Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 82. Ratu Petarung yang Murung pt.4


__ADS_3

Mata kami berenam saling menatap beku dan tak berani bergerak. Meskipun begitu, rambut hijau pendeknya terus berkibar-kibar karena angin yang terus berhembus dari kipas di dekatnya.


"Pak Rasyid... Yah..." Moka bersuara lirih sambil terbata-bata.


Dia sepertinya sangat malu saat ditemui gurunya di tempat seperti ini.


"Moka?" Erika mencoba melelehkan dirinya yang membeku.


Tapi bukannya sebuah jawaban normal yang dia dapat melainkan hal yang lain.


"Eh- bukan! Aku tidak bekerja di tempat malam atau semacamnya! Jadi....! Aku masih suci dan belum pernah melakukan hal yang seperti itu! Jadi kumohon, biarkan aku tetap bekerja di sini!" Moka menjawab dengan sangat panik pertanyaan singkat gurunya itu.


"Awoosh(terkejut)...! Tenanglah, ibu tidak akan melakukan hal itu!" (Erika)


"Lalu, ibu ke sini untuk apa?!" Sambil melirik pelan ke arahku.


Entah kenapa, aku tidak suka dengan tatapan yang wanita sayur ini berikan. Dengan segera, mataku harus kutatapkan balik ke mata anak itu dengan kosong, dan bila aku bisa tahan dengan tatapannya, mungkin aku bisa menghindarinya.


~TATAP~


Tanpa sadar, kami berdua malah saling menatap bodoh satu sama lain.


Erika dan Pengunjung yang lain mulai memasang wajah melas saat menatapi aneh diri kami berdua.


"Rasyid... Apa yang kau lakukan?" Erika membawaku dan Moka kembali.


"Bukan apa-apa(menggeleng-gelengkan kepala)..."


"A-aku hanya khawatir saja..." Moka meregangkan kembali punggungnya dan menyilangkan tangannya.


"Khawatir soal apa?" (Erika)


"Ibu... Apakah anda lupa...?" Moka memasang wajah tanpa jiwa ke arah gurunya.


"Begini saja, orang yang sudah punya pacaran, dan sedang berjalan di malam hari bersama cewek yang bukan pacarnya...! Apa itu tidak aneh?!" (Moka)


Mendengar penjelasan dari Moka, sepertinya Erika masih kosong dan tidak menangkap maksudnya.


"Ha(menghela nafas)... Masih belum paham, seorang pria dan wanita, yang pria memakai t-shirt polos, dan yang wanita pakai gaun indah... Bukankah kalian terlihat seperti sedang kencan?"


Mendengarkan itu, Erika memerah dan suhu tubuhnya meningkat.


"Ahh...?" Erika terlalu panas untuk berkata.


Kalau dipikir-pikir, Erika tidak mengganti pakaiannya sebelum pergi tadi.


Dia terlalu terburu-buru, sampai lupa hal sepenting itu.


'Jadi(sambil melihati sekitar)... Orang-orang kekar ini mengira kalau aku hanyalah pamer pacar, gitu?'


Sungguh merepotkan saja...


......................


Tak lama setelah itu, salah seorang berbadan kekar yang dari tadi menatapi kami bertiga memberanikan dirinya untuk menginterupsi.


"Permisi, maaf kalau ikut campur..." ucapnya dengan sopan.


Woah, untuk orang macho dan berotot dia ternyata cukuplah sopan.


Erika masih terlalu panas untuk menjawab salam dari orang ini, maka kini aku yang harus menjawabnya.


Kepalaku tertunduk sekali, dan langsung kembali menatap balik pria itu.


"Ada urusan apa, kalian dengan gadis ini?!" Dia mengatakan itu dengan suara yang keras layaknya balok.


Tangannya menyilang dan menampakkan otot-otot yang bisa membuat orang kehabisan nafas hanya dengan dijepit olehnya.


"Ini bukanlah tempat yang benar untuk dirimu berani-berani mengganggu ratu kami!" Salah seorang petarung liar lain berjalan mendekat ke arah kami.


Suasana semakin kacau, dan aku juga tidak bisa terlalu banyak bicara, karena hal seperti ini bukanlah bagianku.


