
"Apa yang kau pikirkan, Astra?!" Widodo berteriak sambil berjalan perlahan ke arahnya.
Dia berhati-hati agar tidak melukai muridnya. Bahar yang disandra bukan menjadi sesuatu yang ditakuti pria itu, namun melihat wajah pucat pemuda itu membuatnya merasakan itu.
Sesuatu yang tak terduga terjadi, seluruh pengemudi dan penumpang mobil turun dari mobil sambil melihat kondisi Astra yang tidak stabil.
Dari matanya yang terlihat melebar dan bergemetar, aku bisa menyadari ada yang tidak beres pada anak itu. Pikir Samuel dalam hati.
Dia tidak tahu apakah hubungan Astra dengan Dahlia masihlah erat atau belum, tapi dia hanya bisa mengkonfirmasi kalau Astra tidak akan menganggu cintanya Dahlia.
"Apakah kau sudah tahu... Soal Dahlia?" Di sisi lain, Moka yang panik mencoba membocorkan informasi itu.
"Moka diamlah!" Pekik Gita secara panik.
Sayangnya semua sudah terlambat, Moka sudah mengatakannya. Astra yang menjadi lawan bicaranya jelas mendengar apa yang gadis itu katakan.
Melihat bagaimana berekspresi, Astra tersenyum menyeringai melihat orang-orang yang dia lihat saat ini.
"Jadi kalian mencoba menyembunyikan itu dariku?! Tapi sayang... Aku sudah mendengarnya sejak awal."
"Keberadaan kepala sekolah gendut ini bisa menjadi bukti kalau aku sudah mengetahuinya," ucapnya pelan dan tajam sambil mengangkat tubuh besar Bahar.
Suasana semakin tidak jelas, tidak ada yang tahu apa yang seharusnya mereka katakan saat ini. Astra sang ketua OSIS sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya setelah mengetahui situasi dan kondisi Dahlia.
Aku harus kuat! Ini adalah ujian untukku! Samuel menepuk kedua pipinya dan mengingat permainan tarot yang pernah mereka mainkan saat itu.
Dia tidak sengaja terpancing dan penasaran dengan maksud dari kartu yang dia dapat saat itu. Pria berotot itu bahkan sampai browsing maksud dari kartunya hanya untuk tahu jawabannya.
Situasi saat ini sama persis dengan kartu yang dia peroleh saat itu, maka dia beranggapan kalau ini adalah ujian buatnya.
Dengan kenekatan, Samuel maju ke depan dengan pelan.
Grup yang bersamanya melihat Samuel dengan wajah yang tidak menyangka. Mulut mereka terbuka dan menatapnya tanpa berkedip.
"Apa kau yakin?" Bisik Widodo tanpa menoleh.
"Ya, aku yakin...!" Balas Samuel dengan berbisik juga.
"Kuserahkan padamu..."
Dengan begitu, Widodo berjalan mundur sambil mengintruksikan yang lainnya untuk mengikutinya.
Apa yang akan terjadi sekarang bukanlah sesuatu antara hidup dan mati, namun hanyalah peredaan.
Peredaan yang dimaksud adalah untuk meredakan emosi yang berlebih pada sang Arjuna.
Perlahan, Samuel berjalan maju sambil mencoba menggapai pemuda itu.
"Astra, bagaimana kau akan menghadapi Pak Ryan jika dia melihatmu begini?" Ucap Samuel secara mengasihani.
"Persetan dengan Ryan! Aku tidak peduli! Yang kupedulikan hanyalah kenapa Dahlia mati?!" (Astra)
"Kenapa bajingan itu membunuhnya?! Bukankah dia adalah orang yang disayangi Dahlia?! Tapi kenapa dia membunuhnya?!" (Astra)
Samuel seketika terkejut setelah mendengar pernyataan tersebut.
Apa yang Astra katakan tidak sesuai dengan apa yang dia dapat.
