
Setelah pulang berpesta aku langsung bergegas pulang ke rumahku untuk segera membuka isi koper yang diberikan oleh Nova kepadaku.
Hawa keberadaan kakakku kembali tidak ada saat aku memasuki rumah. Itu merupakan hal biasa, dia jarang ke rumah saat sebelum mendaftarkan aku ke sekolah itu.
Aku bergegas masuk kamar dan menaruh koper itu di atas meja kerjaku.
'Habis ganti baju langsung kerja lagi! Siapkan kopi dan cemilan agar tidak ngantuk!'
Aku menyeduh kopi panas dan beberapa biskuit di sana. Persiapan sudah selesai.
"Mari kita lihat, sebuah kenyataan," ucapku semangat.
Ctak!
Suara koper terbuka.
Banyak dokumen-dokumen dan satu flasdisk di dalamnya.
"Syukurlah tidak ada yang hilang saat aku berpesta."
Aku membuka dokumen pertama.
Catatan Nazrul Aji:
Uji coba Anitya tahap pertama:
Ada sekitar 100 kelinci percobaan
50% dari kelinci percobaan terbunuh ditahap awal.
20% dari kelinci percobaan terbunuh ditahap kedua.
12% dari kelinci percobaan terbunuh ditahap ketiga.
12% dari kelinci percobaan terbunuh ditahap akhir.
Hanya menyisakan 6 orang dari jumlah awal.
Ini cuman data Anitya, maka aku melewati lembaran-lembaran yang sudah kuketahui seperti kalau akulah yang merupakan sumber bola api raksasa itu atau data Anitya A1 milik kakakku. Sampai mataku tertuju pada sebuah halaman yang menarik perhatianku.
Uji coba pada wadah Anitya A2:
Alasan diciptakan:
Kehadiran Anitya membuat orang tidak bisa mati, maka kasus kejahatan seperti pelecehan seksual dan penyiksaan akan semakin merajalela maka dari itu diperlukan eksekutor untuk menvhakimi mereka. Meskipun begitu, ada kemungkinan orang yang memegang Anitya A2 akan berbelok dan melawan tugasnya. Aku harus berhati-hati dalam memilih wadah.
Cara agar wadah itu aktif:
Pertama, buat perasaan cintanya hancur.
Kedua, buat emosinya hancur.
ketiga, buat rasa kemanusiaanya hancur.
Dengan begitu wadah itu akan menjadi boneka yang akan menjadi mesin pembunuh paling sempurna di dunia.
BRAAKKK
Aku melempar dokumen itu ke dinding.
"KEPARAT KAU, NAZRUL!" Emosiku meningkat.
Ternyata orang yang membuatku jadi seperti ini adalah dia. Padahal kupikir dia adalah orang yang mau menyelamatkanku.
'Menyelamatkan...?' Aku mengingat-ingat apa yang terjadi setelah Musim Panas Api.
Seingatku kedua kakakku yang brengsek itu tiba-tiba pulang. Tapi mereka memiliki aura yang bermusuhan satu sama lain. Bahkan meskipun ada 3 orang di rumah saat itu seperti tidak ada orang sama sekali karena tidak adanya suara.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, aku yang masih depresi diajak bicara oleh Nazrul.
"Hoy kau, Syid! Kau mau diam terus di rumah?! Aku tidak akan sanggup menghidupimu terus bila begini!" Nazrul mencelaku.
"..." Aku hanya menatapnya kosong.
PAKKK
Nazrul memukul kepalaku sampai berbunyi Kretek di leherku.
"Kau adik tidak berguna! Besok kau ikut aku! Aku punya pekerjaan yang cocok buat orang depresi sepertimu!" Suaranya mengeras sambil terus memukiliku.
Aku tidak ingat bagaiman raut mukanya saat itu. Saat itu yang kulihat cuman kegelapan. Bahkan rasa pukulannya pun tidak kuingat.
Besoknya tanpa berbicara apa-apa aku digiring oleh Nazrul ke sebuah gedung yang sangat tinggi. Aku digeret sampai pada sebuah tempat yang mirip seperti ruangan CEO perusahaan.
"Nova, aku sudah membawa wadah yang kau mau," suara Nazrul terdengar seperti tertawa puas.
Seorang wanita yang terlihat berumur 50 tahun membalikan badannya. Rambut putihnya mengibar saat dia berbalik. Kacamata yang ia pakai memantulkan wajahku menandakan dia sedang melihat ke arahku.
Itu adalah pertama kalinya aku bertemu dengan nenek tua itu, Nova Sena.
"Apa ini tidak apa, kau menggunakan adikmu sendiri sebagai wadah?" Nenek tua itu berjalan mendekat ke arahku.
"Tenanglah, dia sudah tidak terlihat melawan. Dia sudah tidak peduli dengan hidup lagi," Suara Nazrul terdengar bangga.
"Kalau begitu bawa dia ke lab! Kita akan langsung mengujinya." Nova memerintahkan Nazrul.
"Siap!" Nazrul kembali menggeretku ke tempat yang penuh dengan tabung-tabung yang berisikan manusia.
Aku tidak terlalu ingat apa yang terjadi di sana. Yang kuingat hanyalah aku dipaksa melakukan latihan berat layaknya angkat besi dan berlari sejauh 100 km tanpa henti.
Anehnya tubuhku tidak ada perkembangan sama sekali. Otot-otot di tangan maupun kaki tidak mengalami perubahan, yang berubah hanya kekuatanku dalam mengangkat beban dan staminaku saja.
