
Aku terbaring di atas kasur dengan memalingkan wajahku dari Erika. Saat ini aku masih belum siap untuk bertemunya. Aku hanya berharap dia segera pergi karena sekarang aku sedang gugup.
"Rasyid, aku bertanya padamu! Apa hubunganmu dengan nenek itu?!" Erika membentakku.
Aku diam tidak menjawab.
"Aku dengar tentang rumor, kalau bawahan bupati adalah seorang pemain arena liar. Di sana mereka selalu bertaruh dengan uang besar, apakah kau dulunya juga begitu?"
Sepertinya rumor yang di dengar Erika adalah rumor palsu tentangku, sebenarnya aku adalah eksekutor dari Nova. Tugasku adalah melenyapkan siapapun yang mengancam kekuasaan nenek itu, baik itu pangeran, wanita, ataupun anak-anak semuanya kuhabisi.
'Tidak mungkin aku bilang begitu'
Aku perlahan menatap Erika tapi masih dengan menundukkan kepala.
"Hmmm(mengangguk pelan), aku dulunya seorang petarung liar. Bertarung demi uang, itu adalah satu-satunya yang kupikirkan. Sampai saat itu, Kakakku memperkenalkan aku dengan Nova. Dia bilang dia sedang butuh bodyguard, karena popularitasku sebagai petarung liar tidak diketahui banyak orang selain mereka yang suka bertaruh. Nova menaruh kepercayaan padaku. Sejak saat itu, aku bekerja menjadi bawahannya," ucapku bohong.
Erika terkejut dan memasang wajah kasihan setelah mendengar bualanku.
"Tidak mungkin..., bagaimana mungkin...,"
"Bagaimana mungkin kau bisa membohongiku seperti itu!" Erika berteriak ke arahku.
"Kenapa kau selalu berbohong?! Setiap hari aku selalu mengawasimu. Mukamu selalu memasang wajah palsu! Setiap hari muka yang berbeda selalu kau perlihatkan, tapi tidak ada yang asli. Aku tahu karena aku pernah mengalaminya!" Dia mencaciku dengar keras, air mata turun dari matanya.
"Maaf...," suaraku lirih
"Kenapa kau tidak beritahu masalahmu padaku? Bukankah itu yang kau katakan padaku sehingga aku menceritakan masa laluku?"
Erika mengusap air matanya, dia serius akan mengejarku meskipun aku berlari ke ujung dunia sekalipun.
Aku menyentuh daguku untuk memikirkan cerita yang akan kuberikan.
"Aku harap kau tidak berbohong lagi..." Matanya kosong.
Entah kenapa, aku merasakan rasa bersalah setelah membohonginya. Padahal dulu, saat aku membantai dan menghancurkan perasaan seseorang, aku merasa puas.
"Aku hanya berharap, tidak ada murid berambut hijau di dekat sini."
"Rambut hijau? Maksudmu Moka? Kenapa?" Erika bertanya.
"Begini ceritanya..."
Semua bermulai saat aku masuk SMA. Sebuah persahabatan yang hancur karena nafsu.
Saat SMP, aku adalah anak penyendiri. Tak ada orang yang dapat berteman denganku karena aku terlalu diam. Sampai aku mendapatkan sebuah masalah, aku menyadari kalau aku butuh teman untuk membantuku. Tapi aku tidak bisa, aku tidak punya itu.
Saat SMA, aku mencoba berteman. Satu-satunya yang bisa kuajak bicara adalah teman sebangku-ku.
"Anu..., Hai." Aku menyapa teman sebangkuku.
"Ha...?"
Awalnya ekspresinya seperti kebingungan, tapi dengan cepat dia menyadari kondisiku. Dia tersenyum padaku dan mencoba berjabat tangan padaku.
"Jauhari, aku sekolah di sini karena dekat dengan rumah. Hanya tinggal nyebrang jalan sudah sampai." Dia mengatakan itu dengan bangga tapi terlihat konyol.
Dia kebalikan dariku, dia orang yang pintar berteman.
"Rasyid, rumahku agak jauh dari sini. Harus naik bis baru sampai." Aku menggapai jabat tangannya.
Melalui bantuan Jauhari, aku mulai berteman dengan teman sekelasku. Tapi untuk teman yang bisa kuanggap sahabat hanya dua orang. Dia(Jauhari) dan.... Farhan, kakak tertua Moka.
"Apa?! Kau berteman dengan Kakaknya Moka?!" Erika memutus ceritaku karena terkejut.
Aku mengangguk. "Kami bertiga selalu bersama di sekolah."
Saat kami masuk kelas 3, aku mendapatkan seorang pacar. Namanya adalah Rosa, dia adalah wanita yang periang, baik hati, dan suka membantu. Aku merasa beruntung saat itu karena memiliki pacar yang dapat menutupi kekuranganku.
Tapi semua itu berubah, pada pergantian semester. Aku pulang ke rumah dan mendapati kedua orang tuaku meninggal dan sudah dikuburkan tanpa memberitahuku. Kakakku yang melihat kepulanganku langsung membisikiku sesuatu.
