Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 110. Sisi


__ADS_3

SLASH!


SLINK!


SPRAT!


Beberapa tebasan kuberikan ke arah kacung-kacung itu.


Mereka semua cukup merepotkan. Aku tidak bisa terus-terusan berada di situasi ini.


Tenagaku memanglah banyak, namun jika harus dipakai untuk melawan mereka semua... Aku kurang yakin itu akan berhasil.


Terlebih lagi...


Mataku menatap ke lima guru yang sedang bercosplay layaknya orang penting itu. Mereka semua masih belum menunjukkan tanda-tanda mereka akan maju dan menyerang kami.


Sementara itu, Haran yang berada di belakangku harus menembak-nembak musuhnya dengan chakramnya.


Chakram itu melayang dan berputar di balik punggungnya, putaran dari chakram semakin lama semakin cepat sampai pada benda itu dapat memberikan angin yang cukup besar.


Seluruh kacung, bahkan diriku sekalipun terdiam saat chakram yang berada di punggung wanita itu berputar dengan cukup kencang.


Para kacung itu harus segera lari, bila tidak maka mereka...


Tapi sepertinya mereka terlambat, mereka kekurangan informasi tentang kekuatan dari Haran.


BLAZE!


JLASS!


Musim dingin dan panas seketika menghantam tempat di bawah fly over. Kekuatan positif dan negatif berada di satu tempat, ini menunjukkan sesuatu yang kurang baik bagi tubuh, dan mungkin akan segera membuat mereka sekarat.


"Enyahlah kalian dari hadapanku!"


Tubuh Haran terangkat dan melayang ke udara. Dia memberi tatapan hina pada musuh-musuhnya, tidak terkecuali ke lima guru itu.


Dengan memperlihatkan keagungannya, dia akan menghancurkan mereka semua hanya dalam satu jentikan jari saja.


Ctak!


Jentikan jari sudah dibunyikan.


"AUGHH!"


"GYAH!"


"HAUHH!"


Gedebug! Gedebug! Gedebug?


Puluhan kacung gugur hanya dalam kurun waktu yang singkat. Mereka semua terbaring layaknya robot yang tiba-tiba dinonaktifkan oleh pemiliknya.


Namun sayangnya para guru itu sudah tahu kekuatan itu.


Mereka dengan segera membuat sebuah barrier dan tanah untuk menahan serangan yang mengerikan itu.


"Heh, jangan pikir kami tidak ada persiapan!" Ucap Candra dengan nada yang menghina dan senyum yang menyeringai.


"Kami kesini sudah 100% siap untuk mengalahkanmu!" Ami memukul-mukul dua pedangnya secara bergantian.

__ADS_1


"Lagipula ini bukanlah pertarunganmu, Haran! Kau bukanlah target kami!" Matthew berselancar mengitari kami di udara.


"Jika kau pergi sekarang, maka kami akan menganggap kau tidak pernah ada di sini." Malik memberikan saran dengan wajah yang datar sambil menaruh kedua tangannya di belakang.


"Sekarang, apa jawabanmu... Haran?" Nurdin tersenyum menyeringai seperti dia menganggap mereka akan menang telak dengan ini.


Haran diberikan pilihan, di antara tetap di sini dan bertarung bersamaku, kemungkinan jika dia terus bersamaku, maka sesuatu yang buruk akan terjadi padanya bukan hanya untuk hari ini, namun untuk hari-hari berikutnya.


Atau pilihan kedua, yaitu kabur meninggalkanku, dia bisa hidup tenang di atas tahtanya yang tak tergantikan di sekolah itu layaknya seorang ratu. Namun, itu artinya dia sudah meninggalkan ideologinya untuk melakukan apapun asalkan bisa membalaskan dendam pada nenek itu. Dan mencoba mendekatiku saat ini, itu pasti adalah salah satu langkahnya.


