
Lagi, tanpa Axell mau pun Dira sadari. Ada sepasang mata yang tengah mengamati interaksi keduanya dari kejauhan. Ia bahkan tersenyum miring sambil menganggukkan kepalanya seakan baru saja menangkap basah seorang pencuri.
"Gotcha! Di tungguin dari tadi, eh... ternyata lagi asyik-asyik dalem mobil. Ck... ck... ck..."
...***...
Di kantin sekolah, Dira dan Melody tengah menunggu makanan yang mereka pesan tadi. Sebelumnya mereka telah memesan makanan pada ibu kantin.
"Eh, Dir. Lo udah ketemu kak Nayla belum?" Tanya Melody.
"Belum. Kenapa, Mel?" Tanya Dira.
"Tadi pagi Lo dicariin, deh, sama kak Nayla." Ujar Melody menjelaskan. "Kek ada yang penting gitu, deh." Sambungnya.
Dira mengernyitkan dahinya bingung, mendengar apa yang di katakan oleh Melody tadi. Kalau Nayla mencarinya, kenapa dia tidak menelponnya saja, 'Ada apa ya?' Batin Dira bertanya sampai akhirnya ia teringat akan satu hal.
"Oh, God!" Desah Dira pelan yang masih bisa di dengar oleh Melody.
"Kenapa, Dir?" Tanya Melody bingung.
"Nggak apa-apa, Mel. Gue lagi keinget sesuatu." Jawab Dira yang tiba-tiba terlihat panik.
"Lo kenapa, sih, Dir? Aneh, deh!" Tanya Melody yang melihat keanehan pada diri Dira.
"Nggak apa-apa. Bentar, ya, gue pergi dulu." Jawab Dira yang langsung pergi dengan langkah yang tergesa-gesa.
"Eh, Dira! Kok gue di tinggal, sih?" Protes Melody setengah berteriak.
"Si Dira mau kemana?" Tanya Zaki yang baru saja datang dan langsung duduk di samping Melody.
"Tau tuh."
...****...
Setelah pergi dari kantin dengan langkah yang tergesa-gesa, Dira kembali melanjutkan langkah sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Gadis itu tengah waspada. Lebih tepatnya... waspada dengan Nayla.
Tadi saat Melody memberitahu kalau Nayla sedang mencarinya, Dira jadi ingat akan sesuatu. Dimana kemarin Nayla yang meneleponnya saat ia bersama dengan Axell. Dan Dira sudah hafal di luar kepala. Kalau Nayla pasti akan menanyakan tentang hal itu. Tentang siapa laki-laki yang kemarin sedang bersamanya.
"Duh... gue harus ngumpet kemana, nih? Gue nggak boleh sampe ketemu Nayla dulu. Kalau gue sampe ketemu sama dia, bisa habis gue. Gue harus jawab apa kalo si Nayla sampe nanya yang macem-macem? Gue gak bisa bohong depan Nayla, pasti ketahuan gue kalo lagi bohong." Ucap Dira sambil berjalan tak tentu arah.
Dan tanpa Dira sadari, ada seseorang yang berjalan mengikutinya. Seseorang yang menggunakan topi, Hoodie serta masker serba hitam .
Dira masih terus berjalan. Langkah kaki gadis itu terus berjalan membawanya ke taman depan. Dilihatnya keadaan taman yang tidak begitu ramai, mungkin karena banyak siswa-siswi yang masih mengisi perut mereka di kantin.
Saat Dira sudah sampai di taman, ponsel gadis itu tiba-tiba berdering tanda ada panggilan. Diraihnya ponsel berlogo buah itu dari dalam saku seragamnya.
__ADS_1
📲 Kak Axell is Calling...
Melihat nama si pemanggil membuat dahi Dira terangkat. Ada apa Axell menelponnya? Itu yang gadis itu pikirkan sekarang. Dira menghembuskan nafasnya pelan, lalu menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan telepon dari Axell tersebut.
"Halo, kak."
"(....)."
"Aku lagi ... emmbh.."
Belum selesai Dira menjawab apa yang Axell tanyakan padanya, tiba-tiba saja ada seseorang yang datang entah dari mana dan langsung membekap mulut Dira.
Dira yang begitu terkejut dan tidak siap itu reflek menjatuhkan ponselnya. Membiarkan orang di seberang sana dengan berjuta pertanyaan yang muncul di benaknya.
