
"I love you ... Andira." Satu kalimat yang berhasil membuat Dira tertegun. Sungguh, Dira tak pernah mengira kalau Axell akan mengatakannya tepat di depannya. Tanpa sadar, sudut bibirnya tertarik, membentuk senyuman yang menghias wajahnya.
"I love you too, kak." Balas Dira lirih.
"Apa, Yang? Ulang! Gue nggak denger." Ucap Axell yang masih belum yakin dengan pendengarannya.
"I love you too, kak." Ulang Dira sedikit keras.
Axell tersenyum, "Sebut nama gue, Dir! Panggil nama gue!" Titah Axell.
Dira kembali tersenyum untuk kesekian kalinya, "I love you too ... Axello."
Axell tersenyum puas. Ditariknya tubuh polos Dira agar semakin merapat padanya. Ia peluh tubuh yang lemas karena ulahnya itu, "I'm more."
...***...
Keesokkan paginya dikala matahari mulai memancar menyentuh sebagian sisi bumi. Sepasang anak manusia yang masih terkurung di bawah selimut itu kini mulai tersadar. Bayangan sisa pertempuran semalam itu pun masih sangat terasa. Apa lagi ketika mereka merasakan sentuhan kulit satu sama lain di bawah selimut yang sama. Kilatan itu semakin terbayang.
Dira meremas kain sprei dengan sangat erat. Menyembunyikan wajahnya diantara sisi selimut tersebut. Ia sedikit memundurkan tubuhnya perlahan dari dekapan sang suami. Rasa malu yang masih membumbung tinggi itu masih belum bisa ia hilangkan. Ingatan saat mereka terbang ke langit ketujuh itu pun terus terbayang-bayang di kepalanya.
Rasanya gadis itu masih belum bisa percaya, bahwa mereka telah melakukannya. Melakukan ritual yang akan terus terukir dalam sejarah hidup keduanya.
Namun tiba-tiba genggaman dalam seprei itu perlahan terlepas tatkala Axell yang kembali merengkuh tubuh polosnya untuk kembali masuk ke dalam dekapannya. Pergerakannya seketika lumpuh saat itu juga. Jantungnya pun terus berdebar-debar tiada terkira.
Tangan Dira meringkuk di depan dada dan mengepal erat. Ia memejamkan mata dan hanya bisa menyembunyikan wajahnya dalam-dalam di dada bidang milik suaminya itu. Menyembunyikan rasa malu yang tak berkesudahan.
Matak gadis itu semakin terpejam karena merasakan Axell yang terus mengecup puncak kepalanya. Perasaan yang semakin campur aduk tidak menentu itu seakan membuatnya seperti akan meledak saat itu juga.
'Jadi yang semalam itu ... bukan mimpi?'
Sadar dengan hari yang akan semakin siang, gadis itu memutuskan untuk segera bangun memulai aktifitasnya. Namun, Dira kesulitan karena Axell yang semakin memeluknya erat.
"Kak ..." Panggil Dira lirih.
"Hhmm..."
"Kak, aku mau mandi." Pinta Dira pada Axell agar mau melepasnya.
"Bentar, Yang ... gue masih ngantuk." Jawab Axell masih dengan mata tertutup.
"Kak Axell, lepas! Aku mau mandi." Pinta Dira lagi karena Axell yang sepertinya enggan untuk melepaskannya.
"Bentar, Yang. Lima menit lagi." Jawab Axell masih dengan mata terpejam. Sepertinya ada masih enggan untuk bangun dari tidurnya.
Dira menghela nafas. Suaminya ini bukannya melepas pelukannya, tapi malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Kak ... yang mau mandi itu aku. Aku mau berangkat sekolah." Rengek Dira frustasi.
__ADS_1
"Emang bisa jalan?" Bukannya melepaskan pelukannya, Axell malah melontarkan pertanyaan yang malah membuat gadis itu bingung sendiri.
"Hha ... M-maksudnya?"
Axell langsung bangun. Ia gegas membuka selimut yang masih menutupi tubuh keduanya yang yang masih na**d sisa semalam.
Cup...
Axell mengecup singkat bibir Dira. "Lo bilang mau sekolah kan, Yang?"
Cup...
Lagi Axell kembali mengecup bibir Dira. "Emang Lo bisa jalan, Yang? Kok gue nggak yakin. Bukannya semalem gue gempur Lo habis-habisan, ya? Bahkan kita baru berhenti jam tiga pagi tadi." Ujar Axell sambil menunjukan tiga jarinya.
Dira membulatkan matanya mendengar apa yang baru saja Axell katakan. Itu benar dan Dira jelas masih mengingatnya. Axell benar-benar berhenti memborbardir dirinya jam tiga lebih hampir sepuluh menit pagi tadi. Ia juga masih bisa merasakan tubuh bagian bawahnya yang perih dan juga ... sakit.
"OK. Kalo Lo mau mandi ... tapi kalo untuk sekolah, gue nggak kasih." Ujar Axell yang langsung bangun dari ranjang sambil menggendong Dira menuju ke kamar mandi.
Hampir tiga puluh menit berlalu, kini keduanya sudah selesai dengan urusan mandinya. Axell menggendong Dira yang hanya mengenakan bathrobe, keluar dari dalam kamar mandi dan mendudukkannya di atas sofa. Sementara Axell dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya. Axell lalu berjalan ke lemari untuk mengambil baju ganti untuk dirinya dan juga Dira.
Setelah mengenakan baju santai miliknya, Axell berjalan santai mendekat ke arah Dira dengan membawa baju ganti beserta pakaian dalam milik gadis itu.
"Bisa ganti baju sendiri kan, Yang? Atau mau gue pake -
"Nggak. Kak, aku bisa pakai sendiri." Ucap Dira cepat menolak tawaran Axell yang akan memakaikannya baju.
