Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 58. Waktu Guru


__ADS_3

Di siang hari, waktu istirahat makan siang, para guru kelas 1 fisik berkumpul di ruang guru untuk membicarakan hal PENTING.


Di meja persegi panjang itu, mereka duduk melingkar dan menatap tidak serius orang yang mengusulkan pembicaraan ini.


"Jadi, apa yang akan kita lakukan, Tasya?" Xander bertanya pada Tasya yang sudah memasang wajah senyum cerahnya.


"Hmm(menggerutu)... Jadi, kenapa kau mengumpulkan kami di sini?" Samuel yang biasanya tersenyum, saat ini malah terlihat lelah.


"Kuharap ini bukan sesuatu yang buang-buang waktu, kan?" Erika menatap Tasya dengan harapan rendah.


Aku tidak memberikan kata-kata apapun pada Tasya. Terkadang mengikuti arus adalah hal yang terbaik.


"Jangan naik darah dululah kalian, aku saja belum mengucapkan apa-apa udah dihujat duluan!" Tasya mengerutkan bibirnya.


"Yah, biasanya kau bilang ingin membantu, namun pada akhirnya selalu memperkeruh..." Harapan Erika pada Tasya semakin rendah.


"hmm(mengangguk), itu ada benarnya." Xander dan Samuel mengangguk setuju dengan pernyataan Erika.


Seperti mereka juga pernah terkena serangan kekonyolan Tasya.


Aku terkadang berpikir sesekali. 'Bagaimana Tasya bisa masuk ke sekolah ini?' Pertanyaan itu masih tidak bisa terjawab sampai saat ini.


"Kalian kejam sekali..." kini dia malah merengek.


Wajahnya yang menatapku memberikan tatapan tidak enak. "A-apa?" Ucapku bingung dengan maksud dari tatapan itu.


"He-help me...!" Ucapnya merengek padaku dengan Bahasa Inggris.


Sebenarnya, aku yang juga pernah merasakan kekonyolan Tasya juga tidak membawa harapan sekecilpun sama sekali saat datang ke sini.


Tanpa menjawab, aku hanya menolehkan kepalaku ke samping menandakan kalau aku juga setuju pada mereka.


Kini tidak ada yang bersamanya. Harapan terkahirnya telah pupus, tapi dia bukanlah orang yang mudah patah semangat hanya karena itu.


Tangannya menggenggam kuat dan diangkat ke atas.


"Kalau begitu, lihatlah ini!" Ucap Tasya langsung ke inti.


Dia mengeluarkan sebuah kertas berisi pertanyaan-pertanyaan santai.


"Ayo kita saling kepo satu sama lain!" Ucapnya kembali dengan mata yang berbinar.


Aku melirik guru yang lain.


Tatapan mereka seperti sudah mengantisipasi ini.


Mereka tidak merasa terkejut sama sekali.


Tak lama setelah itu, Xander melentangkan punggungnya dan mencoba bersantai.


"Hmm(tersenyum sambil memegang dagunya), sepertinya ini akan menarik!" Xander terlihat tertarik dengan pembicaraan ini.


"Entah kenapa, aku merasa tidak enak dengan ini! Tapi di waktu yang bersamaan, aku juga kepo." Erika menelan ludahnya.


"Persiapan ujian membuatku stress, mungkin ini akan menjadi hiburan untuk kita!" Samuel menyetujuinya.


Aku juga mengangguk setuju pada mereka.


Tidak seharusnya kita terlalu fokus pada ujian dan melupakan istirahat.


"Karena kalian semua sudah terlihat setuju, jadi ayo kita mulai!" Tasya mengangkat kertas itu dengan bersemangat.


"Tunggu, bukankah itu agak membosankan bila hanya bertanya seperti itu? Kenapa tidak dijadikan game saja, siapa yang kalah, dia harus menjawab pertanyaan dengan sejujur-jujurnya!" Erika mengusulkan pemikirannya pada Tasya.


Entah itu perasaanku saja atau tidak, namun tadi aku melihat Erika sedikit melirik ke arahku saat dia mengatakan kata 'Sejujur-jujurnya'.


