Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 91. Si Kuning yang Meresahkan


__ADS_3

"Apa yang kusampaikan sudah jelas. Sekarang bersiaplah!" Haran memberi perintah dengan suara yang tegas.


Para guru yang masih ada di kelas ini berdiri dan mengambil posisi siap. "Siap laksanakan!" Mereka duduk kembali setelah menjawab itu.


Aku yang baru datang hanya bisa mengikuti tanpa paham apa yang sebenarnya kulakukan. Mulai dari awal masuk sampai sekarang. Semua yang kulakukan hanyalah mengikuti guru-guru lain.


"Sekarang para murid sedang berada di kelas mereka sembari menunggu kita memanggil mereka. Untuk para guru yang nama kelasnya dipanggil. Harap datang menjemput mereka untuk dibawa ke Istana milik keluarga Tyas." Haran menjelaskan.


Ruangan gelap ini semakin lama semakin membuatku tidak nyaman. Ini bukan karena aku takut gelap. Hanya saja, suasana yang gelap dengan hanya diterangi oleh cahaya dari papan digital yang ada di depan membuat mataku sedikit kabur.


'Apa sekarang saatnya beli kacamata?' Pikirku dalam hati.


"Okelah, jangan membuat para murid menunggu lebih lama. Ayo kita acak kelasnya!" Haran menekan tombol 'Shuffle' yang ada di papan digital itu.


Nama-nama kelas mulai mengacak. Di layar sana ada dua bagian kotak. Pertama, kotak untuk tim penyerang. Kedua, kotak untuk tim bertahan.


DING!


Sistem pengacakan sudah berhenti. Nama kelas yang akan bertarung dan bertahan sudah ditetapkan.


'Oh, ini sedikit mengejutkan.' Aku tak yakin ini hanyalah sebuah kebetulan. Pasti orang itu yang melakukannya. Mataku saat ini menatap datar orang gendut dan tua yang ada di samping Haran saat ini.


"Pengacakan selesai, ujian antara kelas 1 Fisik 1 melawan kelas 1 sihir 4 sudah ditetapkan! Kelas Fisik 1 akan menjadi tim yang menyerang, sedangkan kelas Sihir 4 akan menjadi tim yang bertahan. Sekarang, untuk para guru yang mengajar kelas yang bersangkutan. Silakan keluar dan jemput mereka lalu antar ke tempat tujuan!" (Haran)


Kuat sekali tenggorokannya. Aku bahkan tidak yakin kalau bisa mengatakan itu semua tanpa sela bernapas sedikitpun.


Setelah mendengar itu, Aku jadi satu-satunya yang berdiri di ruangan itu karena Ryan sedang ada tugas di tempat lain.


Saat aku bersiap menggerakkan kakiku sesuatu terjadi.


"Berhenti di sana!" Seorang guru dari kelas 2 Fisik 5 berdiri dan menghentikan langkahku.


Wanita dengan rambut kuning meskipun disebut pirang. Orang yang pernah menjadi salah satu mantan kakakku. Dia juga adalah rival bertepuk sebelah tangan dengan Erika. Dia adalah Fredrica Kumala.


Di ruangan yang gelap ini, dia berani menghentikan langkahku dan memperlambat proses ujian.


Apa yang dipikirkan wanita ini?!


Tapi bila dilihat-lihat dari pandangan guru sekitar. Mereka kelihatan tidak melakukan apa-apa dan hanya menatapi sayu kami berdua.


Apa yang sebenarnya terjadi?


"Kau, Rasyid Londerik. Kau masih belum resmi kembali dari masa bebas tugasmu, 'kan?" (Fredrica)


"..." Apa yang dia maksud?


Perasaan aku sudah bertemu dengan kedua orang tua mereka. aku dan kedua orang tua itu juga sudah tanda tangan surat itu.


Lalu kenapa? Kenapa orang ini masih bandel?


Tunggu, saat aku absen. Pasti ada guru yang menjadi penggantiku. Jangan-jangan...


