Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 120.


__ADS_3

Keberadaan keluarga kerajaan di Nusantara ini adalah karena sebuah kebijakan baru dari sang presiden. Perbedaan antara kaum konglomerat dan rakyat jelata mulai terlihat sesaat setelah Anitya muncul. Maka dari itu, Presiden Manalagi membuat sebuah tingkatan seperti sebuah kasta. Meskipun terlihat deskriminasi, namun ini adalah jalan terbaik. Dengan peraturan ini pemerintah akan lebih mudah membedakan mana orang penting dan bukan, dan mana biang kerok dan mana yang bukan.


Awalnya kebijakan ini dianggap tidak adil oleh masyarakat, namun dengan berjalan seiring waktu, mereka mulai sadar betapa pentingnya kebijakan ini. Nama baik dan buruknya para pejabat akan mudah dikenal hanya dari nama keluarga mereka. Oleh karena itu, setiap keluarga kerajaan atau konglomerat harus punya nama marga dan menjaga nama baik keluarga mereka.


Point of View: Earl Stevent Xander


Sudah berapa lama aku terikat di tiang ini?


Sejam? Dua jam? Atau hampir semalaman?


Guru itu tak kunjung datang juga.


Apakah dia masih membenciku? Atau memang dia tidak bisa menemukanku?


Yah, aku anggap kemungkinan kedua adalah yang paling masuk akal.


Gunung ini memiliki kekuatan sihir yang mengerikan, sekali melamun maka kau akan dikembalikan.


Aku sendiri saja tidak tahu arahnya, aku di sini berkat kakakku yang membawaku entah bagaimana.


"(Berapa lama lagi?)"


Aku ketakutan...


Kacamata yang biasa kupakai hilang ntah kemana, ntah terjatuh dibawah, atau pecah disuatu tempat.


Gah, lama sekali...


"Pak Rasyid, tolong aku..."


Dengan perasaan berat aku memohon keajaiban pada guruku.


"KAU!"


Seketika setelah berdoa, aku mendengar suara kakakku berteriak dari kejauhan.


Dia menatap jauh ke atas sambil membelalakkan matanya lebar-lebar. Dia sepertimelihat sesuatu yang tidak dia percaya bakal dia lihat.


Pak Rasyid?!


Aku berharap.


......................


Point of View: Rasyid Londerik


Sesaat setelah menemukan ponsel Stevent yang tergeletak di lantai, aku mencoba mengambilnya.


Aku sama sekali tidak memiliki clue dengan apa yang terjadi saat ini.


Tapi, saat ini muridku membutuhkanku, maka aku harus membantunya, aku tidak mau hal itu terulang lagi.


Aku pernah gagal menyelamatkan mereka, aku tidak akan mengulanginya lagi.


Tapi, dimana?


Aku tidak tahu sama sekali.


Tanganku menggenggam erat ponsel Stevent. Keringat di tanganku mulai berjatuhan oleh getaran tubuhku.


"Hah?"


Sebuah tangan lembut itu lagi, membawaku kembali ke kenyataan.


Aku menoleh ke arah pemilik tangan lembut itu.


Di sana, Dahlia dengan wajahnya yang tersenyum lemah memberikanku kekuatan.

__ADS_1


"Ayo kita terbang ke atas, kita pasti akan lebih mudah menemukannya, bukan?"


Bodohnya aku, kenapa tidak terpikirkan sama sekali. Meskipun masih prototype, tapi aku memiliki benda ini, pencarian akan jadi lebih mudah.


......................


Kembali ke kejadian saat ini, aku dan Dahlia melayang di udara dan melihat sebuah lahan luas di puncak gunung, di sana ada sebuah tiang dan sedikit perapian untuk menyinari malam.


Stevent muridku terikat mengenaskan di tiang itu dan menatapku dengan tatap memohon sambil mengeluarkan air mata.


