
Jarum jam kini sudah mendongak ke bawah menandakan orang itu sebentar lagi tiba.
Dengan cepat, Bahar menyuruh kami semua berkumpul di depan ruangannya yang sempit itu.
"Sebentar lagi Putri Tyas akan tiba! Jadi bergeraklah ke gerbang dan sapa dia!" Bahar memekik keras sambil menunjuk ke arah gerbang.
Bagaikan prajurit yang terlatih, kami bergergerak seirama dan berlari ke arah jalan masuknya kehidupan sekolah.
Sebuah barisan yang berbentuk seperti angka 2 romawi disusun oleh para pengawal dan bersiap memberi jalan pada sang putri.
Tanpa adanya yang berbicara, kami menunggu kehadiran mobil putri itu.
...
Sekitar 15 menit, bumper mobil itu masih belum terlihat sama sekali.
Tapi bagaikan patung, mereka semua tidak mempedulikannya, dan tetap membeku di tempat mereka berdiri.
Ada yang aneh, dan itu pasti.
Aku dengan terpaksa mengeluarkan sihir KODE untuk menangkap suara otomotif bangsawan itu.
Namun sialnya, suara lalu lalang otomotif lain menganggu sihir itu, namun dengan adanya penanda seperti plat nomer, lintangan angin ini mungkin bisa teratasi.
...
'Masih tidak kedengaran suara mesinnya?'
Kemana itu mobil?
Para pengawal terlihat masih mematung tanpa mempedulikan keterlambatan sang putri.
'Ini pasti ada yang aneh!' Ucapku sambil membuat mataku berkeliaran.
Waktu seakan membeku di sini, bahkan sendu angin pun tak bersuara.
DUAR!
Tak lama setelah itu, suara yang mampu membuat bumi bergetar sementara terjadi.
"UWOGH!" Keseimbanganku saat berdiri tiba-tiba hilang.
Belakangku tertabrak tanah dengan hentakan yang cukup keras. Di saat yang bersamaa pula, mataku mulai menatapi para pengawal yang tidak beraksi sedikitpun pada suara itu.
"I-ini?!" Sesuatu terlintas dalam pikiranku. "Sihir KODE?!"
Dengan segera aku membuat diriku kembali ke kenyataaan dan bergerak menjauh dari tempat itu.
Dedaunan yang terkena gravitasi bumi terhenti tanpa adanya gaya sama sekali.
Semua sudah membeku, ada orang jahil yang melakukan ini. Dan itu pasti salah satu dari mereka!
Karena tidak ada yang bergerak, aku bahkan sebenarnya bisa bebas melakukan apapun. Namun misi tetaplah misi, aku bergerak melewati perbatasan hidupku.
Trotoar jalan dan aspal yang sepi bagaikan open world gagal terlihat dengan jelas di sini.
Langkahku yang lelet perlahan kuberi percepatan dengan a\=2/4.
Dengan terus-menerus, aku melihati pemandangan wisata malin kundang sepanjang jalan ini.
Bagaikan kota mati, ini bahkan tidak terlihat seperti kehidupan lagi. Ini terlihat lebih seperti dikutuk.
Akhirnya, setelah menempuh jarak sejauh depan ke belakang sekolah, aku berhasil mencapai titik temu sumber suara dari titik gema itu.
Sebuah mobil ringset seperti habis dibom dengan daya ledak lemah. Asap hitam terus mengepul keluar dari mobil itu. Jago merah dengan ganas terus memakani ferum-ferum mobil itu.
Aku dengan segera menghentakkan kakiku kedepan dengan cepat sampai berakhir di depan pintu mobil itu.
__ADS_1
Keringat sedikit keluar dari wajahku, tapi sayangnya air yang keluar ini bukan berasal dari sang putri melainkan karena adanya orang lain yang bisa menggunakan sihir KODE selain kami bertiga.
Mataku menembus masuk ke dalam jendela yang sudah berasap tebal, namun sang putri tidak kelihatan batang hidungnya sama sekali.
"Tch?!" Satu-satunya yang kulakukan di sini hanyalah mengeluarkan supir yang terbakar membeku di depan sana.
Tubuh sang supir bagaikan makanan yang digoreng terlalu lama dan sudah berbau tidak sedap.
Untungnya Anityanya masih berfungsi dalam penghentian waktu ini. Perlahan tubuhnya kembali ke semula.
Merasa terlalu banyak melempar waktu ke tong sampah, aku meninggalkan pria itu sendiri terbaring kaku di sana.
Prioritas utama, cari tuan putri!
"Rasyid, kau bisa dengar aku?!" Suara dari keluarga yang sudah jarang kuajak bicara kembali terdengar dikupingku.
"Ri-Rizki?!"
"Dengarkan aku! Ruang waktu terhenti, namun dari semua orang! Hanya kita bertiga yang tak terkena penghentian itu!"
"Kenapa itu terjadi?!"
"Sepertinya ada seseorang yang berhasil mencuri sihir KODE dan menggunakannya untuk kejahatan!"
"Emang siapa?!"
"Aku tidak tahu! Tapi yang kutahu, mereka adalah salah satu dari mereka! Kini yang dapat bergerak secara berkelompok hanyalah mereka saja!"
