat memakan waktu, tapi di monitorku kalian tereliminasi secara bergantian dengan selang yang cukup dekat."


Seketika mereka yang tadi berada di akhir pertarungan terkejut dan merasa apa yang kuucapkan malah lebih tidak masuk akal.


"Tunggu, kami K.O bergantian dan dalam waktu yang cukup dekat?" Moka mencoba mengumpulkan apa yang dia dapat.


Aku harus segera menjelaskannya, mungkin sang komandam musuh mereka memiliki sesuatu yang tak terduga.


"Ya, aku yang ada di sana juga melihatnya. Kalian malah tereliminasi bagaikan terbakar oleh ledakan yang sangat besar!" Sophia yang tadi diam kini membuka suaranya.


Dia adalah salah satu yang berdiri di akhir, atau yang sering disebut Last man standing.


Sebaiknya Last Woman Standing, mungkin?


"Ngomong-ngomong soal yang berdiri sampai akhir pertarungan..." Stevent memegangi dagunya, dia memikirkan dan mencoba mengingat sesuatu. "Bukankah Gita juga orang yang sampai di akhir?"


Nama Gita seketika terbaur di kuping mereka, entah kenapa nama itu sering terlupakan namun setiap kali disebut, mereka semua langsung tahu siapa pemiliki nama itu.


"Hey! Kau tadi kemana saja?! Bukannya membantu tim, kau malah ngilang dan nyampah komandan lawan!" Moka menegur Gita yang dari tadi tersenyum tanpa rasa bersalah.


"Eh-eh...."


Dia diam malu-malu, namun bukannya terlihat seperti orang pemalu. Dia malah terlihat seperti orang bodoh.


Canda dan tawa menyinari akhir dari ujian ini. Semoga saja ini akan bertahan sampai di akhir penghujung acara.


Mereka pasti akan sedikit kecewa, atau bahkan frustasi dengan hasil ini.


Sambil melihati hasil ujian yang terpampang di ponselku, aku menatapi gerombolan murid ajarku yang sedang diselimuti canda dan tawa itu.

__ADS_1


__ADS_2