
Kini jumlah petarung dari setiap kelas telah berkurang drastis. Dari 27 kelas, hanya tersisa 4 yang tersisa saat ini. Banyak dari mereka dikalahkan oleh kelas 3 dan untuk kelas 3 banyak mengalami penyatuan karena satu tim.
Saat aku melihat layar pertandingan, namaku tertulis akan melawan Madu Haran sedangkan Samuel akan melawan Meri Andika.
"BAIKLAH, MARI KITA ACAK SIAPA YANG AKAN BERTARUNG DULUAN DI ANTARA KEDUA JADWAL PERTARUNGAN INI"
Layar berputar dan mengacak waktu pertarungan.
"KOCOK KOCOK KOCOK..., BERHENTI!"
Layar berhenti mengacak, nama Samuel Yucheng dan Meri Andika terpampang di layar. Ini akan jadi pertarungan penentu.
Sebuah pesan muncul di kayar ponselku, nama Samuel muncul dipengirim pesan itu. (Doakan aku, semuanya.)
(Tentu saja., Erika)
(Kita semua mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua., Xander)
(Ingatlah, kami semua ada untuk mendukung kalian., Tasya)
(Majulah, Samuel!, Rasyid)
(Siap! Aku menuju arena!, Samuel)
Banyak perubahan terlihat dari mereka, terutama Tasya. Dia menjadi sedikit lebih tegas daripada dulunya.
Apa yang sebenarnya terjadi saat aku pingsan saat itu? Perubahan mereka sangat terasa meskipun sekecil apapun.
Kedua peserta sudah ada di tengah arena dan menyiapkan pageblug mereka.
"TANPA MENUNGGU LEBIH LAMA! PERTARUNGAN ANTARA SAMUEL YUCHENG DARI KELAS 1 FISIK 4 MELAWAN MARI ANDIKA DARI KELAS 3 FISIK 5 AKAN SEGERA DIMULAI!"
Kedua peserta menyiapkan kuda-kuda mereka. Permainana licik apa yang akan dimainkan oleh Andika saat ini. Jika pertarungan sebelumnya dia bisa menghancurkan Fredrica dengan tega, apalagi saat melawan Samuel yang merupakan seorang pria.
"PERTARUNGAN SEMI FINAL....DIMULAI!" Bahar memberi aba-aba yang berbeda lagi.
Kedua peserta saling berlari ke arah satu sama lain.
TANG!
Tombak Andika dan riffle milik Samuel saling bergesekan satu sama lain. Dalam pertarungan kekuatan fisik, Samuel akan diuntungkan lebih.
PRANG!
Tombak Andika terlempar ke atas setelah kalah beradu kekuatan melawan Samuel.
Samuel yang melihat kesempatan langsung menurunkan senjatanya dan memukul-mukul perut Andika. Di akhir pukulan, Samuel meng-charge tinjuannya dengan sihir api.
Tubuh Andika terlempar ke belakang. "Sial, kau juga main brutal, ya?"
Samuel dengan cepat berlari menjauh menuju dinding arena dan menyiapkan sniper riffle-nya.
DOR!
Samuel menembak dari kejauhan dengan melompat ke udara.
'Jadi ini yang akan kau tunjukkan padaku?' Aku melihat combo milik Samuel seperti yang dijanjikan. Jika musuhnya bukan orang berpengalaman, mungkin akan berhasil dengan sekali coba, tapi sayangnya.
"Tidak akan kubiarkan!" Andika berdiri dengan cepat dan mengibaskan tangannya.
Peluru milik Samuel terbelah jadi dua dan meledak karena terkena tebasan angin.
"Kau pikir aku akan kalah dengan begitu cepat?!" Andika menatap Samuel dengan tajam sambil menangkap tombaknya yang baru turun.
"Tidak, tidak sama sekali. Aku sudah memperhitungkannya." Samuel tersenyum.
"Senyummu membuatku kesal!" Andika mengambil kuda-kuda.
Sebuah pola sihir muncul di tanah yang dipijak oleh Andika. Sebuah pohon es muncul dari sana.