"Tch! Dasar tidak berguna!"
"Maaf ya kalo gak guna!"
"Aku akan terbang ke atas saja kalo gitu!"
"Woy jangan lakukan! Itu berbahaya!"
"Tch! Lakukanlah sesukamu!"
Dengan begitu, panggilan berakhir dengan pertengkaran.
Tapi air di dalam diriku sudah mendidih panas hanya dengan mendengar suaranya.
Bahkan aku juga terbawa suasana dan mumutuskan untuk terbang ke atas menggunakan sihir anginku.
"Aku benci melakukan ini, tapi karena sudah terlanjur... Apa boleh buat!"
Aku menegaskan dominasiku di atas langit yang bercorak biru bagaikan seorang tuhan yang ingin mengutuk ciptaannya.
Mataku menyipit untuk memfokuskan penglihatanku.
Di diamnya waktu ini, akan sangatlah mudah untukku mencari pergerakan di antara mereka.
"Kena kau!"
Retinaku berhasil menangkap titik-titik kecil yang bergerak di antar perumahan dan gedung-gedung itu.
Sebuah gedung yang cocok menjadi tempat uji nyali itu sepertinya adalah markas utama bos mereka.
Tanpa basa basi lagi, aku melesat tepat ke atas gedung bobrok itu.
'Bila aku salah mendarat di atas gedung ini, mungkin aku bisa jadi masuk juara guinese world record,' pekikku dalam hati.
Di atas sana, seperti biasa, aku mengaktifkan pageblugku dan mengangkat pedangku ke atas dan bersiap memanggil hujan.
'Perasaan kalau gini-gini terus bakal bosan aku!' Erangku dalam hati dengan menurunkan pedangku dengan lemas.
Aku merasa moodku dalam bertarung telah hilang bila aku melakukan hal yang sama berkali-kali.
__ADS_1
Dan pada akhirnya, aku memutuskan mengurungkan niatku untuk menyetrum mereka semua, dan memilih untuk melompat dari gedung lalu berlari di dinding gedung menuju ke dasar.
Terlihat ada 5 orang yang berjaga di pintu utama.
Dengan cepat, aku menodongkan pedangku ke arah mereka dan memberi serangan kejutan.
SLASH!
Sebuah kue ulang tahun aku potong dengan sempurna tanpa adanya garis yang melenceng.
Kini hanya tersisa 4 penjaga yang ada di sana.
"Hah?! Mu-"
KRETEK!
Kali ini permen batangan kupatahkan menjadi dua menggunakan pergelangan tanganku.
Maklum, permennya cukup besar, jadi harus begitu.
"Sialan kau!" Salah satu penjaga mengeluarkan sihir api tingkat tinggi ke arahku yang masih memegangi leher rekannya.
"Bakar ini saja!" Tubuh rekan mereka kujadikan perisai kulit untuk menahan sihir itu.
"Bodoh! Kenapa kau membakar temanmu sen-"
Leher dari penjaga keempat tertembus oleh peluru es yang melesat sampai menembusnya.
"Mo-monster! Bagaimana kau bisa membunuh?! Bukankah Anit-" Aku mengakhiri hidupnya dengan membuat pistol dengan jemariku dan kutembakkan ke arah mulutnya.
Masih ada satu penjaga lagi, namun dia sepertinya terkena sihir waktu dan hanya mematung di sana.
'Biarkan saja..' aku menoleh ke arah tempat keluar masuk utama di gedung itu.
Tapi masih sama seperti biasa, aku tidak boleh meninggalkan jejak.
'Selamat tinggal, orang-orang yang bekerja karena kepepet kebutuhan! Semoga keluarga kalian tidak menanyakan mayat kalian!'
Aku menunjukkan telapak tanganku pada mereka yang terbaring di sana.
Perlahan... Tubuh mereka mengalami frostbite dan membeku sepenuhnya.
Tubuh mereka kuhimpun menjadi satu dan kususun ke atas.
Langkah pelan kugerakkan ke arah mereka dan...
PYAR!
Tubuh beku mereka berserakan layaknya kaca pecah.
'Masalah di sini... Sudah selesai.' Aku menundukkan kepalaku pada mereka.
Terkadang, meskipun aku berjanji tidak ingin mengambil nyawa manusia bagaikan bunga. Tapi dalam diriku, aku tidak merasakannya sama sekali...
Tanpa kusadari, tanganku refleks melakukan itu. Apakah karena mereka cuman cecunguk dan tidak lebih dari orang yang tidak penting dalam hidup?
Jika memang begitu, aku harus menahan diriku saat melawan boss mereka.
Bila aku dengan sendirinya memotong tiang hanya karena prioritas, maka aku harus kembali berlatih untuk menahan diri dari melakukan itu.
Ini pilhan sulit, namun karena terbiasa dengan yang namanya tugas prioritas, aku menolehkan kepalaku ke arah pintu itu.
'Sebaiknya aku main diam-diam saja!' Ucapku dalam genangan hati pada cerminan diriku yang kosong.
Langkah pertamaku dalam memasuki gedung itu baru akan dimulai, di dalam sana...
Aku ingin menilai seberapa banyak aku sudah berubah. Tentunya. berubah ke arah manusia ketimbang iblis.
__ADS_1