Dengan cepat, seseorang yang tadi datang dan membekap Dira itupun langsung membawa gadis itu ke arah pohon besar yang ada di taman tanpa ada yang melihatnya sama sekali.
Diperlakukan seperti itu membuat Dira tidak tinggal diam. Gadis itu bahkan sempat berontak sekuat tenaga untuk minta di lepaskan saat itu juga. Tapi sepertinya usaha Dira sia-sia saja, mengingat tenaganya tak sebanding dengan cowok itu. Akhirnya Dira hanya bisa pasrah dan menurut kemana cowok tadi membawanya.
"Jangan takut, Dir! ini gue." Bisik cowok misterius itu.
"Arfen." Lirih Dira saat tangan Arfen tak lagi menutupi mulutnya.
Arfen menampilkan senyum manisnya ke arah Dira. "Sorry! udah bikin Lo takut tadi." Ucap Arfen di akhiri dengan kekehannya menyadari tindakannya barusan yang terkesan konyol.
Dira menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis. Ia tak habis pikir dengan apa yang baru saja sahabatnya itu lakukan. Bahkan terbilang nekat menurutnya. Arfen yang anak SMA Bina Bangsa bisa masuk dengan begitu santainya ke sekolah yang mertuanya dirikan, SMA Bhakti Bangsa.
Bukan apa-apa, Dira masih ingat beberapa hari yang lalu dimana Axell yang pernah memperingatkannya untuk melarang Arfen datang menemuinya di SMA Bhakti Bangsa. Padahal waktu itu Dira belum sah menjadi istri Axell.
Dan sekarang, status Dira telah berubah menjadi istri dari putra pemilik sekolah tersebut. Dira tak bisa membayangkan, akan seperti apa reaksi dari Axell kalau saja tahu Arfen yang ternyata masih saja nekat untuk datang menemuinya di sekolah seperti sekarang ini?
Melihat tingkah Dira yang seperti tengah mengamati sekitar membuat Arfen mengikuti arah pandang gadis di depannya itu. "Lo ngeliatin apaan, sih, Dir? Nggak ada apa-apa di sini, cuma ada kita berdua." Tanya Arfen yang menyadari sikap aneh Dira.
"Lo ngapain kesini, sih, Ar? Nanti kalo ada yang ngeliat gimana?" Tanya Dira yang merasa tak tenang.
Arfen menghela nafas pelan. Bukan seperti ini sambutan yang Arfen inginkan dari Dira. "Lo susah banget di hubungin akhir-akhir ini, Dir. Gue telepon Lo juga nggak pernah Lo angkat. Gue chat juga nggak pernah Lo bales..." Ucap Arfen menggantungkan kalimatnya. Sementara Dira diam, gadis itu memilih untuk menunggu apa yang akan Arfen katakan selanjutnya.
Tangan Arfen terangkat untuk mengusap pelan puncak kepala Dira, "Gue kangen sama Lo, Dira!" Ucap Arfen dengan nada yang terdengar berbeda dari yang tadi.
Sadar dengan apa yang sahabatnya itu lakukan entah mengapa tubuh Dira memberikan penolakan. Seakan enggan untuk di sentuh oleh Arfen, meskipun hanya seujung rambut. Dengan pelan tangan Dira terangkat untuk menurunkan tangan Arfen yang masih setia mengusap-usap rambutnya.
'*Please... jangan kayak gini, Ar*!'
"Tapi gue pernah bilang sama Lo kan, Jangan pernah temuin gue kalo lagi di sekolah!" Ucap Dira mengingatkan sahabatnya itu.
Melihat Dira yang menurunkan tangannya yang sibuk mengusap rambut miliknya membuat senyum dari wajah tampan Arfen memudar. Tiba-tiba muncul pertanyaan tentang mengapa Dira seolah-olah menolak usapan tangannya. Bukankah Arfen sudah terbiasa mengusap rambut Dira ketika mereka bersama seperti sekarang ini?
__ADS_1
'Lo kenapa, sih, Dir?'
"Lo kenapa? Hm?" Tanya Arfen pelan. Entah mengapa Arfen merasa ada yang sedikit berbeda pada Dira.
