
📥 Bastian.
Lo dimana?
Nayla mau nyari bini Lo.
Dia udah otw apart Lo b'dua skrng.
Bareng Verrel.
"Cckk." Axell berdecak setelah membawa pesan yang baru saja dikirimkan Bastian. Dengan cepat Axell bergegas mengajak Dira untuk segera pergi dari apartemen milik gadis itu.
Kini Axell mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju d'Axe Cafe. Laki-laki itu sesekali tersenyum sambil menoleh ke arah istrinya yang kini sedang terlelap. Mungkin karena terlalu lelah menangis, Dira jadi mudah sekali tertidur.
Axell masih dapat jelas mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, antara ia dan Dira di apartemen milik gadis itu. Dimana Dira tadi yang mengatakan bahwa sudah tak memiliki perasaan sedikitpun terhadap Arfen dan tak ayal itu membuat Axell merasa lega dan bahkan sekarang ia tak henti-hentinya tersenyum.
...***...
Mobil Axell berhenti tepat di depan d'Axe Cafe. Laki-laki itu lalu menggendong gadisnya masuk lewat pintu samping , pintu yang langsung mengarah ke pantry dekat dengan ruang kerja miliknya.
Tidak lucu kan, kalau Axell masuk ke kafe dengan menggendong seorang gadis yang tengah menutup matanya. Akan dapat di pastikan banyak tanda tanya nanti yang muncul di benak para pelanggan di kafe miliknya.
Saat Axell masuk melewati pintu samping, setiap pasang mata pelayan kafe langsung tertuju kearahnya. Menciptakan sebuah tanda tanya besar dalam benak masing-masing. Bukan tentang siapa gadis yang sedang Axell gendong sekarang, karena mereka sudah dapat memastikan siapa gadis yang tengah Axell bawa dalam gendongannya. Melainkan apa yang sedang terjadi dengan gadis dalam gendongan dari pemilik d'Axe Cafe itu sendiri.
"Dira kenapa?" Pertanyaan muncul dari Rheyhan yang kebetulan berada di d'Axe Cafe. "... kok matanya sembab, kayak abis nangis gitu?" Tanyanya lagi. Rheyhan sempat memperhatikan wajah Dira, dimana wajah gadis itu yang jelas terlihat sembab meskipun ia sedang terpejam.
Axell menghela nafas, bukan karena beban berat dari tubuh Dira, melainkan ia yang harus menjawab pertanyaan dari Rheyhan. "Kecapekan nangis, bang ... abis gue paksa." Jawab Axell yang tak sepenuhnya salah. Ia kini melanjutkan langkahnya menuju ke ruang kerjanya, diikuti Rheyhan di belakangnya.
Linda yang kebetulan lewat setelah mengantarkan pesanan pun tak sengaja menguping pembicaraan keduanya. Ia kini berniat mencari tahu ada hubungan apa sebenarnya antara Axell dan juga Dira.
"Paksa?" Ulang Rheyhan tak mengerti. Detik kemudian otaknya berjalan. "Wah ... gila Lo, Xell!" Ucap Rheyhan setengah tak percaya. Bahkan laki-laki yang hanya berusia tiga tahun diatas Axell itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "... Minta hak boleh, pemaksaan ... jangan. Tunggu Dira siap dulu, kasihan!"
"Ya nggak lah, bang. Gue sayang banget sama dia ... gue nggak mungkin maksa istri gue sendiri -
Trranngg!
Bunyi nampan kosong yang tak sengaja lepas dari tangan Linda. Gadis itu terkejut dengan pengakuan yang baru saja dia dengar dari Axell.
Axell dan Rheyhan yang mendengar suara tak jauh darinya seketika menoleh. Dan mendapati Linda yang masih berdiri di depan ruangan Axell.
"Linda, apa yang kamu lakukan di situ?" Tanya Rheyhan.
