
Beberapa jam setelah aku mengunjungi rumah dan laboratorium wanita itu, saat ini aku berada di kamarku dan kembali menghadap mejaku yang bersih layaknya baru buat.
Tek tek tek tek...
Aku menekan-nekan layar ponselku.
Bila ditanya kenapa, aku tiba-tiba dapat banyak pesan dari orang-orang sekolahan.
Apakah merepotkan, jawabannya iya... Bagaimana tidak, ada sekitar 7 orang yang mengajakku bicara di waktu yang bersamaan. Aku harus menjawab dan membalas dengan benar.
Pertama dari guru-guru satu aliran, Erika, Samuel, Xander, dan Tasya menanyaiku dan khawatir soal nasib kelasku.
Guru-guru lain seperti, Ryan, dan Bahar juga ikut menanyaiku, dan bertanya-tanya kenapa kelasku tidak muncul. Ini aneh sekali, kenapa Bahar juga tidak tahu alasannya?
Ada satu murid yang memberikan pesan kepadaku secara langsung, dan tanpa melalui perantara grup chat.
Dia tidak lain dan tidak bukan adalah Dahlia... Orang yang sekarang punya status sebagai kekasihku.
[Rasyid, aku dengar kelas anda mendapatkan musibah, jadi aku sekarang mencoba untuk mengecek secara langsung, apakah itu beneran?]
[Bila kuingat-ingat, bila sebuah kelas gagal dalam meraih minimal 20 besar dari 27 kelas, maka niscaya, seluruh murid di kelas itu akan kesulitan untuk diterima di pendidikan selanjutnya]
[Jadi, aku harap anda segera memperbaiki masalah ini bila anda peduli pada murid anda.]
[Semoga anda baik-baik saja, Dahlia]
Ah... Cara penulisan siswi itu saat di chat sangat formal sekali, bahkan Erika sekaligus kalah formal dengan gadis ini.
[Tenang saja, aku sudah menyelesaikan masalah ini (>_<)]
*kirim
Dengan begini, seharusnya dia sudah tidak perlu khawatir.
Aku tidak tahu akan seberapa khawatir dirinya saat mendengar berita yang menyangkut namaku saat ini.
*Pesan masuk
Buset, sudah langsung dibales!
[Benarkah? Bagaimana anda bisa melakukan secepat itu?!]
Aku mencoba membalasnya dengan jawaban santai, namun tepat aku baru saja menekan satu abjad.
*Pesan masuk
[Apakah anda melakukan trik hebat lainnya?]
*Pesan masuk
[Atau mengintimidasi mereka sampai lari terbirit-birit?]
*Pesan masuk
[Aku yakin apa yang sedang kupikirkan sekarang tidak ada yang benar atau bahkan mampu menyaingi apa yang sedang ada di dalam pikiran anda(;-;)]
*Pesan masuk
[Ceritakan lebih jauh, bagaiamana anda bisa melakukannya! (*0*)]
Kalem,kalem,kalem! Kenapa dia memborbardirku dengan pesan yang cukup banyak?!
Tik tik tik
*Menulis pesan.
[Tidak, ini cuman kesalahpahaman saja, terkadang sistem dan mesin sering mengalami kerusakan, jadi itu tidak ada orang jahat yang terlibat saat ini.]
Klik. *Kirim
Tentu saja aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.
Itu sudah bagian dari perjanjiannya, yaitu kedua belah pihak tidak boleh menganggap hal yang terjadi di bawah flyover itu pernah terjadi. Dan bila ada yang berani mengatakannya, maka posisiku sebagai guru akan kembali terancam, dan posisi para mereka(lima guru itu) akan dalam status dipertanyakan.
__ADS_1
*Pesan masuk
[Rasyid, aku ingin bertanya padamu, apa kau tadi berjalan dengan wanita lain lagi?]
Sebuah pesan lain masuk ke dalam layar ponselku, pesan ini terdengar agak ke masalah pribadi, ketimbang masalah kelas.
Saat kulihat nama pemilik nomor itu, mataku langsung mengendur dan memelas.
Sudah kuduga, itu pasti dia...
[Matamu ini terbuat dari apa, Erika?]
[Kenapa tajam sekali? Bahkan mata Samuel sekalipun pasti akan kalah jika diadu sekalipun]
*Kirim
Aku tidak akan bermain menjadi orang baik padanya, dia terlalu menakutkan jika aku tidak segera menghentikan amarahnya.
*Pesan masuk
[Hey, aku tanya serius tahu!]
