
Ceklek...
Axell langsung memasuki ruang pantau CCTV dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah meja, dimana terdapat beberapa layar terang menyala yang menampilkan begitu banyak gambar dari setiap sudut sekolah.
Dengan sangat teliti, Axell memperhatikan dimana saja tempat yang mungkin Dira lewati tadi. Ia me-replay salah satu bagian rekaman dimana beberapa menit disaat-saat sebelum Dira mengirimkan pesan padanya tadi. Dan...
Dapat!
Axell melihat tiga gadis yang berjalan beriringan menuju tempat parkir. Dan sudah dapat dipastikan, kalau ketiga gadis adalah Nayla, Melody dan juga Dira istrinya. Axell yakin, tidak salah lagi.
Axell terus memperhatikan setiap pergerakan dari ketiganya. Sampai pada saat dimana Dira melangkahkan kakinya menjauh dari Nayla dan Melody ke arah toilet. Tapi Dira tidak sampai masuk kedalam toilet sehingga Axell masih bisa melihatnya.
Dalam rekaman tersebut, Axell dapat melihat dengan sangat jelas kalau Dira tengah mengutak-atik ponselnya dan Axell yakin, itu tepat dimana Dira mengiriminya pesan tadi.
Tapi tunggu! Tiba-tiba Axell mem-pause tayangan dari isi rekaman tersebut. Ia menangkap gerak-gerik mencurigakan dari seseorang yang mengenakan Hoodie warna hitam, sedang berdiri tak jauh dari Dira dan hanya berjarak beberapa meter dari gadis itu.
Axell kembali menekan tombol play untuk membuktikan dugaan yang sempat terlintas di benaknya. Dan benar saja, hanya lewat dari sepersekian detik, tiba-tiba mata Axell melebar dengan sempurna, rahangnya kembali mengeras dan tangannya terkepal dengan kuat. Bahkan sampai otot-otot dibalik kulit tangan Axell terlihat menonjol dengan begitu sempurna. Seakan siap untuk membalaskan perlakuan seseorang yang sudah Axell pastikan kalau ia adalah seorang laki-laki.
Bagaimana tidak? Dalam rekaman tersebut, Axell dapat melihat dengan jelas dimana laki-laki itu berjalan mendekat ke arah Dira, membekap mulut gadis itu, dan membawanya ke sebuah taman. Sudah dapat Axell pastikan mereka mengarah ke taman belakang sekolah.
"O-SHITT!" Umpat Axell kesal.
Tanpa membuang waktu lagi, Axell bangkit dari duduk dan langsung keluar dari ruangan itu.
Ceklek!
Tepat saat Axell membuka pintu, ia langsung mendapati Bastian, Verrel, Nayla dan juga Melody yang berjalan mendekat kearahnya. Mereka berempat tadi tidak segera menyusul Axell karena masih berusaha mencari Dira disisi lain sekolah. Tempat yang mungkin belum mereka periksa tadi.
"Gimana, Xell?" Pertanyaan kompak yang keluar dari mulut Bastian dan juga Verrel.
"Pintu belakang." Jawab Axell singkat yang kini kembali berlari menuju tempat yang ia maksudkan, dan langsung diikuti oleh Bastian dan juga yang lainnya.
"Sial!"
Setelah sampai di belakang sekolah, Axell kembali mengumpat. Setelah mendapati pintu pagar bagian belakang sekolah yang sudah terbuka karena seseorang yang dengan sengaja telah merusak gemboknya. Axell menduga, pasti seseorang yang telah merusak gembok pintu tersebut adalah orang yang sama yang telah membawa Dira pergi tadi.
Tangan kekar Axell kembali merogoh ponsel di saku celananya.
📞 Calling Dira ...
Tuutt...
Tuutt...
__ADS_1
Tuutt...
Nihil. Tak ada jawaban dari seberang sana. Ini membuat Axell semakin kesal, marah dan pastinya khawatir dengan keadaan Dira saat ini. Axell tampak menyunggar rambutnya kasar.
Axell lalu melacak keberadaan Dira melalui GPS. Tapi belum sempat Axell mengetahui dimana titik yang menunjukkan keberadaan Dira, bulatan kecil warna biru yang menunjukkan tempat Dira berada sekarang itu tiba-tiba menghilang. Itu tandanya kalau ponsel Dira dalam keadaan di non aktif.
"Bangs*d!" Umpatan yang kembali keluar dari mulut Axell. Entah sudah ke berapa kali Axell mengumpat tadi. Padahal jarang sekali Axell mengucapkan kata-kata kasar.
"Pagarnya kebuka." Celetuk Bastian yang baru saja datang.
"Apa mungkin ini ada hubungannya sama cewe tadi, Xell?" Tanya Verrel yang mengira kalau mungkin ini ada hubungannya dengan gadis yang tadi keluar persamaan dengan Dira dari dalam toilet, saat jam istirahat tadi. Iya, Verrel sempat berpikir mungkin ini ada kaitannya dengan gadis yang tak lain adalah Renata itu.