"Apa maksudmu?! Dahlia dibunuh oleh SANGKUNI, dan Rasyid membunuhnya sebagai bentuk balas dendam!" (Samuel)
"Jangan bodohi aku! Aku mendengarnya sendiri! Dahlia mati bersamaan dengan 6 guru lainnya."
__ADS_1
Tubuh Samuel seakan mematung dan berceceran keringat dingin. Semua yang dia tahu berbeda dengan apa yang pemuda itu katakan.
Kenapa bisa berbeda? Bukankah Widodo bilang-?!
Seketika dia menyadari sesuatu yang aneh.
Widodo yang tadi meminta seluruh grup untuk melangkah langkah mundur membuatnya menjadi curiga akan sesuatu.
Siapa yang benar?! Siapa yang berbohong?! Itu adalah kunci dari misteri ini.
Samuel seketika pusing dan menjadi bingung dengan situasi yang sebenarnya. Siapa yang harus dia percayai dan tidak.
Aku harus memikirkannya matang-matang!
"Kenapa kau diam saja?!" Teriak Astra.
Teriakan itu membawa Samuel kembali dari melamunnya.
"Apakah aku salah?!" (Astra)
"Semua yang kudengar dari ruangan Bahar merupakan informasi real-time! Dan pemberitahuan bahwa Dahlia mati berada tepat setelah kematian 6 guru itu!"
Samuel masih mematung setelah mendengar pernyataan tadi. Dia mencoba kembali berpikir apa yang sebenarnya terjadi.
Dahlia mati dibunuh SANGKUNI...
Rasyid membunuh SANGKUNI sebagai bentuk balas dendam...
Apakah kedua itu bisa terjadi?
Apakah monster yang bernama Cike Nuwang itu bisa seteledor itu sampai tidak menyadari Sangkuni yang datang menyergap?
Tidak mungkin melawan Rasyid hanya berbekal nekat, dia sudah pasti mati. Para guru saja sudah kehilangan banyak anggota, apalagi hanya Sangkuni yang sendirian. Tapi, jika dia menyerang dengan menyergap sekalipun, Rasyid pasti sudah akan menyadari hawa keberadaanya.
Samuel mulai kehilangan kepercayaannya pada cerita yang dia dengar.
Jika dari apa yang Astra katakan bahwa Dahlia mati setelah keenam guru itu mati, maka hanya ada satu kemungkinan, yaitu Rasyid tidak sengaja melepaskan serangan area dan Dahlia yang berada di dekatnya juga ikut terkena serangan itu.
Tidak ada yang tahu bagaimana dan pastinya kematian gadis itu. Samuel hanya bisa berspekulasi dan menemukan satu titik terang
Jika misalnya saja Dahlia dibunuh oleh Rasyid meskipun hanya sebagai serangan nyasar, sang pembawa berita seharusnya tetap akan memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.
Biasanya sang pembawa berita tidak berani mengatakan yang sebenarnya hanya apabila...
Saat memikirkan itu, Samuel seketika sadar akan dalang dibalik pembunuhan gadis itu. Kepura-puraannya membuat banyak perlawanan yang tidak diperlukan.
Namun, masalah yang sekarang masihlah tidak bisa dihindari.
Astra harus segera ditenangkan, bagaimanapun caranya.
"Astra, apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Samuel sambil mencengkram Pageblug-nya.
"Tentu saja membawanya, Dahlia!" Menjawab pertanyaan itu, Astra berteriak dan mengaktifkan Pageblug-nya.
Dia merasakan bahaya hanya dengan melihat Samuel yang sudah memperlihatkan bentuk pageblugnya saja.
"Terus, mau kau buat apa, tubuh malang gadis itu?"
Samuel tidak memperlihatkan tanda-tanda panik ataupun mencoba melawan. Dia tahu kalau dia mengaktifkan pageblug-nya maka kesempatannya berbicara dengan Astra akan hilang dan malah berubah menjadi pertarungan.
