
*Duar!
*Jdar!
*Whushhh!
Jalannya pertarungan seketika berubah menjadi sangat brutal setelah kedatangan orang yang dimaksud.
Tak ada lagi kata tunggu bagi para guru untuk menunggu giliran mereka. Mereka semua bergerak dan menyerang dengan kekuatan mereka masing-masing.
Ancaman yang sama sepertinya telah terjadi lagi bagi mereka. Mata mereka terlihat melebar ketakutan saat melihat dua sosok terbang itu.
Dua sosok itu tertutup oleh aura es yang sangat tebal, jika hanya mengandalkan mata telanjang, mungkin dua sosok itu tidak akan bisa diidentifikasi, namun aku bisa merasakan siapa mereka hanya dari cara terbang dari salah satu dari mereka.
Sophia dan Haran...
Mereka berdua datang ke arahku seperti mendengarkan panggilan dari amarahku.
Tapi kenapa?
Sebelumnya aku pernah merasakan amarah yang lebih dari ini, namun tidak terjadi apa-apa pada mereka.
Apa penyebabnya?
Lupakan saja semua itu...
Kedatangan mereka berdua membuat suasana semakin keruh.
Oh, apakah Dahlia juga dihitung?
***
Mereka berdua mendekat ke arahku dengan mendarat seperti malaikat.
Aku tidak tahu apakah itu kekuatan sihir milik Haran atau dari Hovershoes buatannya, namun yang pasti mereka bisa terbang tanpa kendala meskipun digeruduk oleh tembakan-tembakan sihir, mereka telah membuatku begitu kagum.
......................
"Sial, mereka bertiga sudah bersatu! Tamatlah kita!" Rasputra berpikir dalam keadaan pasrah dan tekad api.
Dia melindungi dirinya dengan memutarkan tombaknya yang terbakar oleh api seperti kipas angin.
Meskipun terlihat efektif, namun dia tetaplah manusia yang punya tenaga. Lama kelamaan tenaganya melemah, namun semburan es yang dihasilkan oleh Haran dan Sophia masih belum memperlihatkan tanda-tanda akan meredup.
__ADS_1
Di saat tenaganya mulai habis, ada dua orang yang berjalan mendekatinya.
"Rasputra istirahatlah, serahkan sisanya pada kami!"
"Kami bisa membuat sihir api yang jauh lebih besar bila bersatu."
Dua orang itu adalah Fredrica dan Vrandy. Mereka berdua terlihat sangat tertekan saat ini, namun dengan semangat bertahan hidup mereka tidak membiarkan diri mereka mati secara memalukan di sini.
Dengan mengayunkan kedua pisaunya memutar, Fredrica membuat sebuah tornado kecil di sekitar mereka bertiga.
"Vrandy, srkarang tugasmu!"
Mendengar aba-aba wanita itu, Vrandy mengangkat tongkat sihirnya ke atas dan menyemburkan api yang panas dari tongkat itu.
Api berputar terbawa oleh angin yang diciptakan Fredrica dan mengakibatkan sebuah perisai api yang sungguh besar.
"Jadi ini rencana kalian? Lebih baik menderita kepanasan daripada mati membeku?!" Rasputra yang menjadi penumpang di perisai itu bertanya dengan wajah bangga dan konyol secara bersamaan.
Dia tidak menyangka kalau guru-guru yang sebelumnya sering bermusuhan kini menjadi satu tim dan merencanakan sesuatu yang gila.
"Hahahaha, terkadang kita butuh menjadi gila untuk selamat!" Vrandy tersenyum bangga dengan berkacak pinggang.
Namun, baik Fredrica dan Rasputra bisa melihat kesedihan dibalik senyuman itu.
Mereka tahu apa penyebab kesedihan itu, namun mereka tidak mau mengatakannya. Melihat kematian adiknya tepat di matanya pasti telah menghancurkan motivasinya bertarung, namun dengan melihat Vrandy yang mencoba tersenyum paksa membuat mereka terdiam saat ini.
"Jadi, sekarang apa yang harus kita lakukan? Apakah kita mencoba bunuh diri dengan melawan mereka bertiga?" Rasputra sedikit bercanda dengan ajakan itu.
