
Hari ini adalah hari penting buat para murid.
Kepintaran, kecermatan, skill, dan yang paling penting adalah moral mereka diuji oleh sekolah ini untuk mendapatkan nilai sesuai KKM.
Hari pertama adalah ujian tulis.
Bagi mereka ujian tulis adalah ujian yang paling gampang diantara 5 ujian lainnya di minggu ini. Mereka tidak perlu banyak memikirkan soal strategi ataupun kekuatan apa yang harus mereka gunakan. Asalkan mereka menjawab dengan benar maka mereka akan aman.
......................
Pagi hari pukul 4 pagi, aku dan 9 guru lainnya yang sudah dipilih menjadi pengawal Putri Tyas sudah berkumpul di ruangan kepala sekolah.
Di sana aku berdiri di bagian paling depan dan tepat di depan Bahar yang sedang duduk santai di kursinya.
"Pilihanmu sedikit aneh, tapi dengan melihat wajah-wajah mereka..." Bahar berbicara dengan lirih ke arahku sambil menatapi para pengawal yang kupilih. "... Pilihanmu bagus juga." Sebuah ucapan selamat diberikan padaku darinya.
"Hmm(mengangguk)" Aku tidak mengucapkan apapun selain mengangguk dan tersenyum pada orang itu.
Ini seperti sudah jadi kebiasaan antara kami berdua.
Tak lama setelah itu, Bahar berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah para guru yang sudah terpilih menjadi pengawal.
Di saat yang bersamaan juga, aku mengambil langkah mundur untuk kembali ke barisan para pengawal.
PRAK PRAK PRAK
Bahar memberikan tepuk tangan ke para pengawal yang ada di depannya.
"Selamat atas terpilihnnya kalian semua untuk menjadi pengawal Putri Tyas di ujian ini." Bahar yang sudah berdiri di depan mereka mengambil posisi istirahat di tempat.
"Ini akan menjadi suatu kehormatan buat kalian karena pernah dipercaya untuk menjadi pengawal keluarga kerajaan!" Bahar memberi tatapan tajam kepada para pengawal yang ada di samping kanannya.
"Tapi..." Bahar menahan kalimatnya. "...Kalian tahu, kan? Kenapa sekolah kita memilih banyak sekali pengawal bahkan hampir setengah dari guru di sini dijadikan pengawal?" Bola mata Bahar dengan perlahan bergerak dari kanan ke kiri untuk menatapi para wajah dari para pengawal.
"Siap kami tahu!" (Para pengawal dengan serempak)
Kepuasan yang terlihat di wajah Bahar dengan jelas menunjukkan bahwa dia percaya pada mereka.
"Kalau begitu... Natesh, Widodo, Candra, Rasputra, Rasyid, Ryan, Vicky, Linda, Tasya, dan Xander kalian boleh pergi!" Bahar menyebut nama kami satu persatu sesuai posisi barisan kami.
"Siap!" (Semua pengawal)
Dengan begitu, kami membubarkan diri dan meninggalkan ruangan yang sempit itu.
......................
Ruangan itu kini telah sepi dan hanya ada Bahar seorang.
"Masuklah!" Namun Bahar merasakannya.
Sebuah kehadiran yang menolak untuk pergi.
"Terima kasih... Pak Bahar." Ucap terima kasih pria tua itu ke Bahar yang padahal sama tuanya.
Berbadan kekar dan tinggi, kulitnya gelap dan memakai seragam serba putih.
Topi koboi dan kacamata hitam menghiasi kepala pria itu.
Point of View: Saiful Baharudin
Aku merasakan kehadiran orang itu, ya... Dia adalah orang yang sangat berbahaya.
Bila aku mencoba menghiraukannya maka aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
Aku berjalan kembali ke kursiku dan duduk di sana sambil menatapi pria itu yang enggan ikut duduk bersamaku.
"Kenapa tidak duduk?" Aku bertanya dengan hati-hati.
__ADS_1
"Ini hanya sebentar... Ini berkaitan dengan masalah penculikan kemarin!" Dia menyilangkan tangannya dan menatapku dengan senyuman yang sangat optimis.
"Aku sudah menyembunyikan masalah itu!" Aku memutar kursiku dan memalingkan badanku darinya.
"Itu bukan masalahnya. Yang ingin kutanyakan adalah... Saat kejadian itu, kau mengirimku untuk datang sebelum para guru datang, bukan?" Dia mencoba berjalan ke sampingku supaya aku bisa melihat keberadaanya.
"Tapi saat aku sudah ke sana... Yang tersisanya hanyalah para murid yang terikat dan penjaga yang pingsan karena kesetrum secara brutal." Meskipun matanya ketutupan kacamata hitam, tapi tatapan tajam bisa terlihat hanya dengan gaya bicaranya.
Saat orang ini mengatakan itu, aku teringat satu orang yang bisa melakukan itu.
Keringat langsung mengucur di wajahku. Apakah dia yang melakukannya?
"Saat aku melihat kondisi bekas pertarungan itu... Ada banyak darah dan bekas sihir es, petir, angin, dan air ada di sana!" Dari nada suaranya, dia benar-benar bingung dengan apa yang terjadi.
"Hah?!" Aku terkejut dengan pernyataan orang ini.
Sihir es, petir. angin, dan air? Apakah yang menduluinya sudah banyak?
Aku awalnya tidak percaya dengan ucapannya, tapi bila orang ini yang mengatakannya. Maka itu pasti benar, karena orang ini... Dia bisa mendeteksinya.
Apakah para murid diselamatkan oleh sebuah organisasi misterius dan meminta sebuah bayaran pada kami nantinya?
"Dari wajahmu yang kebinguan... Sepertinya kau juga tidak tahu, kan?" Dia menyadari kebingunganku dan berjalan kembali ke posisi awalnya.