"A-anu..." Moka yang dari tadi diam kini mencoba menenangkan ketengangan yang terjadi di sini.


"Maafkan aku, Gido, tapi orang yang di depan anda saat ini adalah guruku..." ucap gadis itu sambil berjalan keluar dari warungnya.

__ADS_1


"Gurumu?!"


Mereka berdua terkejut, dan belum selang lama mereka langsung berlutut kepada kami untuk meminta maaf.


"Maafkan kami..."


Atmosfir ini... Sungguh bikin canggung, aku tidak bisa berkata apapun selain menahan malu diperlakukan seperti ini.


"Ya... Ini bukan masalah, kok..." Kepalaku kugaruk seperti orang bodoh sambil memasang senyuman mentah.


......................


Suasan tegang kini sudah kembali normal, aku, Erika, dan Moka kini duduk di meja yang sama dan saling berhadapan.


"Jadi... Apa yang kalian berdua lakukan di sini?!" Moka bertanya pada kami berdua, tapi entah kenapa, dia lebih menusuk ke arahku.


"Kami sedang mencari seseorang..." (Erika)


"Seseorang(memiringkan kepala)...?"


"Ya... Bila kuingat-ingat, namanya adalah Tesi Alamsyah."


"Tesi... Alamsyah...?"


"Kau tidak kenal?" Harapan Erika menurun saat Moka kesulitan mengenal nama orang yang dia cari.


"Ya... bagaimana, ya...?" Moka sulit memasang kalimatnya.


Dia tahu orang itu, tapi dia sulit untuk mendeskripsikannya, kurang lebih seperti itu...


"Apakah dia orang yang berbahaya?" Tanyaku memotong mereka berdua.


Moka menatap lebar ke arahku, pupil yang dia gunakan untuk melihat terlihat mengecil.


Jadi...


Aku bertanya disaat yang tidak tepat.


Menyadari keberadaanya, aku menoleh ke balikku dan mendangak ke atas untuk melihat wajah asli dari orang itu.


Meskipun dengan perlindungan Anitya, dia tidak membuat luka yang merobek-robek kulitnya sembuh dan hilang.


Orang ini malah terlihat bangga dengan itu, bahkan memamerkannya.


Jadi ini, yang disebut Singa Api?


Dia cukup memberi aura takut bagi siapapun yang melihatnya. Bahkan dua orang yang tadi berjalan melindungi Moka dari kami berdua ikut mundur secara perlahan dari lingkaran jarak orang itu.


"A-apa anda adalah Tesi Alamsyah?" Bukannya takut, Erika yang duduk di dekatku malah bertanya dengan santai ke arah orang itu.


Wajar saja, dia adalah petarung terbaik di Nusantara, bila ada yang ia takuti, maka gelar itu hanyalah sebuah kebohongan.


"Hmm(mengangguk)... Aku adalah Tesi Alamsyah atau yang biasa orang-orang ini(menunjuk ke arah pria-pria kekar yang ketakutan dengan jempolnya) sebut sebagai Singa Api." (Tesi)


"Kenapa Queen of Fighter ingin bertemu denganku...? Bila kau ingin melawanku, maka aku akan hadapi, tapi dengan peraturan duel liar!" (Tesi)


"Ti-tidak, aku kesini bukan untuk itu!"


"Lalu apa?!" Sebuah tanda pagar terlihat di sebelah keningnya.


"Aku kesini...!" Erika tak berani menatap wajah pria itu. "... Ingin bertanya soal ibuku, yang merupakan istrimu!"


Meskipun kelihatan kendur, namun kalimatnya terkandung sebuah harapan yang tinggi.


Mendengar itu, pria itu langsung menggulung tangannya dan berbalik.


"Kenapa kau tanya soal dia?! Kau tidak ada hubungannya, kan?!"


Tesi tahu siapa Erika sebenarnya, tapi dia ingin membuat istrinya melupakan masa lalunya dan terus melihat ke depan.


"Kumohon!" Erika memekik sambil mengeluarkan air mata.


Ini adalah jurus paling ampuh buat para lelaki, yaitu kekuatan air mata.


Dari apa yang kulihat, orang-orang yang mengitari kami sudah banyak yang terlihat kasihan dengan wanita yang bergelimang air mata itu.