Di sisi lain, ada seseorang yang seharusnya kuhormati sedang menatapku dari bawah dengan tatapan terbelalak dan menganga. Tubuhnya seperti membeku setelah melihat sesuatu yang tak terduga di matanya.


"Terbang?" Dia berkomentar.


Aku tidak mau menjawab pertanyaan sepele itu, masih ada pertanyaan yang lebih dan utama yang seharusnya ditanyakan.


"Xander... Kenapa?" Aku menatapnya sedih.


Dia adalah orang yang kuhormati, tapi kenapa...


Kenapa dia memasang wajah menyedihkan dan penuh atas keputusasaan seperti itu.


"Pak Xander, anda menjijikkan..." Tanpa adanya aba-aba, Dahlia yang terbang di sampingku bersuara dengan nada yang kosong dan penuh kebencian.


"Diamlah..." Xander berbisik pada diri sendiri.


"Apa?"


Aku tidak bisa mendengarnya, suaranya terlalu tiba-tiba dan tak berkonotasi.


"Diamlah kau gadis penikung!"


Sebuah julukan pedas menusuk hati gadis itu.


Dahlia terdiam tanpa adanya sepatah katapun, matanya yang tadi menatap jijik guru itu berubah menjadi gelisah dan penuh getaran.


"Menyebutku menjijikkan padahal kaunya sendiri lebih dari itu!" Kini emosi pria itu tak terkontrol dan mulai mencerca siapa saja yang ada di sini. "Lihatlah dirimu dulu sebelum mengejek!"


"Kau pencuri posisi! Apa kau mau menceramahiku?!"


Belum lagi aku berkata apa-apa, tapi orang ini sudah berkata yang tidak-tidak.


Kendalinya sudah hilang, sebaiknya aku harus menyelesaikan ini dengan cepat.


Dengan cepat aku mengeluarkan pageblug-ku dari saku dan mengaktifkan pedangku. Aku tidak akan melakukan kesalahan seperti pertama kali bertemu dengan para guru saat itu, aku akan terus membawa pageblug-ku kemanapun dan dimanapun.


"Kau mau menjatuhkanku?" Xander menjawab gerakan tanganku yang mengaktifkan senjataku.


Dia dengan mengikuti gerakan tanganku, melakukan hal yang sama dan mengarahkan rapier-nya ke arahku.


Bertarung di udara mungkin akan sedikit beresiko, terlebih lagi aku belum mahir dan bahkan ada kemungkinan malfungsi di saat pertengahaan pertarungan.


Tapi sesekali mencari suasana baru ada baiknya, aku akan mencoba taruhan pada diriku sendiri. Bila aku berhasil menjatuhkan lawanku tanpa terjatuh ke tanah, maka aku akan langsung menyelesaikan ini semua, dan bila aku gagal, aku akan mencoba memberanikan diri untuk berbicara dengannya.


Pedangku kugenggam erat sesaat memikirkan taruhan yang kubuat sendiri. Tidak tahu apakah hasilnya akan membuahkan sebuah keberhasilan atau kegagalan, namun tetap saja itu membuatku gemetaran.


Inikah perasaan gugup akan pilihan?


Mungkin...


Saat memikirkan itu, aku kembali menatapi sekitar. Stevent yang masih terikat disebuah tiang menatap kami bertiga dengan tatapan penuh harap, Dahlia yang terbang di sampingku masih terdiam namun segera menjauh karena menyadari keinginanku untuk berdual satu lawan satu melawan pria itu, sedangkan Xander sendiri masih mengangkat pedangnya ke atas tepat ke arah tempatku terbang.


Semoga saja hal buruk tidak terjadi, aku sungguh malas jika itu harus kulakukan.


Slash!


Namun, tepat sebelum aku selesai berpikir, sebuah tembakan cahaya melesat ke arahku dan membuat perutku tertebas dan mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Ah...!" Hampir separuh perutku tertebas oleh tembakan cahaya itu.