Diberikan jawaban, namun Haran tidak memperlihatkan sedikitpun rasa ingin menjawab.


Tapi jika dia terus diam, maka pertarungan ini tidak akan menemui ujungnya.


Maka, dia hanya bisa satu hal... Yaitu memilih.


'Jawaban apa yang akan dia pilih?'


Sebenarnya jawabannua sudah jelas, tapi dia memberikan gerak-gerik aneh yang membuat naluriku mengatakan sesuatu yang berbahaya akan datang.


"Heh...."


Haran tersenyum simpul, ujung bibirnya sedikit terangkat, kedua tangannya memegang panggulnya sehingga membuatnya terlihat seperti ratu sadis yang akan menghancurkan peliharaannya.


"Aku... Kabur? Mana mungkin aku memilih itu!" Teriakannya membuat tempat ini bergema. "Lagipula, meninggalkan juniorku yang imut saat sedang dalam masalah hanya akan merusak citraku saja. Hal seperti itu, jelas aku tidak mau itu terjadi."


"Kalian hanyalah sampah..." Dia masih melanjutkan kalimatnya. "... Sampah yang berada di dalam sekolah paling bergengsi di Nusantara ini."


"Atau bisa dibilang, kalian sebenarnya parasit? Entahlah, yang mana aku tidak peduli... Karena keduanya sama-sama tidak berguna dan hanya akan merusak nama baik dan citra dari Sekolah Podoagung. Dan ingat, bagi siapapun yang berani-berani merusak nama baik sekolah itu, maka aku akan tidak segan-segan untuk menghancurkannya!"


Tatapan menyeringai Haran seketika menghilang dan digantikan dengan tatapan yang seram sampai menghancurkan semangat bertarung bagi siapapun yang melihat matanya yang merah dan kehilangan cahayanya itu.


Semangat mereka semua turun hanya karena satu hinaan itu, dan aku yakin wanita itu pasti masih lebih banyak hinaan yang bisa keluar dari mulutnya kapan saja. Untuk sekarang dia kelihatannya masih menahan dirinya karena dia mengenal siapa orang yang dia lawan, terlebih lagi...


Mataku melirik ke arah Malik Abimanyu.


... Ada satu keluarga kerajaan yang terlibat di sini, berbuat gegabah hanya akan membuat seluruh keluarga kerajaan dan sekutunya berada di pihak lawannya.


Tak... Tak... Tak...


Seorang wanita yang berpakaian layaknya Putri Tyas sedikit melangkah ke depan dan memberi tatapan kaku ke arah Haran. Hanya untuk mengingatkan, namanya adalah Ami Salahudin, kusebut saja Ami.


"Jika kau bilang 'kau tidak akan segan-segan menghancurkan orang yang menjadi sampah di sekolah itu, maka kau seharusnya juga menyerangnya, bukan?!"


Ami menunjuk ke arahku tanpa menolehkan kepalanya ke arahku dan tetap mendangak ke atas.


"Dia masuk lewat orang dalam dan melakukan kecurangan saat tes masuk, apakah dia juga tidak disebut sampah?!"


Meskipun sudah tidak terlalu kupedulikan, namun rasanya saat ada orang yang mengata-ngatainku soal itu akan langsung membuat hatiku sakit.


Aku sedikit terkejut dan merasa jijik pada diriku sendiri.


Tapi aku harus tetap tegar, itu adalah aku di masa lalu. Diriku yang dimasa lalu dan masa sekarang adalah satu kesatuan, maka aku hanya harus menerimanya, maka aku akan segera merasakan sesuatu yang disebut, kebebasan dari hati yang tertusuk-tusuk.


Haran melirik ke bawah dan melihatku yang sedang berdiri di belakangnya.


"Rasyid... Apa itu benar?"


"*(melirikkan mata kesamping)... ya..."

__ADS_1


Apakah dia akan marah padaku?