*Pesan masuk
[Aku melihatmu keluar dari rumah guru sadis itu!]
Sudah kuduga dia pasti akan marah...
Tapi bila dibaca beberapa kali isi pesannya, entah kenapa aku malah jadi semakin ngeri dengan caranya melihatku.
Jika aku orang normal, maka aku akan langsung menulis pesan tebal dan menyebutnya dengan julukan ‘STALKER’.
Tentu saja itu hanya bila aku normal.
Untuk sekarang, aku akan membiarkan diriku masuk ke dalam aliran pembicaraanya saja.
[Melihatku keluar dari Haran?]
[Apakah kau seorang stalker?]
Oh sial, aku menuliskannya. Aku terlihat normal sekarang.
*Kirim
[Siapa yang kau sebut stalker?! (\=_\=)]
[Aku ke sana hanya karena dipanggil olehnya tahu...]
Dipanggil?
Kenapa Haran tiba-tiba memanggil wanita ini?
Bukankah dia bilang dia masih merahasiakan penemuannya itu?
Lalu kenapa dia dengan gampangnya mengundang guru lain untuk datang ke rumahya?
Tenangkan pikiranmu, Rasyid!
Mungkin saja ada masalah yang lebih simpel ketimbang itu.
[Dipanggil?]
[Buat apa?]
*Kirim
Aku hanya bisa berharap itu bukanlah sesuatu yang berurusan dengan masalah ini.
*Pesan masuk
[Aku dipanggil untuk membawakan beberapa benda aneh (-_-)]
[Aku tidak tahu mau buat apa benda-benda itu]
__ADS_1
[Tapi yang pasti...]
[Benda itu terlihat seperti mainan anak kecil (\=_\=)]
“Akh—Ahahhaha.” Tanpa kusadari, cekikanku tiba-tiba keluar di tengah malam, mungkin diriku akan dikira gila di dalam kamarku bila ada yang mendengarnya. “Tak kusangka model yang Haran buat malah menjadi kamuflase yang cukup natural...”
[Tenang saja, kau akan menjadi pelayan yang baik... :v] (R)
[Hey, soapaa ynag kausebut degan pelayan?!] (E)
Erika membalas pesanku dengan sangat cepat, bahkan sampai salah-salah pengejaannya.
Dia pasti benar-benar merasa dibodohi sekarang.
[Lagipula, jangan mengalihkan pertanyaanku tadi!] (E)
[Pertanyaan apa?] (R)
[HEY!]
[Hmm...]
[Jangan pakai kata mengerikan itu!]
Note: Kata ‘hmm’ biasanya digunakan dalam chat untuk orang yang sedan tidak mau bicara, atau sedang ngambek.
***
Di tengah-tengah percakapan kami berdua, sebuah pesan tiba-tiba menderingka ponsel kami. Pesan itu berasal dari grup chat yang berisikan para guru-guru di sekolah tempatku mengajar.
Isi pesan itu sangat singkat, bahkan bila dibaca sekalipun hanya ada satu kata, yaitu...
[Bacalah!]
[2 MB, file]
Sebuah file?
*Pesan masuk
[Rasyid, siapa yang mengirim pesan itu?]
[Itu jelas-jelas orang luar]
[Karena aku sudah menyimpan semua nomor telepon mereka(para guru]
[Terima kasih, aku akan berhati-hati...]
Aku kembali melihat isi pesan di grup chat itu.
Guru-guru lain sepertinya tidak ada yang membalasnya dan hanya terdiam.
Antara mereka sedang langsung membaca isi pesan itu, atau memang tidak mempedulikannya.
Sebenarnya ada satu kemungkinan buruk, namun aku mencoba berpikir positif dan menganggap mereka sudah cukup dewasa untuk tidak mengungkitnya.
Saat file itu kutekan,
Dia memperlihatkan banyak sebuah daftar...
“Eh?!”
Tapi aku seketika tersontak, apa yang ada dalam file itu sebenarnya adalah...
“Ini adalah daftar ranking kelas di ujian ini!”
Saat kubaca, kelasku berada diurutan yang tidak terduga...
Kelas 1 Fisik 1, ada di urutan nomor 6 dari seluruh kelas.
Sedangkan kelas yang sebelumnya ada di posisi itu malah ada di posisi yang paling mengenaskan, yaitu urutan terakhir.
Kelas itu adalah kelasnya...
__ADS_1
Kenapa bisa seperti ini? Seceroboh apa murid kelasnya bisa sampai membawa mereka ke situasi ini, Xander?