
"Katakanlah, Kak! Kau kira dengan berdiam saja akan menyelesaikan pertarungan kita?!" Aku menggunakan kesempatan ini untuk bertanya kepadanya apa maksud dari perkataan itu?
Niatku untuk menghabisinya semakin lama semakin hilang. Ditambah dengan bagaimana dia terus diam saja tanpa mengatakan lebih jauh dari tadi.
Tanpa memberi jawaban lagi, kakakku mulai melangkah dan mengangkat petinya. Peti itu diangkat ke samping seperti mau dipukulkan.
*Wush!
Seperti yang diduga, dia mengayunkan petinya ke arahku. Sayangnya ayunan itu terlalu lambat bahkan aku saja cukup melangkah mundur dengan biasa untuk menghindari benda besar itu.
"Kakak! Jawablah!" Aku mencoba memanggilnya. "Melihat kau yang seperti ini malah membuatku semakin kehilangan rasa untuk ingin menghabisimu!"
Apa yang kukatakan tidaklah bohong, semakin lama perasaan untuk menghabisinya malah berubah menjadi kekhawatiran.
Kakakku terus mengayun-ayunkan peti itu ke arahku, namun ayunannya sangatlah lambat seperti orang yang sudah kelelahan.
"Kenapa kau diam saja?! Kemana wajah sinismu yang sering kau pasang di wajah menjijikkanmu?!"
Lagi-lagi dia tidak menjawab dan terus mengayunkan peti itu. Rasa cemasku yang baru saja berubah sekarang malah berubah lagi menjawab rasa kesal.
"Persetan!" Aku akhirnya menguatkan tekadku.
Kedua tanganku mengepal selagi terus menghindar dari serangannya.
Menunggu kesempatan terus kusabari.
Sampai pada akhirnya,
*Wush!
Ayunan terakhir telah dikeluarkan, dia kelelahan dan mengambil nafas.
"Kakak!" Panggilku.
Seketika dia menoleh secara pelan.
Ini adalah kesempatanku.
*Buk!
Tinjuan keras mengenai pipinya sampai membuat dia terjatuh.
Aku tak mau meninggalkan kesempatan ini dan langsung mendudukinya. Di posisi itu, aku mengangkat kepalan tanganku lagi dan meninju-ninju wajah yang tak bermulut itu.
"Katakanlah, bodoh! Kau pikir aku akan senang dengan kebisuanmu?"
*Buk! *Buk! *Buk!
Pukulan demi pukulan terus kulayangkan ke wajahnya, pipinya yang tadi mulus seketika bonyok dan memerah. Aku terus menghajarnya dengan membawa emosi ini.
*Buk! *Buk! *Buk!
Kumohon, cepatlah menjawab!
Aku tidak mau menyiksamu!
Meskipun aku bisa langsung menghabisimu saat ini, namun aku tidak mau kehilangan jawaban yang kucari.
Aku yakin dia pasti menyimpan ribuan jawaban yang kucari.
__ADS_1
"Ras..." Dengan nada yang pelan dan serak, dia akhirnya mengeluarkan suaranya. "...Syid."
"Bunuh aku..." Ucapnya memerintah dengan nada tersiksa.
"Kenapa kau malah ingin mati?! Lalu gunanya apa kita bertarung tadi?!"
Sesuatu sedang disembunyikan olehnya.
Sesuatu yang pasti tidak ingin siapa-siapa tahu.
Sesuatu yang mungkin membuatnya menderita karena harus menyimpan rahasia dari sesuatu itu.
"Apakah kau tersiksa?"
Dari pandanganku saat melihat wajahnya, pasti ada seseorang yang membuatnya tidak bisa mengatakannya.
"Apakah Nova membuatmu bungkam?"
Nama nenek itu adalah satu-satunya yang terpikirkan olehku. Dia adalah satu-satunya yang bisa berdiri di atas kami berdua.
Saat mendengar pertanyaanku, Rizki menggelengkan kepalanya. "Bukan... Tapi sesuatu yang lebih mengerikan..."
"Hah?! Apa maksudmu?!"
Sesuatu yang lebih mengerikan?
"Projek Pangeran..."
Saat mendengar nama projek itu, aku seketika teringat bagaimana projek itu bisa mengatur kehidupan hanya dalam jentikan saja.
Bukan berarti mereka bisa membuat takdir pada manusia, namun lebih ke arah 'kehidupanmu adalah sampah jika berani menentangku.'. Kurang lebih seperti itu kedengarannya Projek Pangeran itu.
