
Axell menghela nafas panjang. Ia mendekat ke arah Dira. Tangan kekarnya terangkat untuk mengusap pelan puncak kepala gadisnya itu dengan sayang.
"Sorry..." Ucap Axell pelan. "... Lagi-lagi gue udah bikin Lo takut." Sambungnya lagi penuh sesal dan di jawab Dira dengan anggukan kepala pelan.
"Gue cuma khawatir. Seharusnya Lo nungguin gue kalo mau pergi. Bukannya tadi gue udah bilang mau nganter Lo? Kalo sampe terjadi sesuatu sama Lo, gimana?" Ucap Axell pelan bermaksud agar Dira mengerti setiap perkataannya.
"Maaf." Kini giliran Dira yang meminta maaf. Bagaimanapun, ia juga merasa bersalah dalam hal ini karena tidak meminta izin pada Axell terlebih dahulu.
"Dimaafkan." Jawab Axell. Laki-laki itu lalu pergi ke dapur dan kembali dengan segelas air di tangannya.
"Minum dulu!" Ucap Axell sambil menyerahkan segelas air yang ia bawa dari dapur tadi.
Dira menerima gelas yang Axell berikan. Tapi, baru saja Dira akan meminum airnya, tiba-tiba pintu apartemen Axell di ketuk seseorang. Axell dan Dira saling pandang untuk beberapa saat sampai akhirnya Axell berjalan mendekat ke arah pintu untuk membukanya.
Saat pintu terbuka, Axell sedikit terkejut mengetahui siapa yang datang mengetuk pintunya tadi. Bastian. Seseorang yang dengan sengaja datang kembali ke apartemen Axell.
'Bukannya nih anak udah pulang?'
"Sorry, Xell, gangguin Lo. Gue cuma mau ngambil ponsel gue yang ketinggalan." Ucap Bastian yang mengerti arti tatapan mata yang Axell layangkan padanya.
Sebenarnya bukan sengaja Bastian kembali ke apartemen Axell. Karena ponselnya yang memang benar-benar tertinggal waktu Bastian menumpang makan di apartemen sahabatnya itu. Bastian meletakkan ponselnya di meja makan dan lupa membawanya kembali saat ia pulang.
Saat Bastian menyadari kalau ponselnya tertinggal, ia memutuskan untuk langsung kembali ke apartemen Axell untuk mengambilnya.
Tapi, saat Bastian memasuki area gedung apartemen tersebut, Bastian dihadapkan dengan pemandangan yang tak biasa. Ia melihat dua cowok yang sangat ia kenal salah satu diantaranya, sedang memukul seseorang dengan seorang gadis di belakangnya.
Bastian lalu mendekat untuk meyakinkan penglihatannya. Dan disaat Bastian sudah semakin dekat, Bastian di kejutkan dengan Dira yang tiba-tiba memeluk Axell dari belakang.
Karena Bastian mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi, jadilah ia menyaksikan interaksi diantara ketiganya. Sampai pada saat Axell yang menggandeng Dira dan membawa gadis itu pergi meninggalkan seseorang yang masih meringkuk sambil memegangi perutnya.
Bastian terus saja mengikuti kemana Axell membawa Dira pergi. Sampai pada akhirnya Bastian kembali di kejutkan saat melihat Axell yang membawa Dira masuk ke dalam apartemennya.
Tanpa membuang waktu, Bastian yang sudah semakin penasaran itu pun semakin mempercepat langkahnya untuk sampai di depan pintu unit apartemen Axell.
Dan di saat Bastian sudah berada tepat di depan pintu apartemen Axell. Ia berulang kali membuang nafas kasar. Bersiap menerima semua kemungkinan yang terlintas di kepalannya. Tangan Bastian terangkat untuk mengetuk pintu unit apartemen Axell. Dan tak berselang lama, si pemilik pun membukanya.
Saat pintu terbuka, Bastian langsung bertatapan dengan Axell. Lalu masuk tanpa di minta oleh sahabatnya itu. Saat sudah di dalam apartemen, Bastian melihat Dira yang tengah duduk di sofa.
