
"Cupu, ini bukan saatnya melakukan ini?!" Ryan berteriak ke arahku.
Tubuhnya tidak bisa bergerak karena sebuah borgol dari tanah menahan kedua pergelangan tangannya. Dia tidak bisa melawan meski menggunakan sihirnya, borgol itu bagaikan baja yang kokoh.
Di sisi lain, wanita yang tadi bersamanya sedang ditahan di sebuah tembok dengan pergelangan tangan dan kaki diborgol oleh es yang padat.
Kakakku yang menahan berat tubuhnya dengan lututnya melihat ini dengan memasang wajah sedih sambil merentangkan kedua tangannya seakan siap menghadapi kematiannya.
Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana bertindak.
Dunia ini sudah terlalu kacau, aku bahkan tidak tahu dengan apa yang sebenarnya kucari sekarang.
Tapi, dari kata-katanya tadi, aku bisa mengkonfirmasi satu hal. Membunuhnya adalah pilihan yang harus kupilih mau tidak mau. Lebih baik aku membunuhnya dengan perasaan marah ketimbang dengan perasaan sedih.
Bebanku akan sedikit berkurang jika melakukannya di saat ini. Bila saja dia menjadi sekutu, maka aku tidak mau memegang beban itu.
Apa yang terjadi sekarang adalah karena sesuatu yang dibuat olehnya sendiri.
Bukan karena hal lain, dan itulah kenapa Ryan dan wanita itu bisa berada dalam posisi itu.
......................
Kembali ke waktu saat Ryan baru saja menyapaku.
Aku berhadap-hadapan dengannya sampai beberapa menit tanpa memulai sebuah pembicaraan.
Canggung, itu adalah yang mungkin aku rasakan saat ini.
Dari semua orang yang kuhadapi, hanya dia yang tidak mau kulihat saat dalam kondisi seperti ini. Ini seakan memperlihatkan betapa lemahnya pembully-nya yang dulu.
"Jadi, apa aku bisa mulai berbicara?" Ryan akhirnya memulai percakapan.
Aku mengangguk tanpa melihat wajahnya dan hanya bisa menatap pemandangan di luar dengan matahari yang mulai terbenam.
"Kenapa?" Ryan ikut memasang wajah sedih sambil bertanya dengan sangat singkat, namun penuh dengan jawaban bagaikan soal matematika.
"Aku hanya mau tahu kebenaran, kebenaran dari ini semua... Kebenaran yang selama ini ditutupi oleh semuanya." Jawabku secara jujur.
Jadi satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa adalah sesuatu yang menyakitkan. Dimana semua orang tahu rahasia tentang kakak tertuaku, namun aku tidak.
Itu seakan mereka meninggalkanku dan tidak membutuhkanku lagi.
Aku kesal dengan kenyataan itu.
Mendengar penjelasanku, Ryan kembali melihat ke wajah Rizki dan memasang wajah serius. "Rizki, bisa hentikan permainanmu, dan biarkan saja Rasyid masuk ke dalam peti itu?" Ryan menoleh ke arah peti yang berada di dekatnya.
Saat melihat peti itu, wajah Ryan berubah lagi menjadi penuh kesedihan dan penderitaan. Dia tahu betapa mengerikannya ruangan yang ada di dalamnya itu.
"Tidak, sebelum aku mati... Aku tidak akan membiarkan satupun memasukinya!" (Rizki)
"Sudah kubilang, hentikan permainanmu!"
"Tidak, ini bukan permainan, tapi lebih seperti permohonan."
Mendengar itu, kami semua terkejut dan sampai membuka sedikit mulut kami.
"Apa maksudmu dengan permohonan?" Kesal dengan jawaban itu, Ryan menarik kerah baju kakakku dan mengangkatnya ke atas.
Amarahnya sudah tidak terbendung dan lelah akan permainan kakakku yang semakin menjadi-jadi.
"Rasyid, kau ingat akhir dari sebuah rekaman suara yang kau dengar dari Dokumen itu, bukan?"
Aku menatap mereka berdua dengan mata yang bergemetar. Pikiranku mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi di rekaman suara terakhir itu.
"Bu*&-$-$ a@#"
__ADS_1
Namun saat mengingat-ingatnya, itu semua terdengar samar. Tidak ada yang teringat di memori kepalaku.
Lalu, aku mencoba mengingat sedikit mundur bagian rekaman suara terakhir itu.
Bila tidak salah, ada suara ledakan. "*Duar!"
Seseorang terhisap... Saat itu aku masih tidak tahu kalau nasib Nazrul akan terhisap ke peti itu, dan berakhir mengenaskan.
Yang aku tahu-...
Tunggu, bukannya Nazrul terhisap? Berarti, orang yang melakukan itu adalah...
Aku akhirnya menyadari maksud dari rekaman suara itu.
Sebagai bentuk dari kenaikan pangkat Rizki, dia ditugaskan untuk memenjarakan Nazrul, kakak tertuanya.
Namun, dari pesan rekaman suara terakhir itu. Rizki tidak terdengar senang dengan tugas itu, dia malah minta untuk aku...
*"Saat kau mengetahuinya, cepat cari aku. Bunuh aku!"*
Suara dari rekaman rekorder itu kembali teringat jelas di otakku seakan aku sedang mendengarkannya sekarang ini.
Aku akhirnya tersadar, ini adalah tugas terakhir darinya kepadaku.
Yaitu untuk mengakhiri penderitaannya.
Menyadari hal itu, aku mengaktifkan pedangku dan memegang erat gagangnya.
Aku sekarang tak kuasa menahan guncangan di tubuhku. Aku tak menyangka senjata pemberiannya ini akan berakhir untuk membunuhnya.
