Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 129. Ikatan yang Rusak


__ADS_3

"Tesi, apa yang kau lakukan bersamanya di sini?" Aku bertanya pada pria itu dengan berlagak seperti orang tenang meskipun tubuh bergemetar terus menerus.


Orang yang berdiri di sampingnya, kalau tidak salah namanya adalah Widodo Surya, dia adalah guru kelas 2 Fisik 4. Saat melihatnya dari daftar guru, aku merasakan firasat kalau orang ini sangatlah berbahaya. Aku pernah melihatnya sekali sesaat setelah keluar dari kamar rumah sakit.


Saat mencoba menjawab pertanyaanku, Tesi menyilangkan tangannya dan membuat ekspresi wajah seperti bertanya, 'kau masih menanyakannya?'


"Coba pikirkan, aku bertemu denganmu sekali saat itu, bersamaan dengan Erika tentunya... Dan di saat itu juga, saat kita berdua bicara empat mata sambil berjalan di tengah jalan perumahan, di saat itulah aku mulai merasakannya... Bahwa kau adalah orang yang sering dibicarakan temanku ini."


"Teman?" Mereka berdua berteman?


"Seperti yang temanku baru saja katakan..." Widodo kali ini membuka suara dengan senapan yang masih mengacung ke arahku. "...Aku sering menceritakannya tentang orang paling menakutkan dari pemerintahan, orang yang bisa menghabisi nyawa seseorang atas izin langsung dari sang pemimpin..." Widodo menceritakan padaku tentang bagaimana kejamnya diriku yang bahkan tidak peduli dijadikan anjing pemerintahan sekalipun.


Dia menceritakan hal itu kurang lebih selama 15 menit.


Orang mana yang bisa fokus mendengarkan cerita selagi senapan diarahkan ke arahnya?!


Aku tidak ingat apa yang dia ceritakan, tapi aku bisa menyimpulkan kalau Widodo memang benar dan pasti mengetahui masa laluku, dan juga Sihir KODE.


"Apakah kau paham?" Widodo tersenyum tipis melihat ekspresiku yang ketakutan.


Apakah dia berpikir kalau aku sedang ketakutan karena dia mengetahui rahasiaku? Atau karena aku berada di posisi tidak bagus? Ntahlah, tapi aku yakin dia sekarang merasa kalau aku sedang terpojok.


Ayolah pak tua, aku sedang malas mendengarkan cerita itu... Sudah berkali-kali aku mendengar orang lain yang mengetahui rahasiaku lalu dia mengatakannya di depanku. Aku ingin mengatakan itu, namun tak mungkin karena dia pasti akan tersinggung lalu menembakku.


Sebenarnya Aku ketakutan karena terus-terusan disuruh mendengar cerita itu lagi dan lagi, dan juga dalam posisi yang sama. Belum lagi harus mendengarkan cerita sambil berdiri...


Aku kelelahan...


"Hey, jawablah bila ditanyai orang!" Suara menggelegar Tesi membawaku kembali ke dunia.


Tesi yang kesal langsung mengaktifkan pageblug-nya yang berbentuk chakram raksasa dan membakarnya seketika itu juga untuk mengintimidasiku.


Ya sudahlah... Menjawab tidak ada salahnya, bukan?


"Apa yang sebenarnya kalian pertanyakan?" Aku beneran gak mudeng dengan apa yang mereka katakan.


"Huh?" Mereka berdua membuat ekspresi bingung yang sama.

__ADS_1


"..." Widodo tidak tahu harus berkata apa, tapi dari mendengar jawabanku, dia meregangkan cengkraman senjatanya.


"Begini saja, kalian tahu masa laluku, kan? Lalu kalian mau apa?"


To the point seperti biasa, jangan menambah-nambah waktu.


Saat mendengar jawabanku, Tesi sedikit mengerutkan wajahnya karena tidak puas dengan jawabanku.


*Dor


Di sisi lain Widodo yang tadi meregangkan cengkramannya langsung kembali dan mendorong pelatuk.


Dia bukan hanya tidak puas. Kesal, marah, dan kecewa menjadi satu dalam emosinya yang dimasukkan ke dalam setiap langkahnya mendorong pelatuk.