Axell terkekeh geli tanpa rasa bersalah. Sebenarnya Axell tahu, gadis itu sedang kesal karena tadi ia sempat mengerjai gadisnya saat di kamar mandi.
"Kak Axell ... iihh... bener-bener, ya!" Protes Dira semakin kesal.
"Hahaha... gue turun bentar ambil sarapan. Cepetan ganti baju, nanti kita sarapan bareng!" Ucap Axell sebelum hilang di balik pintu.
...***...
"Lho, boy ... kok sendiri? Dira dimana?" Tanya bunda Resty saat melihat sang putra yang hanya berjalan menuju meja makan tanpa Dira bersamanya.
Axell menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal. Laki-laki itu bingung, Jawaban apa kiranya yang bisa ia berikan pada sang bunda. Nggak mungkin kan kalau ia bilang Dira lagi dalam posisi kesusahan berjalan, karena habis ia harap semalaman.
"Di atas, Bun. Lagi nggak enak badan." Jawaban yang akhirnya keluar dari Axell.
"Dira sakit?" Tanya ayah Marvellyo yang terlihat khawatir.
"Nggak, yah. Cuma kecapekan." Jawab Axell.
"Kecapekan?" Tanya bunda Resty menyela.
Axell menghela nafas pelan. "Akhir-akhir ini Dira banyak kegiatan, Bun. Jadi wajar aja, kan." Jawabnya yang memang benar. Dira memang sedang banyak kegiatan di sekolah.
__ADS_1
"Apa perlu kita panggil David? Ayah tidak mau kalau Dira sampai jatuh sakit." Ujar ayah Marvellyo.
"Nggak perlu, yah. Nanti kalo udah istirahat sama minum vitamin, pasti Dira juga udah enakan." Jawab Axell.
Laki-laki itu bergegas meraih piring didepannya. Mengambil nasi goreng buatan sang bunda beserta lauk diatasnya. Gegas Axell kembali ke kamar. Axell tak ingin berlama-lama di meja makan. Bisa-bisa kedua orang tuanya itu akan terus memborbardir dirinya dengan banyak pertanyaan.
...***...
Sementara itu di kamar Axell, Dira yang sudah mengenakan pakaiannya tengah berbicara dengan seseorang di seberang sana melalui sambungan video call.
"Gue nggak pa-pa, Mel. Umm ... cuma kecapekan doang." Ucap Dira pada sang lawan bicaranya.
"Kirain sakit lagi, Dir. Lo kan kemarin nggak masuk. Padahal kemarin tuh, ya kak Nayla ngotot banget bilang kalo Lo berangkat ke sekolah. Makanya dia nggak percaya pas gue bilang Lo nggak masuk." Jelas Melody.
"Itu ... umm ... eh, Mel, nanti kabarin gue, ya, kalo ada tugas dari pak Raka." Ujar Dira yang memang sengaja mengalihkan pembicaranya dan beruntungnya dia, Melody tidak menyadari hal itu.
"Kalo itu sih, Lo tenang, Dir." Jawab Melody sambil mengacungkan jempolnya ke arah kamera.
"OK, kalo gitu gue -
Cup...
Dengan sangat tiba-tiba, Axell datang dan langsung mengecup sekilas salah satu pipi Dira. Membuat Dira menghentikan ucapannya. Bukan itu saja, bahkan Axell berhasil membuat seseorang yang melihatnya melalui kamera ponsel langsung cengo, menganga tak percaya dengan adegan yang baru saja dilihatnya.
"Ayo makan dulu, Yang!" Titah Axell yang sama sekali tidak menghiraukan panggilan dari Melody yang masih tersambung.
"Kak -
Cup...
Axell kembali mencium Dira. Tapi bukan di pipi, melainkan di bibir. Axell bahkan dengan sangat sengaja menekan tengkuk gadisnya agar semakin memperdalam ciumannya. Tak peduli dengan Dira yang pastinya akan protes setelahnya.
"Morning Kiss." Ucapnya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Kak -
"Sshhtt..." Lagi. Seakan benar-benar tak membiarkan istrinya itu untuk protes. Laki-laki itu mengambil alih ponsel dari tangan Dira. Dilihatnya panggilan dengan Melody yang masih tersambung.
"Mel ... apa pun yang Lo lihat barusan, gue minta, simpan buat diri Lo sendiri. Bisa?" Ujar Axell santai. Bahkan Melody sampai terkejut di buatnya. Terkejut dengan sikap Axell yang sangat berdeba dengan yang biasa laki-laki itu perlihatkan jika sedang berada di lingkungan sekolah. Dan juga, bukan hanya itu saja. Apa yang melody lihat tadi ... menimbulkan banyaknya pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benak gadis itu.
'Mereka berdua sedang berada di dalam kamar, sepagi ini? Bukankah mereka terlampau mesra untuk ukuran pacaran? Dan setahu gue, ini juga bukan di apartemen Dira, kan? Atau mungkin mereka lagi di rumah Dira? Tapi desain kamarnya cowok banget!'
"Astaga kalian -
"Melody. Apapun yang Lo lihat dan yang Lo ketahui. Entah apapun yang ada di pikiran Lo saat ini, gue minta simpan baik-baik buat diri Lo sendiri. Karena suatu saat, Lo akan tau sendiri kebenarannya. OK, gue tutup dulu."
Tuutt...
__ADS_1
Axell langsung memutus sepihak sambungannya video call dengan Melody. Bahkan tanpa memberikan kesempatan bagi gadis itu untuk sekedar bertanya atau mengiyakan ucapannya.
"Kenapa kak Axell lakuin itu tadi?"