Dira menggelengkan kepalanya pelan. "Gue nggak pa-pa, Ar. Em... Mending sekarang Lo balik dulu aja! Gue nggak mau ada yang ngeliat Lo ada di sini. Lo balik ya, Ar! Please!" Usir Dira halus. Dira tak ingin Arfen merasa kalau ia tengah mengusirnya. Dira hanya tak ingin Axell mengetahui kalau Arfen ada disekolahnya saat ini. Semakin cepat Arfen pergi, maka semakin tipis kemungkinan Axell tahu kedatangan Arfen.
"Tapi gue masih kangen banget sama Lo, Dira!" Ucap Arfen memelas.
Dira menghela nafasnya pelan sebelum menjawab, "Iya, gue tahu. Kita kan masih bisa ketemu lain hari. Tapi, sorry, Ar... Untuk beberapa hari ini gue emang beneran lagi sibuk." Ucap Dira bohong.
Arfen menghela nafas pelan setelah mendengar apa yang Dira katakan padanya. Tampak jelas di wajah Arfen, laki-laki itu terlihat frustasi.
"Ya udah kalo gitu. Jaga diri Lo baik-baik, ya. Kalo ada apa-apa, langsung telepon gue!" Ucap Arfen.
Dira menganggukkan kepalanya mengerti, "Iya."
"Bentar, gue hampir lupa." Ucap Arfen yang kini meraih sesuatu dari dalam saku Hoodie yang dikenakannya.
Dira mengernyitkan dahinya bingung dengan apa yang sedang Arfen sembunyikan dari dalam saku Hoodie nya. Sampai pada akhirnya Arfen mengulurkan dua batang coklat besar padanya. "Buat Lo." Ucapnya.
Dira tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan. Sahabatnya itu tidak pernah lupa memberinya coklat setiap kali mereka bertemu. Begitu manis.
"Thanks, ya!" Jawab Dira sambil menerima coklat pemberian Arfen tadi.
"OK, gue balik dulu. Bye..." Ucap Arfen yang kini mulai melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Dira.
"Huuuhhh..."
Setelah kepergian Arfen, Dira mengusap dadanya pelan. Gadis itu merasa tenang karena mengetahui ia masih sendiri di tempat itu. Itu tandanya Axell tidak mengetahui kedatangan Arfen tadi.
Tapi... Jika Dira merasa lega karena apa yang ditakutkannya tidak terjadi, maka lain halnya dengan seseorang yang kini tengah mengepalkan tangannya menahan emosi yang seakan siap meledak karena melihat interaksi antara gadis yang berstatuskan istrinya itu dengan sahabat tapi suka dari Gadis itu sendiri.
Tadi saat Axell baru akan memasuki kantin, Ia hanya melihat Nayla, Melody, dan Zaki tanpa adanya Dira. Lalu Axell berpikir dimana Dira karena Axell tidak melihatnya dikantin?
Axel lalu mengurungkan niatnya untuk bergabung dengan teman-temannya di kantin. Iya lebih memilih untuk mencari keberadaan diri. Axell lalu meraih ponselnya dari dalam saku celananya dan langsung menelepon Dira untuk menanyakan keberadaannya.
Tapi saat telepon itu tersambung, Axell hanya mendengar kata 'halo' dari gadis itu dan suara yang menurutnya aneh.
'Dira kenapa?' Batin Axell bertanya.
Axell lalu mencari Dira di tempat-tempat yang biasa Gadis itu datangi di saat tengah jam istirahat seperti saat ini. Dan disaat Axell sampai di taman depan, perhatian tertuju pada sebuah benda pipih yang tergeletak di rerumputan. Axell mengambil ponsel yang tergelar itu.
"Ini kan ponsel Dira! Kenapa bisa jatuh disini?" Gumam Axell lirih.
Tidak salah lagi, pasti terjadi sesuatu dengan Gadis itu. Axell lalu bergegas untuk mencari di sekitar taman itu. Dan benar saja, Tak jauh dari tempat di ketemukannya ponsel milik Dira, Axell di suguhkan dengan pemandangan yang seketika membuat dirinya kesal bahkan bisa di bilang marah. Tangan laki-laki itu bahkan terkepal melihat Dira di taman dengan seorang yang sangat ia kenal, tengah mengusap rambut milik gadis itu.
__ADS_1
"Gue udah pernah peringati Lo baik-baik..."