Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 130. Letupan Tugas di antara Salju


__ADS_3

Bekerja sebagai orang pemerintahan di usia muda sebagai pemberi data pada mereka membuat Gita sering menganggap semua anak yang berada di sekolah ini lemah.


Namun, lama kelamaan, mindsetnya berubah sejak melihat bagaimana seorang guru baru yang dia kira hanyalah 'guru tidak niat lainnya' datang. Sejak kedatangannya, Gita melihat bagaimana perubahan pada anak-anak sekitarnya, terutama pada mereka yang dia anggap lemah dan sombong. Mereka semua sekarang sudah tumbuh menjadi sedikit lebih dewasa dalam memilih keputusan.


Di saat yang bersamaan, Gita juga merasa dia mulai melihat teman sekelasnya sebagai teman yang bisa dia ajak bicara dan bercanda.


Apakah orang itu penyebabnya? Penuh ragu Gita mempertanyakan perubahan pada dirinya.


Sejak guru itu mengalahkan Vicky secara telak dipertarungan itu, Gita mulai merasa kagum pada pria itu, bukan maksud yang aneh, lebih ke arah semakin menghormatinya.


Tapi sekarang....


*Tak... *Tak... *Tak...


Di tengah-tengah reruntuhan sekolah yang sudah berubah menjadi serba putih, Gita berjalan pelan untuk mencari teman-temannya. Teman yang dimaksud bukanlah satu sekolah atau satu kelas, lebih ke arah kumpulannya. Kumpulan yang berisikan 5 orang yang sangat mempercayai gurunya.


Tidak perlu menunggu waktu lama buat mencari temannya itu, Gita selalu siap dalam masalah kapanpun. Bagaikan saudara kembar yang memiliki telepati satu sama lain, Gita bisa merasakan keberadaan ketiga temannya itu.


"Apakah Sophia hilang?" Gita masih kebingungan dengan kejadian sebelumnya, dan dia juga tidak punya petunjuk soal kejadian itu.


Lupakan saja, sebaiknya aku menemukan mereka bertiga terlebih dahulu.


Dalam waktu yang singkat, Gita menemukan 2 teman laki-lakinya di dua tempat yang berbeda. Untuk keadaan Moka, dia masih berada di tempat yang jauh.


Bagaimana mereka bisa tersebar?


Orang pertama yang ditemuinya adalah Stevent, dia berada di lokasi terdekat.


Lokasi anak itu berada di dekat reruntuhan podium, tempat di mana murid 10 besar berdiri di atas panggung. Tempat itu kini sudah tidak berbentuk lagi, dan hanya menyisakan tiang besi yang sudah bengkok.


"Tubuhmu berada di posisi yang mengenaskan, Stevent. Apakah ini adalah hukuman atas dosamu di masa lalu?" Gita berkomentar dengan sedikit menghina masa lalu temannya.


Stevent terbaring pingsan dengan pecahan tiang besi yang panjang menembus perutnya. Bila saja ini masa lalu, mungkin dia termasuk orang yang mati dengan mengenaskan.


Dengan sekuat tenaga, Gita melepas besi yang menembus perut laki-laki itu. "Berat, tapi itu bukan masalah!!!"


*Ctang!


Besi tercabut dari tubuhnya, dan sebentar lagi seharusnya dalam keadaan sadar.


Proses regenerasi Anitya melambat? Apakah es yang turun di sini penyebabnya? Mungkin saja...


Masih banyak misteri di dunia ini yang belum kuketahui.


"Hah?!" Stevent terbangun dari pingsannya, tubuhnya yang berlubang kini telah pulih.


Wajah pertama yang dia lihat adalah wajah ngeselin Gita. Tidak begitu dia perlihatkan, namun dia merasa kecewa karena yang menyelamatkannya adalah si Gita.


"Tch, kau rupanya..."


"Woy, setidaknya terima kasihlah pada penyelematmu..."


"Makasih." Terima kasihnya ikhlas, namun terasa berat.


"Ah, sudahlah... Ayo kita cari yang lain."


Mempermasalahkan hal yang sepele bukanlah sesuatu yang harus dilakukan sekarang ini.


"Apakah Hakam sudah ketemu? Jika tidak, kita bisa menggunkan ponsel-" Stevent yang awalnya optimis punya jalan seketika terdiam setelah meraba sakunya.

__ADS_1


"Kenapa? Apa rencanamu dengan menggunakan ponsel ?"


"Tidak, tidak jadi..."


Aku lupa ponselku masih belum ketemu.


Stevent tidak mengetahui fakta kalau Rasyid yang membawa ponselnya.


"Tenanglah, aku sudah menemukan Hakam... Jadi tidak perlu khawatir."


"Benarkah?!"


"Ya, dan Moka sekalian..."


"Kalau begitu apa yang kita tunggu, ayo temui mereka!"


Mereka berdua berjalan ke arah tempat di mana Hakam berada.


Saat sampai ke tempat tujuan, mereka melihat ruangan UKS yang sudah runtuh, kasur yang biasa dipakai untuk murid bolos kelas terlihat sudah bengkok dan berserakan dimana-mana, alat-alat medis sudah tidak bisa digunakan lagi, dan botol-botol obat pecah dan isinya berceceran kemana-mana.


"Itu dia!"


"Tidak mungkin! Dia sudah jadi sangatlah putih."


Saat pertama kali melihat kondisi Hakam, mereka merasa kasihan. Hakam saat ini membeku di dalam seluruh tubuhnya berubah menjadi putih seperti salju.


"Apakah dia sudah tamat?" Stevent terlihat sangat gelisah dengan keadaan temannya itu.