"Ntahlah... Tapi aku mau membawanya dan melihatnya!"
__ADS_1
"Kenapa kau tidak mencoba melihatnya dan lalu pergi?"
"Bodoh, aku tidak akan mengijinkan orang-orang kotor seperti kalian membawa Dahlia yang suci! Kau pikir orang yang menyembunyikan banyak hal dari kami bisa disebut savior?!"
"Aku memang bukanlah orang yang seperti kau katakan, tapi aku tidak akan membiarkan orang gila sepertimu menyentuh tubuh sucinya!"
Sial, salah ngomong! Ini malah akan memperparah situasi! Samuel menyesali perkataannya.
"Ka-kau! Aku akan menghancurkanmu dan membawa Dahlia kembali padaku!"
Situasi menjadi parah, kini Astra benar-benar akan menyerang. Bahar yang sedang diseret langsung dilempar ke samping sampai melewati pinggir jalan. Tali busurnya di tarik kebelakang dan busurnya dibidik ke arah kepala pria itu.
Namun...
"Kau akan kalah cepat, nak..."
Sebuah senapan laras panjang berjenis AWM di keluarkan oleh Samuel sambil membawa perasaan sedih. Saking panjangnya senapan itu, sampai-sampai moncongnya mengenai tepat dahi pemuda itu.
Astra bisa merasakan dinginnya besi dari senjata pria itu bersamaan dengan dinginnya suhu saat ini. Meskipun begitu, dia masih tidak memperlihatkan tanda-tanda akan menyerang begitu saja.
"Dengan kekuatanku yang sekarang, apa kau pikir aku akan kalah semudah itu?" Ucap pemuda itu mengintimidasi.
Sayangnya dia salah target, mustahil bagi orang yang sudah merupakan guru untuk terkena intimidasi dengan mudah, apalagi pelakunya adalah muridnya sendiri.
"Jangan terlalu yakin dengan kekuatanmu, bocah!" Samuel mencoba mengintimidasi balik dengan menekan sedikit pelatuk senapannya.
Namun, bisa dilihat dengan jelas, kalau pria itu tidak berani melakukannya. Jari telunjuk yang seharusnya dia pakai untuk menarik pelatuk malah tidak bisa berhenti untuk tidak bergemetar.
"Kau ketakutan... Pak Samuel..." Dengan suara yang pelan tapi menusuk, Astra menatap dingin gurunya itu. "Takutlah!"
*Jdar!
Dalam sekejab, sebuah asap hitam menyembur di sekitar Astra dan melambatkan siapapun yang terkena asap itu.
Dalam sekejab, Astra menonaktifkan senjatanya dan menangkap moncong senjata gurunya.
AWM yang berat itu seketika dipegang seperti pentungan dan dipentungkan ke kepala gurunya sendiri.
*Tung!
"Arggh!"
Samuel terjatuh ke tanah dan merasakan pusing dan sakit secara bersamaan di kepalanya.
Astra yang melihat gurunya sudah tidak berdaya langsung melempar AWM itu jauh ke tanah dan berjalan melangkahi gurunya.
Jika saja dilihat dari sisi moralitas, apa yang dilakukan Astra sungguh kurang ajar.
"Terlalu gugup untuk melawan, maka kau akan bernasib sial seperti Dahlia dan keenam guru itu..." Ucap Astra sambil melangkahinya.
Namun...
"Huh?!"
Saat melewati guru itu, kakinya ditahan oleh sesuatu.
Dia melihat ke bawah dan menemuka sebuah tangan yang mencengkram pergelangan kakinya.
"Aku memang tidak berani menyakiti muridku, namun bila ada muridku yang ingin istirahat dengan tenang, tapi malah diganggu, maka aku juga akan melawan..." Samuel tersenyum meskipun ada benjol besar dan luka parah di wajahnya.
Sesaat itu juga, sebuah percikan listrik muncul di telapak tangannya yang mencengkram.
__ADS_1