Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 68. Wanita Sableng


__ADS_3

Di sebuah ruangan tempat Gubernur berdinas dan mengurusi dokumen-dokumen provinsi.


"Kau tahu kan, siapa ini?" Suara Pak Halim sambil menunjukkan foto seseorang.


Mata wanita itu melebar dan sedikit bergetar saat melihat orang yang ada di foto itu.


"I-itu kan?"


"Ya... Dia temanmu, bukan?" Tanyanya sambil menurunkan selembaran foto itu ke atas meja.


"Hmm..." Wanita itu mengangguk lemas dan lelah.


Seakan habis lari 100 putaran, wanita itu sekarang terlihat sangatlah layu.


"Aku ingin kau korek informasi darinya! Kemungkinan, bila kau mencoba sedikit bersahabat dengannya, mungkin dia akan keceplosan dan memberikan informasi tentang Nova padamu!"


Wanita itu tidak menjawab sama sekali, dia terus mendengarkan ucapan oramg itu sambil menatapi cerminan dirinya di keramik itu.


"Lagipula, dari informasi yang kudapat, kau dengannya dulu sangatlah akrab, bahkan kalian bertiga dijuluki trio sableng."


"Hmm..." Wanita itu memiringkan bibirnya untuk membuat senyuman kecut.


Masa lalu itu, seharusnya dia lupakan.


Tidak ada untungnya untuk selalu mengingat itu, yang ada hanyalah penderitaan.


"Salwa?!" Halim memanggil nama wanita itu.


"Eh, iya?!" Tersentak.


"Haeh... Kau jangan melamun terus, cepat kerjakan tugasmu!"


"Si-siap!"


Dengan segera, Salwa memutar badannya dan melihat pintu keluar dari ruangan itu.


Satu langkah dia lakukan, namun...


"Tunggu!"


Suara oramg itu menghentikan langkah kedua Salwa.


Tidak ada pilihan buatnya untuk kesal, dia dengan segera memutarkan seluruh badannya kembali ke orang itu.


"Apa?"


"Ambillah ini!" Melempar sesuatu.


"HAP!"


Tangan Salwa yang lihai, menangkap benda yang dilempar oleh Gubernur itu.


Saat dibuka oleh kedua telapak tangannya, benda itu adalah pageblug ciptaaj terbaru.


"I-ini?!"


"Ambillah, anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena telah bekerja lebih dari 3 tahun untukku Dawa Timur!"


Wajah Salwa terlihat pucat, namun dia harus berakting dan memasang senyuman pada pak tua itu.


"Terima kasih!"


Sesaat setelah itu, Salwa bergegas meninggalkan ruangan itu karena takut.


......................


Masih di tempat yang sama, namun orang itu kini sendirian sambil menikmati sebatang tembakaunya.


Dari balik kaca gedung itu, dia menikmati pemandangan kota Hibaya.


Mulutnya menggema, matanya terlihat lelah tapi menajam tebal, dan jemarinya yang memegangi tembakau turun perlahan.


"Aku melakukan ini bukan untukmu, Nova. Melainkan, karena bahaya akan datang padaku bila aku mengabaikan masalah ini!"


Dia bergumam sendirian di tempat itu, namun suaranya tak menjangkau siapapun.


Hanya gemerlap cahaya kota yang mendengar hentakannya yang ketakutan itu.


......................


"Heh, siapa anda?"


"Si-siapa kau?!"


Baik Sophia, maupun sang pria terkejut melihat seorang wanita keluar dari kegelapan itu.


"Gue adalah petarung yang akan menyelamatkan kalian, dan menumpas orang bodoh ini!" Salwa menatap konyol pria itu.


Pedangnya ia todongkan ke arah leher sang penculik.

__ADS_1


"Tch, kau bukan dia... Maka pergilah! Sebelum aku beneran marah!"


"Kenapa aku harus takut?" Tatapnya mengejek.


"Kau tidak takut? Baiklah..."


Pria itu berbalik dan berjalan pelan ke arah sandra.


BRAK!


Namun itu bukan rencananya, dengan sekilas, pria itu menebaskan sebuah angin yang sangat kuat.


"Ugh!"


Meskipun terkena tebasan yang sangat kuat sekalipun, tubuh Salwa hanya mengalami sedikit lecet.


"Ba-bagaimana bisa?!"


"Hihi..." Senyuman itu, seakan memberi intimidasi pada pria itu.


"Singh Akash, bukan?" (Salwa)


"Kau ada di daftar pencarian mafia paling dicari di India!" Sambil menampakkan sebuah selebaran koran yang berisi berita tentang orang India itu.


"Ha ha hahahahaha! Ternyata kau tahu, ya? Lalu apa?!" (Akash)


"Apakah kau akan menangkapku, dan membawaku kembali ke sana?!" (Akash)


"Mereka jelas tidak akan berani melawanku! Sekalinya mereka melihat wajahku, hukum tidak akan berkutik, dan yang kuat akan memerintah yang lemah." (Akash)


"Semua usahamu... Akan sia-" (Akash)


TING!


Namun wanita itu menghiraukan kalimat-kalimat orang itu, dan memilih langsung menyerangnya.


Kini pedang wanita itu harus bertatapan dengan sarum tangan besi milik Akash.


"Rasakan ini!"


Sebuah sihir api membakar molekul besi di tangan Akash.


BUAR!


Melihat dirinya sedang dalam keadaan dirugikan, Akash dengan cepat melempar jauh wanita itu.