"Tenanglah, dengan sihir apiku, aku bisa melelehkannya."


Mendengar itu, Stevent menjadi sedikit lega.


Dengan segera, Gita mengaktifkan pageblug-nya dan menyemburkan api di assault riffle-nya seperti flamthrower.


"Tentu saja kita bisa, kita ini kelas fisik, bukan? Asalkan ada senjata kita bisa melemparkan sihir kita dengan itu."


"Eh, benarkah? Kemampuanku tidaklah murni dengan kekuatan fisik jadi aku kurang mengetahuinya."


"Ya itu memang tidak mengejutkan, dari seluruh kelas 1 Fisik 1, hanya kau dan Sophia yang mengandalkan sihir alami sebagai sumber utama bertarung, sedangkan kami, para kelas Fisik yang sesungguhnya menggunkan senjata kami untuk mengeluarkan sihirnya."


"Jadi, dari perkataanmu itu, apakah Pak Rasyid adalah pengguna Sihir alami juga?"


Saat mencoba menanyakn itu, proses pelelehan Hakam yang membeku sudah selesai.


Hakam langsung terbaring kaku dan mengatur nafasnya, tubuhnya bergemetaran karena merasakan suhu udara yang dinginnya sampai di bawah 0°C.


"Hakam! Kau tidak apa-apa?!" Melihat dari kondisi Hakam mungkin sudah memberi jawaban yang pasti. "Sepertinya tidak, tubuhmu sangatlah dingin."


"Te~ nang~ lah~, a~ku~ bi~ sa~ menga~ tasinya~!"


Hakam dengan tangan yang masih bergetar, mencoba berdiri dengan memegang dinding yang sudah runtuh.


Perlahan setelah dilelehkan, Anityanya beregenerasi seperti biasa dan membuat dirinya kembali normal.


"Kenapa kau bisa ada di sini?" Tanya Stevent.


Dengan bersandar di dinding, Hakam melihat ke arah Stevent, lalu ke arah Gita yang berdiri di belakangnya dengan pageblugnya aktif, lalu beralih lagi ke arah gerbang utama sekolah.


"Aku mengikuti Moka yang khawatir pada kondisi Sophia, dan saat kami berdua masuk ke UKS. Aku bukannya melihat Sophia, malah guru terkuat(Haran) yang sedang bertarung melawan Pak Lodo." Raut mukanya menunjukkan ekspresi kosong karena ketakutan. "Aku mencoba menghindari pertarungan, tapi dari arah belakang aku disergap Dahlia dan dibekukan olehnya."

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan Moka?"


"Ntahlah, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, tapi aku- maksudku kita harus segera mencarinya. Dia pasti sedang mencari Sophia."


"Kalau begitu, ayo kita ke lokasi selanjutnya." Tanpa menjelaskan apa-apa, Gita langsung berjalan dan berdiri sejajar dengan Stevent.


Tanpa ada yang mau menanyakan perihal lebih, mereka hanya bisa mengangguk mengiyakan yang diingakn Gita.


Mereka menuju ke lokasi di mana Moka berada, dan sepertinya Stevent melupakan pertanyaan sebelumnya tentang apakah Rasyid penyihir murni atau Fisik.


......................


Di gerbang sekolah, terlihat ada segerombolan orang melingkar dalam keadaan membeku. Mereka semua membuat ekspresi yang sama, yaitu ketakutan dan kesakitan.


Bagaikan terhempas oleh kekuatan dahsyat, mereka semua membuat lingkaran sempurna tanpa adanya satupun badan yang mengotori lingkaran itu.


Di tengah lingkaran, ada satu gadis yang seperti ingin menggapai tangan seseorang namun tak bisa. Dia membeku dalam keadaan seperti itu tanpa bisa menggapai apa yang dia mau.


"Itu... Moka, bukan?" (Stevent)


Mereka bertiga berjalan pelan melewati puluhan siswa yang membeku di sekitar Moka.


"Ya, dari radarku. Gadis yang berdiri di tengah-tengah gerombolan ini adalah dia."


Hakam mencoba membelai pipi gadis yang membeku itu. Dia ingin memastikan apakah dia benar-benar Moka atau tidak.


"Kenapa kau memegangi pipinya?"


"Bu-bukan apa-apa..."


"Eh..." Gita menatap curiga gelagak Hakam.


Cepat atau lambat, Gita akan segera tahu kalau Hakam memiliki rasa pada gadis itu.


"Ada apa?" Stevent datang tanpa mengerti kondisi.


"Coba saja tanyakan padanya...!"


"Hakam?"


"Bu-bukan apa-apa, ayolah Gita! Kita langsung lelehkan saja dia!" Hakam mencoba mengalihkan pembicaraan.


Di sisi lain, Stevent benar-benar tidak peka pada sekitarnya.


Apakah pangeran ini tidak mengerti apa-apa selain mencari kebanggan? Besit Gita dalam hati.


"A-ah..." (Stevent)


Stevent ditinggal melongo.


......................


Saat Gita menyemburkan api dari sentanya dan bersiap melelehkan Moka, sesuatu terjadi.


"Kalian?! Syukurlah ada orang lain yang masih sadar di sini!"


Suara seperti anak kecil terdengar dari belakang mereka.


Suara itu adalah milik guru pendek berambut kuning dengan rambut twintail, Tasya.

__ADS_1


Di sampingnya, Samuel dengan terdiam sambil menahan murka mencoba untuk tidak meluapkannya dari wajahnya.


"Bu Tasya dan Pak Samuel?!" (Stevent, Gita, dan Hakam)


__ADS_2