Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 25. Insiden Ledakan Sekolah, Samuel dan Xander


__ADS_3

Point of View: Earl Xander Xander


Aku melihat Rasyid berjalan ke toilet sambil menutup mulutnya, mungkinkah dia mual?


"Pak Xander, sepertinya ada yang tertolak." Samuel mengatakan itu sambil menoleh ke arah toilet yang dimasuki Rasyid.


"Bukan itu masalahnya, dia benar-benar menahan mual." Aku meluruskan kesalahpahaman Samuel.


"Ehhhh?! Kalau begitu dia melihat Erika dengan jijik?" Samuel semakin berpikir kejauhan.


Aku memegangi keningku, tidak tahu apa yang harus kukatakan agar maniak otot dan gelut ini paham.


"Lupakan masalah cinta, ayo kita temui Rasyid!" Langsung ke inti saja.


Kami berdua jalan ke arah toilet itu. Suara orang sedang muntah sambil menahan sakit terdengar dari dalam sana. Aku mencoba masuk, sebuah pemandangan yang tidak biasa sedang kulihat.


"ARGGGGH!"


Tubuh Rasyid diselimuti 8 elemen Anitya. Dalam beberapa detik kondisi tubuhnya berubah-ubah dari terbakar, kedinginan, kebasahan, keseterum, keanginan, gerak cepat(cahaya), dan gerak lambat(kegelapan).


"Pak Rasyid!" Samuel berlari ke arah pria malang itu.


"Astaga! Kondisi anda buruk sekali!" Aku mengikuti arah Samuel.


Rasyid mengerang keras dan badannya meledak. 8 elemen keluar dari tubuhnya dan terpencar ke seluruh sekolah. Dua elemen, cahaya dan kegelapan ada di depan kami.Tupai emas(cahaya) dan Kerbau hitam bergerak memutari kami berdua.


"Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi sebaiknya kita membereskan ini secepatnya!" Aku mengeluarkan pageblug dan mengaktifkannya. Rapier-ku kuberi kekuatan cahaya karena kuanggap ini adalah elemen yang tepat.


"Kalau begitu, It's showtime!" Samuel mengeluarkan riffle dari pageblug-nya.


Kekuatan sihirku lemah, tapi kalau soal memaikainya dengan tepat jangan ditanyakan lagi, aku adalah ahlinya.Sedangkan untuk Samuel ada di tingkat menengah, semoga saja dia tidak boros kekuatan.


Banteng itu mengeluarkan asap di dalam toilet. Semua yang terkena menjadi lambat, tapi tupai yang ada dihadapanku tidak terkena. Dia adalah cahaya itu sendiri, dia menangkalnya dengan cahaya di tubuhnya. Aku melihat ke arah Samuel, tapi badannya melambat.


"Kalau begitu!" Aku menebas sedikit badan Samuel untuk memberinya cahaya di tubuhnya.


"Wow...Kecepatanku kembali normal! Terima kasih banyak, Pak Xander" Samuel melihati tangannya yang kembali ke kecepatan semula.


Tapi karena aku memberi sedikit kekuatan cahaya padanya, aku langsung tidak bisa mengeluarkan sihir cahaya selain untuk menahan kegelapan.


"Samuel! Kau kalahkan kerbau itu! Aku akan hadapi tupai itu! Aku tidak bisa mengeluarkan sihir cahaya untuk menyerang, jadi kalau kau kalah, kita akan tamat!" Aku memberi tahu strategi dan keadaanku padanya.


"Itumah gampang! Aku tidak akan kalah oleh makhluk ini!" Samuel dengan tawa senang berlari ke arah kerbau itu.


"Sekarang biarkan aku melawanmu!" Aku mengarahkan rapier ke tupai itu, kegelapan menyelimuti senjataku.


Aku berlari menusuk tupai itu, namun kecepatannya bukanlah main-main. Dia tiba-tiba ada di atas wastafel dan menembakkan kacang emas ke arahku. Saat sudah berada dekat denganku, kacang itu meledak dan potongan-potongan tajam tersebar menyobek-nyobek kulitku.