"Inilah yang kusebut dengan, 'I have a high spot.'." Andika menyilangkan tangannya sambil berdiri di atas pohon yang terus meninggi.
__ADS_1
"ASTAGA! ADA SEBUAH POHON DI TENGAH-TENGAH LAPANGAN. EMANGNYA APA YANG POHON ES INI BISA LAKUKAN?!"
"Lihat sajalah!" Andika tersenyum menyeringai.
"Aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan tapi aku harus cepat menghentikannya!" Samuel mencoba menembak pohon ea yang besar itu dengan rifflenya yang diberi elemen api.
DOR! DOR! DOR!
"Mengerikan sekali." Samuel menatapi pohon itu dengan tidak percaya.
Pohon itu tidak rusak ataupun meleleh sedikitpun.
"Sudah menyerah?! Kalau begitu selamat tinggal!" Andika menusuk pohon itu dari atas menggunakan tombaknya yang dikelilingi pusaran angin yang kencang.
KRAK!
"Rasakanlah, kekalahanmu!" Andika tersenyum lebar sambil melayang di udara memanfaatkan angin yang ada di tombaknya.
"POHON ITU PECAH MENJADI KEPINGAN-KEPINGAN YANG LEBIH KECIL! TAPI TETAP SAJA, ITU CUKUP BESAR UNTUK MENGHANTAM TUBUH MANUSIA!"
Sebuah hujan es terbuat dari pecahan-pecahan itu, Samuel mencoba menghindari itu.
"Sial! Mereka terlalu banyak, aku harus bisa melompat ke atas." Samuel mencoba melompati pecahan es yang sudah ada di tanah.
Tapi.
"KENA KAU!" Andika meluncur dengan menodongkan tombaknya ke arah Samuel.
"Tidak, ini belum berakhir!" Samuel menahan tusukan tombak Andika dengan menghimpit tombak itu dengan kedua tangannya.
"Tch! Keras kepala!" Andika memperkuat angin yang mengitari tombaknya.
Tangan Samuel serasa dibor oleh tombak itu.
"Aku akan menang, lihat saja!" Samuel tersenyum meskipun tangannya kesakitan.
Sebuah percikan listrik keluar dari tangan Samuel yang terluka.
"Jangan-jangan?!" Andika mencoba menarik tombaknya.
Percikan listrik semakin lebar dan menyetrum mereka berdua. Angin yang ada di tombak Andika memperkuat listrik yang dikeluarkan Samuel.
"ARGHHHH"
"ARGHHHH"
Mereka berdua mengerang kesakitan sampai sebuah ledakan seperti sambaran petir mengenai mereka berdua.
DUAR!
Kedua petarung tumbang karena tersengat listrik.
"PEMENANGNYA.....SIAPA YA? TUNGGU BIAR KULIHAT BUKU ATURAN... HMMM... MHHHH... OHOOO... BEGITU YA, PERTARUNGAN KALI INI DIANGGAP DRAW KARENA KEDUA PESERTA PINGSAN DI SAAT YANG BERSAMAAN. MAKA MEREKA BERDUA TERELIMINASI!" Keputusan Bahar mengagetkan seluruh alun-alun.
"Bagaimana bisa begitu?!"
"Terus bagaimana bila itu terjadi di final?!"
"Berarti perjuangan mereka sia-sia?!"
Suara ketidakpuasan para guru dan penonton terdengar ke seluruh arena.
Bahar yang menjadi juri tiba-tiba mendehamkan tenggorokannya. "Lalu apa gunanya sistem kelompok dalam penilaian ini? Mereka berdua bisa sampai sini saja sudah mendapatkan skor untuk tim mereka. Itu malah menguntungkan bagi yang kelasnya gagal di awal. Posisi 5 dan 6 akan hilang karena kejadian ini." Bahar tersenyum sambil menyendenkan dagunya menggunakan tangan.
Para guru terdiam dan tidak bisa menjawab. Mereka akan diuntungkan oleh ini. Keresahan para penonton menghilang begitu saja setelah mendengarnya.