__ADS_1
"Maaf, pak. Saya kebetulan lewat, nggak sengaja." Jawab Linda sambil menunduk, lalu berlalu menuju pantry.
Rheyhan menggelengkan kepala melihat tingkah Linda. Ia tidak buta dengan apa yang sebenarnya terjadi dan Rheyhan tahu, sudah sejak lama Linda sering memperhatikan Axell karena gadis itu menaruh perasaan dengan sepupunya.
"Berarti Lo udah berhasil dong, Xell ... making si Dira?" Tanya Rheyhan setelah melihat Axell yang keluar dari kamar setelah meletakkan Dira di atas tempat tidur. Axell menoleh ke arah Rheyhan yang sedang menatap jahil padanya.
"Kepo Lo, bang!" Jawab Axell yang sama sekali gak minat jawab. Karena nggak mungkin kan Axell bilang kalau selama mereka menikah mereka sama sekali belum pernah hak yang semestinya di lakukan sebagai pasangan suami istri.
"Selamat deh, kalo gitu. Jangan lupa, iya ... cepet-cepet kasih gue ponakan, kembar kalo bisa!" Ujar Rheyhan asal.
"OK, kalo gitu Gue nemenin Dira di dalem dulu, bang. Nanti kalo ada temen-temen gue datang kesini nyariin, tolong bilang gue nggak ada!" Ujar Axell.
"OK, lanjutin, deh! Gue mau baca laporan dulu. Jangan lupa kunci kamar, takutnya gue sembarangan masuk karena lupa kalo Lo lagi bareng Dira di dalem." Jawab Rheyhan yang kini duduk di kursi kerja Axell. Melihat Axell yang hilang di balik pintu, Rheyhan tersenyum, detik kemudian kepalanya menggeleng. "Si gunung es, lama-lama cair juga."
...***...
Sore harinya di rumah keluarga Marvellyo, Axell buang baru saja selesai mandi itu kini sedang memainkan ponselnya di atas ranjang sambil menunggu Dira yang selesai mandi.
"Masuk!" Ucap Axell memerintah setelah mendengar seseorang yang mengetuk pintu kamarnya dari luar.
Bukannya langsung membuka pintu dan masuk, seseorang di balik pintu itu kembali mengulangi aksinya lagi.
"Masuk aja, pintunya nggak di kunci!" Ucap Axell lagi bermaksud agar seseorang yang sedari tadi mengetuk pintu menghentikan aksinya.
"Tak acel, Andes dak bica uta intinya, tak." (Kak Axell, Andes nggak bisa buka pintunya, kak.)
Terdengar suara cedal anak kecil yang suaranya sudah pasti Axell kenal. Masih dengan mengetuk pintu dan berteriak di luar sana. Seketika Axell menepuk jidatnya sendiri.
"Astaga ... Andes. Tuh bocil kan nggak bisa buka pintu sendiri." Ujar Axell pada dirinya sendiri. Tanpa membuang waktu, laki-laki itu langsung bangkit untuk membukakan pintu sepupu kecilnya itu.
Ceklek!
"Hallo jagoan..." Sapa Axell ramah sambil mengusap-usap pelan kepala sepupu kecilnya itu.
"Halo tak acel." (Halo kak Axell.) Jawab bocah kecil yang tak lain adalah Junior Fernandes Finnegan - Adik dari Rheyhan Theda Finnegan - Putra bungsu dari om David Finnegan.
Kenapa umur Andes dan Rheyhan terpaut jauh 18 tahun? Itu karena duku mama Rheyhan sempat tiga kali mengalami keguguran dan nyaris di vonis tidak bisa memiliki keturunan lagi. Tapi, baru saat Rheyhan hampir lulus SMA, mama dari Rheyhan dinyatakan hamil kembali. Dan 9 bulan kemudian lahirlah Andes.
"Andes kesini sama siapa?" Sambil jongkok, untuk menyamakan tinggi badannya dengan Andes.