'Aku akan membalasanya.'
__ADS_1
Rizki pergi meninggalkanku sendirian di rumah tanpa mengatakan lebih jelas.
Libur semester berlalu tanpa ada kabar dari kedua kakakku. Aku ke sekolah dengan wajah hampa, tidak tahu apa yang harus kulakukan.
"Halo Syid! Aku merindukanmu!" Rosa memelukku dari belakang tanpa malu dilihati murid lain.
"Apa yang kau?! Ini memalukan!" Aku memerah tenggelam dalam pelukannya.
"Biarlah. Aku ingin memelukmu sampai kelas!" Dia tersenyum manis.
Pulang sekolah aku pergi menemui Jauhari karena dia bilang dia mau mengatakan sesuatu padaku. Kami duduk lesehan di taman sekolah.
"Kenapa kau memanggilku?" Tanyaku kosong.
"Farhan dan kau hari-hari ini sudah jarang berkumpul. Grup kita terpecah, aku masih bisa membiarkanmu karena kau punya pacar. Tapi Farhan sepertinya mempunyai gerak gerik aneh. Aku yakin dia memiliki niat jahat." Wajah Jauhari menajam serius.
"Apa kau yakin? Dia adalah orang yang sangat baik, terlebih lagi dia adalah pelawak kelas. Tidak mungkin Farhan akan melakukan hal buruk, palingan cuman masalah keluarga." Aku menyangkalnya.
"Aku beneran curiga kalau dia punya niat yang sangat jahat pada salah satu dari kita!" Jauhari berdiri memekik padaku.
Buk!
Suara pukulan mengenai pipi Jauhari. Pukulan itu berasal dariku. Aku melihatnya dengan rendah. "Berani-beraninya kau bilang kalau sahabatmu akan melakukan hal buruk!" Dengan kesal aku pergi meninggalkan Jauhari yang masih tersungkur di tanah.
Saat di lorong teras sekolah, seseorang memanggilku. "Rasyid! Ayo pulang bareng!" Rosa memelukku dari belakang.
"Maaf aku mau sendirian saat ini." Aku melepas pelukannya dan berjalan pulang sendiri.
Kekesalan pada Jauhari masih menyelimutiku, moodku masih rusak. Berjalan dengan Rosa malah akan menyakitinyan, jadinya aku menolak ajakannya.
Saat itulah, aku tersadar. Rosa memelukku dengan tangan yang bergetar sambil mengeluarkan air mata. Waktu kami berdua menjadi sangat renggang.
Sampai kelulusan sekolah, Rosa menelponku dan memintaku pergi ke sebuah gedung sekolah yang tak terpakai. Aku sudah yakin dia meminta mengakhiri hubungan yang tidak semakin jelas ini. Hatiku mengeras untuk menghadapi ini.
Sejak pagi entah kenapa tanganku merasa sakit seperti habis tersuntik. Inikah yang disebut kesakitan saat berpisah dengan teman-temanku. Terlebih lagi berpisahnya sebuah perasaan.
Saat sedang berjalan ke tempat yang ditentukan, Jauhari memanggilku dan berlari ke arahku. "Rasyid, ha...ha...ha..., akhirnya terkejar." Dia kelelahan habis berlari.
"Kenapa kau, tiba-tiba memanggilku." Perasaan kesal waktu itu masih menyelimutiku.
"Kenapa kau tiba-tiba melarangku? Apa kau masih mengungkit masalah itu?!"
"Tidak kali ini-
"Maaf ada urusan penting!"
Aku pergi meninggalkannya.
"Hey dengarkan aku dulu!"
Aku menghiraukannya.
Aku masuk ke kelas itu, suasana gelap sangat pas untuk dipakai untuk hal yang tidak-tidak.
Buk!
Sebuah tongkat kayu memukul kepalaku dan aku langsung pingsan dibuatnya.
Saat aku tersadar suara Farhan terdengar.
"Akhirnya kau bangun juga." Suaranya senang.
Aku terbangun dan melihat Rosa dan Farhan sedang bersatu di depanku. Aku langsung melebarkan mataku karena terkejut. Tubuhku yang terikat membuatku tidak bisa melakukan apa-apa.
"Apa yang kau lakukan pada Rosa, Farhan!" Aku berteriak padanya.
"Cuman bermain-main, lihatlah. Rosa juga menikmatinya." Farhan mengatakan itu sambil memainkan tubuh Rosa.
"Rasyid, maafkan aku. Tapi saat ini, aku sudah tidak bisa lepas. Aku sudah terjerat." Rosa mengatakan sesuatu yang tak senonoh di depanku.
Sebuah transformasi yang mengerikan. Rosa yang awalnya adalah gadis yang periang menjadi sebuah lacur di hadapanku saat ini.
__ADS_1
"Farhan! Kau akan kuhancurkan!"
"Tapi apa yang bisa kau lakukan saat ini?"