Apakah itu benar-benar dia yang melakukannya? Tapi bila kuingat-ingat, dia hanyalah seorang babu dari Nova dan hanya bergerak di bawah perintah nenek itu.
Dan lagipula, tidak mungkin buatnya untuk benar-benar bisa menggunakan semua elemen. Lebih tepatnya, itu mustahil.
Anitya dirancang hanya untuk memiliki 2 elemen saja. 3 bisa terjadi, itupun pemilik Anitya harus memiliki elemen es dan api.
Lalu, siapa sebenarnya orang itu?
"Widodo..." Aku menyebut nama orang itu.
"Apa?" Dia dengan santai menatapku.
"Kenapa?"
"Ini akan semakin berbahaya bila kau menggali lebih dalam. Melanjutkan penyelidikan artinya menggali kuburmu sendiri!"
"Tenanglah, Bahar! Hal seperti ini... Sudah sering terjadi, bukan?"
"Ini sudah kelewatan! Bila kau-(terputus oleh suara Widodo)
"Kau berpikir terlalu jauh, Bahar! Lagipula orang yang kucurigai adalah guru di sini! Tidak mungkin aku akan dalam bahaya."
"Guru yang ada di sini?"
Apakah yang dimaksudnya... Adalah orang itu?
Saat menyingkirkan nama Rasyid dari list orang mencurigakan di sekolah ini.
Hanya ada satu orang yang menjadi tersangka utamanya.
Zarbeth Paniati...
Dia satu-satunya yang bisa mengeluarkan segala jenis sihir elemental di seluruh Nusantara ini.
"Kalau begitu, aku pamit dulu, Bahar!" Dengan begitu, Widodo meninggalkanku yang masih melongo tidak percaya.
Tapi yang menjadi beban dipikiranku adalah... Kenapa nenek tua itu jauh-jauh melakukan ini?
Apa tujuannnya?
Keheningan mengalir ke ruangan itu.
......................
__ADS_1
Point of View: Rasyid Londerik
Di dekat cafe guru, para pengawal membeli sarapan karena tidak sempat.
Sayangnya aku datang ke sekolah ini dengan keadaan sudah makan.
Jadi aku hanya melototi mereka yang belum sarapan di meja ini.
"Kau tidak makan?" Xander yang duduk melingkar bersamaku menanyaiku.
"Aku sudah sarapan," ucapku dengan datar.
"Pak Rasyid gituloh... Berangkat pagi bagi anda adalah makanan sehari-hari. Jadi dia sudah terbiasa dengan situasi sepeti ini!" Tasya yang sudah terbiasa melihatku berangkat pagi menepuk-nepuk punggungku.
"Ini sudah lebih dari sebulan kau mengajar di sini, dan sifat itu belum hilang? Kau sepertinya orang yang taat aturan, ya Syid?" Pujian di keluarkan dari dalam mulut Xander namun sekaligus terdengar seperti mengejek.
Aku yang tepat aturan juga karena keadaanku sebagai bawahan Nova. Ketepatan waktu terpaksa harus kubiasakan agar bisa menyelaraskan misi-misiku.
Bila aku terlambat menyelesaikan misiku, maka misi baru akan tetap terus keluar sebelum aku menyelesaikannya.
Dan itu akan terus menumpuk bila kubiarkan terus.
"Oh iya, Dek Ryan..." Tasya memanggil orang yang ada di samping lainnya. "Aku dengar kau pintar mobil... Bisakah kau memperbaiki mobilku?"
Tasya belum apa-apa sudah langsung ke intinya. Ryan yang mendengar permintaan wanita itu hanya menjauhkan wajahnya yang tersipu malu dari wanita itu.
Dia sepertinya bukan orang yang pintar berkomunikasi sepertiku. Pasti ada masalah yang membuatnya seperti itu.
Tak lama setelah itu, wajahnya yang tersipu dipalingkan dan bertemu denganku.
Lagi-lagi dia memalingkannya ke arah lain.
Ada perasaan tidak enak saat dia melihatku. Raut wajahnya seperti trauma berat.
Apakah... Dia salah satu keluarga dari korban-korbanku?
Itu mungkin saja.
Untuk menghilangkan firasat ini, aku mencoba berbicara dengan Xander.
"Pak Xander, anda punya hubungan apa dengan Putri Tyas?" Sebuah pertanyaan kulontarkan padanya.
"Heh?! Hubungan?!" Xander tiba-tiba terkejut dengan pertanyaanku dan raut muka sedih juga terlihat sedang disembunyikan di wajahnya.
"Pak Rasyid, apakah anda tidak tahu?!" Tasya yang daritadi memohon pada Ryan malah berganti masuk ke pembicaraanku.
"Tidak?" Aku menggelengkan kepala.
"Putri Tyas adalah tunangannya!" Tasya tersenyum sambil menunjuk ke pria berumur 30-an itu.
Tidak ada wajah terkejut yang keluar dariku.
Sepertinya hal yang seperti ini sudah pernah kulihat.
Tapi dimana?
"Anda tidak kaget?" Ryan yang tadi mengalihkan wajahnya dariku, tiba-tiba menanyaiku.
"Tidak... Tidak sama sekali." Dengan datarnya, aku mengatakan kalau aku tidak tahu sama sekali.
Ini akan menjadi sesuatu yang menarik, bahkan aku tidak tahu akan semenarik apa endingnya.
Jadi ini alasannya kenapa nama Xander diberi garis biru saat itu.
Satu-satunya yang menjadi masalah dalam kasus pertunangan ini adalah bagaimana Xander menanggapi pertanyaanku tadi.
Raut muka sedih itu... Membuatku kepo.
__ADS_1