__ADS_1


Dari mana dia dapat skill berakting seperti itu?! Dan terlebih lagi sangat sempurna?!


Tapi bukannya kasihan, tanda pagar di kening pria itu malah semakin tebal.


Dia berbalik dan berjalan dengan menggetarkan trotoar di setiap langkahnya.


Seperti terjadi gempa kecil yang kecil di setiap hentakan kakinya.


Saat sudah di depannya, Erika yang masih menangis mencoba mendangak ke arah kepala pria itu.


Tapi belum selesai dengan melihatnya, sebuah tindakan mengejutkan dilakukan...


BRAKKK!


Tesi menendang dagu Erika menggunakan lututnya.


Seketika, Erika terpental ke belakang dan membuat meja-meja di warung berhamburan karena terdorong oleh badannya.


"Bu Erika! Dan terlebih lagi, warungku!" Moka yang mematung akhirnya berdiri dan melihati warungnya berserekan seperti habis terkena ****** beliung hanya dalam sekejap.


Tapi meskipun begitu, dia tetap berlari ke arah gurunya itu untuk memeriksa keadaannya.


"Apakah anda baik-baik saja, bu?!"


Para orang kekar yang dari tadi terdiam ketakutan kini maju dan menghalau Tesi untuk melindungi ratu mereka.


"Tesi! Di mana harga dirimu?! Kau menyerang seorang wanita bahkan sampai terlempar seperti itu!" Seseorang yang tadi dipanggil Gido menegur pria itu.


"Dia bukanlah wanita biasa, dia adalah Queen of Fighter, dia ratu petarung yang paling hebat di Nusantara ini!" (Tesi)


"Tidak mungkin aku membiarkannya menipuku hanya dengan air matanya..." Tesi menatap ke trotoar. "Terlebih lagi, dia adalah seseorang yang tidak seharusnya istriku temui saat ini!"


"Jadi! Minggirlah, biar aku beri dia pelajaran, dan jangan kembali lagi menampakkan wajahnya!" (Tesi)


Meskipun diguncang dengan tatapan mengerikan dan api yang membara di sekujur leher dan matanya, para petarung liar itu tetap mencoba melindungi ratunya dari luka sekecil apapun.


Keadaan akan semakin kacau bila aku diam saja, pasti ada jalan...


Saar kuingat-ingat, sebelumnya dia menginginkan sesuatu, kan?


"Anu..." Aku yang santai duduk di kursiku akhirnya berdiri dan mengangkat tanganku.


"Hah? Apa yang kau inginkan, Champion?" Dia menoleh ke arahku tanpa membalikkan badannya.


Aku tidak menyangka namaku akan seterkenal ini hanya dengan memenangkan penilaian guru saat itu.


"Kau seorang petarung liar, tapi kau juga punya harga diri, kan?"


"Lalu, apakah aku harus membiarkannya pergi dan menengok istriki?! Tidak akan kubiarkan!"


"Bagaimana dengan taruhan?"


"Taruhan?"


"Ya, kau(menunjuk ke arah Tesi)... dan Erika(menunjuk ke arah Erika yang terbaring)... Bertarung di arena bawah jalan layang ini!"


Para pria kekar tadi menatap bingung maksudku.


"Jadi maksudmu aku bisa meminta apa saja asalkan aku menang?!"


"Ya! Tapi bila Erika yang menang, maka kau tahukan..." Aku memainkan jemariku layaknya seorang wanita penggoda.


Aku tahu aku laki dan tidak cocok dengan itu, tapi aku sesekali ingin melakukannya.


Tesi dan pria berotot yang lain menyilangkan tangannya sambil memimirkan tawaranku.


Tapi dari mereka semua, Tesi adalah yang menjawab paling cepat.


"Baiklah, kalau begitu aku terima tawaran itu... Jika aku menang, maka aku minta Erika untuk pergi dan tidak berurusan dengannya lagi!"


Tak kusangka taruhannya sangatlah kecil, ternyata Tesi punya sisi baik juga...


"Sudah diputuskan, pertarungan akan dilakukan beberapa menit dari sekarang!"


Aku harap Erika tidak keberatan, dia masih pingsan dan tidka tahu soal ini sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2