"Belum pernah tahu kalau elemen cahaya itu merupakan turunan dari emas." Aku menahan serangannya dan mendapat pengalaman baru dari pertarungan ini.


Selama ini elemen cahaya yang kutahu hanyalah memberi kecepatan pada diri sendiri atau orang lain. Banyak yang bilang elemen cahaya hanya cocok bagi petarung yang menggunakan 100% kemampuan bertarung daripada sihir. Banyak juga yang menganggap elemen ini tidak berguna karena hanya memberi support.

__ADS_1


"Aku paham sekarang! Jika cahaya berasal dari emas maka kegelepan berasal dari arang." Aku memperkuat selimut kegelepan di rapierku.


"Seharusnya ini cukup!" Aku menebaskan senjataku dari jauh.


3 gelombang hitam mengarah ke tupai itu. Dia mencoba menghindar, tapi kecepatannya menurun drastis, saat itu juga asap hitam mengelilinginya.


"Samuel tembak dia!" Aku menoleh kebelakang dan memanggil Samuel yang sedang bertarung.


Sayangnya yang kulihat bukanlah dia. Tubuh Samuel terjatuh tak berdaya, yang ada di balikku merupakan kerbau itu. Dia berjalan pelan ke arahku.


"Tidak mungkin?! Samuel kalah? Sepertinya ini kekalahan kami." Aku menutup mataku, sudah tidak ada yang bisa kulakukan. Semua upayaku akan sia-sia meskipun menyerang mereka.


"POKO!"


"NGOOO!"


Tupai dan Kerbau itu menerjangku dengan serangan mereka.


"CODE NAME: BAJING, REMOVE CORE! CODE NAME: KEBO, REMOVE CORE!" Suara nenek tua yang membawa kristal merah, ungu, dan coklat terdengar dari pintu masuk toilet.


Kedua makhluk tadi tumbang dan lenyap begitu saja dengan menjatuhkan sebuah kristal kuning dan hitam dari tubuhnya.


Aku melihat ke arah nenek itu. Disampingnya terdapat seorang laki-laki yang merupakan anaknya. Dengan santai, nenek itu membawa 2 kristal dari bekas makhluk tadi terbang ke arah tangannya.


Wajah tidak asingnya langsung mengingatkanku.


"Jadi ini ulahmu? Ibu Bupati!" Aku mengerutkan mukaku ke arahnya.


"Kenapa? Rasyid itu sebenarnya apa?" Aku bertanya dengan muka ketakutan.


"Bantu aku membawa tubuhnya keluar dari sini dulu." Nova menggabungkan 5 kristal di tangannya. Sebuah tubuh terbentuk dari kristal-kristal itu.


"Rasyid?!" Mukaku terkejut, tubuh Rasyid yang lenyap kembali seperti semula.


"Dia masih kehilangan kesadarannya karena intinya belum penuh. Suruh temanmu untuk membantumu membawa tubuhnya ke rumah sakit!" Nova menatapku dengan tatapan menakutkan. Dia sepertinya sangat khawatir terhadap Rasyid.


"Baiklah!" Aku mengiyakannya tanpa bertanya lebih lanjut.


Nova pergi mencari inti-inti Rasyid yang lain. Tapi sebelum itu, dia menoleh ke arahku sebelum pergi.


"Pangeran Xander Xander, aku atas nama Nova Sana, memintamu untuk bungkam soal ini. Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau melanggarnya, kan?" Mata Nova menyala di siang yang gelap itu. Sebuah hukuman keras akan terjadi bagi siapapun yang melanggar itu.


"Tunggu dulu!" Aku memintanya berhenti tapi dia tidak mempedulikannya dan pergi meninggalkan tubuh Rasyid yang tergeletak tak sadarkan diri.


"Dasar nenek sialan!" Aku memukul lantai dengan kesal.


Namaku sebagai seorang Xander hancur di depan nenek itu. Aku yang daritadi bersikap hormat langsung dibuat murka hanya dengan menatap wajahnya.


"Aku harus menenangkan diriku dulu." Aku memukul pipiku sendiri dengan kuat.


Sekarang ada urusan lebih penting, aku harus mengurus Rasyid yang pingsan.

