Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 56. Pangeran dalam Kurungan pt.10


__ADS_3

Point of View: Earl Stevent Xander


Guru itu menatap kami dengan tatapan yang menantang.


Aku tahu dia kuat, tapi melawan kami ber-lapan secara bersamaan? Itu mustahil.


Tapi yang namanya Pak Rasyid, ya beginilah orangnya.


"Ayo maju! Kalian semua!" Ucapnya sambil menodongkan pedangnya kearah kami.


Tiba-tiba, aura yang sangat kuat muncul di sekitar orang itu. Elemen air yang dia berikan pada pedangnya terlihat seperti benda itu dapat menebas apapun yang ia sentuh. Kami akan terlihat layaknya samsak tinju di mata pedang itu.


'Tak ada yang akan bisa menang melawanku saat ini?' Itulah yang ada dalam pikirannya menurutku.


Apakah kami akan menang melawannya?


"Semuanya, tujuan kita bukan menang melawannya, melainkan mendapatkan bendera itu!" Gita dengan cepat memotivasi para kawan-kawannya.


"Be-bendera?" Sophia terlihat bingung. "Oh... Aku ingat, kita awalnya kan harus mencuri benderanya bukan melawannya!" Dia seakan tersadar dari lupanya.


"Melawan Rasyid yang menjadi seperti tadi membuat kami lupa kalau kita harus mengambil bendera bukan malah melawannya!" Dahlia mengatakan alasannya.


"Seperti tadi?" Moka bertanya.


"Kau ingat, Moka, armor yang dia pakai saat seperti melawan Pak Vicky saat itu." Sophia menjelaskan pada Moka yang kebingungan.


"Zirah?" Awalnya kebingungan terlihat di wajahnya. "Oh maksudmu zirah yang keras seperti saat itu?!" Namun akhirnya dia teringat.


"Guru kalian memanglah, aneh. Aku yang pernah bertarung melawannya saja masih bisa dibuat takjub dengan kekuatannya!" Astra memuji orang itu.


"Jadi, apa rencana kita sekarang, Ketua?" Maul menatap Gita seakan dia adalah pemimpinnya.


"Sejujurnya, aku bahkan juga tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ini, ah hahaha!" Gita yang tadi terlihat bisa diandalkan sekarang malah berubah menjadi konyol kembali.


"Ha..?! Kau tidak tahu?! Lalu bagaimana kita melawan orang yang ada di depan ini?" Maul menarik kerah Gita dan menunjuk ke arah guru yang sedang menunggu kami selesai membuat rencana.


Ada sesuatu yang disembunyikan oleh Gita. Dia seakan sengaja melakukan ini semua. Kira-kira kenapa dia?


"Apa sudah selesai ngobrolnya?!" Guru itu menegur kami.


Dia yang tadi sudah bersiap untuk melawan kami, sekarang malah duduk berjongkok semambil menahan kepalanya dengan pipinya yang ditahan tangannya.


Raut mukanya kini juga terlihat kesal dan konyol. Wajahnya terlihat bosan karena menunggu diskusi kami yang terlalu lama.


"Rasyid, bisa berikan kami waktu sebentar?" Dahlia mencoba membujuk guru itu dengan senyumnya.


Dia mengangguk namun tatapan kesal di wajahnya tidak terlihat hilang. Sejujurnya, aku masih tidak tahu bagaimana perasaan orang itu pada Dahlia.


Dia tidak terlihat mempedulikan hubungannya sama sekali. Perasaan cinta pun tak terlihat di wajahnya.


"Jadi? Apa yang harus kita lakukan? Saat ini kita butuh seorang ketua untuk memimpin jalannya pertarungan!" Moka menatapi para teman-temannya.


Namun tak ada satupun dari mereka yang bersedia. Wajah-wajah mereka dipalingkan dari siswi itu.


Sepertinya tidak ada pilihan lain. "Biar aku saja yang jadi ketuanya!" Aku mengangkat tanganku.


Bukan berarti aku ingin, hanya saja tidak ada yang terlihat ingin menjadi ketua makanya aku melakukan ini. Lagipula ini adalah ujianku, kan?


"Stevent? Kau bisa?" Astra menatapku dengan tatapan yang tak percaya.