"Woah, itu benar juga, Erika!" (Samuel)


"Benar juga, itu akan terlihat aneh bika kita tiba-tiba diberi pertanyaan. Tapi... game apa yang akan kita mainkan?" (Xander)


"Bagaimana dengan kartu saja, nanti salah satu dari kita akan meminta menyebutkan sebuah angka atau bilangan, dan mereka yang mendapatkan kartu sesuai yang disebutkan penanya itu, maka mereka harus menjawab pertanyaan orang itu." (Tasya)


"Terdengar simple, tapi yang kau maksud dengan bilangan tadi adalah seperti bilangan prima, ganjil, genap, dan akar?" Erika menanyai peraturan permainan lebih dalam.


"Ya betul, maka dari itu, yang bertanya boleh bertanya kepada lebih dari satu orang!" (Tasya)


Terlihat simple tapi menjebak, inilah isi permainan ini.


Bila kita ingin bertanya ke orang secara spesifik, kita bisa saja menyebutkan angka ganjil/genap atau prima, namun beda cerita bila orang yang diincar ternyata beda angka.


"Bagaimana soal kartu As, king, queen, dan joker?" Tanyaku untuk memastikan.


Tasya menatapku dengan bingung, tapi sepertinya yang bingung bukan aku saja.


Guru-guru yang lain ikut menyadarinya dan mulai kebingungan.


"Aku tidak pakai kartu bridge, kok!" (Tasya)


"Lalu kartu apa?" Samue bertanya dengan bingung.


"Kartu tarot," ucap guru pendek itu dengan datar.


Kesunyian menghampiri tempat itu.


"Anggap saja itu sebuah kenormalan, Samuel!" Samuel memukul-mukul dadanya sendiri.


"Sudahlah, selagi kartu itu bisa dipakai, maka ya sudah! Dan untuk yang bertanya pertama kali adalah Tasya karena dia yang pertama mengajukan ini." Xander meluruskan pembicaraan.


"Baiklah kalau gitu, mari kita acak kartu ini!" Ucap Tasya bersemangat setelah namanya disebut sambil mengacak kartu tarot yang hanya berjumlah 22 itu.


SLAP SLAP SLAP


Saat pengacakan sudah selesai, dia melebarkan kartu-kartu itu sambil mengisyaratkan kami untuk mengambil.


"Ambillah!" Ucapnya sambil menyodorkan kartu.

__ADS_1


Aku adalah orang yang tidak suka ribet, maka aku akan memilih bagian paling samping.


Semoga saja bukan angka yang menakutkan. Dan kenapa ini malah jadi seperti ramalan saja?


"Entah kenapa, mengambil kartu ini serasa mencoba meramal nasib." Erika juga berpikiran sama denganku.


"Inilah serunya permainan ini!" Ucap Tasya sambil membuat senyum yang lebar.


Aku mendapat kartu The Judgement dan parahnya itu terbalik.


Pertanda buruk apa yang akan menghampiriku?


Mereka semua sudah mendapatkan kartu mereka, dan mata Tasya sudah bersinar untuk bertanya.


"Sepertinya sudah semuanya, karena ini pertanyaan pertama, maka aku akan menanyakan hal mudah saja... NOMOR ganjil! Misal kalau kalian mendapatkan tiket liburan gratis, kira-kira kemana kalian akan pergi?!" Tasya mengatakan pertanyaan yang sudah ia tulis dikertas itu.


Baru pertanyaan pertama sudah sulit seperti ini. Mungkin ini terlihat mudah bagi mereka, tapi buatku, ini sulit sekali.


Tapi untungnya judgement itu genap.


Mereka semua memperlihatkan kartu mereka di atas meja setelah mendengar pertanyaan Tasya.


Dilihat dari sini, yang mendapat kartu ganjil adalah Erika dan Xander.


The Hermit untuk Erika dan The Chariot(terbalik) untuk Xander.


sedangkan Samuel mendapat kartu The Tower.


Sejujurnya aku tidak tahu maksud dari kartu-kartu itu. Tapi bila dilihat dari gambar, mungkin hal baik akan terjadi pada mereka?


Xander mengerutkan wajahnya dan mengatur nafas.


"Kalau liburan, ya?...hmm(berpikir), aku lebih memilih ke villa di gunung dan bermain bersama keluarga." Xander menjawab dengan normal.


"Li-liburan?... Aku hanya ingin pergi bersama dengan seseorang yang kusukai, asalkan bersamanya, itu cukup." Erika menjawab dengan semacam kode.


Tapi dari pandangan mereka.


Mereka sepertinya paham maksud Erika.


'Sebaiknya aku pura-pura tidak tahu.'


"Wow...! Indah sekali mimpimu Kak Erika!" (Tasya)


"I-itu biasa saja!" Erika tersipu dan memalingkan wajahnya.