Dia habis mengatakan hal semengerikan itu, dia jelas akan menghabisiku dan membuat lawanku menjadi bertambah.


"Heh..." Sudut di ujung bibirnya kembali keluar. "Hahahaha...." Dia menyeringai ke arahku.


"Kenapa kau malah tertawa?! Bukankah dia seharusnya adalah orang yang juga harus kau hancurkan?!" Ami kebingungan dengan apa yang sedang terjadi.


Haran turun dadi tempatnya melayang dan tepat saat dia mendarat, chakram yang berada di punggungnya terbang dan hinggap ke tangannya lalu berubah bentuk menjadi busur.


"Jika kau tanya kenapa, maka aku akan menjawab dengan gampang, karena aku sudah mengetahuinya... Bukankah kau juga seharusnya tahu soal itu, Rasyid?"


"Hah?"


Hah? Dia tahu itu? Dan aku seharusnya juga tahu kalau dia mengetahui rahasia itu?


Haran mendatarkan wajahnya dan membuat tatapan bodoh ke arahku.


"... Perasaan tadi sebelum pergi ke sini aku sedikit menghinamu soal tes masukmu?"


"Apa?! Jadi kau menerima kecurangan itu?!" Malik yang dari tadi kalem kini masuk dalam pembicaraan.


Tatapannya yang dingin layaknya bangsawan misterius terpampang jelas di mataku, melihat matanya saja langsung menghidupkan naluri bertahan dalam diriku.


Tapi di sisi lain, Haran terlihat biasa saja, malah sudah terbiasa dengan tatapan dingin laki-laki itu.


"Tentu saja, bagaimana caranya masuk itu memang tidaklah bagus, tapi dia tetaplah kuat dan memiliki kekuatan yang melebihi kalian semua!"


"Bukankah itu artinya sama saja? Kenapa kau tidak bergabung dengan kami dan menindak si serong ini?!" Nurdin berteriak ke arah Haran sambil mengarahkan telunjuknya ke arahku.


"Semua manusia itu sama saja, yang dimakan, yang dihadapi, dan yang dipikirkan. Mereka semua tidak ada bedanya, maka aku yang ada di depan kalian semua jugalah sama!"


Haran merentangkan kedua tangannya ke atas, dia seperti menantang mereka dengan ekspresinya yang sangat menyeramkan itu.


"Jadi, kau jugalah iblis?" (Candra)


"Aku ini bukan iblis, aku hanyalah manusia... Karena hanyalah manusia sana yang bisa menjadi jahat dan baik di waktu yang bersamaan!"


"Tch! Bicara denganmu hanya membuang-buang waktu saja!"


Malik menghela nafasnya, kedua matanya tertutup untuk berpikir, tangan kirinya memegang panggulnya, kaki kanannya menghentak-hentakkan lantai semen yang dia pijak.


"Semuanya, kita mundur!"


"Apa?!"


Aku dan Haran serempak tersontak.


Pangeran itu tiba-tiba memerintah mundur, tapi kenapa? Apakah ada rencana dibaliknya sehingga mereka mencoba mengejarnya agar kami terperangkap?


"Kenapa kau malah memerintah mundur?!" (Nurdin)


"Jika ditanya kenapa, aku hanya bisa diam... Tapi bila ditanya apa yang menyebabkan kita mundur, aku akan menjawab... 'Dua petarung terkuat di sekolah, sedang ada di satu tempat dan di satu tim.' Apakah kita bisa menang?"


Dari mereka yang kelima guru yang sudah kalang kabut, Malik menjadi satu-satunya yang tetap tidak memberikaj ekpresi emosi pada mereka berdua. Sebaliknya, dia terus dia sambil menganalisa keadaan.


Dia mengerikan dalam bidang lain, yang bahkan jarang diliput oleh mata.


Seluruh orang yang ada di sana membelalakkan matanya dan sadar akan maksud dari orang itu.

__ADS_1


__ADS_2