Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 42. Profesionalitas adalah kuncinya


__ADS_3

Waktu pelajaran sekolah telah usai. Aku meninggalkan kelas menuju kantor kepala sekolah. Orang itu memanggilku ke sana.


Tidak ada guru lain yang kutemui di jalan. Sepertinya mereka masih sibuk mengurusi ujian.


'Untunglah, aku bisa dengan cepat menyelesaikan urusanku.'


Namun tebakanku tidaklah benar, orang yang kulupakan keberadaanya tiba-tiba kutemui sedang senden di dinding teras kelas.


"Lama tidak berbincang, Rasyid Londerik." Haran menyapaku dengan mengejek.


Aku mencoba untuk mengabaikannnya dan terus berjalan. Tapi firasatku berkata lain, orang ini kayaknya akan membawa masalah jika diabaikan.


Aku sekilas membalikkan badanku dan menatap wajah wanita berusia 30 tahunan itu. Dia terlihat puas setelah aku mencoba mendengarkannya.


"Apa?" Tanyaku.


"Kau tidak perlu banyak bicara, aku akan jelaskan." Dia akhirnya melepaskan sendenannya dan berdiri tegak sambil menyilangkan tangannya. "Maaf kalau aku telat sadar, kau sudah tidak bekerja untuk orang itu lagikan?" Tanya wanita itu sambil menatapku tajam dan tersenyum kecut ke arahku.


"Hmm(mengangguk)," jawabku.


"Oh begitu, lalu kenapa kau masih mau mendengarkan nenek tua itu?"


"Aku anggap yang kemarin sebagai kerja sampinganku," bohongku sangat natural.


"Eh begitu, jadi intinya kau tetap bekerja untuknya?" Haran memegang pageblug-nya, dan bersiap menyerangku dengan serangan kejutan kapan saja.


"Jika kurasa itu tidak perlu, maka aku akan menolak. Jumlah nominal adalah intinya buatku, meskipun aku tidak pernah menggunakannya. Bahkan sampai menumpuk di bank sekalipun." Aku menjawab jujur.


"Uang uang uang... Jadi sekarang kau lebih mirip pasukan bayaran, ya?" Haran memegang dagunya dengan ekspresi kesal.


"Bisa dibilang seperti itu!" Aku asal jawab.


Setelah mendengar itu, matanya melebar dengan lemas. Mulutnya mencoba tersenyum sambil memikirkan sebuah rencana.


"Jika benar kau adalah pasukan bayaran, maukah kau melakukan sesuatu untukku asalkan ada uang," Tanyanya sambil cengingisan.


Aku tidak tahu apa yang akan nenek umur 30 tahunan ini. Tapi aku mencoba mengikuti arusnya dan membiarkan diriku menari dalam telapak tangannya saja.


Aku menghela nafasku dan mencoba menyendenkan badanku ke dinding. Tanganku menyilang dan menatap wanita itu dengan tatapan yang tajam.


"Apa, siapa, dimana, bagaimana, mengapa, dan berapa?" Aku menjawab dengan datar.


"Aku memintamu untuk mengambil cincin pertunangan milik Putri Tyas Anjani yang berada di rumahnya yang besar. Lakukanlah secara mengendap-endap agar tidak ketahuan. Aku butuh cincin akik langka itu untuk penilitian sihir Anitya-ku. Aku akan buka harga mulai dari 20 jutaan." Dia menatapku dengan rendah.


"Jika aku ketahuan?" Tanya bila ada sesuatu yang diluar dugaan.

__ADS_1


Aku harus memastikan yang satu ini. Saat ini aku bukanlah seseorang yang harus asal bunuh targetku, melainkan ketentuan misi juga harus diikuti.


"Aku hanya berharap itu tidak terjadi, tapi kau orangnya parno-an jadi aku akan beritahu." Matanya tertutup dengan ekspresi bahagia. "Bunuh saja dia! Palingan yang kena marah adalah Nova." Tawanya terdengar dari sana.


