Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 154.


__ADS_3

"Astra... Menangislah!"


Kalimat singkat yang diucapkan Hakam seketika membuat dua orang temannya ternganga tidak menyangka dengan apa yang baru saja mereka dengar.


"Hakam, apa yang kamu katakan?!" Ucap Moka sambil memarahinya.


"Maaf, hanya kepeleset..."


"Kepeleset? Kau malah terdengar seperti orang yang mau bersikap keren." Gita tersenyum sambil menatap sipit pemuda itu.


Sepertinya Gita sudah tahu dengan perasaan terpendam Hakam. Makanya dia mencoba menjailinya.


"Su-sudahlah..." Moka kembali menoleh ke arah Astra. "Astra, apakah kau mau melihat Dahlia untuk yang terakhir kalinya?" Sebuah uluran tangan yang disertai suara lembut mencoba membujuk ketua OSIS itu untuk semakin tenang.


Namun di sisi lain, pernyataan Moka malah membuat kedua temannya terkejut. Apa yang Moka saat ini coba lakukan adalah hal yang gila.


"Mo-Moka, bukankah itu tidak baik untuk membiarkannya melihatnya? Bi-bisa saja dia nanti-" Ucap Hakam dengan nada ragu karena tidak mau menyinggung perasaan Moka, namun sayangnya dipotong.


Moka seketika mendekatkan wajahnya ke arah Hakam dan membuat jarak di antara mereka semakin dekat. Wajahnya terlihat serius dan sedang tidak mau bercanda atau mengambil lebih banyak waktu hanya untuk pembicaraan sampah.


"Kita tidak tahu bagaimana perasaan Astra saat ini, KITA semua tidak tahu... Cara ini hanyalah satu-satunya yang mungkin bisa meredakan emosinya."


Merasa tertekan dan tidak mau membuat Moka semakin marah padanya, Hakam mengangguk pelan dengan murung.


"Jadi ini yang disebut Woman dominated the man?" Ucap Gita dengan nada pelan.


Beberapa detik sebelumnya, lebih tepatnya saat melihat mereka berdua bertengkar, Gita mendapat sebuah pesan dari atasannya.


Pesan itu bertulis, [Saat pulang kembali ke Sekolah, ada satu paket untukmu. Ambil paket itu di pos satpam, jangan biarkan orang lain melihatnya! Gunakan saat waktunya tepat.]


Akhir dari pesan.


Kembali ke waktu sekarang, merasakan kalau Moka dan Hakam tidak mendapatkan jalan keluar, kini giliran dirinya yang mencoba memecahkan masalah ini.


"Gita?" Moka terkejut dengan Gita yang mendekat ke arah Astra.


Hal itu diikuti dengan Hakam yang hanya melirikinya terus dengan bola mata hitamnya yang terus mengikuti arah kemana Gita berada.


Aku tidak tahu banyak soal hati manusia, namun kalau soal pengalaman. Mungkin aku tahu caranya... Ini mungkin bukan penyembuhan, melainkan hanya menghentikannya secara sementaram

__ADS_1


Dengan membawa prinsip itu, Gita menatap positif pada Astra.


Mata Astra melihat ke mata Gita, mata mereka saling bertemu dan saling merefleksikan wajah mereka di mata lawan mereka. Seperti akan ada sebuah pertarungan rival yang besar, mereka saling menatap tanpa henti.


"Gita... Apa yang kau lakukan?" Moka menatap aneh anak itu.


"Mungkin ini sedikit kasar, namun bisakah ka-kau mempercayakan sedikit pada Gita? Dia jelas tahu apa yang dia lakukan." Hakam meyakinkannya.


Hakam belajar dari saat ujian di istana itu. Dia sadar kalau Gita bukanlah sesosok yang bisa dianggap remeh hanya karena kelaukannya yang suka ngawur. Temannya itu selalu keluar di saat-saat genting dan berhasil menyelesaikan masalah, oleh karena itu, Hakam saat ini mencoba mempercayainya.


Dilihat oleh dua temannya, Gita mulai membuka mulutnya.


"Astra, ayo kembali ke sekolah....! Kau mungkin bisa menyendiri di sana." Ucap Gita sambil memberikan uluran tangan.


Meskipun Moka sedikit kurang percaya pada Gita karena bujukannya cukup absurd, namun dia mencoba diam dan percaya dengan apa yang Hakam percaya.


Suara seketika hening, merka bertiga menunggu jawaban Astra. Suara angin terdengar jelas di telinga mereka, dedaunan dan pasir salju yang tertiup angin mulai menari sesaat mereka menunggu jawaban itu.


*Ctak!


Tangan Astra menggapai uluran tangan itu, dan berdiri bersamanya.


"Hmm(mengangguk)..."


Astra melepaskan cengkramannya pada tangan Gita, dan mulai berganti arah.


"Ikuti aku!"


Gita berjalan mendahului mereka dan mencoba menjadi pemimpin untuk saat ini.


