Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 119.


__ADS_3

Di sebuah gunung yang menjulang tinggi dimana pohon-pohon besar berbaris layaknya membuat sebuah dinding perbatasan yang memisahkan antara Kota Ningru dan Kota Podokerto, di sana, tepat di puncak tertinggi gunung itu, terdapat sebuah tiang yang berdiri lurus ke atas dan berukuran hampir seukuran dua kali tinggi orang dewasa.


Tiang itu dulunya sering dipakai untuk ritual orang-orang jaman dahula dimana teknologi masih belum ditemukan, tiang itu dipakai sebagai titik tengah para penari yang akan duduk bersila dan mengitarinya.


Para penari akan mengangkat kedua tangannya sambil duduk bersila, dan menggoyang-goyangkannya ke kanan dan ke kiri secara berirama mengikuti penari lainnya.


Saat melakukan itu, mereka akan berteriak 'gak' secara terus-menerus.


Di tiang yang menjadi titik tengah mereka, terdapat sebuah jenazah orang yang baru saja meninggal. Keberadaan mayat itu ada hanya untuk dibakar dan mempersembahkan sebuah tubuh yang sudah tak terpakai itu kepada dewa mereka.


Mereka berharap, dengan persembahan itu, maka dewa akan melindungi mereka dari segala mara bahaya dan kesialan.


Tapi, tetap saja...


Itu hanyalah sesuatu yang terjadi pada masa lalu, dan bukan masa sekarang.


Teknologi sudah menghancurkan anak keturunan mereka, dan kepercayaan mereka terhadap hal-hal seperti itu kian mengecil.


......................


Point of View: Rasyid Londerik.


Aku dan Dahlia terbang dengan melesat begitu cepat di langit yang masih memperlihatkan betapa mudanya matahari saat ini.


Karena lokasi yang kami tuju berada di timur, kami terpaksa harus menghadap langsung ke arah matahari muda itu.


"Matahari... Sangat... Bersinar..." Ucap Dahlia sambil menutupi matanya dengan tangannya.


Baik orang normal, bahkan aku sekalipun memang tidak bisa melawan kekuatan cahaya, sekali saja terkena cahaya yang berlebih, semua orang akan refleks menutup atau melindungi matanya dengan sesuatu.


"Bertahanlah sedikit... Kita akan sampai..." Saat aku mengatakan itu, siluet gunung yang tadi biru kini sudah berubah menjadi hijau. "... Lihat! Kita sudah dekat, tahanlah sedikit lagi..."


Meskipun aku meminta Dahlia menahannya, namun akupun sebenarnya tidak bisa menahan kuasa matahari ini.


Aku bahkan takut bila aku tiba-tiba menabrak sesuatu di udara, meskipun itu terdengar tidak mungkin, namun adanya keberadaan Blimp, drone dan balon udara di langit ini, maka aku tidak yakin dan malah khawatir bila aku menabrak salah satunya.


Terlebih lagi...


Aku melihat ke bawah, dan terdapat rumah-rumah warga yang begitu banyak di sana.


Produk ini masih dalam tahap uji coba, dan Haran bahkam bilang ada kemungkinan seseorang bisa jatuh karena sepatu ini bisa malfungsi kapan saja.


Mataku melototi takdirku yang bisa saja berakhir di sini, maksudku dalam jiwa normalku atau mudahnya, kewarasanku.


Jatuh dari ketinggian akan membuat siapapun pasti trauma meskipun tidak membunuhku.


Lupakan soal kematian,


Saat aku kembali membuka ponselku, di layar ponselku menampilkan sebuah peta dan memperlihat sebuah titik merah yang kedap-kedip dan memperlihatkan posisi Stevent.


"Dahlia, ikuti aku!"


"Hmm(mengangguk)..."


Dengan begitu, aku memimpin Dahlia ke salah satu bagian bukit.


Saat sampai, aku melihat sebuah bangunan tua yang sudah tak terpakai.

__ADS_1


Bila harus digambarkan, bangunan ini berbentuk persegi panjang dan memiliki sebuah pintu kaca yang akan bergeser bila sensor di dekat pintu mendeteksi langkah seseorang.


Namun, sepertinya sensornya sudah rusak, ya... Mau bagaiamana lagi? Ini bangunan saja sudah ditinggalkan.


"Sangga Tari..."


Aku mengeja papan yang tertulis di atas pintu *otomatis* itu.


"Sepertinya tempat ini dipakai oleh orang-orang dulu untuk persiapan tari cegak..."


Mataku menyipit tajam ke arah papan itu, ruangan ini benar-benar terlihat cukup modern untuk sesuatu yang kuno.


"Tari cegak? Apakah itu adalah tari yang sama seperti yang kami pelajari di sekolah?"


"Kurang lebih... Namun..."


Asal dari tari itu sedikit di samarkan saat diajar di sekolah.


