Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 80. Ratu Petarung yang Murung pt.2


__ADS_3

Aku masuk ke dalam pabrik itu bersama Erika.


KRAKK!


Suara pintu tua terdengar bising saat dibuka.


"Bising sekali?!"


"Namanya juga pabrik tua...Dan, juga ini habis-" Suara Erika tiba-tiba terpotong,ia seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku.


Tapi itu percuma, apa yang dia coba sembunyikan sudah kuketahui sejak awal.


Aku akan bermain bodoh seperti biasanya saja.


"Apa? Kenapa kau berhenti?"


"Aku hanya berpikir, keanehan ini... Mungkin saja..." Dia menatapku dengan sayu dan cemberut.


Dia langsung mencurigaiku...


Tidak ada gunanya menyembunyikan sesuatu darinya, itulah yang kupikirkan saat ini.


Melihat tatapannya itu, aku mengangakat kedua tanganku ke atas untuk menandakan kalau aku menyerah.


"Huh(menghela nafas)... Bila kau sudah seperi itu, maka aku akan diam saja, lagipula nama sekolah dan murid di sana jadi tidak diketahui oleh media." (Erika)


"Itu saja sudah cukup buatku... Melihatmu melakukan itu, entah kenapa aku merasa itu adalah hal yang biasa." (Erika)


Tanpa mengatakan apapun, mataku tertoleh ke dalam pintu dan menatapi dalam pabrik itu.


"Sudahlah, ayo masuk..."


Erika berjalan masuk ke dalam, lalu dilanjutkan dengan langkahku yang mengikutinya.


Di dalam sana, aku melihat seseorang sedang berdiri senden di pillar pabrik dan sedang menatapi ponselnya dengan sibuk.


TAK TAK TAK!


Suara langkah kami mengalihkan perhatian orang itu, dengan layaknya seperti beruang hibernasi yang tidurnya terganggu, pria itu memutar matanya ke arah kami berdua dengan cepat.


Melihat tatapan bahaya itu, Erika mengangkat kedua tangannya ke atas.


'Mungkin sebaiknya aku ikut-ikutan apa yang dia lakukan?'


Atas dasar pemikiran itu, tanganku kuangkat lagi keatas.


"Erika Rahmana, klien-mu..." suaranya keras namun pelan.


Mendengar hal itu, orang itu tidak mengatakan apapun dan malah menyantaikan badannya.


Perlahan dan santai, orang bertopeng itu berjalan ke depan Erika dan memberinya sebuah flashdisk.


Entah kenapa aku malah mengingat sesuatu saat melihat itu.


"Ini(menyodorkan flashdisk)... benda ini berisi lokasi, ciri, dan data orang yang anda cari."


Setelah memberikan itu, dia berjalan mundur ke belakang dan menunggu bayaran dari wanita itu.


Sambil menunggu Erika mengambil uangnya, aku menatapi topeng yang orang itu pakai dengan seksama.


'Tanda itu, seperti seusatu yang pernah kulihat sebelumnya...'


Di suatu tempat, aku pernah melihat itu.


"Ini! Sesuai perjanjian, uang pas!" Erika memberikan uang dalam koper yang ia bawa.


Mengambil koper itu, orang bertopeng itu membuka untuk memeriksa jumlah uang yang dia terima.


Saat dirasa cukup, dia menganggukkan kepalanya dan menutupnya kembali.


"Ini sudah cukup, senang berbisnis dengan kalian berdua." Secara cepat, orang itu pergi dari ruangan ini.


'Tidak akan kubiarkan...' ucapku dalam hati.


Tanpa terlihat dan terdengar oleh mata dan kuping Erika, aku dengan sembunyi-sembunyi menangkap orang mencurigakan itu.

__ADS_1


Aku merasa, dia tidak seharusnya di sini.


"Ayo kita kembali, Syid!"


"Hmm(mengangguk)..."


Karena tidak melihat ada yang aneh, Erika mengajakku keluar dari pabrik ini.


......................


Saat di luar.


"Sebentar Erika! Aku sepertinya mendapat panggilan dari seseorang?!"


Aku berpura-pura.


Ada sesuatu yang harus kucaritahu dari orang itu.


"Baiklah, tapi bila itu dari orang itu(Nova)... Maka kuminta kau segera menolaknya!" Dia mengatakan itu dengan wajah tersipu.


"Baiklah nyonya tsundere!"


"Si-siapa yang kau panggil nyonya tsundere, bo-bodoh!"


Aku tak memghiraukan kalimat terakhirnya, dan berjalan menjauh dari sana.


