Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 127.


__ADS_3

Aku melangkah semakin dekat menuju lokasi orang itu. Hanya tinggal kurang lebih 1 km lagi, dan aku akan melihat batang hidungnya.


Lokasi dia berdiri adalah gedung tingkat 5 yang terbengkalai. Gedung itu dulunya mau dibuat untuk menggantikan bangunan sekolah yang hancur karena insiden Musim Panas Api, namun karena para pekerja sering mengeluh melihat penampakan. Proyek pembangunan gedung itu ditinggalkan terbengkalai begitu saja.


Bagi Rizki yang merupakan master sihir ke-2 mungkin menyadari bahwa arwah-arwah bergentayangan itu hanyalah ilusi sihir daei seseorang.


Namun, ada sebuah fakta yang mengerikan di alik ilusi sihir itu. Ilusi itu membutuhkan jiwa manusia yang ditangkap saat mati.


Bukankah itu artinya sama dengan arwah bergentayangan?


Bukan, karena jiwa-jiwa itu tidak berasal dari murid-murid sekolah. Melainkan dari korban-korban yang pernah dieksekusi oleh kakak tertuaku, Nazrul Aji.


Kurang lebih begitu yang kutahu dari catatan yang diberikan Nova pada saat itu.


*Tak! *Tak! *Tak!


Akhirnya aku sampai di tempat. Gerbang sekolahku dulu sepertinya belum ada yang berani menyentuhnya sama sekali. Besi yang sudah karatan terlihat sudah menggerogoti gerbang megah itu. Tanaman-tanaman kecil terlihat sudah melilit tiang-tiang pagar.


Berapa lama tempat ini tidak dijamah manusia sama sekali. Padahal kalau bangunan ditinggalkan biasanya menjadi lokasi yang pas untuk para gelandangan tinggal.


Apakah mereka sangat takut dengan hantu? Mungkin saja...


Aku mencoba melewati gerbang itu.


Saat memegang gerbang itu, karatan dari besi itu membuat perasaan tidak enak dikulitku.


"Eh!"


*KRAKKK!


Gerbang terbuka sedikit demi sedikit.


"Apa yang kau inginkan di sini? Putri Tyas?"


Namun, saat gerbang hampir terbuka sepenuhnya. Sebuah suara wanita yang tak pernah kudengar masuk ke dalam kupingku.


"Tyas?"


Dia menyebut nama putri itu?Itu artinya-


"Aku sudah melihat semua muslihat busukmu, dari awal sampai sekarang. Bahkan tipu daya yang belum kau keluarkan sama sekali sudah terlihat di kepalaku."


Dia benar-benar ada di sini?!


Kenapa?!


Siapa yang dia ajak bicara?!


Apakah kakakku?! Tidak, itu mustahil.


"Sasaranku di sini adalah pria yang bernama Rasyid Londerik, bukan dirimu!"


"Sayang sekali, tapi sepertinya akulah yang harus menjadi sasaranmu." Suara tawa menyeringai terdengar keras.


"Ah, ya udah~ Padahal aku akan menjadikanmu mangsa terakhirku, tapi sepertinya tidak bisa."


Tidak tahu apa yang terjadi di sana, namun aku tahu kalau mereka berdua sepakat untuk saling baku hantam.


Saat ingin mencoba mengambil jalan lain untuk melewati mereka, aku menemukan sesuatu yang tidak seharusnya.

__ADS_1


"Apa itu?"


Aku melihat sebuah kotak-kotak kayu di sekitar reruntuhan bangunan. Jika orang normal mungkin tidak akan menyadarinya, namun kotak kayu yang kulihat saat ini terlihat masih sangatlah kokoh padahal sekolah ini tidak dijamah tangan manusia cukup lama.


Aku merasakannya!


Seseorang dibalik kotak kayu itu!


Aku harus menyingkirkannya. Mereka akan menjadi pengganggu bila mereka tiba-tiba berpihak ke salah satu dari mereka.


Langkah kakiku yang tenang mulai mendekat ke arah kotak-kotak kayu itu. Terlihat terdapat 3 orang sedang menunggu aba-aba dari seseorang. Sayangnya karena kondisi kotak yang tidak ada pencahayaan mereka tidak bisa melihat apapun yang datang mendekati mereka.


Pageblugku kuaktifkan dan bersiap menusuk kotak-kotak itu dalam waktu singkat.


Saat jarak sudah dekat, aku mengaktifkan sihir cahaya untuk mempercepat tusukan pedangku, ini juga harus dilakukan agar 2 orang yang lainnya akan langsung kubinasakan sebelum mereka menyadari penyusup dari suara teriakan orang pertama yang kutusuk.


*THRUST!


*THRUST!


*THRUST!


Tiga tusukan pedang yang sangat cepat menusuk tiga kotak kayu sampai memuncratkan cairan merah.


Mereka saat ini masih dalam keadaan pingsan, aku harus segera menghabisinya!


Pedangku mengeluarkan aura es yang membuat bahkan darah sekalipun membeku.


Pedangku kembali kutusukkan ke kotak itu dan kali ini akan benar-benar membinasakan mereka.


*CTAR!


"Sekarang, tinggal berjalan ke atas sana..." Aku melihat ke arah atap gedung terbengkalai itu.


Dari sana aku bisa melihat sebuah tatapan yang menungguku. Mata itu seakan mengisyaratkan seperti, "akhirnya kau sudah tahu..." Kurang lebih seperti itu.