Sayangnya dalam masa pelatihanku saat itu, Nazrul dinyatakan hilang. Dia tidak ditemukan dan dinyatakan meninggal setelah dilakukannya pencarian selama 1 tahun.
Setelah masa pelatihan, aku diberi misi oleh nenek itu untuk membunuh saingan-saingannya yang dianggap mengancam dirinya maupun teknologi Anitya. Dari sana aku mendapatkan ijin KODE olehnya. Aku bisa menonaktifkan setiap Anitya pada orang-orang tanpa terkecuali.
Targetku awalnya adalah pria-pria yang merupakan lawan bisnisnya. Tapi lama-kelamaan, targetku bertambah menjadi wanita(termasuk yang sedang hamil), murid SMA, bahkan anak-anak.
Ada rasa bersalah saat pertama kali melakukannya. Tapi lama-kelamaan rasa itu menghilang dalam diriku. Bahkan aku pernah tertawa cekikikan saat melihat korbanku.
Aku terus-menerus melakukan ini sampai akhirnya aku mendengar kabar kalau temanku, Jauhari meninggal.
Aku bergegas pergi menemuinya, sayangnya saat di saat-saat terkahirnya. Aku bahkan tidak mengeluarkan air mata.
Kembali ke waktu sekarang.
Aku yang masih mengatur nafas mencoba menutup koper itu.
"Aku belum siap untuk membukanya!"
"ha... ha... ha... (mengatur nafas). Jadi itu alasannya kenapa kakakku, Rizki saat ini hilang?" Aku berspekulasi terhadap hilangnya kakakku saat ini.
Meskipun tadi kubilang ini adalah hal biasa, tapi kalau dia menghilang lebih dari seminggu itu akan sangatlah aneh bagiku.
DOK DOK DOK!
Seseorang menggedor pintu.
"Siapa berkunjung malam-malam begini? Apakah orang jahat?"
Tidak mungkin orang jahat, karena rata-rata mereka tahu rumah siapa ini. Meskipun begitu, aku tetap parno dan mengambil pageblugku dan berjalan menuju pintu.
Krak
"Permisi, apa ini rumahnya Rasyid Londerik?" Kurir itu melihat data nama di paket itu.
__ADS_1
"Ya, kenapa?"
"Ini dari Pak Niki Manalagi. Dia bilang. 'Ini hadiah untukmu!' Biaya pengantaran sudah kutanggung." Kurir itu tersenyum kecut sambil memberikan paketnya padaku.
Aku menerima paket itu.
"Terima kasih."
"Kalo begitu selamat malam, maaf karena sudah mengirimkan ini malam-malam." Kurir itu menunduk dan pergi.
Aku kembali ke kamarku dan membuka paket itu.
"Ini!" Sebuah benda yang kucari-cari selama ini akhirnya ketemu.
"Ponselku yang ketinggalan!"
Aku kira aku akan dalam masalah karena kehilangannya. Untunglah Presiden saat ini baik hati.
'Aku akan memilih anda di pemilihan selanjutnya, Pak! Jangan khawatir,' janjiku dalam hati dengan suasana yang senang.
"Mari kita lihat, sudah berapa banyak pesan yang masuk?"
Det DET DET DETDETDETDETDET
Ponselku terus bergetar karena banyaknya pesan yang masuk.
Aku melihat banyak pesan dari guru lain yang mencariku saat hilang setelah final.
Dibagian murid-murid, terlihat mereka memberiku selamat di grup mereka. Bahkan Stevent, Hakam, Gita, Sophia, dan Moka memberiku selamat lewat pesan pribadi.
Yang paling menarik perhatianku adalah pesannya Gita.
(Terima kasih, berkat anda. Kami akan mendapat kemudahan saat masuk perguruan tinggi.)
(Kalau anda butuh bantuan, anda bisa mendatangiku. Saya akan membantu sebisa mungkin.)
(Oh iya, anda sangat hebat di final tadi. Meskipun dalam mode masokis, anda tetap bisa memenangkannya dengan epik.)
(Aku akan jaga rahasia anda juga, tenanglah. Aku adalah orang yang menjunjung tinggi harga diri.)
Pesan dari Gita saat sebelum pesta berakhir.
pesan pukul 10 malam.
(Pak, apa yang terjadi padaku saat pesta?)
(Pak ada hubungan apa anda dengan Dahlia? Dia kembali dari toilet dengan tampang yang merona dan terus menyebut nama anda \=|)
BLURRRR!
Aku menyemprotkan kopi yang baru saja kuminum. 'Ha? Bukannya seharusnya kembali normal? Kenapa dia masih seperti itu?!' Aku menghela nafas dan gugup dalam masalah.
Aku melanjutkan membaca pesan dari Gita.
(Astra ikut kebingungan dan harus membuat siswi itu pingsan untuk membawanya pulang ke rumah.)
(Astra berpesan, anda harus tanggung jawab soal ini.)
(Katanya anda selalu memiliki jawaban dari semua masalah.)
(Ngomong-ngomong saat ini yang mengirim pesan adalah kami dari kelas 1 fisik 1, Sophia, Moka, Hakam, dan juga Stevent.)
Aku menatap kosong dengan mulut yang menganga pesan-pesan itu.
"Huahhhh." Jiwaku terlihat keluar dari dalam diriku.
Harga diriku di depan mereka hancur karena hal itu.
__ADS_1
Aku mengambil pelajaran dari sini, sebaiknya jangan asal menggunakan kemampuan yang bahkan belum pernah kuketahui efek sampingnya.
Aku pingsan saat memikirkan masalah itu dan melewati malam itu dengan melupakan masalah koper itu.