Di dalam pabrik, sebuah tempat di mana aku menyegel orang itu.


"HMMMH! HMMMM!"


Orang itu ingin mengatakan sesuatu namun mulutnya kusumpel dengan sihir es yang membekukan mulutnya.


BURN!


Dengan sihir api, aku melelehkan es itu, namun tidak dengan yang ada di tangan dan kakinya.


"Apa yang kau inginkan?!"


Dia seperti orang yang takut mati.


"Mudah saja, siapa ketuamu?"


"Kau masih bisa mengatakan itu tanpa melihat kondisimu?!"


Aku membuatnya bungkam dengan 8 sihir elemen yang siap melesat ke arah pria itu secara terus-menerus sampai dia bersuara.


"Ka-kau?! O-orang itu?! Orang yang dicari-cari ketua selama ini?!"


Aku... Dicari olehnya?!


Apa maksud dari orang ini?!


"Ha?!"


"Dia selama ini mencarimu, tapi dia tidak pernah berhasil!"


"Sejak kau hilang beberapa bulan yang lalu, tidak ada yang membuat orang itu senang!"


"Angka kematian berada di angka yang stabil karena penuaan, bukan karena terbunuh!"


"Jadi selama ini dia mencari informasi tentangmu!"


"Saat dia tahu-"


DOR!


Sebuah batu runcing menembus tubuh orang malang itu.


Informasi yang dia berikan tidak membantu sama sekali.


Sebaiknya aku biarkan dia kabur saja.


Dengan begitu, aku berbalik dan meninggalkan orang itu pingsan di sana sendirian.


Dia bisa kabur kapan saja bila dia pintar, gumpalan es yang mengikat tangan dan kakinya bisa dihancurkan dengan mudah bila ia terampil.

__ADS_1


TAK TAK TAK


Dia adalah bawahan dari perusahaan informasi.


Yang paling ditakuti, bahkan polisi-pun tak berani ambil tindakan pada mereka.


SANGKUNI...


......................


Di depan pabrik, Erika sedang menunggu kedatanganku.


"Oh, akhirnya kau kembali!"


"Ya..."


"Siapa yang panggil?!"


"Cuman teman lama..." Aku berbohong dengan mudah seperti bernapas.


Mendengar ucapanku, Erika jelas sadar akan ucapanku yang tidak masuk akal itu.


Tapi dia tidak mau ambil pusing dan memilih melanjutkan urusannya.


"Ayo kita jalan!"


"Kemana?"


"Ke rumahku, emangnya mau kemana lagi?"


"Heh?!"


Aku tidak salah dengarkan? Ke rumahnya?


Apa dia tidak pikir-pikir apa yang dia katakan?


"Tenanglah, aku mengundangmu ke rumah karena tahu kau pasti tidak akan melakukannya, kan?" Erika memberi tatapan ikan mati ke arahku.


"Ha... Ya, mungkin."


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi ku iyakan sajalah untuk saat ini.


......................


Di depan rumah, aku menatapi rumah yang seukuran kelas di tempatku mengajar di sekolah itu.


Sangat kecil...


Itu adalah yang kulihat dari rumah ini.


"Tunggu di sini, ya? Aku mau ganti baju dulu!" Erika masuk dan meninggalkanku di depan rumahnya.


Entah kenapa aku merasakan de javu saat melakukan ini.


Tapi kali ini suasana menjadi lebih canggung, ada banyak mata tetangga yang menatapku.


Bisakah kalian(para mata yang melihat) tidak menatapiku dengan tatapan seperti itu?


Hal ini membuatku merasa kalau mereka akan salah paham soal maksud kedatanganku.


......................


KRAK!


Pintu terbuka, dan pakaian anggun milik Erika terlihat di depan mataku.


Pakaian gaun putih yang berkibar dan minimalis dari gaya pakainnya membuat aura polos dari wanita itu terlihat.


Rambutnya yang dikepang dan dilempar ke bahu juga terlihat cantik.


Tinggal dikasih kacamata, maka dia akan terlihat sangat cantik.


"Ra-Rasyid, kenapa kau memandangiku terus?"


Kalimat itu menendangku kembali ke realitas, kini aku bisa merasakan kecantikan dan keanggunan seorang wanita.

__ADS_1


Sepertinya, aku sudah berbaikam dengan diriku yang ada di masa lalu.


Tapi tetap saja, mataku tidak boleh terus-terus an menatapnya, bukan hanya dilihat aneh oleh Erika, namun juga mata-mata tetangga akan lebih ganas bila aku seperti ini.


__ADS_2