"BAIKLAH KARENA PERTARUNGAN TADI DIANGGAP SERI MAKA UNTUK PERTARUNGAN SELANJUTNYA AKAN MENJADI FINAL!" Bahar kembali ke komentator mode.
Para penonton memberi tepuk tangan pelan karena masih kurang kepercayaan tentang yang baru saja terjadi.
(Sayang sekali mereka harus tereliminasi., Erika)
__ADS_1
(Peraturan adalah peraturan., Xander)
(Pak Samuel sudah berjuang keras, kita sebarusnya memujinya., Tasya)
(Ngomong-ngomong selanjutnya adalah Rasyid, kan?, Tasya)
( :') emot sedih., Rasyid)
(Tenanglah, medis sudah berkembang. Anitya juga akan meregenerasi tubuhmu yang hilang., Samuel)
(Pak Samuel, selamat datang kembali :D., Tasya)
(Yah, sayang sekali aku dan lawanku tereliminasi di sana..., hahaha., Samuel)
(Tidak apa, yang penting kau bisa masuk semi final saja sudah cukup. Ditambah Rasyid juga masuk semi final sudah membuat tim kita dalam zona aman., Xander)
(Ngomong-ngomong, kemana Pak Rasyid dan Kak Erika?, Tasya)
(Mereka hilang dari chat,. Tasya)
Pembicaraan grup chat tiba-tiba terhenti.
Sementara itu.
(Rasyid, aku harap kau menang., Erika)
(Aku pasti menang,. Rasyid)
(Tumben sekali kau benar-benar ingin menang? Apakah nenek itu ada dibaliknya?! \=| )
(Tidak, hanya kepuasan pribadi-)
(-Dimana kau?)
(Di depan puskesmas, aku baru menjenguk Fredrica tadi)
(Kau baik sekali, meskipun Fredrica sudah berbuat buruk padamu)
(Kami terkadang bertengkar, tapi kami tetaplah teman :) )
(Ya sudah, aku OTW ke arena)
(Berjuanglah)
Aku berdiri dari bangkuku. Muridku memberi semangat padaku.
"Berjuanglah, Pak." Kata-kata itu kudengar berkali-kali sampai akhirnya aku baru benar-benar keluar dari sana dan berjalan ke tengah arena.
Sebelum itu aku harus mengucapkan sesuatu. "CODE NAME: MDHRNK3M1, BLOCK SKILL: GIANT FIRE SPHERE." Dengan begini tidak akan ada masalah.
Aku dan lawanku saling bertatapan.
"Memukulmu tidak akan cukup, aku akan buat reputasi tuanmu hancur!" Haran memaki-makiku di tengah arena.
"Lakukan sesukamu, aku tidak peduli." Aku mengaktifkan pageblugku dengan ekspresi datar.
"BAIKLAH PERTARUNGAN YANG SEHARUSNYA SEKARANG SEMI FINAL BERUBAH MENJADI FINAL AKAN DIMULAI! PARA PESERTA BERSIAPLAH!"
Haran mengaktifkan pageblugnya, sebuah benda mirip chakram muncul dan melayang dipunggungnya. Itu benda yang sama yang membuat Xander pingsan.
"Tidak perlu menahan diri saat melawanmu." Haran tersenyum menyeringai. "Balas dendamku, akan dimulai."
"PERTARUNGAN DIMULAI!!!"
Di dalam kapal terbang milik presiden.
"Pertarungan sudah dimulai!" Presiden menatap ke dua orang yang duduk di depannya.
"Ini akan jadi penentu, Halim." Nova menatap tajam Halim yang duduk di samping.
"Lihat saja, aku sudah memberikan Haran pageblug seri terbaru. Belum ada yang seperri miliknya, sengaja belum kudistribusikan. Ini akan jadi iklan buatku." Halim menatap layar lebar yang ada di balik presiden.
__ADS_1
"Curang seperti biasa." Nova mengalihkan matanya ke arah layar itu dan menontin jalannya pertarungan.
"Itu bukan curang, tapi licik." Tawa Halim terlihat jelas di gelapnya ruangan itu.