"Api, ya? Kalau begitu, biar aku main tanah!" Pria itu mengambil kuda-kuda layaknya pesumo dan membuat gedung itu hancur.


"Bukan kita berdua, tapi berlima!" Ucapnya sambil menunjuk dengan lima jari ke arah para sandra.


Tapi senyum itu seketika sirna, dan berubah menjadi ketakutan.


Para sandra menghilang dan tak ada satupun yang duduk di kursi itu.


"Hih!" Salwa memasang senyum yang licik.


"Kau sudah kalah!" (Salwa)


Salwa mengganti pedangnya menjadi sebuah tombak.


Tepat sebelum gedung itu rubuh, tumbak itu diangkat ke atas dan diputarkan layaknya baling-balinh helikopter.


WUSH! WUSH WUSH!


Gedung yang rubuh itu seketika berubah menjadi badai pasir dan melindungi mereka berdua dari terkubur hidup-hidup secara abadi.


Tempat mereka berdiri sekarang hanyalah sebuah latar kosong tanpa adanya bebatuan ataupun rerumputan.


"Lawan aku! Akash!" Salwa menantang pria India itu dengan pose layaknya pesilat.


"Dasar anak buah Duryudhana!"


Akash berjalan sambil mengepalkan tangannya ke arah Salwa.


WUSH!


Angin kuat menghembus ke arah wanita itu, namun sepertinya sang mafia India itu lupa soal dasar elemen.


"Bodoh, kekuatanku lebih kuat!"


Salwa mengeluarkan kobaran api dari tombaknya yang berputar ke arah pria itu.


Sihir angin yang seharusnya melukai wanita itu, kini malah menjadi penguat serangan Salwa.


Api yang berkobar menjadi sangat ganas melebihi biasanya.


Semua ini terjadi karena sihir angin yang lebih lemah dari sihir api lawannya.


"Akhh! Panas! Panas! Panas!"

__ADS_1


Tubuh Akash dimakan oleh jago merah dan membuatnya menggeliat di tanah.


SLEB!


Tepat saat dia menggeliat, Salwa menusuk perut pria yang seperti cacing kepanasan itu.


"Kau kalah!"


Wanita itu memberi tatapan kosong padanya.


Sangat kecewa, itulah yang wanita itu rasakan saat melawan musuhnya.


"Rasyid, elu bisa keluar sekarang!" Salwa memanggil pria yang dari tadi bersembunyi di dalam kedalaman tanah.


......................


"Terima kasih, karena sudah mau menolongku!" Ucapku pada wanita itu.


Ini merupakan sebuah kehormatan karena ditolong olehnya, firasatnya soal wanita yang bisa diandalkan ini tidaklah salah.


"Kau kejam sekali! Berani-beraninya meninggalkan seorang wanita sendirian di tempat itu!"


Salwa mengkomplain tindakanku.


Entah kenapa, tiba-tiba aku tersenyum tulus padanya.


'Salwa?'


Aku merasa mengingatnya.


"Salwa?"


Dia menatapku dengan sedikit melebar.


Sebuah senyum manis akhirnya dia keluarkan dari kekosongan di wajahnya tadi.


"Akhirnya, elu ngingat gue, Rasyid!"


Bagaimana aku bisa melupakannya?


Salwa adalah salah satu temanku dan Rosa, dia bisa dibilang adalah sang sableng sekolah.


Bersama denganku dan Rosa, kami bertiga membuat sebuah perkumpulan sendiri saat sepulang sekolah.


Dan dari sana juga, awalku bisa berkenalan dengan Rosa.


"Maafkan aku, karena sudah melupakan orang terpenting dalam hidupku!"


Air mata mengalir dari mataku, padahal cuman sebuah ingatan yang kembali.


Namun air mata ini tidak bisa kuhentikan secara paksa.


TAK TAK TAK


Sebuah suara langkah kaki mendekat ke arahku.


"Tenanglah, semua baik-baik saja... Kuharap kau bisa memaafkan tentang apa yang terjadi pada Rosa."


Salwa kembali membuatku gemetaran, setiap kali nama orang itu tersebut. Sebuah ketakutan membuatku bergetar hebat.


"Rosa? Siapa dia?" Sophia dan kedua murid lainnya bertanya saat berjalan ke arah kami.


"Cuman benang merah yang terbakar."


Salwa melindungi masa laluku dari muridku, sepertinya dia mengerti kondisiku saat ini.


......................


PLAK PLAK PLAK


Seseorang menepukkan tangannya ke arah kami.


"Akash benar-benar menjadi umpan yang hebat, bukan?"


"Kalian bahkan tidak sadar kalau sekarang kalian semua sedang terkepung!"


"Aku sarankan saja, sebaiknya kalian semua menyerah dan membiarkan kami mengambil batu akik itu."


Pria itu menganggap dirinya sudah menang dengan hanya memandang jumlah.


"Garnt Towel..." Suaraku seperti balok.


"Kau terlalu merendahkan lawanmu!" (Salwa)


"Kami di sini... Jugalah kuat!" (Sophia)


"Apapun untuk Pak Rasyid!" (Camal)


"Pak Rasyid, kami bersama anda!" (Siswi berkacamata yang kelihatan culun)

__ADS_1


Aku merasakan detakan yang mengerikan di jantungku.


'Ini seperti... Ada yang akan lenyap.'


__ADS_2