"Lalu apa kau tanya?! Kau masuk ke sekolah ini menggunakan orang dalam, lalu kau membuat posisi rangking kacau, kau membuat banyak guru menjadi berselisih, kau membuat orang-orang berdasi menjadi semakin melirik sekolah itu, kau membuat nyawa-nyawa murid terlibat!" Suaranya yang keras penuh emosi marah dan tangis menjadi satu. "...Dan sekarang, kau menggunakan mainanmu untuk menghancurkan seisi sekolah bersama ratusan murid yang tidak bersalah?!" Pria ini bukan hanya marah, dia bahkan sebenarnya tidak segan-segan membunuhku di tempat, tapi karena suatu alasan, dengan berat hati dia harus menahannya.


"Hah?"


Saat mendengar penjelasan Widodo, aku tidak bisa berkata banyak. Dari semua tempat yang kukunjungi, hanya sekolah itu yang tidak ingin kuhancurkan. Mustahil bila itu aku yang melakukannya.


Tunggu, tadi dia bilang mainan?


Aku mencoba bertanya meskipun itu akan membawaku pada maut. Ini lebih baik ketimbang terus berada dalam kabut.


Widodo mencoba menarik nafas untuk sabar, dia mencoba menenangkan pikirannya agar tidak menembakku hanya karena terbawa emosi.


"Kau tahu, Dahlia, Sophia, dan Haran menjadi gila dan menghancurkan seisi sekolah. Dan penyebab itu adalah..." Widodo menurunkan senjatanya dan menunjuk ke arahku. "... Kau, Rasyid Londerik." Suaranya kosong dan bergema, seakan ingin mencabik-cabikku hidup-hidup.


"Lupakan saja kenapa, tapi sepertinya kami harus mengakhiri ini segera..." Tesi seketika memotong pembicaraan dan membuatku tidak bisa bertanya lebih jauh.


Sial, aku masih berkabut.


Apa maksudnya kami? Kenapa dia melihati pintu gerbang dan langit secara bergantian?


Perasaanku tidak enak.


Tak lama kemudian, ada banyak mobil, helikopter, dan pesawat kecil terbang ke arahku. Mereka semua datang dari arah gerbang menuju ke sini dengan kecepatan yang bahkan melanggar ketentuan peraturan Kota Ningru.

__ADS_1


200km/jam? Mereka beneran ingin aku mati?


Mobil-mobil berhenti di belakang Widodo dan Tesi tanpa diparkirkan, helikopter mendarat sembarangan di atas puing-puing bangunan, dan pesawat-pesawat di biarkan berhenti dan melayang di udara tanpa adanya pilot. Semua orang yang berada di dalam kendaraan keluar satu persatu dan memperlihatkan wajah mereka.


Semua wajah-wajah familiar itu telah berubah, dari yang penuh kebahagiaan dan tamak akan diri sendiri berubah menjadi wajah yang penuh amarah dan kesuraman yang menjadi satu. Mereka semua hanya ingin aku binasa.


"Guru-guru Sekolah Podoagung bersatu untuk menghancurkanku?" Aku mencoba tenang untuk saat ini, mereka semua adalah orang-orang terbaik se-Nusantara, bila aku gemetar sedikit maka aku akan hancur.


Semua orang yang kupikir menerimaku, kini berubah menjadi musuhku.


Ekspresi mereka semua ikut berubah setelah melihat tumpukan potongan tubuh yang berserakan bekas pertarunganku melawan SANGKUNI. Sudah pasti mereka mengira kalau aku membunuh mereka untuk bersenang-senang.


Menjelaskan hal seperti ini pada mereka tidak mungkin akan berjalan dengan baik, mereka semua sudah ditutupi api kemarahan dan murka.


Maka, yang bisa kulakukan hanyalah~


Aku merentangkan tanganku seakan menantang mereka semua.


"Datanglah!"


Ini akan berakhir tidak enak.


......................


Di Sekolah Podoagung yang kini telah berubah menjadi puing, sebuah tangan muncul ke permukaan reruntuhan dan memaksa keluar tubuhnya dari sana.


"Gyah...!"


Seorang siswa berambut panjang bernama Gita berhasil selamat dari malapetaka itu.


"Di mana ini?"


Gita tidak mengenali tempat itu, sekolahnya kini telah berubah seperti tempat yang habis dihajar letusan gunung berapi.


"Harus mencari yang lain..."


Teman-temanku pasti ada di sekitar sini.

__ADS_1


Tidak ada waktu untuk menghubungi Gubernur, bagiku saat ini mereka lebih berharga dari yang lain.


__ADS_2