"Ehmm(berdehem), sepertinya sudah begitu saja, ayo lanjutkan!" (Xander)


"Berarti sekarang, antara Erika dan Xander?!" Tasya kebingungan dalam memilih.


"Kenapa tidak yang menjawab terakhir saja?" Usul Xander.


"Okelah, aku juga tidak keberatan..." Erika menyetujui.


Erika mengambil kembali kartu-kartu yang sudah dibagikan dan mengacaknya kembali.


Aku punya perasaan tidak enak, aku akan pilih tempat yang berbeda saja.


Kini kartu yang berada ditengah-tengah barisan yang akan kupilih.


Ada wajah sedikit terkejut di wajahnya saat aku mengambil bagian itu.


Aku menarik kartu itu dan kubuka secara rahasia.


The Fool...


Angka aman, tidak mungkin dia menebaknya.


"Kalau begitu, angka yang ada 0 nya! Menurut kalian, tipe pasangan apa yang kalian inginkan?" Erika bertanya sesuatu yang berhubungan dengan roman.


Para guru memperlihatkan kartunya ke atas mejanya.


Kenapa dia bisa tepat? Apakah dia sengaja menaruh angka 0 di setiap sudut?


Kurang lebih, dia menaruh angka 10 dan 20 di tepi dan 0 di tengah.


Kesimple-an ku mungkin menjadi penariknya merencanakan itu.


Tasya yang mengambil kartu paling ujung kiri mendapat kartu 10 The Fortune.


Samuel mendapat The Devil.


Xander mendapat The World.


'Ternyata memang seperti itu...'


"Ehmm... Aku duluan, karena aku tidak mungkin bertanya lagi!" Tasya dengan sukarela mengangkat tangannya.


"Soal pasangan, aku ingin dia kaya, good looking, dan pintar!" Ucapnya dengan agak bodoh.


Mereka semua terdiam mendengar keinginan Tasya.


Ini adalah hal biasa.


"Ya itu mustahil..." Erika menyangga mimpi Tasya.


Wajah Tasya langsung berubah menjadi merengek tapi tidak ada yang mempedulikannya.


"Pak Rasyid, bagaimana soal anda?" Erika menoleh padaku dengan tatapan yang ingin tahu.


"Kalau aku? ... Aku tidak tahu... Mungkin orang yang sad- maksudku penyuka hewan." Aku mengatakan sesuatu yang hampir bikin salah paham.


"Penyuka hewan? A-ah...!" Semua terdiam.


Sepertinya aku salah jawab lagi.

__ADS_1


"Ra-Rasyid, kau tidak sedang membicarakan soal kemasokisanmu, kan?" Erika mencoba bertanya dengan perasaan malu.


"Eh?!" Aku terkejut. "Bukan seperti itu... Aku beneran suka hewan terlebih lagi ayam!" Aku harus dengan segera meluruskannya.


Aku tidak menyangka kalau mereka akan berpikir kalau diriku suka diperlakukan seperti hewan.


"Ayam?" Tasya memiringkan kepalanya.


"Bukankah mereka imut, apalagi saat berjalan. Bila diingat-ingat cara mereka berjalan itu lucu!" Aku mengekspresikan rasa sukaku pada hewan itu.


"Hmm, benar juga... Kalau diingat-ingat, lucu juga cara berjalan ayam itu." Wajah ngiler Tasya tertulis di sana saat membayangkannya.


Dia masih berpikir soal ayam, kan? Bukan setelah mutilasinya.


'Kuharap begitu.'


"Sepertinya pertanyaannya sudah terjawab semua." Xander mengingatkan kami. "Jadi, ayo diacak lagi, dan kali ini giliran anda, Rasyid!" Dia menatapku dengan tatapan santainya.


Aku mengumpulkan kartu yang sudah terambil dan yang ada di tangan Erika.


Sebenarnya mengocok kartu bukanlah keahlianku, kemungkinan terjadi reversed akan jadi besar karena kocokanku.


Saat pengocokan kuanggap cukup, aku menyodorkan kartu itu pada mereka.


Aku tidak tahu apapun yang ada di sana. Semua terjadi secara acak.


Xander dan Samuel mengambil bagian ujung, Erika mencoba mengambil bagian yang ada di nomor 2 dari paling kananku.


Tasya menatap bingung kartu yang akan dia pilih, namun itu hqnya terjadi sementara.