Kalau Bastian menatap Dira dengan pandangan yang sulit di artikan, maka lain halnya dengan gadis itu. Ia menatap Bastian dengan penuh keterkejutan.
"K-kak Bastian." Lirih Dira.
Bastian diam. Ia menatap Dira lama lalu beralih menatap ke arah Axell lalu kembali menatap Dira lagi. Detik kemudian ia berdecak kesal. "Ck. Benerkan dugaan Gue ...." Ucap Bastian. "... kalian memang ada sesuatu. Ngaku aja!" Lanjutnya.
__ADS_1
Axell menghela nafas pelan, sebelum akhirnya menjawab, "Sudah seharusnya Lo tau. Apa yang ada dalam pikiran Lo itu... Benar." Jawab Axell tenang tanpa ragu.
"Kak!" Ucap Dira menyela. Dira tak ingin Axell mengatakan semuanya pada Bastian.
Setidaknya untuk sekarang ini.
Axell menatap Dira sesaat lalu menatap Bastian. "Ini saatnya Bastian tau status kita, Dir..." Ucap Axell menggantungkan kalimatnya.
Sementara Dira menggelengkan kepalanya pelan. Ia benar-benar belum siap jika kebenarannya terbongkar.
"Dira pacar gue." Ujar Axell melanjutkan kalimatnya. Ia sedikit berbohong disini. Karena tidak mungkin Axell mengatakan statusnya dan Dira yang sebenarnya. Axell dapat melihat ekspresi wajah Dira yang menandakan kalau gadis itu belum siap statusnya di ketahui orang banyak.
"Pacar?" Ulang Bastian tak yakin. "... Sejak kapan? Perasaan kalian berdua nggak pernah deket?" Lanjut Bastian menyelidik.
"Baru." Jawab Axell singkat lalu mengambil gelas yang berisi air dari tangan Dira dan meminumnya.
"Ya baru itu mulai dari kapan? Lo nggak lagi nge-prank gue, kan?" Tanya Bastian tak percaya.
Tak menjawab, Axell hanya menampilkan wajah santainya. Mengangkat bahunya acuh lalu duduk di samping Dira dan menyandarkan punggungnya.
Melihat ekspresi wajah Axell yang begitu santai tanpa beban membuat Bastian mengerti. Bastian mengenal seperti apa sahabatnya itu. Ia percaya kalau Axell berkata yang sebenarnya. Seketika Bastian meraba dadanya yang seolah merasa sakit walau sebenarnya memang sedikit sesak. Detik kemudian ia menampilkan wajah sedihnya.
"Xell, Lo tega banget sama gue. Ada yang retak tapi bukan tulang, terluka tapi tak berdarah. Gue pikir hubungan kita spesial." Ucapnya sambil pura-pura menghapus air mata yang seakan mengalir deras di wajahnya.
"Kalo mau gila jangan disini, Bas. Gue nggak mau ketularan gilanya." Jawab Axell.
Axell yang melihat tawa Dira pun kini ikut tersenyum.
'Cantik.' Batin Axell. Selama mereka tinggal bersama di apartemen, Axell belum pernah sekalipun melihat tawa Dira seperti yang baru saja ia lihat tadi.
"Dih, senyum!" Cibir Bastian yang langsung mendapat tatapan tajam dari Axell.
"Balik sono, Lo. Kehadiran Lo nggak di perluin disini." Ucap Axell pada Bastian.
"O... tidak bisa. Kalian cuma berdua disini. Apapun bisa terjadi. Gue nggak mau bidada - Eh.. (Bastian reflek menepuk bibirnya pelan.) Maksud gue kalian berdua-duaan di apartemen. Karena biasannya kalo cowo cewe berduaan dalam satu tempat, yang ketiganya itu setan."
"Lo setannya!" Sahut Axell cepat.
"Serius gue, Xell. Gue nggak mau Lo nantinya -..."
"Balik, Lo! Gue mau pergi sama Dira." Usir Axell.