Aku maju selangkah sambil memegang erat pedangku.
"Apa yang kau lakukan, cupu?! Kenapa kau bergemetaran seperti itu?! Kenapa kau ingin menghabisinya?!" Ryan menyadari gemetaran yang kucoba sembunyikan.
Dia berdiri di depan kakakku dan mengangkat senjatanya yang menyerupai kunci inggris. "Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya!"
Melihat senjatanya yang berupa kacamata, aku akhirnya menyadari siapa wanita itu.
"Jadi, apakah kalian saat ini berpacaran?" Aku mengubah sedikit subjek pembicaraan.
Aku tidak menyangka pertemuannya saat kedatangan Putri Tyas membawa mereka pada sesuatu yang lebih dalam.
"Di-diamlah, ini bukan waktunya mengatakan itu!"
Wanita itu, Linda Melinda akhirnya mengucapkan sepatah kata setelah kutanyai.
"Ya, emangnya kenapa?" Berbeda dengan Linda, Ryan masih memasnag wajah serius sambil siap memukul kepalaku kapan saja.
"Tidak, hanya memastikan saja..."
"Apa kau mau mencoba untuk menyandranya agar aku pergi?"
"Tidak, tapi tadi itu ide bagus."
"Hey!" (Linda)
Mendengar arah pembicaraan berubah menjadi enteng, kakakku yang tadi terdiam seketika berdiri untuk melakukan serangan kejutan untuk sekali lagi.
Kini targetnya bukanlah aku, melainkan...
Bak! Ckrak!
Serang pertama mengenai Ryan dan membuatnya terjatuh di tanah. Seketika itu juga, sebuah gundukan tanah mengangkat dan merekat di pergelengan Ryan sehingga membuatnya tidak bisa bergerak.
"Ryan!"
__ADS_1
Linda yang terkejut seketika melompat mundur dan bersiap menembakkan laser dari kacamatanya.
Sayangnya mencoba menembak kakakku adalah kesalahan, karena apapun serangannya, asalkan ada celah untuk menghindar, maka dia bisa menggunakan sihir cahaya untuk menghindar bagaikan teleportasi.
*Ctar!
Laser menembak ke arah Rizki, namun dengan cepat dia menghindarinya dan berjalan sangat cepat sampai di depan wanita itu.
"Aku tidak akan kalah semudah itu!" Dia dengan cepat mengeluarkan air di sekitar tubuhnya dan menjadikannya seperti perisai.
"Kau pikir itu bisa menghentikan seranganku?" Rizki membuat pedang dari es dan bersiap memukulkannya ke arah perisai itu.
"Kena kau!" Namun dengan cekatan, Linda menghantarkan kekuatan listrik di perisai itu.
*Ctar!
Pedang itu bersentuhan dengan listrik.
"Gyah!"
Kakakku seketika tersetrum dan terlempar jauh ke belakang.
"Aku lupa, kau adalah mantan pengawal presiden, jadi menghadapi beberapa serangan mendadak tidak akan membuatmu kalah begitu saja." Pujinya.
"Kalau begitu..." Dia mengangkat tangannya, dan petinya seketika bersinar menjawab gerakannya. "...Aku akan membuatmu tahu betapa bedanya level kita!"
Sebuah naga terbuat dari tanah dengan ajaib keluar dari petinya dan terbang ke arah Linda. Meskipun saat ini elemen air yang digunakan Linda adalah kelemahan naga itu, namun bila naga itu sebesar itu, logika itu tidak berguna.
Aku yang dari tadi terdiam akhirnya tergerak dan mencoba berjalan melindungi Linda. Bukan karena aku mengasihaninya, namun aku menganggap pertarungan ini sudah keluar dari tujuan awal.
"Jangan lupa, aku ada di level yang sama denganmu, Kak!" Aku berlari sambil mengangkat tangan kananku.
Sebuah garis dari air yang kubuat menggunakan telunjukku membuat sebuah lukisan yang melayang.
Sesaat lukisan acak-acakan itu jadi, sebuah kuda air muncul dan mencoba menghantam naga itu seperti banteng.
*Brak!
Air dan tanah bertabrakan seketika mengotori arena bertarung. Kami semua belepotan lumpur dari kepala sampai kaki, tidak ada bagian yang tidak kena kotoran itu.
Namun, saat aku merasa lega kalau naga itu hilang. Lagi-lagi dia menghilang dan pasti mencoba melakukan serangan kejutan lagi.
Aku melihat ke belekang untuk menahan serangannya, namun perkiraanku salah. Dia tidak ada di sana.
Atau aku bukanlah sasarannya?!
Saat memikirkan itu, aku melihat ke arah Linda yang bersembunyi di belakangku.
Dia tergeletak di tanah dengan es yang memborgol kedua pergelangan kaki dan tangannya.
Di sampingnya, kakakku berdiri sambil melihat diriku dengan senyuman menyeringai.
"Akhirnya kau muncul juga, Cike Nuwang!" (Rizki)
Aku kelepasan mengeluarkan kuda air itu, kuda yang merupakan ciri khas dari sang pembunuh legendaris itu.
Tanpa memperdulikan ucapannya, aku mencengkram pedangku dengan kedua tanganku. Memegang pedangku sejajar dan berdiri di samping kepalaku, aku bersiap bertarunh untuk ronde selanjutnya.
Kali ini aku akan membunuhnya.
Sebagai musuhku!
......................
Tapi di lain sisi, sepupuku, Ryan terus berteriak ke arahku untuk tidak melakukannya.
__ADS_1
Di saat itu juga, aku mulai tidak tahu siapa aku sebenarnya.