Wajahnya langsung bercahaya setelah melihat kartu yang ia cari.


'Aku benar-benqr tidak tahu sama sekali, suer!'


Aku menatap mereka yang gugup saat mau kutanyai.


Mataku mulai menyusuri kartu-kartu mereka dan perlahan kututup mataku.


"Bilangan prima, aku bertanya... Apa alasan kalian menjadi guru," ucapku dengan mata yang tertutup.


Para guru terkejut dan meletakkan kartu mereka di atas meja.


Erika mendapat The Magician(Reversed)


Xander mendapat The Hierophant(Reversed)


Tasya mendapat The Empress(Reversed)


Samuel mendapat The Sun(Reversed)


Semuanya bilangan prima dan terbalik.


'Apa yang sudah kuperbuat?'


Tapi mereka tidak menatapku dengan curiga. Mereka malah bersiap untuk menjawab pertanyaanku.


"Hebat sekali anda bisa menayakan kami semua," ucap Xander dengan memberi senyuman formal.


"Tidak, ini kebetulan yang benar-benar kebetulan." Aku menyangkalnya.


Ini beneran soalnya.


"Soal pertanyaanmu, mari aku yang awali. Tujuanku menjadi guru padahal aku adalah seorang Earl yang berwibawa adalah karena ayahku. Sejujurnya, aku ingin membuat orang-orang yang memiliki sifat sepertinga tersadar akan kesalahan adalah hal biasa." Senyum formal Xander berubah kecut setelah mengatakan soal ayahnya.


Dia masih menyimpan rahasia dalam kata-katanya, ada beberapa yang belum terekspos di kalimatnya.


Tapi bila itu sangat memalukan, maka aku diam saja.


"Dan sekarang giliranku, aku ingin meneruskan ilmu guruku." Samuel memasang senyum lebar, namun senyuman itu tidak bertahan lama. "Guruku tidak sempat meneruskan ilmunya karena saat itu sudah tua, maka oleh karena itu, aku siap untuk meneruskannya!" Samuel menatap sebuah tabung bekas wadah Anitya yang di telapak tangannya.


"Sekarang waktuku, aku menjadi guru karena ingin mendapat pengakuan. Keluargaku tidak pernah menganggapku ada. Memang mereka tidak membulliku, namun bila aku selalu diasingkan juga akan membuatku menderita. Maka dari itu, aku ingin mereka melihatku!" Tasya yang biasanya tersenyum kini memiliki raut muka yang penuh ambisi.


"Dan untuk alasanku, sebuah ilmu tidak berguna bila tidak diajarkan pada penerus, begitu juga tekadku, bila aku terbiasa memegang busurku untuk melawan yang lemah. Maka aku tidak akan mengalami perubahan. Selagi aku bisa memegang busur dan bertanding di arena untuk menemui lawan-lawan yang unik, itu sudah cukup." Erika menjadi sangat puitis meskipun tidak nyambung.


Itu semua adalah yang ingin kudengar.


Mereka punya alasan untuk menjadi seorang guru.


Mereka membawa kepercayaan, ambisi, dan hasrat mereka dalam bertugas sebagai tenaga pengajar.


'Sedangkan aku... Aku bahkan tidak tahu tujuanku di sini!' Dalam hati aku sangat sakit.


Aku tidak tahu kenapa aku ke sini. Yang kuingat hanyalah orang itu memintaku mengajar di sini.


"Ehmm!" Deheman Xander membuatku kembali ke duniaku.


"Apakah kita bisa melanjutkan?" Tatapnya padaku yang tadi melamun.


"E-eh bisa!" Aku latah.


Ini pertama kalinya terjadi.


"Tidak, kita hentikan saja. Karena waktu istirahat mau selesai!" Tasya dengan sigap menghentikan permainannya sebelum jam pelajaran berlangsung.


"Eh cepat sekali?!" (Samuel)


"Kita bersenang-senang makanya cepat." (Xander)


"Semoga tidak telat!" (Erika)


Mereka semua bergegas ke meja mereka masing-masing untuk mengambil barang mereka lalu pergi setelahnya.


Aku masih berdiri di ruangan itu.


Masih ada yang mengganjal pikiranku.

__ADS_1


"Kartu tarot tadi... Semuanya terbalik." Aku membawa firasat buruk.


Sebaiknya tidak usah dipikirkan dalam-dalam, ini hanya permainan yang dibuat oleh si pendek itu.


__ADS_2