Apa yang wanita itu katakan memang benar. Jika ada insiden pembunuhan, maka yang pertama kali kena masalah adalah Nova. Karena dari semua orang di kota ini yang memiliki bawahan yang bisa digunakan untuk mengeksekusi orang hanyalah Nova.


Kejadian Fajri tidak melibatkan Nova juga karena pria itu memiliki status hilang saat ini.


Tapi aku harus memikirkannya dengan jeli. Jika aku gagal dan membunuh target, maka Nova akan menyadari kalau aku bekerja untuk orang lain. Meskipun aku sudah separuh bebas dari nenek itu, tapi bukan berarti aku bisa berkeliaran menjadi pembunuh bayaran begitu saja. Ada konsekuensinya bila aku melanggar.


Menggunakan kekuatan KODE juga bukanlah pilihan yang tepat. Hal yang terjadi pada Dahlia juga akan terulang kembali.


'Ini misi yang menyusahkan.' Aku memijat bagian yang berada di antara mataku.


"Maaf saja, tapi aku tidak bisa." Aku akhirnya membuat keputusan.


"Hah, ternyata kau tidak bisa kalau bukan nenek itu, ya? Apa bedanya dengan babu bila kau tetap tidak bisa bebas?" Ekspresi Haran mengkerut kecewa.


Misi yang diberikannya terlalu beresiko buatku. Bila aku ketahuan aku akan hancur, dan bila aku berhasil bayarannya tidak seberapa. Penolakan adalah pilihan yang tepat untuk saat ini.


"Ya sudahlah, lupakan soal itu. Aku mau mengatakan alasanku berbicara denganmu yang sebenarnya." Dia mengganti topik pembicaraan.


Jadi yang tadi hanyalah topik yang terbuat karena bualanku, ya? Lagi-lagi bualanku membuat panjang masalah.


"Apa?"


Jadi dia juga sudah tahu, tapi itu tidak mengejutkan buatku. Dia adalah orang terkuat di sekolah ini sebelumnya.


"hmm." Aku mengangguk sebagai jawab iya.


"Hadiah dari 10 besar ujian kali ini, terlihat berbeda dari sebelumnya. Biasanya mereka hanya mendapat pageblug versi terbaru dan jaminan bisa memilih universitas yang mereka inginkan. Kali ini, hanya mendapat upgrade versi Anitya. Seberapa berharga atau kuat sihir yang diciptakan Anitya versi terbaru itu?" Dia mengatakan itu sambil iku menyendenkan badannya ke dinding di depan kelas.


Ngomong-ngomong kelas yang ada di belakang kami adalah kelas cadangan bila terjadi hal-hal diluar dugaan seperti kejadian minggu kemarin.


Wanita itu perlahan menoleh ke arahku sambil memasang wajah yang penuh tanya. "Kira-kira apa rencana Nova kali ini, Rasyid?" Dia berharap aku memberikan informasi gratis.


"Dia hanya iri dengan kemajuan teknologi pageblug milik Halim," ucapku dengan datar.


Ini informasi valid tapi tidak terlalu berpengaruh. Memberitahunya juga tidak ada yang mendapatkan untung ataupun rugi.


Dia hanya menahan tawanya saat mendnegar itu.


"Ha-ah hahaha, jadi nenek itu juga mengerti arti iri rupanya?" Haran tertawa lepas.


Aku pertama kalinya melihat dia menertawakan nenek itu dengan tawa yang seperti itu. Peristiwa tentang nasib anaknya/adiknya 'aku tidak terlalu ingat.' masuk ke dalam pikiranku. Dia seperti sedang melepaskan amarahnya dan mengubahnya menjadi rasa puas.