"Sial! Jancox kau!"
Aku terus berusaha membebaskan diriku dari ikatan tali, tapi tidak berhasil.
"Sudahlah Syid, menyerahlah dan lihat aku mengakhiri bersama Farhan." Rosa mengatakan itu sambil menunjukkan batas akhirnya.
Sebuah perasaan dalam diriku tiba-tiba bangkit. Aku mengalami trauma berat, dan kehilangan kepercayaan diri. Sejak saat itu, aku tidak peduli lagi tentang dunia. Aku tidak mau berurusan lagi dengan wanita.
Di waktu yang bersamaan dengan kejadian itu, fenomena musim panas api terjadi. Membakar kedua orang yang berada dihadapanku tanpa sisa. Kesadaranku menghilang beberapa saat setelah kejadian, aku tidak kuat melihat lebih jauh.
Aku terbangun di kamarku tanpa ada yang menemaniku.
Aku berjalan keluar, sebuah tv hidup tanpa ada yang menontonnya. TV itu menyiarkan berita terkini.
"Fenoma musim panas api telah merenggut banyak korban. Banyak yang mengatakan kalau itu hanya kebutuhan politik orang bernama Nova. Dari data yang kami dapat, ditemukan bahwa semua korban dari fenomena itu adalah orang yang menolak menggunakan teknologi Anitya-nya(Nova)." Pembawa berita itu menggunakan nada khasnya saat menyampaikan berita.
Seorang wanita yang tergeletak mati tersensor muncul di dalam siaran berita. Tawaku tak sengaja keluar. Jadi Rosa dan Farhan juga mati karena waktu itu mereka menolak untuk suntik Anitya.
GRAKK!
Suara pintu terbuka dari luar.
"Kau sudah kembali." Seseorang menanyai kabarku.
"Jauhari..., kenapa kau di sini."
Jauhari seharusnya sekarang membenciku, tapi dia masih menolongku meskipun aku sudah menghiraukannya.
"Semua yang katakan benar. Aku bodoh karena tidak mendengarkan ucapanmu." Aku menangis dengan kosong menatap Jauhari.
Laki-laki itu tersenyum untuk menenangkanku.
"Tidak apa-apa, yang terpenting adalah bagaimana perasaanmu saat ini."
"Aku takut..., setiap kali aku mengingat orang yang memiliki sifat seperti Rosa mengalami kejadian malang. Aku tertawa dan merasa sangat puas." Aku mengatakan itu tanpa menyadari kalau aku sedang tersenyum gila.
Jauhari langsung memalingkan badannya dan pergi kembali, sebelum itu dia mengatakan sesuatu. "Cepat atau lambat, kau harus mengobati masalah psikologmu. Jika tidak, akan berakhir buruk bagimu. Kau bisa bicara padaku bila kau mengalami kesulitan." Jauhari berjalan keluar setelah mengatakan itu.
Brak
Jauhari menutup pintu dari luar.
Aku berbisik pada diriku. "Kau pikir itu mudah? Siapa yang butuh cinta lagi, aku bahkan sudah tidak peduli apa yang terjadi pada dunia ini."
Sejak saat itu aku hanya bertemu dengannya untuk bicara. Dia mendengarkan semua keluhanku tanpa tapi. Dia terus melakukan itu bahkan setelah dia berkeluarga dan punya kesibukan sendiri.
Sampai ajal menjemputnya, aku tidak bisa menyelesaikan janjiku padanya. Yang kulakukan hanya memegang kata-katanya.
Kembali ke waktu kini, Erika menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia terkejut setelah mendengar ceritaku. Meskipun tidak semua kujelaskan, tapi itu sudah cukup. Masih banyak juga yang belum kuketahui.
Erika tiba-tiba memelukku dengan erat.
"Kenapa kau diam saja?! Sedangkan kau menyimpan rasa sakit yang dalam selama ini." Erika menangis.
Aku tidak percaya pada apa yang kulihat. Pertama kalinya, selain Jauhari. Orang menangis setelah mendengarnya. Biasanya mereka malah menertawakanku karena ketidaksanggupanku dalam mengatasi masalah.
Kali ini beda, dia menangis untukku. Aku tidak bisa melawan lebih jauh. "Erika..." Mataku melirik Erika yang memelukku erat. Air mata turun dari mataku.
"Harghhh!"
Untuk pertama kalinya, aku tidak kuat menahan tangis. Air terus mengalir dari mataku tanpa henti. Tangan kiriku yang memegang pisau dari es tanpa kusadari turun dengan sendirinya.
Aku sudah selangkah maju memahami apa yang dimaksud kakakku dan Jauhari.
Menjadi manusia normal yang punya perasaan.
Malam itu, aku dan Erika terus berpelukan sampai Erika tak sengaja tertidur dalam pelukanku. Aku melepaskannya dengan hangat dan mengangkatnya ke sofa dekat kamar itu.
__ADS_1
Aku tersenyum padanya.
"Terima kasih."