"Aku sebenarnya juga tidak tahu, tapi kalau soal suruh menyuruh aku sudah biasa!" Aku memegang dadaku dengan tangan kananku yang kukepalkan.


"Suruh menyuruh? Oh..." Moka terlihat tidak ingin memanjangkan masalah.


"Ya... karena tidak ada orang lain lagi..." Gita berkacak pinggang sambil menatapku. "Stevent, aku di bawah perintahmu!" Gita menatap tajam diriku dengan senyumannya.


"Hmm..." Aku mengangguk.


Sejujurnya aku ragu bahkan takut saat ini. Aku terbiasa memberi komando saat di rumahku, namun untuk memberi komando pada temanku... Aku belum pernah sama sekali.


Aku menelan ludah saat mengingatnya.


Namun aku harus bisa melewati ini. Ini adalah di mana aku akan membuktikannya pada guru itu.


Tanganku kugenggam dengan kuat, lalu kuarahkan ke orang itu.


"Kami sudah siap! Pak Rasyid Londerik!" Aku menatap tajam orang itu dengan berteriak.


Dia tidak terlihat terintimidasi oleh kata-kataku. Mulutnya malah melengkuk membuat senyuman.


"Akhirnya selesai juga, lama sekali hanya untuk mengambil bendera..." Dia memamerkan benderanya yang ada di pinggangnya dengan nada yang sombong.


Dia yang jongkok kini berdiri dan mengarahkan pedangnya ke arah kami lagi.


Senyum itu... Seakan mengingatkanku pada seseorang.


......................


Point of View: Rasyid Londerik


Aku menatap Stevent dengan tatapan bangga. Senyumku bahkan sampai tiba-tiba keluar dengan sendirinya.


Inikah yang disebut bangga terhadap prestasi seseorang?


'Kau sudah berubah... Stevent!'


Tanpa aba-aba aku langsung menyerang.


CPLASS!


Sebuah sihir air tingkat tinggi yang terlihat seperti cambuk kutebaskan pada Gita yang berdiri di samping Stevent.


BRAK!!


Tubuhnya tiba-tiba pingsan karena tebasan dari cambukku.


"Apa?!"


"Gita?!"


"Tidak mungkin?!"


Moral mereka langsung jatuh hanya dengan K.O nya Gita.


Tapi ini adalah pertarungan, aku tidak akan memberikan waktu pada mereka.


Dengan cepat, aku berlari dan mengambil bendera milik Gita.


Tatapan mereka terdiam tak percaya.

__ADS_1


"K-kau?!" Stevent menatapku dengan tajam.


Aku hanya menatapnya dengan datar sambil menunjukkan bendera yang sudah kurebut dari Gita yang sudah pingsan.


Tatapan Stevent terlihat aneh, dia seperti terus mengalihkanku agar terus menatapnya.


Sesaat setelah itu, aku menyadari dari gerak gerik matanya.


Aku langsung berlari sedikit menjauh dari lokasi.


Dahlia ternyata dengan perlahan mencoba mengambil bendera yang ada di pinggangku saat Stevent mencoba mengalihkanku.


"Ah, ketahuan..." Ekspresinya datar seperti biasa.


Tapi mereka masih belum memberiku nafas sama sekali.


Tepat setelah aku menghentikan langkahku, sebuah 4 anak panah menyerbuku sekaligus.


"Terlalu jelas!" Ucapku berteriak sambil membuat perisai dari tanah.


PROK PROK PROK PROK


Semua anak panah menancap di perisai itu.


"Masih kurang, ya?" Astra menatap kesal ke arah busurnya.


Tak mau buang-buang lebih lama waktu, aku berlari ke arah wadahku dan menaruh bendera dari Gita ke dalamnya.


Dengan begini, Gita dinyatakan out.


"Apa? Cepat sekali?!" Ketidakpercayaan terlihat di wajah mereka.


Aku akan segera mengambil bendera lagi.


Dan akan kupastikan, bendera itu adalah milik dari orang yang dekat dengannya.


Mataku menatap ke arah Hakam yang dari tadi terdiam bersama mereka.


Langkahku kembali kugerakkan dan berlari cepat menuju anak itu.


