
"Pa* Ra*y*d to-*olo** ak**...Ssssttttt..."
*Koneksi terputus.
Suarak telpon dari muridku tadi membuatku terdiam seribu bahasa.
Bagaimana tidak, murid yang kuanggap membenciku tiba-tiba mengirim sebuah panggilan aneh yang terdengar samar.
"Hah?"
Aku mencoba melihati kembali layar ponselku untuk memastikan apakah yang baru saja kudengar memang berasal dari Stevent atau bukan, namun meskipun kupandangi bermenit-menit sekalipun, nama itu tetap di sana dan tidak berubah, nama Stevent benar-benar terpampang di layar ponselku.
"Apa yang terjadi?"
"Siapa yang menelpon, Rasyid?" Dahlia yang terbang bebarengan di sampingku bertanya dengan memasang ekspresi khawatir.
Tangannya yang memegang tanganku semakin melemas dan terlepas dari jemari-jemariku.
"Muridku, dia mengirimi pesan yang terdengar samar..."
Mataku menajam sampai ke ujung langit yang berada di depanku.
"Samar? Apakah ada sesuatu?"
"Entahlah, tapi dari cara bicaranya, ma-maksudku nada bicaranya, laki-laki itu sepertinya meminta tolong padaku karena berada di situasi yang sangat genting."
Saat mengetahui murid itu adalah laki-laki, entah kenapa aku merasa kalau aura di sekitar Dahlia menjadi lebih ringan daripada sebelumnya.
"Bukankah itu artinya anda harus segera membantunya? Mungkin saja ada orang jahat yang membuat anak itu dalam posisi terancam dan tidak bisa melawan?"
"Itu memang mungkin, tapi anehnya..." Aku memegang daguku, dan mencoba berpikir lebih logis. "... Kenapa dia menelponku, bukankah dia sudah punya dua pembantu yang sangat bisa diandalkan?"
Dua pembantu yang kumaksud adalah Hakam dan supirnya, meskipun jarang kulihat, tapi aku bisa menilai kalau supir itu bukanlah sembarangan.
"Pembantu? Jangan-jangan, dia pangeran?"
Ah, sial... Aku keceplosan.
"... Eh..."
Apa yang harus kukatakan, padahal bermain-main dengan privasi orang itu tidak baik.
"Stevent Xander... Laki-laki yang dikenal sebagai biang kerok kelas di saat sebelum anda mengajar di sekolah itu... Apa yang dia inginkan? Kenapa dia minta bantuan pada anda?"
Sudah kuduga, kejelekan seseorang akan terus teringat sampai kapanpun, tapi untungnya, yang ditanyakan oleh gadis ini hanyalah maksud dari panggilan itu.
"Kalau aku tahu, aku pasti tidak akan bertanya..."
"Oh, benar juga..." Wajahnya tampak terlihat bodoh.
"Tapi, panggilan itu tetap saja mengangguku."
Jarang sekali melihat anak itu berada di posisi seperti itu, apalagi dalam kondisi seperti memohon. Dia saat minta bantuanku saat sebelum ujian saja masih pakai malu-malu kucing, alias tsundere mode.
"Jika anda memang terganggu dengan itu, kenapa anda tidak langsung terbang saja ke sana?"
Dahlia memberikanku sebuah saran.
__ADS_1
"Hmm(mengangguk)... Itu ide bagus, tapi apa kita sebaiknya datang dengan sopan saja, dengan berjalan melalui pintu depan pastinya."
"Tidak..."
Jawaban Dahlia berkebalikan daripada apa yang akan kuharapkan. Kupikir dia akan setuju-setuju saja dengan jawabanku, namun rupanya tidak.
Dan dari caranya menjawab, sepertinya dia merasakan bahaya yang sangat bahaya dari panggilan telpon itu.
"Apa maksudmu, kenapa tiba-tiba menolak? Apakah ada sesuatu yang aneh?"
Dalam masalah untuk menganalisa hal sosial seperti ini, aku akan kesulitan bahkan tidak paham sama sekali, meskipun aku sudah sedikit mulai membaca situasi.
"Intuisi saja... Hanya belajar dari pengalaman..." Saat mengatakan itu, wajahnya dialihkan dariku, dan menatap teguh perumahan yang ada di bawahnya.
Pengalaman?
Bila diingat-ingat.... Aku tidak ingat.
Aku bahkan lupa apa yang terjadi padanya sehingga hubungannya dengan Astra bisa sangat dekat.
"Jadi... Apa yang sebaiknya kita lakukan?"
Itu dia yang harus segera dipertanyakan, jika begini sala, begitu salah, lalu apa?
"Kenapa tidak anda deteksi saja?"
"Deteksi?"
"Bukankah ponsel sekarang sudah disatukan dengan GPS?"
"..."
"Anda tidak tahu?" Dahlia memiringkan kepalanya.