Sedikit sulit untuk menjangkau tempat itu karena lubang di lantai akibat pertarungan tadi.
"Projek Pangeran(Tuhan)." Aku melihat ke langit sambil membayangkan betapa mengerikannya projek itu bila terealisasikan.
Note: Pangeran artinya Tuhan dalam Bahasa Jawa.
Siapapun yang menjadi pangeran akan memegang kendali total terhadap Anitya dan bisa mengetahui seluk beluk dari mereka.
Jadi kemungkinan, bila saja ada kasus pencurian. Sang Pangeran bisa melihat apa yang tersangka lihat dan segera menjadikannya pelaku. Contoh lainnya, bila saja ada pelaku hukuman mati, maka hanya bagaikan jentikan jari, nyawa terdakwa itu akan hilang.
"Akan sangat mengerikan jika gelar Pangeran jatuh di tangan orang yang salah."
Ini tidak bagus, terlalu berfokus untuk mencari jawaban pada diriku, aku sampai tidak menyadari betapa bahaya projek itu.
Keberadaan keluarga kerajaan yang muncul dari kasta dan terlahir oleh keberadaan Anitya saja sudah membuat Nusantara dalam keadaan tidak stabil dan krisis kesetaraan. Dan sekarang ada hal seperti ini lagi. Bisa dipastikan siapapun yang memegang gelar itu maka keluarganya juga akan menjadi bagaikan malaikat yang melapor pada Tuhannya.
"Tch, apa yang sebenarnya terjadi?"
Aku memukul pagar yang kusendeni dan melihat ke bawah, tempat di mana pertarungan sebelumnya terjadi.
Sepertinya mereka semua sudah pergi dan meninggalkanku sendirian.
Ini adalah yang terbaik.
Aku tidak pantas di sana, bahkan aku saja masuknya pake orang dalam.
Mau koar-koar pun pasti tidak bisa.
__ADS_1
Saat melihat tempat bekas terjadinya pertarungan besar itu, aku menyadari kalau kepergian mereka juga berarti kepergianku dari Sekolah Podoagung.
Aku secara tidak langsung sudah bukan guru di sana lagi.
Ironis sekali, dulu aku pernah terkena hal yang sama namun mendapat kesempatan, dan sekarang mendapat masalah yang sama, namun tidak dengan kesempatan itu.
......................
Aku mengakhiri berpikirku dan berbalik kembali ke kakakku.
Berjalan sambil melihati dia yang masih terbaring di lantai, aku merampas peti itu darinya dan mencoba membuka apa yang ada di dalamnya dengan paksa.
Dalam sesi berpikir tadi, aku juga memikirkan mana prioritasku saat ini.
Dan prioritasku adalah....
Diriku sendiri.
Percuma bila mencoba menghentikan Projek Pangeran namun akunya saja tidak tahu kenapa dan apa yang kulakukan. Maka, dengan membuka peti ini, aku mungkin bisa mengetahui jawaban yang kucari.
Karena peti ini adalah gol-ku.
......................
*Krak!
Tanganku menyentuh pintu peti, suaranya terdengar seperti denyutan besi berkarat yang sudah berusia puluhan tahun.
*Tap!
Namun sepertinya ada sekuriti di sini.
Tangan kakakku mencengkram kuat pergelanganku.
Dia menatapiku dengan mata yang tertutup namun memiliki kesadaran.
"Rizki?!"
Aku mencoba melawan, namun saat melakukan itu, sebuah angin yang kuat seketika melemparku dan memutuskan tangan kananku yang masih dicengkram olehnya.
Selagi menunggu tanganku beregenerasi, aku mencoba menganalisis apa yang sebenarnya terjadi.
Kakakku bertarung dengan mata tertutup, dan kelihatannya dia sadar apa yang dia lakukakn.
Berarti, ada satu kemungkinan. Ini adalah teknik yang dia sembunyikan.
Bertarung dengan mata tertutup.
......................
Sial, aku tidak bisa melangkah!
Setiap kali aku melangkahkan kaki, dia menyerang dengan kipasan tangan yang membuat gelombang angin yanh sangat tajam.
Saat aku mencoba menembakkan sihirku, dia bertahan dengan membuat sebuah dinding, atau juga dia bisa menghindar hanya dengan mendengar suara arah serang.
Saat ini aku berada di posisi terpojok.
Inikah takdir pahitku?
__ADS_1
Berbagai macam sihir sudah kukeluarkan, namun hasilnya tetaplah nihil. Bagaimana caranya aku bisa melawannya?