"WIDYA!"


Namun, saat mau melangkahkan kakiku, sebuah suara teriakan dari sang putri membuatku penasaran.


Nama itu...


"Widya?"


Nama yang sama dengan nama mantan Xander.


Apakah dia orang yang sama?


Atau hanya sebuah kebetulan semata?


Kota Ningru itu besar, tidak mungkin nama itu hanya ada satu.


Tapi karena nama itu disebutkan oleh Tyas, yang merupakan tunangan Xander mungkin saja dia adalah orang itu.


"Kenapa aku begitu tertarik dengan permasalahan ini?"


Rasa penasaranku teralihkan, dan mulai berbelok melangkah ke arah pertarungan.


......................

__ADS_1


*Gubrak!


Badan Tyas menghantam tembok-tembok sekolah. Melihat kesempatan emas, Widya berlari maju dan mencekik leher wanita itu.


"Tyas! Apakah kau tidak lihat perbedaan kekuatan kita?! Kau begitu lemah saat ini!"


"(nyengir), heh kenapa emangnya? Asalkan aku bisa membuatmu teledor, maka aku akan menang!"


"Apakah kau tidak melihat kondisimu saat ini?!"


Cekikan Widya semakin kuat, nafas Tyas semakin sesak dan tubuhnya semakin tersiksa.


"Bukankah ini suatu kepuasan tersendiri bagimu? Kau saat ini menyiksa orang yang telah mencuri Xander darimu."


"Heh, Xander?"


Tapi jawaban Widya sungguh di luar dugaan. Dia tidak memperlihatkan tanda-tanda peduli pada pria itu.


"Kau tahu, aku sudah lama meninggalkan dunia percintaan!" Widya mengeluarkan suara yang seram, matanya melotot seperti mengintimidasi lawannya. "Sejak ayahnya menakut-nakutiku dengan sesuatu yang bernama Cike Nuwang, aku berhenti berpikir."


"Saat itu, aku mencoba memberi kesempatan pada Xander. Bila saja dia datang menemuiku, maka aku akan mencoba kembali ke hidupku yang dulu." Wajahnya berubah muram, dan bila ditanya kenapa, jawabannya pasti itu.


"Dia tidak datang sama sekali. Dia seperti sudah melupakanku seutuhnya."


"Aku berpikir lagi, lagi, dan lagi..."


"Apakah ini kekuatan orang yang berkuasa?"


"Bila iya, maka seharusnya aku juga harus begitu."


"Saat itu juga, aku bertekad membuat diriku tidak bisa disentuh sama sekali oleh orang-orang besar seperti kalian!"


"Sedikit demi sedikit, aku berhasil mengumpulkan orang yang mau mengikutiku. Semakin banyak pengikut, maka semakin mudah pula aku menghancurkan mereka."


"Dari cara bicaramu...Sepertinya maksud dari 'menghancurkan' bukanlah secara fisik." Tyas mencoba tersenyum hina meskipun dia sedang tercekik.


"Apakah kau pikir aku akan memberikan informasi gratis?"


"Tidak, tapi dari cara bicaramu, kau sudha memberikan jawaban atas maksud 'menghancurkan' itu."


Tyas dan Widya tersenyum menyeringai dan hina. Mereka seperti saling tersenyum untuk merendahkan satu sama lain.


"Mau bagaimana lagi, menghancurkan orang besar dengan menyebarkan informasi mereka adalah hal terbaik bagiku~ Mereka bahkan membayar lebih hanya untuk memohon agar aku tidak menyebarkannya. Keadaan mereka semakin diperparah dengan lenyapnya pembunuh bayaran bernama Cike Nuwang itu."


"Jadi, aku masih tidak tahu kenapa kau berusaha menghancurkan pria itu?"


Saat Tyas menanyakan itu, Widya langsung melempar Tyas dari cekikannya. Lemparan itu membuat Tyas menghantam dinding lainnya dan kali ini dia tergeletak di tanah dengan kesadaran yang hampir hilang.


"Kau tahu..." Widya menarik rambut elegan dan bergelombang Tyas dengan cengkraman yang kuat, kepala putri itu sampai terangkat dan dibuat menatap langsung ke wajah Widya. "...Rasyid Londerik, dia adalah orang yang sangat berbahaya, bahkan lebih berbahaya dari apa yang seharusnya kau pikirkan."


"Penilaian Guru, dan Insiden ledakan di pertengahan Penilaian Guru itu, pada awalnya aku mengira dia hanyalah orang biasa yang sedang menyembunyikan kekuatannya. Namun, setelah aku coba teliti lebih jauh... Tepat sesaat aku mengirim para pebisnis itu... Aku semakin yakin, kalau guru itu, adalah lambang dari kematian, atau yang dulu disebut Cike Nuwang."


Tyas hanya bisa mendengar tanpa menjawab, dia sudah lemah dan tak bisa melawan.


"Saat Rasyid menghabisi seluruh penculik di pabrik, saat dia menjatuhkan puluhan pesawat di sebuah gedung, dan saat dia memperlihatkan diri di bawah jembatan layang dan mengalahkan semua guru yang kukirim untuk melawannya. Dia adalah wanita itu!"


Widya melepas jambakannya, dan kini dia merentangkan tangannya ke atas seakan menantang dewa.


"Keberadaanya saat ini! Akan membuatku tersentuh! Maka dari itu! Aku akan menyegelnya sebelum itu terjadi!"

__ADS_1


__ADS_2