__ADS_1


"Hahaha ha ha....ha, aku tidak tahu kalau dia seperti itu. Jadi usahaku untuk menanyaimu tentang rencana tersembunyi Nova hanya berbuah seperti ini?! Sungguh buang-buang waktu saja." Dia tertawa sambil menyinggungku.


"Kenapa kau bisa tertawa denganku?" Aku memikirkan itu.


Dia seharusnya membenciku bahkan melihatku saja membuatku risih. Lalu kenapa dia berbincang denganku seperti mengobrol santai.


Haran menghentikam senyumnya tapi ekspresinya masih santai.


"Tenanglah, kau adalah korban dari perbudakan Nova. Dan kau juga bukan pelaku yang membunuh adikku, kan? Pelakunya adalah kelinci percobaan Nova yang meledak di sekolah saat itu, dan kini dia telah mati. Tidak mungkin aku membalaskan dendam pada orang yang sudah mati, terlebih pada seorang yang juga korban." Haran tersenyum lepas sambil menahan sedihnya mengingat orang itu yang baru kuingat kalau dia adalah adiknya.


"Aku ini juga seorang guru kelas 3 terlebih lagi kelas sihir. Profesionalitas juga harus ada dalam diriku, seberapapun aku membencimu karena kau adalah bawahan nenek itu. Kau tetaplah juniorku dan juga salah satu dari kami saat ini." Dia menundukkan kepalanya sambil memasang wajah yang bersalah.


Setelah mengatakn itu, Haran berdiri tegak dan menghadap ke arahku. "Maaf kalau sudah membuatmu tersinggung, tapi ingat aku tetaplah mengawasi tindakanmu." Dia menajamkan matanya sambil meminta berjabat tangan.


Aku menjawab jabat tangannya. Wajahnya yang membenciku karena Nova masih dia pasang saat menjabat tanganku.


Setelah berjabat tangan dia membalikkan badannya dan bersiap pergi kembali ke ruang guru. Tapi sebelum itu dia menolehkan kepalanya ke arahku sambil mengucapkan. "Jika ada masalah, kau juga bisa tanya padaku. Ingatlah, aku juga senior mu. Membantu juniorku jugalah tugasku," setelah mengatakan itu dia melanjutkan langkahnya ke ruang guru.


Aku hanya menatap datar punggung wanita itu yang kian menjauh.


Dia masih salah paham soal kejadian Musim Panas Api. Dia juga salah sangka soal anak yang mati saat itu.


'Anak itu belum mati, dia ada di depanmu tadi.' Ekspresi apa yang akan dia pasang saat aku mengatakannya.


Tapi sebaiknya aku tutup mulut saja. Selagi masalah sudah tidak dipermasalahkan, itu sudah cukup bagiku. Toh dia bilang sudah tidak akan mengungkit masa-masa itu padaku.


Aku anggap masalahku dengan Haran telah selesai, tapi dendamnya padaku masih ada. Aku akan anggap itu sebagai hal wajar.


Bukan karena aku adalah bawahan nenek itu, tapi karena telah membuat kelas 3 sihir jatuh ke jurang peringkat saat penilaian guru. Sungguh sulit dibayangkan, kelas yang selalu ada di atas tiba-tiba jatuh ke peringkat 2 terbawah.


 


Suara siswa-siswa kelas lain yang keluar dari kelas dan berjalan pulanh menandakan guru-guru yang lain sudah selesai memberikan pelajaran tambahan.


Aku berdiri tegak dari sendenku. Badanku ku-mulet-kan dan menatap jalan ke kantor kepala sekolah.


Berbicara dengan Haran telah menyita banyak waktuku.


"Pak Rasyid...." Seseorang memanggilku dari belakang.


Rambutnya yang dikepang dan diarahkan ke depan bahu membuatku teringat sesuatu yang kulupakan.


"Erika...?" Aku menatap guru itu dengan melas.


Ayolah, aku hanya ingin ke kantor kepala sekolah.

__ADS_1


__ADS_2