Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 151. Jalan Akhir dari Para Petarung di Podoagung


__ADS_3

Semua yang dibutuhkan telah dibawa oleh mereka yang berjalan kembali ke sekolah.


Grup para guru yang melawan monster itu telah beranjak dari sana dan meninggalkan beberapa kenangan buruk di kepala mereka. Mereka semua pulang dengan keadaan hampa dan tak berjiwa.


Saat ini, Samuel dan yang lainnya berada di sebuah mobil pick up empat pintu milik Widodo yang masih tertinggal di sebelumnya. Mereka semua tak ada yang membuka mulutnya dan hanya menatap kosong sektitar, suasana canggung dan hening tercipta di ruangan sempit itu. Suara mobil yang melaju hanyalah satu-satunya yang bisa di dengar sekarang ini.


"Bagaimana perasaanmu, Xander?" Samuel mencoba mencairkan suasana.


Dia bertanya pada Xander yang seketika shock setelah tahu bahwa mantannya, Widya telah mati, dan bahkan semakin mematung setelah tahu kalau dia adalah Sang SANGKUNI.


"Heh(menghela nafas)... Kalau mau jujur sebenarnya sangat buruk." Sambil tersenyum menyeringai, pangeran yang sedang sedih itu mengucapkan sesuatu secara sarkas. "Mengetahui kalau mantanku adalah penjahat paling ditakuti oleh seluruh Nusantara dan kehilangan kabar tunanganku... Mengatakan kalau aku tidak apa-apa adalah hal yang konyol."


Sayangnya tidak ada yang tahu soal kematian Tyas yang mati karena menjadi dadu. Baik Widodo dan Tesi tidak memperlihatkan adanya tanda gelisah atau gugup, seakan menandakan kalau memang mereka tidak tahu apa-apa soal pertarungan sebelum Rasyid dan Widya beradu.


"Menangislah sebanyak yang kau perlu, menahannya hanya akan menyakitimu lebih dalam." Samuel mencoba menjadi sosok kakak yang pengertian.


Figurnya yang easy going dan penuh senyum hilang dan berubah menjadi penuh kepedulian. Apa yang telah terjadi saat ini seakan mengubah pola pikirnya dengan dunia. Dia sekaeang melihat betapa berbahayanya suasana saat ini.


Dulunya dia mengira kalau sekarang asalkan ada niat maka ketentraman dan penindasan akan terselesaikan, namun setelah melihat kejadian ini dan mengetahui keadaan kota ini. Dia sadar, orang dalam sangatlah penting untuk membuat semua itu menjadi nyata.


Mengubah arah pandangnya, kini Samuel menoleh ke arah Tasya yang menatap cermin yang berada di atas kemudi. Wajahnya memperlihatkan kalau dia menahan air mata sejak awal perjalanan. Matanya terus menoleh ke arah karung-karung yang berisi tubuh tanpa nyawa di bagian bak mobil.


Mereka semua adalah teman-teman satu perjuangan wanita pendek itu. Meskioun tidaj merasakan ikatan yang kuat, bahkan tidak terlalu mengenal mereka, tapi tetap saja, mereka adalah guru Sekolah Podoagung. Melihat mereka semua terbaring di balik karung membuatnya sedih tak tertahankan.


"Sebaiknya kau tidak usah melihati mereka terus..." Samuel berbisik sambil mengelus-elus punggung kecil wanita itu.


Tasya terkejut namun tidak mengeluarkan suara, dia seketika meregangkan tubuhnya yang tegang dan menunduk melihati kakinya sendiri.


"Aku pernah menceritakan padamu kenapa aku menjadi guru, kan?" Ucap Tasya sambil menahan air mata.


"Oh, aku ingat dengan jelas, saat itu adalah hari pertamamu, namun kau sudah langsung sangat aktif dan memperkenalkan diri dan tujuanmu." Samuel tertawa kecil mengingat masa-masa itu. "Sungguh berbeda dengan guru satunya, dia hanya diam dan menunggu seperti robot."


"Saat itu, aku memberitahumu bagaimana aku mau melindungi semua orang yang ada di sekitarku. Saat itu, aku masih naif dan berpikir kalau aku hanya perlu membuat para penjahat merasakan kesakitan yang luar biasa tanpa takut membunuhnya... Dengan berpikir kalau aku bisa mendapatkan sesuatu, mungkin keluargaku akan melihatku sebagai 'ada'."


Hubungan Tasya dengan keluarganya sampai sekarang masih kurang baik, namun saat ini, wanita itu kini menjadi sedikit lebih mengerti kalau semisal keinginan itu mustahil, setidaknya masih ada satu keinginan yang masih bisa dia capai, yaitu menyelamatkan orang-orang yang dia peduli. Namun, apa yang terjadi hari ini seakan merenggut semuanya.


"Saat insiden monster elemental saat itu, aku mengubur mimpi pertamaku, dan mengejar mimpi keduaku. Aku ingin melindungi kalian semua..." Ada gang panjang di tengah kalimat itu, dia seakan menarik nafasnya secara dalam. "Namun, sampai aku sadar, manusia masihlah rapuh, dan harapanku hancur olehnya." Tasya mencengkram kuat pakainnya.

