
Aku dan murid-muridku sedang menunggu di kelas. Di sana kami melakukan apa yang seharusnya kami lakukan, yaitu...
Menunggu...
"Sial, apa tidak ada hal yang bisa kukerjakan di waktu luang ini?" Ucapku mengeluh.
Ini adalah sifat yang seharusnya tidak kutunjukkan pada murid-muridku, namun menunggu selama ini memang bukanlah sesuatu yang bisa kulakukan.
Aku biasanya memainkan ponselku saat waktu senggang, tapi itu malah membuatku merasa kalau ini tidak baik. Bermain ponsel saat murid-murid berada di depanku memberikan efek sungkan.
Apakah ada sesuatu yang bangkit dari dalam diriku?
Mungkin saja!
Aku habis mengalami banyak hal dalam minggu ini.
Bila dipikir-pikir, memang begitu, ya? Tak kusangka, ada banyak kejadian yang terjadi hanya dalam seminggu ini.
Dari yang awalnya aku menjadi ketua pengawal dari Putri Tyas Anjani sampai ke sini, butuh banyak perjalanan yang dilalui.
"Cukup banyak yang terjadi, ya? Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasakan event yang sebesar ini..."
Mataku berbelok ke samping, dari tempatku duduk ini, aku melihati matahari yang sudah mulai lelah dan akan digantikan shiftnya oleh tuan bulan.
Kepalan tangan kananku memegang pipiku yang lelah, mataku mulai berkedip-kedip lambat dengan seiringnua waktu, dan ditambah dengan sepoi-sepoi angin yang menyembur, diriku perlahan kehilangan hidupnya dan mulai dibawa ke dalam dunia yang fiksi atau biasa dikenal dengan dunia mimpi.
"ZZZ"
Tunggu?
Aku mengorok?
Tapi bagaimana bisa?
Apakah aku sudah terlalu nyenyak bahkan sampai mengindahkan segalanya yang disekitarku?
"Pak..."
Ada suara yang memanggilku?
"Pak Rasyid..."
"Pak Rasyid..."
Suara itu bertambah menjadi dua orang.
"Pak Rasyid!"
"Pak Rasyid?"
"Pak Rasyid?!"
Suara itu semakin banyak.
Aku harus segera mendobrak keluar dari pintu mimpi ini.
BRAK! BRAK! BRAK!
"Tidak bisa?!" Aku tidak bisa keluar dari mimpiku.
"Tapi kenapa?"
"Apakah aku terlalu takut pada kenyataan?"
Itu tidak mungkin, aku sudah sejak dulu bodoh amat sama yang namanya dengan dunia.
Lalu kenapa ini terjadi?!
Pasti aja penjelasannya!
Tak lama setelah itu, aku terbawa ke sebuah tempat yang dipenuhi dengan bebatuan.
Di sana ada 6 pillar yang berdiri mengitari bebatuan itu. Ada sekitar 4 pilar yang terbakar, dan uniknya, disetiap pilar itu membentuk sebuah ekspresi.
Namun, karena tempat ini semacam sebuah hologram, setiap ujung pilarnya tersensor dan berubah menjadi buram.
"Apa ini?"
Aku mencoba melihat dengan mengitari pilar-pilar yang berdiri di tengah-tengahku itu.
Ada perasaan ngeri dicampur suram hanya dengan melihati benda-benda ini berdiri.
__ADS_1
"Mereka semua seperti... Mengawasiku..." Ucapku sambil mencoba menenangkan bulu kudukku.
Hawa horor ini terus menembaki disetiap tatapan mata dari pilar-pilar itu.
Bak.
Aku tidak sengaja menabrak sesuatu.
"Hah?"
Sesuatu ditempatkan di tengah-tengah pilar-pilar itu. Jika dilihat-lihat dengan seksama, benda itu mirip seperti seseorang.
Tapi saat kucoba untuk kuperiksa dari dekat.
"Tidak, dia bukan manusia..."
Dia tidak terlihat seperti itu, posturnya sudah terlalu hancur bila harus kukatan secara jujur.
Namun, di saat itulah, aku mulai sadar.
Sadar kalau apa yang kukatan adalah kesalahan.
Kesalahan yang cukup besar.
Besar karena tidak segera menyadari.
Menyadari kalau orang yang ada di depanku adalah orang yang kucari-cari saat ini.
"Nazrul... Aji..." Mulutku menyebut namanya secara tidak sadar dan dengan sendirinya.
Cahaya putih langsung menutupi seluruh penglihatanku dan membuatku tersedot keluar.
SPLASH!
"BRRR!"
Seember air disiramkan ke kepalaku.
"GYah! Dingin!"
Aku langsung merasa menggigil.
Gigiku mengerigi, kedua tangan dan kaki bergemetaran, tubuhku benar-benar sudah basah oleh air yang disiramkan ini.
Wajah mereka bercampur-campur antara tertawa, kesal, dan melongo. Mereka tidak tahu bagaimana mereka harus menanggapi diriku yang ketiduran ini.
"A-apa?" Aku bertanya dengan wajah yang tampak bodoh.
Moka dengan wajah datarnya berjalan mendekat ke arahku sambil memperlihatkan layar ponselnya. Layarnya menunjukkan sebuah jam yang tertulis pukul setengah enam lebih.