"Aku akan menunjukkan padamu bahwa akulah yang seharusnya berada di posisi enam itu!"


Sambil berteriak, Xander melompat cukup tinggi, bahkan cukup untuk mengejutkanku.


Dia kini berada di ketinggian yang sama denganku.


Bagaikan video slow motion, aku melihat sekilas wajah seram Xander yang kini sejajar dengan mukaku.


Dengan sekejab, dia berputar dan menendang bagian perutku yang terluka dengan kecepatan cahaya.


"Ugh!"


Menyerang bagian yang terluka adalah strategi yang sering dipakai oleh mereka para petarung. Bila saja seorang pemula terkena ini mungkin dia akan langsung pingsan dan kalah.


"Rasyid!" Dahlia yang telah mendarat di dekat sebuah pohon kini khawatir denganku.


Namun aku tak ada waktu untuk menjawab, ini adalah pertarungan antara menang dan kalah. Sedikit saja jeda, maka pemenang dan pecundang akan langsung ditentukan.


"Segini saja kekuatan sang Champion dari Penilaian Guru?!" Xander meledekku tepat setelah dia mendarat setelah menendangku.


Aku yang masih berada di udara hanya bisa memegangi lukaku yang sebenarnya tidak terlalu sakit ini. Tapi aku harus bisa berakting sebisa mungkin, bagaimanapun juga, mengecoh lawan adalah keahlianku.


Dengan mengangkat pedangku sambil memegangi luka, aku seperti orang yang kehabisan ide dan memilih bertarung secara emosional.


"Apa?! Apa kau sudah mencoba menggunakan serangan terakhirmu?!"


Baiklah, dia telah terkecoh.


Kini adalah saatnya, berhasil atau gagal adalah urusan belakangan...


Aku menguatkan kekuatan jet di hover shoes-ku dan bersiap melesat ke depan.


... Yang terpenting saat ini adalah bagaimana aku bisa menyelamatkan muridku.


Jlass!


Dengan kecepatan penuh, aku melesat ke depan dan mengacungkan pedangku seperti sebuah roket.


"Tidak akan kubiarkan!" Menjawab seranganku, Xander mengeluarkan asap hitam di sekitar dirinya dan memperlambat gerakanku.


Sesuatu yang mengejutkan terjadi...


Slash!


Aku menusuk perut Xander tanpa adanya halangan sedikitpun.


"Hah?!"


Baik aku, Dahlia, Stevent, dan Xander terkejut dengan apa yang sedang terjadi.


Hover Shoes yang kupakai tidak terkena efek dari sihir yang digunakan oleh Xander. Bahkan tidak ada tanda-tanda benda itu akan rusak karena kemasukan asap hitam dari sihir itu.


"Benda apa itu...? Kenapa kau memilikinya...? Kenapa kau selalu spesial...?" Bertanya dengan nada lemah, Xander perlahan tumbang dan jatuh ke tanah.


Pedangku yang menusuk perut pria itu tercabut seiring dia mundur ke belakang dan tergeletak di sana.


"Apa yang sebenarnya wanita itu buat?"


Aku menatap pedangku yang sudah bersimbah darah, di refleksi pedang itu, aku melihat wajahku terbagi menjadi dua di antara refleksi baja dan darah.


"Rasyid... Kamu berhasil..." Dahlia berjalan mendekat ke arahku sambil dikelilingi perasaan senang. "Tapi apa yang sebenarnya terjadi?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu?"


Apakah sebuah era petarung baru akan dimulai?

__ADS_1


Bagaimanapun, aku berhasil menang taruhan, maka aku akan mencoba mengakhiri ini semua. Sesuai dengan ucapanku, aku pasti melakukannya.


Note: Berhubung lama gak update. Jadi kalau ada karakter yang tiba-tiba sifatnya berubah dari seharusnya, maka beritahu saya🙏


__ADS_2