Mereka bertiga mengikuti Gita yang pergi ke arah mobil.


......................


Saat berada di sana, mereka berempat terkejut bukan main. Mata mereka melotot pada tubuh yang tumbang dan sekarat, kaki mereka bergemetar tidak kuat dengan apa yang baru saja terjadi. Semua yang mereka lihat bagaikan sebuah kejutan ulang tahun.


"Apa yang terjadi?! Kenapa Wakil Walikota Kota Ningru ada di sini?" Tanya Moka dengan mendekat ke arah Bu Linda yang baru saja datang secara misterius.


Saat ditanya seperti itu, Linda berada dalam posisi terpojok, sebuah moncong senjata laras panjang sedang diarahkan ke keningnya dari dekat.

__ADS_1


"Seperti bertemu dengan kalian adalah sesuatu yang tidak bisa kuprediksi,(menghela nafas). Baiklah, akan kuceritakan semuanya..."


Tidak punya pilihan, Linda terpaksa harus membeberkan apa yang terjadi.


......................


Mereka duduk di belakang mobil sambil memutar, sebuah benda bulat yang cukup besar berada di tengah mereka, benda itu merupakan alat penghangat ruangan yang cukup modern, bahkan bisa menjadi penggantinya api unggun bila dipakai orang di luar Nusantara untuk menghadapi musim dingin.


Tubuh lemah Rizki sang Wakil Walikota disendenkan di samping mobil, lebih tepatnya di bagian roda kanan belakang mobil. Sedangkan tubuh besar Bahar di letakkan di roda kiri belakang mobil. Hanya dengan disendeni tubuh besar itu, mobil seketika miring ke kanan karenanya.


Linda menceritakan apa yang terjadi setelah mereka pergi tadi.


Cerita tentang pertarungan antara Rasyid dan Rizki kakaknya, pertarungan dimana Rasyid mulai kebingungan tentang siapa dirinya sebenarnya. Sampai pada akhir pertarungan, tentang bagaimana Ryan menghentikan Rasyid yang mulai mempertanyakan dirinya sendiri.


"Ada apa dengan cerita ini? Ini terdengar tidak masuk akal, namun bila dipikir secara fakta, ini memang terjadi," ucap Xander sambil melihat ke arah tubuh Rizki yang pingsan.


"Maksumu tentang bagaimana Rasyid tidak mengerti siapa dirinya sebenarnya?" (Tasya)


"Ya, kurang lebih begitu." Xander kembali menghadap alat yang menengahi mereka. "Sejak awal aku curiga dengan sikap pria itu. Sikapnya selalu berubah-ubah secepat kilat, kupikir awalnya itu hanyalah adaptasinya pada lingkungannya, rupanya bukan."


Xander seketika mengerutkan alisnya. "Ini semua lebih dari itu, ini adalah kemampuan aktingnya sebagai sang pembunuh, Cike Nuwang. Dia memilih, sifat mana yang cocok dengan situasi saat ini, dan saat sifat yang dia pilih sudah cocok, maka dia siap menggunakannya untuk selamanya."


"Tapi, bukankah itu semua tidak benar!" Hakam seketika berteriak.


Hakam masih sulit untuk menghadapi kenyataan ini. Kenyataan bahwa orang itu adalah penjahat yang mengerikan. Oleh karena itu, dia mencoba melindunginya meskipun sedikit kecewa pada kenyataan.


"Kau kalau tidak salah Hakam, ya? Kau adalah pelayan adikku, dan kau juga adalah orang yang mendapat bantuan-, maaf bicaraku terlalu jauh." Xander mencoba kembali ke jalur pembicaraan. "Apa yang membuatmu berpikir seperti itu? Kau tahu, semua yang dia lakukan hanyalah manipulasi belaka, tidak ada yang asli darinya. Semua yang dia lakukan hanyalah untuk dirinya yang kosong, dan jika kau masih mempercayainya, bukankah itu berarti dia berhasil memanipulasimu?"


Mata Hakam seketika berair, namun dia seketika itu juga menahannya.


Ada sesuatu yang pasti benar tentangnya, ada sesuatu yang pasti asli darinya.


Hakam memeras otaknya, keringat membasahi wajahnya, cengkraman di tangannya menguat, dan urat-urat di kulitnya terlihay jelas oleh mata telanjang.


Aku tahu itu, kalau tidak... Tidak mungkin aku membelanya!


Seketika, sebuah gambaran senyuman gadis cantik tergambar di wajahnya.


Itu bukanlah gambaran biasa, itu adalah gambaran seseorang yang tersenyum bahagia, kebahagiaan yang baru saja benar-benar keluar setelah berada di dalam kegelapan yang cukup lama. Sama sepertinya, senyuman itu sama seperti senyumannya saat memperlihatkan pada adiknya bahwa dia telah mendapatkan pekerjaan buat dirinya sendiri dan hunian yang layak bagi adiknya.

__ADS_1


Jawabannya sudah ketemu.


__ADS_2