Saat menyadari itu, mataku perlahan menutup dan melihati langit-langit ruangan itu.

__ADS_1


"Kenapa kau diam saja? Apa kau tuli? Baiklah, kalau begitu aku akan menjelaskannya padamu, DENGAN JELAS!" Fredrica mulai mengambil nafasnya.


Dia akan bicara banyak sampai kupingku dan mereka yang ada di sini sampai over capacity.


Sungguh menyusahkan saja.


"Saat ini kelasmu, Kelas 1 Fisik 1 sementara ini ada dibawah kewenanganku! Jadi saat ini yang seharusnya pergi adalah aku, bukan dirimu yang habis dibebas tugaskan!" Ucapnya memekikku.


Suaranya cukup keras untuk berada di ruangan sunyi dan gelap ini. Bukan hanya keras, tapi juga cukup tajam. Ini pertama kalinya aku merasakan sakit hati karena sebuah ucapan seseorang.


"..." Seperti biasa, membantah lawan bicaraku yang sudah overmad bukanlah keahlianku. Aku tidak bisa bicara lebih jauh.


"Fredrica... Apa kau masih mau mengoceh?" Haran yang melihati perilaku bodoh Fredrica mencoba menenangkannya.


"Hah?! Tentu saja aku bisa, anda adalah yang menunjukku sebagai penggantinya, 'kan?! Anda jugalah yang mengatakan kalau dia(menunjuk ke arahku) baru boleh mengajar kembali ke kelasnya setelah penyerahan resmi denganku!" Fredrica mengotot.


Dia bersikeras untuk mencoba menghalangiku. Sebenci itukah dia padaku? Padahal aku cuman adik dari kakak bodoh itu.


Aku tidak terkejut. Wanita itu sudah sebenci itu padaku sejak awal bertemu. Tidak mungkin kebenciannya padaku hanya hilang tanpa ada salah satu yang mencoba berbicara satu sama lain.


Haran yang mendengar celatu wanita itu hanya bisa menghela nafasnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia merasa bodoh karena sudah mengatakan itu pada Fredrica.


"Baiklah... Bila penyerahan resmi yang kau mau. Maka kenapa kalian tidak beradu saja?" Haran mencoba memberi solusi.


"Beradu?! Aku jelas akan kalah kau beradu dengan monster ini?!" Ucapan Fredrica menusuk hatiku semakin dalam.


Beneran deh, ini kenapa?! Aku merasa sakit hanya dengan sebuah celatu seseorang. Biasanya aku tidak mempermasalahkannya. Tapi kini aku malah tersakiti hanya dengan itu?


"Monster, ya?" Haran tersenyum licik ke arahku.


"Bagaimana kalo begini saja?!" Haran mengangkat kedua tangannya seperti menantang kami berdua. "Rasyid..." Haran menyebut namaku dengan halus.


Aku menatap Haran atas panggilannya. "...Apa?" Ada gang sebelum aku benar-benar menjawab.


"Kau(menunjukku)... Dengan Fredrica... Harus bertanding makan pocky bersama!" Suara Haran yang tadi mulus seketika berubah keras.


"Ha?!" Seisi ruangan terkejut oleh saran dari Haran. Mereka seakan tidak percaya sang legenda juara satu yang kini jadi juara dua mengatakan hal seperti itu.


"Ke-kenapa adunya malah seperti itu?!" Fredrica yang tadi memasang wajah keras kepala langsung berubah jadi tersipu.


"Ha-Haran, apakah tidak ada pilihan lain selain hal seperti itu?!" Salah satu guru yang ada di depan bertanya.


"Mau bagaimana lagi?! Aku sudah memikirkan adu yang cocok dengan mereka berdua, tapi tak ada satupun yang masuk!" (Haran)


"Awalnya aku mau coba adu tarung seperti biasa! Tapi setelah mengingat kekuatan Rasyid yang seperti itu, aku langsung membatalkannya! Mau adu kecepatan, tapi sekaramg waktunya sudah mepet untuk mempersiapkannya! Lalu adu apalagi selain yang kupilih?!" Haran berteriak-teriak layaknya anak kecil meskipun dia sudah tua.