__ADS_1


"Samuel! Hoy bangung, Samuel!" Aku menampar-nampar Samuel dengan keras.


"Auch Auch Auch! Aku sudah sadar-aku sudah sadar!" Dia menahan tamparanku.


"Baguslah! Kalau begitu bantu aku angkat tubuh Rasyid ke mobilku dan bawa ke rumah sakit!"


"Bagaimana dengan pertarungannya? Apa kau berhasil menghajarnya?!" Samuel melihati sekitar.


"Ya(mengangguk)...Aku yang mengalahkannya." Aku bohong atas desakannya.


"Hebat sekali! Earl memanglah luar biasa! Bahkan bisa mengalahkan 2 lawan sekaligus." Matanya bersinar memujiku.


Aku menatapnya dengan ekspresi kosong. 'Ini semua terjadi karena kau, dasar maniak otot.'


"Hehehehe..." Samuel menutup matanya dan menggaruk rambutnya seperti sadar apa yang kukatakan dalam hati.


"Lupakan saja, ayo kita bawa Rasyid ke rumah sakit!" Aku melihat tubuh Rasyid yang pingsan tanpa jiwa.


Kami berjalan menyusuri sekolah secara diam-diam menuju mobilku. Akan aneh jika kami berdua ketahuan membawa orang dengan menggotongnya saat setelah kejadian seperti ini.


Brakkk


Pintu mobil mini bus kututup dengan tubuh Rasyid di dalam bagian belakang mobil.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Rasyid bisa seperti ini? Apakah menolak cinta seseorang memang sesakit itu?" Samuel menanyaiku saat berjalan masuk ke dalam mobil.


Brakk


Kami berdua masuk ke dalam mobil dan pergi dari sekolah ke rumah sakit. Saat di perjalanan aku menjawab pertanyaannya. "Kemungkinan seperti itu, banyak hal yang bisa di luar nalar bila berhubungan dengan cinta." Aku menjawabnya dengan ngaco.


"Aku harap anda tidak mengalaminya juga." Samuel mengejekku.


"Aku no comment jika kau berbicara tentang rencana pertunanganku." Aku juga mengalami masalah seperti itu, ada seseorang yang sedang kucintai saat ini. Namun, pertunangan politik mengacaukannya. Meskipun aku seorang pangeran yang boleh berpoligami, tapi nama baikku akan tercemar jika melakukannya. Netizen adalah makhluk paling mengerikan di dunia ini.


Kami berhasil membawa Rasyid ke rumah sakit tanpa masalah. Saat kami keluar dari mobil,ada mobil lain yang mengejar. Mobil sedan hitam berplat merah, tidak salah lagi dia adalah Rizki Kamil. Kakak dari Rasyid dan Wakil Bupati kota Ningru, dia membawa 3 kristal di tangannya dan berjalan ke arahku.


"Terima kasih sudah menolong adikku." Dia menundukkan badannya. "Kalau boleh, biarkan aku memasukkan 3 kristal lagi ketubuhnya." Dia meminta ijin padaku untuk melihat adiknya.


"Ya." Aku berjalan ke pintu belakang minibusku dan membukanya.


Rizki berjalan ke arah tubuh adiknya dan mengarahkan tangannya yang memegang kristal ke Rasyid. Kristal-kristal itu terbang ke dalam tubuh Rasyid. Tubuhnya kembali berdetak, kakaknya yang menyadari itu langsung berjalan kembali ke mobilnya dan meninggalkan kami.


"Kemana Nova? Lalu kenapa bisa ada padamu kristal-kristal itu? Bukannya Nova yang mengambilnya?" Aku menghentikannya.


"Dia akan datang terlambat, makanya dia memberikan padaku." Dia pergi tanpa mengatakan sepatah kata lagi.


"Apa maksudnya ini, Xander?" Samuel bertanya padaku dengan bingung.


"Aku juga tidak tahu..." Aku jatuh berlutut akan ketidaktahuanku terhadap apa yang akan terjadi pada sekitaranku.


Apa yang sebenarnya akan terjadi? Namaku sebagai Earl Xander sedang diuji.

__ADS_1


__ADS_2