Tidak ada yang tahu pasti siapa yang memperkenalkannya, namun orang itu digadang-gadang masih hidup sampai sekarang.


Bukan hanya asalnya saja, namun juga tujuan dari tari itu.


Yang mengetahui tujuan asli dari itu rata-rata hanyalah keluarga kerajaan dan orang-orang penting saja, beberapa orang tua juga ada yang mengetahui itu, namun mereka dipaksa tutup mulut dan membiarkan generasi itu hancur tanpa ada yang tahu maksud aslinya.


"Namun?"


"Bukan apa-apa... Sebaiknya ayo kita masuk, dan memeriksa kondisi Stevent!"


Aku mencoba mengalihkan pembicaraan dan fokus ketujuan untuk sekarang.


Aku merasa bersalah.


Ckrik!


Pintu kaca tua itu kugeser dan suaranya sangat membuat telinga geli.


Ugh... sakitt!


Aku tidak tahan dengan suara dencitannya.


Saat melihat isi ruangan, hanya ada kegelapan yang kosong, di dalam ruangan ini tidak ada apa-apa bahkan satupun furniture saja tidak ada.


Apakah sudah dimaling?


Namun itu bukan masalah...


Aku berjalan masuk ke dalam kegelapan dengan sifat yang bodoh amat.


Namun, saat aku melangkah masuk, sebuah tangan ramping menempel di tanganku dan menempelkan sebuah kepala bagian pipinya ke dadaku.


"Kau takut?"


Dahlia mengangguk berkali-kali tanpa membuka mulutnya, bahkan dia menahan nafasnya hanya untuk menahan rasa takutnya.


Aku menjelajah isi ruangan dan berjalan mengikuti tata letak ponsel muridku yang meminta tolong itu.


Namun, semua itu hanyalah kesia-siaan.

__ADS_1


Saat aku menemukan ponselnya, yang kutemukan malahan hanya sebuah ponsel tanpa pemilik yanh tergeletak di lantai.


Terlihat layarnya pecah karena sebuah bantingan.


......................


Point of View: Earl Stevent Xander


"Kh---!"


Diriku diikat di sebuah tiang yang cukup tinggi dan kini aku tidak bisa melakukan apa-apa selain mengerang dan menatap geram orang yang berada di bawahku.


Berada di bawahku karena aku terikat di bagian paling tinggi dari tiang ini...


"Kakak! Kenapa kau melakukan ini?! Ini tidak seperti kakak yang kutahu! Kenapa kau tiba-tiba menjadi segila ini?!"


Aku memaki kakakku sendiri.


Jika ini kulakukan di hari biasa dan berada di rumah, mungkin orang akan menganggap aku melakukan hal yang rusuh lagi, namun dengan keadaan yang sekarang, semua itu sirna.


Tepat di depanku, orang yang kusebut kakak itu memiliki mata yang seram, garis hitam di kantung matanya sampai terlihat seperti tidak tidur selama seminggu, mulut yang menyeringai dan tertawa terkekeh-kekeh seperti orang gila, bola matanya bergetar-getar seperti ketakutan akan sesuatu.


Dia sudah gila?!


"Kenapa kau tidak menjawab dan hanya memamerkan senyummu bodohmh?! Apa kau sudah gila?!"


Aku mencoba menghardiknya, namun tidak ada jawaban yang diberikan.


Senyuman gila itu tidak kunjung sirna dari mukanya.


Kenapa?!


Kemana?!


Kenapa kakak menjadi seperti ini?


Kemana sifatnya yang berwibawa bahkan sampai Pak Rasyid sampai menghormatinya?


Itu semua menjadi misteri bagiku, mungkin jika saja Pak Rasyid datang, mungkin dia akan mengerti masalah kakakku.


Tapi...


Apakah guru itu akan datang?


Aku hanya menelponnya sebentar lalu tertangkap begitu saja oleh kakakku.


Jika guru itu mendeteksi melalui lokasi ponselku, mungkin dia hanya akan mendeteksi berada di gunung itu, namun untuk lokasi pastinya dia pasti tidak akan tahu.


Memang tempat ini berada di puncak, namun bila guru itu mencoba berlari sekuat tenaga untuk sampai ke puncak tanpa mendeteksi keberadaanku, aku tidak yakin dia bisa sampai sini dalam waktu yang kurun dekat.


Bagaimanapun juga, untuk sampai ke tempat ini memerlukan ketelitian dan kejelian yang kuat. Sekali saja mata seseorang yang ingin kepuncak ini malah melamun, maka dia akan tersesat atau terbawa kembali ke titik awal mereka mendaki.


Aku tahu dia menjengkelkan, namun kalau sudah urusan seperti ini, dia biasanya paling jagonya.


Jadi, kuharap anda bisa membantu saya...


Entah, wajah sepecundang atau sejelek apa yang aku buat sekarang, namun aku akan berterus berpegang teguh kalau guru itu pasti akan datang menolongku.

__ADS_1


__ADS_2