Wajahnya yang datar dan melas menjadi pemandangan yang menghiasi titik tengah pemandangan awan-awan di langit dari perspektif mataku.
Aku menggelengkan kepalaku untuk menjawan pertanyaan gadis itu.
"Seperti yang saya duga, pasti anda akan kelihatan ketinggalan jaman..."
"Ketinggalan jaman?"
Bukankah ponsel-ponsel sekarang punya keamanan privasi? Seharusnya hal yang berbentuk GPS untuk mendeteksi lokasi seseorang biasanya dimatikan, jadinya mustahil itu bisa terjadi.
"Bukan dalam teknologi, tapi trend..." Dahlia memancarkan senyum tipisnya ke arahku.
"Trend?"
Aku melupakan hal seperti ini, seharusnya trend adalah alat paling mutakhir untuk memanipulasi suatu individu atau kelompok.
"Hmm~... Sekarang ini lagi trend-nya dimana orang-orang akan mengaktifkan GPS mereka untuk mencari lawan yang setimpal."
"Lawan?"
Jika sudah bersangkutan dengan hal seperti ini, maka hanya ada satu kemungkinan dalam trend ini...
"Sekarang di media sosial, lebih tepatnya di Zwitter, mereka beradu-adu untuk memamerkan ranking kekuatan mereka, semakin banyak lawan yang mereka kalahkan, maka semakin tinggi pula ranking mereka, bukan hanya itu, jika ranking bawah mengalahkan ranking atas, maka ranking orang yang ada di atas itu akan dirampas oleh sang penantang."
__ADS_1
Note: Zwitter itu plesetannya twitter.
"Hah? Apakah bisa? Bagaimana mereka menghitungnya hanya dengan sebuah media sosial? Bukankah Nusantara ini terlalu luas untuk itu?"
"Eh---"
Saat mau menjelaskan itu, mata Dahlia memeram, dan terlihat bibirnya dirapatkan seperti orang yang merasa sedikit berada di ambang kehaluan.
"Rasyid, bolehkan, atau seharusnya kita tetap stay on topic?"
Saat gadis itu mengatakan itu, aku tiba-tiba terbelalak, dan kembali mengingat masalah yang harus kuhadapi dulu saat ini.
"Ah---, benar juga..."
Kembali ke masalah Stevent, biarkan trend yang Dahlia katakan menjadi sesuatu untuk diceritakan nanti, karena menyelesaikan masalah lebih baik daripada menumpuknya.
"Pokoknya, saat ini anda coba deteksi nomor Stevent menggunakan GPS, aku yakin anak sombong itu pasti sudah menghidupkannya demi mencari lawan yang setara."
Aku menuruti perkataan gadis yang berstatus sebagai pacarku itu.
Tek tek tek...
Ketukan demi ketukan terus kulakukan di langit yang biru dan awan yang putih.
*Ctik
Saat aku mencoba mendeteksi lokasi anak itu dengan nomor teleponnya, layar ponselku seketika langsung dibawa ke sebuah aplikasi booble maps, dan menunjukkan sebuah tempat yang tidak menjadi seharusnya.
"Sudah ketemu?" Dahlia bertanya dengan wajah yang datar.
"Sudah, hanya saja..."
"Hanya saja?"
Bagaimana mengatakannya? Ini terlalu diluar dugaan.
"Dia berada di kedalaman Gunung Abadi!"
Gunung Abadi adalah gunung tertinggi yang memisahkan Kota Ningru dengan Kota Podokerjo. Gunung itu menjulang tinggi, bahkan menjadi seperti tembok alami yang memisahkan kedua teritori dengan dihiasi pohon-pohon yang besarnya bukan main.
Meskipun apa yang terlihat di wajahku sata ini seperti tidak terjadi apa-apa dan terlihat santai, namun di dalam pikiranku, aku berpikir sampai kebingungan, bahkan takut sekali...
Gunung Abadi itu, bukanlah tempat yang sembarangan. Bisa juga gunung itu tempat menjadi ritual terlarang orang jaman-jaman dahula. Kemungkinan besar, kekuatan sihir dari Anitya akan terganggu bila suatu individu itu menginjakkan kaki di sana.
"Kalau begitu, kita bergegas?!"
Dahlia kelihatannya tertarik dan ingin membantu, maka dengan itu, aku hanya bisa mengangguk dan memasang senyumanku yang mungkin sekarang terlihat benar.
"Ya, ayo..."
Sebenarnya aku tidak ingin dia ikut, namun karena dia jelas tidak akan melepaskanku begitu saja kali ini, maka aku biarkan saja.
Dengan bersama Dahlia yang berada terbang di sampingku, aku menembus awan-awan di langit yang perkasa, terbang cepat bagaikan jet yang sedang dalam misi, misi untuk menyelematkan seseorang.
Kami berdua terbang ke gunung itu.
Apa yang sebenarnya terjadi?
__ADS_1
Meskipun begitu, aku tetap khawatir soal ini.