"Andes tecini cama tak lehan, tak." (Andes kesini sama kak Reyhan, kak.) Jawab Andes.
__ADS_1
"Oh ... ya? Terus mana bang Rheyhan dimana?" Tanya Axell lagi.
"Ata, di asah." (Ada, si bawah.) Jawab Andes lagi.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka dan munculah Dira di balik pintu dengan sudah mengenakan setelan piyama satin warna maroon dan handuk yang masih membungkus rambut basahnya.
"Yang ... gue ke bawah dulu sama Andes."
...***...
Di meja makan, kini sudah ada ayah Marvellyo, Bunda Resty, Dira, Axell juga kakak beradik Rheyhan dan juga Andes.
Jika semua orang tengah menikmati makanan yang sudah tersaji di meja, maka lain halnya dengan Rheyhan yang tak henti-hentinya menatap Dira dan Axell secara bergantian dengan senyum jail yang hanya ia yang tahu sendiri artinya.
"Kamu kenapa tidak makan, Rhey?" Tanya Ayah Marvellyo.
Rheyhan reflek menoleh ke arah ayah Marvellyo, sunggingan senyum muncul di wajahnya "Ini lagi makan, om." Jawabnya lalu mulai memasukan makanan ke mulutnya.
"Kenapa kamu liatin Axell sama menantu bunda sampai kayak gitu, Rhey? Ada apa sebenarnya?" Tanya bunda Resty yang ikut bersuara. Sementara Axell masih makan dengan tenangnya, bahkan ia tidak sadar kalau ternyata Rheyhan memperhatikannya dan Dira sedari tadi. Sama haknya dengan Dira, ia juga tidak tau kalau Rheyhan memperhatikannya karena terlalu sibuk menyuapi Andes makan.
"Nggak apa-apa, Bun. Rhey lagi liat pemandangan di depan Rhey aja ... Axell yang duduk di samping Dira yang lagi sibuk nyuapin Andes makan. Bunda liat nggak tadi, Dira kek nyiapin anaknya sendiri. Nih, ya, Bun, kalo mereka lagi diluar, pasti orang akan bilang, sungguh keluarga kecil yang bahagia." Jawab Rheyhan yang menyamakan ketiganya bak keluarga.
"Kamu bener, Rhey. Om jadi nggak sabar pengen cepet-cepet gendong cucu." Celetuk ayah Marvellyo yang ikut menimpali.
"Tenang, om!" Jawab Rheyhan sambil menatap Axell sekilas, detik kemudian ia tersenyum. Rheyhan tiba-tiba teringat dengan apa yang Axell katakan padanya saat d'Axe Cafe siang tadi. " ... kata Axell udah on proses kok, om. Pasti nggak akan lama lagi." Lanjut Rheyhan dengan tanpa rasa bersalahnya dan sukses membuat Dira tersedak.
"Uhhuuk... uhhuukk...!"
"Yang, pelan-pelan ... nih, minum dulu!" Titah Axell sambil menyodorkan gelas berisi air dan langsung di terima Dira dengan baik.
"Kamu nggak pa-pa sayang?" Tanya bunda Resty yang khawatir pada menantu kesayangannya itu.
Dira mengangguk, "Dira nggak pa-pa kok, Bun?"
...***...
Malam semakin larut dan sekarang ini Dira masih belum tidur. Gadis itu sekarang sedang berada di balkon kamar sambil memandangi langit yang sama sekali tak menampakkan bintang disana. Langit sedang mendung saat ini dan sepertinya akan turun hujan sebentar lagi.
Tak berselang lama kemudian, Dira yang terlalu asyik menikmati angin malam yang berhembus itu tak menyadari ada seseorang yang berjalan mendekat ke arahnya. Sampai lewat sepersekian menit, Dira merasakan sepasang tangan melingkar di pinggangnya disusul dengan satu kecupan yang mendarat di pipi kanan gadis itu.
__ADS_1
"Kenapa belum tidur, malah berdiam diri disini?"