__ADS_1


Kejadian saat ini membuatnya benar-benar terpukul bukan main. Dia hanya bisa menerima nasib dan membiarkan semuanya pergi begitu saja.


Samuel yang melihat keputusasaan itu melihat ke arah cermin yang barusan dilihat oleh Tasya. Dia mengambil nafas dalam-dalam dan mencoba membuka mulutnya. "Tasya, kau bukan gagal... Namun hanya telat saat ini, kegagalan hanya akan datang bila orang yang ingin kau selamatkan benar-benar sudah tidak ada." .


"Hah?"


"Selagi orang yang benar-benar priotas ingin kau lindungi masih ada, jangan sebut kau telah gagal!"


Dengan suara yang sedikit keras, Samuel memegang kedua bahu wanita itu.


"Hehehe(tertawa kecil)... Kau aneh," ucap wanita itu sambil menutupi tawanya dengan tangan.


"Kita semua aneh, bodoh..." Samuel membalas dengan senyuman khasnya.


......................


Mata Samuel kini sedikit berpindah setelah pembicaraan ringan dengan wanita pendek tadi. Kini dia melihat ke arah tiga murid yang masih bingung dan linglung dengan apa yang terjadi.


Itu bukan berarti mereka kosong seratus persen, hanya saja mereka seperti tidak percaya kalau semua itu disebabkan oleh guru mereka.


Atau hanya dua dari mereka?


Setelah sebelumnya dia telah menurunkan kewaspaadaanya padanya, kini kewaspadaan itu kembali meningkat setelah melihat kondisi anak itu sekarang.


Cara bagaimana dia memasang wajah terkejut seakan sudah menduga apa yang akan terjadi namun tidak menduga kalau akibatnya akan separah ini.


"Kalian bertiga, bagaimana kondisi kalian?" Samuel mencoba menarik perhatian mereka.


"Ba-baik... Mungkin." Moka menjawab dengan ekspresi tidak meyakinkan. Matanya terus menoleh ke arah luar jendela.


Di luar tidak ada satupun manusia yanh terlihat, hanya perumahan dan tanah luas yang telah menjadi salju bagai di negara eropa.


"Terpisah dengan tuanku membuatku sedikit gelisah, namun bila aku disuruh menemui bahaya semengerikan itu, aku lebih baik pergi." Hakam mengatakan dengan cara sarkas namun penuh kebohongan. "Aku tidak mau mati dengan cara bodoh seperti itu."


Ketakutannya mungkin terlihat seperti pengecut, namun apa yang Hakam lakukan adalah yang terbaik dilakukan saat ini. Dia bukan hanya akan mati, namun bila dia mati, maka dia akan membuat adiknya yang ada di rumah menjadi terlantar dan entah takdir apa yang akan gadis kecil itu temui setelah mengetahui kalau kakaknya sudah tidak ada.


Namun, itu bukanlah intensi sebenarnya, dia hanya tidak mau membuat Moka berada dalam kondisi bahaya. Apalagi setelah melihat dia menjadi patung es saat mau mencoba menangkap Sophia yang mau terbang saat itu. Dia tidak mau hal itu terjadi lagi pada Moka.

__ADS_1


"Bagaimana denganmu, Gita?" Samuel bertanya pada anak yang sejak tadi diam bagaikan membeku itu.


"Hah(terkejut)... Kalau kondisiku(ujung bibirnya melengkung), entahlah... Semuanya diluar dugaanku." Seketika wajahnya menggelap. "Apakah aku harus menangani ini?"


"Hah?" (Samuel)


"Bukan apa-apa, lagipula bukankah bapak seharusnya melihat jalan? Siapa tahu ada sesuatu yang menghalangi." Gita seketika mencoba mengalihkan perhatian, namun wajahnya yang cengengesan memberi tahu kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu.


"Heh, terserahlah..." Meskipun sangat ingin tahu, namun Samuel akan menganggap ini sebagai privasi para murid.


Dia tidak boleh ikut campur privasi mereka.


Sambil mengikuti apa yang Gita katakan, Samuel kembali melihat ke arah jalan sesuai yang diinginkan anak itu.


Matanya fokus dan menggunakan mata jarak jauhnya sampai ke ujung jalan yang mereka lalui.


"Apa itu?"


Matanya yang sipit seketika tambah menyipit.


"Apa kau melihat sesuatu, Samuel?" (Tesi)


"Seperti seseorang sedang menggeret karung raksasa."


Dia masih belum lihai menggunakan sihir murni itu, namun dia bisa dengan jelas tahu kalau ada seseorang yang berjalan ke arah yang berlawanan.


"Menggeret karung? Apakah ada demo dengan membawa Bahar sebagai sandranya?" Ucap Widodo sambil bercanda.


Samuel mencoba memastikan lagi...


Pandangannya semaki lama semakin jelas karena mobil semakin mendekat. Sampai akhirnya siluet itu terlihat dengan jelas.


Matanya seketika melebar dan memegang bahu Tesi dan Widodo yang ada di kursi depan.


"Sial, itu Ketua OSIS dan Kepala Sekolah!"


"Huh?!" Seluruh penghuni mobil itu terkejut.

__ADS_1


Sstttt!


Dan dalam sekejab, Widodo menendang rem dan menghentikan mobil.


__ADS_2