"Pak, anda ketiduran dan hampir ditinggal oleh murid-muridmu." (Moka)
"Ditinggalkan?"
"Iya, ditinggalkan." Nadanya agak keras dan mengerikan.
"Ah... Begitu, ya? Jadi kalian sangat khawatir pada bapak sampai rela menunggu di sini? Tapi beruntungnya kalian tidak meninggalkan bapak..."
Tersenyumlah selagi bisa.
"Tentu saja kami tidak meninggalkan anda, kami butuh sidik jari anda untuk melihat hasil ujian kami." Moka tersenyum, namun terlihat menakutkan. "Sudah berbagai cara kami lakukan demi mendapatkan sidik jari anda, dari menggeret anda sampai mencoba memotong jari anda, namun seperti yang anda lihat sekarang. Tidak ada satupun yang berhasil."
"Tangan anda sebenarnya terbuat dari apa?" Stevent yang berdiri di sampingku menyambungkan kalimat Moka.
"Eh..."
Mereka mempertanyakan kekuatanku adalah sesuatu yang harus segera kuhindari. Ini tidak akan baik bila mereka terus mempertanyakan itu.
"Ini hanyalah kekuatan refleks, dengan refleks yang cepat, meskipun dalam tidur sekalipun. Diriku tidak akan mudah terserang oleh lawan."
Wajah mereka menunjukkan wajah yang terkejut dan terkesima. Sepertinya aku salah bicara... Lagi.
"Anda dengan kekuatan refleks? Itu bohongkan?" Kini Hakam juga iku andil dalam membongkar kekuatan.
Sebaiknya aku segera menuruti apa yang mereka mau saja.
"Sudah, sudah... Tidak perlu bertanya lebih jauh... Bapak akan langsung membuka nilainya."
Dengan keadaan berat seperti ini, aku berjalan ke depan papan kelas dan menyentuh layar papan digital itu dengan telapakku.
TING!
__ADS_1
Papan yang terlihat mati seketika mengeluarkan gelombang hijau yang menyebar seperti air tenang yang dicuil dari atas.
Layar terbuka dan langsung menunjukkan banyak nama kelas dan list-list peringkat kelas. Sayangnya tulisan dari nama-nama itu sangatlah kecil, jadi mau tidak mai mereka harus melihatnya dari dekat.
Jika dilihat dari mata normal, mungkin akan sulit untuk melihatnya. Namun dengan papan yang sebesar gaban ini, tidak mungkin mereka tidak bisa menemukannya.
"Mana nilaiku?"
"Ah, nilaku mana?"
"Apakah aku ada di 10 besar?"
"Kumohon 100 besar!"
"Semoga saja aku tidak mempermalukan keluargaku."
Mereka langsung menyerbu papan itu dan melupakan persoalan diriku tadi.
Ini tidak apa-apa, ini malah lebih baik.
Dari meja guru ini, aku melihat murid-muridku yang sedang mencari nama mereka sendiri di papan dengan senyuman bodoh dan licik.
Sebenarnya aku bisa saja menekan tombol dan membuat nama mereka yang ada di kelas ini bercahaya dan mudah ditemukan.
Tapi aku diam saja, ini mengasyikkan melihat mereka saling berdempetan layaknya antri sembako hanya untuk menemukan nilai mereka.
......................
Hasil dari Ujian kali ini.
Kelas 3 Sihir 1
Kelas 2 Fisik 4
Kelas 3 Sihir 2
Kelas 3 Sihir 4
Kelas 2 Fisik 1
Kelas 1 Fisik 2
Kelas 3 Fisik 1
Kelas 3 Sihir 3
Kelas 2 Sihir 1
Kelas 1 Sihir 4
Sepertinya nilai moralitas dari kelas didikku hancur karena diriku?
Atau ada maksud lain?
......................
Di sebuah tempat yang gelap. Ada sekitar 5 orang sedang berbincang secara tersembunyi di sana.
"Jadi, apa dengan ini kita bisa menghancurkannya?" (Suara 1)
"Tentu saja, rumor jelek terus menyebar bagaikan sebuah angin." (Suara 2)
"Jika ini yang kau mau? Sebaiknya kau berhenti sampai sini! Dia bukanlah orang yang seharusnya kau jadikan lawan." (Suara 3)
"Dia jelas sudah tahu itu, dia sudah siap untuk ini!" (Suara 4)
"Orang itu memang kuat, tapi semua yang hidup pastilah punya kelemahan! Ayo kita buat dia semakin tersungkur! Bila tidak, dia terus akan menjadi pusat perhatian, dan kita akan semakin terancam di sini." (Suara 5)
Suara-suara itu terus berbincang buruk tentang guru itu.
......................
Di sisi lain, seorang wanita sedang berjalan santai menikmati lingkungan sekolah ini dengan diikuti oleh 5 orang yang mengikutinya dari belakang.
Meskipun dari jauh, namun dia sudah merasakan hawa buruk itu.
"Jadi begini, ya? Sifat Guru-guru di sekolah ini..." Sambil menatap tajam ke depan, dia melengkukkan bibirnya.
__ADS_1
Dia mendengarkan pembicaraan tersembunyi itu dari jauh.