"Ntahlah, tapi untunglah kini hanya mereka bertiga, jika harus melawan mereka berempat, kita tidak mungkin berada di sini sekarang."(Fredrica)
"Sebenarnya apa yang membuat mereka menjadi sekuat itu?! Aku tahu Haran kuat, namun tidak dengan dua murid itu. Ntah kenapa satu saja tiba-tiba bisa melawan lima guru sekaligus. Ini tidak normal!"(Vrandy)
"Mungkin dialah penyebabnya..." Rasputra menunjuk ke arah Rasyid yang sedang kebingungan saat melihat Haran dan Sophia berdiri di dekatnya. "... Dia adalah pembunuh legendaris itu, bukan? Tidak ada yang tidak mungkin bila itu berasal darinya."
"Mungkin saja... Aku juga tidak menyangka kalau orang yang sangat dikagumi orang itu(Erika) adalah manusia paling mengerikan di dunia ini." (Fredrica)
Dengan kekesalan menyertai mereka bertiga, mereka hanya bisa terdiam sambil melihat kekacauan dari es yang terus menyembur.
Mereka masih belum tahu sampai kapan ini akan berakhir. Dalam keadaan tidak bisa bergerak dan menyerang balik, mereka hanya bisa berharap mereka bisa melewati kekacauan ini dengan selamat.
......................
"Vicky Mandraguna dari kelas 1 Sihir 3, Candra Emi dari Kelas 2 Fisik 2, Ami Salahudin dari Kelas 2 Fisik 3, Matthew Kunto dari Kelas 2 Sihir 1, Malik Abimanyu Sang Pencakar Langit dari kelas 2 Sihir 2, dan yang terakhir Nurdin Jiminten dari kelas 2 Sihir 3, mereka semua telah dikabarkan gugur!" Suara dari radio menginformasikan kejadian di TKP secara langsung.
__ADS_1
Sepasang tangan yang besar bergemetaran di atas meja kayu setelah melihat daftar korban yang gugur hanya untuk menghancurkan satu orang saja.
"Update baru, seorang siswi bernama Dahlia Puspita telah meninggal tertembak peluru nyasar!" Radio itu memberikan informasi tambahan.
Mendengar informasi itu, pria berkepala besar dengan kumis dan jenggot tebal itu menyendenkan pipinya ke latar meja sambil menahan air mata.
Dia tidak menyangka ini akan terjadi.
*Brak! *Brak!
"Sudah kuduga! Mengejarnya adalah pilihan buruk!" Pria besar itu menggbrak-brakkan meja dengan kesal dan berlumur air mata.
Pria itu sudah memilih pilihan yang salah, dan kini dia harus memikul beban itu seumur hidupnya.
"Sejak menjadi kepala sekolah di sini, aku sudah mempersiapkan diriku untuk kemungkinan terburuk, mulai dari politisi dan mafia yang mecoba untuk ikut campur."
"Namun aku tak menyangka kalau yang kupersiapkan bahkan bukanlah kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi di sekolah ini."
"Dan sekarang, aku bahkan harus memikul nyawa teman-temanku yang gugur saat ini!"
"Widodo! Kenapa kau memintaku melakukan ini?!"
"Jika kau sudah tahu kalau akhirnya seperti ini, lalu kenapa kau membawa mereka menuju kematian mereka?!"
Bahar saat ini hanya bisa terdiam di balik mejanya, dan hanya bisa memikul penyesalan di ruangan aman yang bahkan sudah mau hancur itu.
*Dok! *Dok! *Dok!
Namun, di tengah tangis itu, seseorang mengetuk pintu yang bahkan sebenarnya bisa didobrak dengan pelan karena sudah rusak parah.
"Siapa?" Bahar kebingungan dengan suara itu, dia sudah memastikan kalau hanya para guru yang bisa kabur dari penjara es itu.
"Apakah Tasya dan Samuel?"
Dia mencoba berpikir logis karena hanya mereka berdua yang masih belum bisa diselamatkan tadi.
Dan bila sekarang mereka menunjukkan batang hidungnya, maka Bahar hanya bisa membiarkan mereka bersembunyi dan tidak akan membiarkan nyawa mereka terbang sia-sia.
*Ckrak!
Saat pintu terbuka, semua kemungkinan itu terbantahkan.
"Pak Bahar, aku ingin kejelasan... Dan aku ingin tahu di mana orang itu!"
__ADS_1
Astra berdiri di balik pintu dengan tubuh penuh luka, nafas terengah-engah, tangan yang memegang satu sama lain, dan mata yang mengerikan meminta sebuah informasi dengan nada ingin membunuh seseorang.
"Aku mendengarnya lo~, yang dikatakan di radio itu..."