"Tak akan kubiarkan!" Sophia mengayunkan kipasnya ke arahku.


CTING!


Pedang dan kipas bergesekkan.


Aku beradu kekuatan dengan murid yang pernah kuajar secara pribadi.


Raut muknya yang kesal terlihat di wajahnya.


"Aku tak tahu kenapa kau kesal, tapi buktikan kalau kau lebih kuat dari saat aku melatihmu!" Ucapku untuk memotivasinya.


Aku membuat sebuah aliran air yang sangat cepat di mata pedangku. Saking cepatnya aliran itu, kipas milik Sophia bahkan sampai terlihat mulai terpotong


"Ha hah hahaha! Ini adalah buktinya, Pak Rasyid!" Dia tersenyum puas padaku.


Sebuah sihir es ia keluarkan ke kipasnya dan membekukan pedangku.


Pedangku dan kipasnya menyatu menjadi satu karena membeku oleh air dan es nya.


CTASS!


Sophia melempar kipasnya ke atas. Pedangku yang sudah menjadi satu dengan kipasnya juga ikut terlempar ke atas.


SRASS!


Air tiba-tiba muncrat dari tanah yang kuinjak dan membasahi seluruh bajuku.


CKRASS!


Disusul dengan sihir es, tubuhku membeku total.


Aku menatap ke bagian pinggangku, dan melihat bagian pinggang yang ada benderanya menjadi satu-satunya bagian yang tidak membeku.


Melihat akan hal itu, aku membuat sebuah pisau dari tanah untuk menghancurkan es yang membeku di seluruh tubuhku.


"Tidak akan kubiarkan anda lepas lagi!" Astra membidik dari kejauhan dan menembakkan dua anak panahnya.


BLESS!


Kedua telapak tangan kanan dan kiriku tertembus oleh anak panahnya.


Hal itu akan mencegahku untuk menggunakan kedua tanganku sebagai sumber sihir.


"Hakam!" Stevent berteriak ke arah pelayannya yang tiba-tiba sudah ada di belakangku.


"Baiklah, Stevent!"


Dia berlari ke arahku dengan cepat tanpa menggunakan senjatanya.


Benderaku berhasil direbut olehnya.


"Berhasil!" Stevent mengepalkan tangannya dengan senyum bahagia.


Sepertinya sudah waktunya untuk bergerak.


CKRASSS!


Es yang menahanku kuhancurkan dengan kekuatanku.


Mereka semua terkaget termasuk Hakam yang sampai menghentikan langkahnya untuk menyetor bendera.


"Kita lihat siapa yang lebih cepat!" Ucapku sambil menatap Hakam yang sedang terkejut.


Stevent yang sadar maksud dari kata-kataku tiba-tiba mengambil nafasnya dalam-dalam dan dikeluarkan.


"Hakam!!! Larilah terus!!! Masukkan bendera itu ke kotak kita! Kami akan menahannya!" Stevent berteriak kencang ke arah Hakam.


Hakam yang terdiam langsung menelan ludahnya dan berlari secepatnya untuk memasukkan benderaku.


Larilah... larilah... larilah...


"Pak Rasyid! Kami akan melawanmu!" Stevent berlari ke arah teman-temannya dan menyiapkan pedangnya.


Ini semakin menarik.


BANG BANG BANG BANG BANG


Aku menembakkan 5 tembakan dari sihir air dan menjatuhkan mereka semua kecuali Stevent seorang.

__ADS_1


"Stevent, menurutmu... apa yang sudah kau dapat sekarang ini?" Aku bertanya untuk memastikan.


Wajah Stevent hanya terdiam dan gugup menatapku.


Tapi perlahan dia menarik nafas dan menatapku dengan tatapan yang optimis.


"Apa yang kudapat katamu? Tentu saja, kenyataan kalau kau suka main kotor, sampai-sampai kami harus bekerja sama hanya untuk melawan anda!" Stevent menatapku dengan tatapan yang melawan.


Aku hanya terbahak karena mendengar jawabannya.


"Hahahaha!" Tawaku membingungkannya.


Stevent meskipun sudah menyadarinya, namun dia masih tidak mau mengakuinya.


Meskipun begitu, itu tidak akan jadi masalah buatku. Selagi dia sudah dapat makna dari ini, itu sudah cukup bagiku.