"Iya-iya, gue balik. Awas aja Lo berdua kalo masih berduaan disini... Bakalan gue kawinin Lo berdua..." Ucap Bastian sambil menunjuk keduanya. "... Dan, Lo, Dir, kalo sampai Axell nyakitin Lo, ngomong ke gue! Biar gue nanti yang hajar Axell sama kayak Axell ngajar cowo tadi."
__ADS_1
Deg...
"Kak Bastian tau?" Tanya Dira ragu. Bastian mengangguk lalu berjalan ke dapur untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di meja makan.
"Awas, Xell. Gue akan ngawasin Lo mulai dari sekarang. Sampai Lo nyakitin Dira, gue akan rebut Dira dari Lo." Ancam Bastian.
"Gue sama sekali nggak takut... Karena itu nggak akan pernah terjadi."
...***...
Malam harinya Dira tengah mengerjakan tugas yang beberapa menit lalu Melody kirimkan. Axell yang baru saja pulang dari kafe pun tersenyum melihat gadisnya yang sedang serius belajar. Dira benar-benar menuruti ucapannya untuk tidak pergi saat ia tinggal tadi.
Axell berjalan mendekat. Tangannya terulur untuk mengusap lembut puncak kepala Dira, bersamaan dengan kecupan singkat yang Axell berikan pada kening gadis itu. Lembut dan wangi, sensasi yang Axell rasakan saat mencium Dira.
Deg...
Dira yang terkejut mendapat sentuhan dan kecupan mendadak dari Axell membuatnya tersentak. Tiba-tiba saja tubuhnya bagaikan dialiri aliran listrik. Ada rasa aneh yang muncul begitu saja.
"Lagi ngerjain apa?" Tanya Axell setelah melepaskan Hoodie yang ia pakai dan menaruhnya di sofa lalu mendekat ke arah buku yang terbuka di depan Dira.
"Tugas dari pak Galih, kak." Jawab Dira sambil menahan rasa gugup yang tiba-tiba saja muncul.
'Ini gue kenapa?'
Axell mengangguk. "Ada yang belum Lo pahami? Mau gue bantu?" Tawar Axell saat setelah duduk di depan Dira.
*Ciyeee... nungguin istri belajar, ya?
Dira menggelengkan kepalanya, "Aku bisa kok, kak." Jawabnya dan langsung mendapat anggukan kepala dari Axell. Axell tahu kalau Dira gadis yang pintar.
Byaaarr...
Melihat Axell yang terus menerus memperhatikannya membuat Dira kesulitan belajar. Konsentrasinya tiba-tiba terpecah begitu saja.
'Ini gue kenapa, sih? Kenapa gue nggak bisa konsentrasi? Kak Axell juga, kenapa harus duduk di situ, sih? Tugas gue kan jadi lama kelarnya!'
Semenjak Axell datang dan menciumnya tadi, entah mengapa hal itu malah membuat Dira merasakan hal aneh pada dirinya sekaligus membuat konsentrasinya terpecah. Padahal tadi sebelumnya biasa saja saat sebelum laki-laki itu datang. Bahkan Dira bisa mengerjakannya dengan begitu mudah. Tapi sekarang entah mengapa Dira menjadi begitu kesulitan mengerjakannya tugasnya.
Sebenarnya yang Dira lakukan tadi bermaksud untuk menjauhkan dirinya dengan Axell. Tapi bukannya pergi, Axell malah mendekat dan duduk menunggui dirinya yang sedang mengerjakan tugas.
Dira tak mau semakin terjebak dengan situasi seperti ini, menurutnya ini sangatlah tidak nyaman. Akhirnya Dira memberanikan diri untuk bertanya pada laki-laki yang berstatuskan suaminya itu, "Kak Axell ngapain disini?"
__ADS_1
Axell tersenyum mendengar pertanyaan dari Dira yang terkesan... aneh. Benar-benar aneh. Jelas sangat terlihat kalau Dira tengah gugup saat ini. Ini kan apartemennya, dan Dira kan istrinya. Jadi wajar kan kalau Axell ada di sini bersamanya. Axell kan menunggui istrinya yang sedang belajar. Jadi, apa yang salah?
"Gue mau ....