"Lagipula adu ini tidak mengandalkan kekuataj Anitya ataupun pageblug sama sekali! Jadi ini adalah adu yang cocok dan seimbang!" (Haran)


"Lalu? Bagaimana sang pemenang ditentukan?" Samuel mengangkat tangannya.


"Mudah saja, jika salah satu dari mereka tersipu. Maka yang tersipu akan kalah! Pertarungan dilakukan 3 kali, jika salah satunya sudah menang 2 kali maka pertarungan akan langsung dianggap selesai!"


Fredrica yang mendengar itu hanya bisa terdiam sambil memerah layaknya tomat. Dia hancur oleh tindakannya sendiri.

__ADS_1


Aku yang tadi tertusuk-tusuk oleh kalimatnya seketika membuat sebuah senyumam puas. Kini keberuntungan dipihakku.


"Baiklah! Aku akan terima! Tapi ingat, aku tidak akan sudi melakukan ini lagi!" Ucapnya sambil mengambil pocky yang ada di depan meja Haran yang berada di depan dan menghadap ke arah mereka.


Fredrica langsung menggigit pocky itu dan menyodorkannya ke arahku.


'Oi oi oi! Dia melakukan ini seperti seorang pro?!' Apa dia sudah terbiasa dengan situasi ini?!


Fredrica seperti sedang menyuapiku saat ini. Apa yang akan kupilih? Mengambilnya atau menyantapnya?


'Santap ajalah, lagipula kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.'


Dengan begitu, aku menggigit pocky yang berada digigitan Fredrica.


Saat kulihat dari mataku, Fredrica menahan dirinya dari merasa tersipu. Dia terus mencoba memendekkan batang pocky itu.


Sebenarnya aturannya tidak perlu dimakan, mungkin karena dia pro. Makanya dia refleks makan.


Guru-guru yang lain melihati panas kami bedua. Kami berdua seperti sepasang kekasih yang sudah lama pacaran.


Akan kutahan rasa malu ini, selagi aku belum merasakan hal seperti ini. Aku tidak akan mati.


"Telpon Dahlia bisa nih..."


"Woah, sepertinya mereka berdua menikmatinya..."


"Rasyid cari kesempatannya hebat sekali..."


Bisikian-bisikan para guru terdengar dari sini. Aku tidak mempermasalahkannya, tapi Fredrica yang tepat berada di depanku sepertinya iya.


Saat dia menyadari kata-kata dari mereka. Dia memanas dan melepas gigitan pocky itu.


"Kyah!" Dia memerah dan pingsan hanya dalam satu kali ronde.


Haran yang menjadi wasit di antara kami berdua menatapi ke bawah Fredrica yang pingsan itu. "Fredrica pingsan. Pemenangnya Rasyid!"


"Hore!" Suara para guru tiba-tiba ricuh sesaat memberiku selamat.


......................


Apaan tadi itu? Kenapa malah jadi begitu? Padahal aku hanya ingin kembali menatap murid-muridku.


Aku yang sudah di luar ruang itu kini berjalan ke arah kelasku mengajar.


Brak!


Seseorang tiba-tiba mendarat dari atas tepat di depanku. Bila dilihat keatas, dia rupanya turun dari menara pengawas.


"Yo payah, sepertinya kelas kita akan saling melawan satu sama lain." Ryan memasang senyum yang hina sambil mengarahkan tangannya yang menggenggam ke arahku.


"Ya cupu, tapi lihatlah! Kelasku akan menang!" Aku mengarahkan kepalku ke arah tangannya yang menggenggam.


Sudah lama aku tidak merasakan ini. Aku dan Ryan berbicara bersama seperti seorang sepupu seperti dulu. Mengatakn cupu dan payah sebagai panggilan satu sama lain.

__ADS_1


Duniaku semakin kembali.


__ADS_2