"Sudahlah lupakan saja!" Aku menatapnya dengan tawaku.


Sebuah benda jatuh dari atas, namun aku sudah tahu apa itu.


Aku mengangkat satu tanganku dan menangkapnya.


Pedangmu yang tadi terlempar bersamaan dengan kipas Sophia sudah kembali kudapatkan.


Aku melepas kipas yang menancap di pedangku ke arah Sophia yang sudah terbaring.


"Mari lihat, seberapa jauh kau bisa membiarkan Hakam berlari sampai tujuannya!" Aku menatapnya dengan senyum yang bersemangat.


Aku merasakannya, bukti-bukti yang kucari...


Aku merasa...


Aku sudah semakin dekat dengan hal itu..


Jauhari...


Satu-persatu janjiku akan kuselesaikan...


Lihatlah dari atas sana!


Dan untuk orang itu, kuharap kau mau memaafkanku lagi.


Kita ini keluarga, kan?


......................


Point of View: Earl Stevent Xander


Aku berdiri sendirian di sini. Semua rekanku terjatuh oleh serangannya hanya dengan dalam satu kali pukulan.


Aku tidak akan seperti itu, karena mereka semua mempercayaiku.


Begitu juga Hakam.


Mereka semua mempercayaiku untuk menahannya.


Entah kenapa, senyum orang itu tiba-tiba berasa sangat berbeda. Senyum itu seakan dia sudah berhasil mencapai sesuatu yang dia cari.


'Tapi siapa peduli!' Ujarku dalam hati sambil mengaktifkan pageblug-ku dan mencengkram kuat pedangku.


"Aku siap melawanmu, Pak Rasyid!" Aku maju dan mencoba menebasnya.


CTANG!


Pedang kami bergesekan kembali.


Namun hasilnya saat ini tidak akan sama.


Aku langsung melepas dari adu gesek dan mengeluarkan beberapa pusaran air disekitarnya.


'Kuharap itu bisa menahannya.'


BLASS!


Dia mengeluarkan sebuah gumpalan tanah yang banyak sampai menutupi pusaran itu.


'Ternyata memang tidak bisa.'


Senyumnya masih tidak hilang di wajahnya.


Kini dia yang akan menyerang.


Dia melemparkan beberapa pedang air ke arahku hanya dengan sebuah jentikan tangan.


Dengan mengandalkan sihir cahaya, aku berlari menjauh dan mencoba berlari kebelakangnya.


Serangan ini mungkin akan ketahuan, tapi akan beda bila aku mengeksekusinya secara benar.


Aku sudah ada di baliknya dan berlari ke arahnya.


Dia langsung membuat dinding dari tanah sesaat aku menginjak tanah itu dan membuatku naik ke atas dinding itu.


Tapi itu adalah yang kutunggu, pedangku ku tancapkan di sana.


Sebuah sumber air mengucur deras dari atas dinding itu sampai membuat sebuah air terjun.


Dia hanyut di dalamnya dan memaksanya naik menggunakan elevasi untuk ke atas air.


Saat itu lah, aku berjalan dan mencoba mengayunkan pedangku ke arahnya.


Dia menyadari kehadiranku yang mencoba menebasnya. Namun karena aku pengguna elemen cahaya, kecepatan adalah kehebatanku.


Dia belum sempat menahannya, tapi aku sudah menebasnya terlebih dahulu.


Tubuhnya terbelah karena tebasanku dan jatuh pingsan.


Saat itu pula, Hakam berhasil memasukkan bendera itu ke kotak tim.


Dia melambaikan tangannya padaku dengan senyum lebar yang terlihat ngos-ngosan.


"Stevent, aku berhasil!"


"Iya, kita telah berhasil!" Senyumku terlihat jelas di wajahku.


Ujian darinya berhasil ku selesaikan.


Dengan begini, ini adalah kemenangan kami.


Aku merasakan kalau ada sesuatu yang kulupakan, tapi siapa?

__ADS_1


'Entahlah, aku tidak peduli.'


Di sisi lain, Vicky yang bersembunyi dengan elemen air yang dicampur listrik masih belum ada satupun siswa yang menyerangnya.


__ADS_2