"Siapa yang Lo maksud, Rel?" Tanya Bastian yang memang tidak tahu apa-apa. Verrel hanya diam. Ia lebih memilih menunggu Axell menjawab pertanyaannya.
Axell menggelengkan kepalanya, "Gue belum bisa mastiin. Yang jelas, orang yang bawa Dira pergi tadi cowo. Dan gue juga belum tau, mereka sekongkol atau tidak." Jawab Axell.
Kini pandangan Axell beralih pada Nayla. "Hubungi sahabat Lo, tanyain dimana posisinya, SEKARANG!" Pungkas Axell dingin. Bastian dan Verrel tahu, Axell benar-benar dalam keadaan marah saat ini.
"Arfen maksud Lo? Kenapa memangnya? Apa hubungannya Arfen sama hilangnya Dira?" Tanya Nayla yang memang tak mengerti maksud Axell. Ini yang hilang kan Dira, tapi kenapa Axell menyuruhnya untuk menghubungi Arfen? Apa hubungannya coba?
Nayla jadi benar-benar nggak ngerti disini.
"NAYLA, NGGAK USAH BANYAK NANYA!" Axell kembali menyentak nafas kasar untuk menahan emosinya. "GUE BILANG, TELPON SAHABAT LO, SEKARANG!" Ucap Axell dengan penekanan di setiap katanya, menandakan kalau ia sedang marah dan tidak mau dibantah.
"Santai, sih, Xell! Lo nggak perlu bentak-bentak cewe gue kek gitu!" Ucap Verrel menyela.
"Gue mungkin akan melakukan hal yang sama." Jawab Verrel
"Sayangnya Lo beda sama gue."
"Udah-udah! Iya. Gue bakalan telpon Arfen sekarang!" Ucap Nayla. Tanpa mengulur waktu, Nayla segera menelpon Arfen dan menanyakan keberadaanya.
"Halo, Ar..."
"(....)."
"Lo lagi dimana?"
"(....)."
"Serenity cafe?" Ucap Nayla memastikan posisi Arfen sekarang.
Axell yang mendengar Nayla yang menyebutkan nama tempat dimana Arfen berada sekarang itu pun langsung bergegas menuju ke sana. Axell berjalan dengan langkah lebar menuju di mana mobilnya terparkir.
__ADS_1
Ciiittt...!
Bunyi gesekan ban mobil Axell yang memutar di tempat parkir yang sangat nyaring jelas terdengar dari pendengaran mereka. Sudah dapat di pastikan kalau Axell sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Kak Axell kalo lagi marah nyeremin, ya!" Celetuk Melody yang sedari tadi hanya diam.
"Kita susul Axell!"
...***...
Sampai di Serenity Cafe, Axell langsung berjalan memasuki tempat tersebut. Mata Axell langsung menjelajah ke setiap arah pengunjung yang ada disana. Dan tak lama kemudian ia menemukan seseorang yang ia yakini telah membawa gadisnya tadi.
Arfen nampak duduk dengan beberapa teman-temannya. Tapi tunggu, disini Arfen mengenakan jaket warna navy dan bukan Hoddie warna hitam yang sama dengan yang ada di rekaman CCTV yang Axell lihat tadi. Padahal Axell yakin sekali kalau cowok yang membawa Dira pergi tadi adalah benar Arfen. Ia tidak salah lihat.
Axell terus memperhatikan Arfen yang sejak tadi terlihat santai seperti tidak terjadi apa-apa. Akh.... mereka kan dulu saling kenal, jadi saling tahu sifat dan sikap perilaku satu sama kain. Axell tahu betul, seperti apa Arfen. Sampai pada saat tangan Arfen bergerak melepas jaket yang ia pakai dan meletakkannya di kursi sampingnya yang kosong. Lama. Axell bahkan masih betah memperhatikan Arfen. Sampai pada akhirnya ia berjalan mendekat ke arah laki-laki itu.
"Bro, liat belakang Lo, deh! Tuh bukannya Axello, ya, ketosnya Bhakti Bangsa?" Celetuk Reon pada Arfen.
"Dia nyariin Lo kek nya!" Sahut Erka yang juga melihat ke arah Axell sekarang. Terlihat jelas memang, Pandangan Axell yang kini memang hanya terarah tepat pada Arfen.
Mendengar nama Axell, Arfen langsung menoleh ke belakang. Dan benar saja. Ia mendapati Axell yang tengah berjalan mendekat ke arahnya.
'Cepet banget?'
Arfen bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Axell. Ia tau, Axell pasti akan mencarinya. Hanya saja Arfen tidak pernah mengira kalau Axell akan datang secepat ini.
"Ada apa Lo nyari gue?" Tanya Arfen yang kini berdiri tepat didepan Axell.
"Nggak perlu basa-basi. Dimana Dira?" Tanya Axell datar.
Tak langsung menjawab, Arfen diam dengan wajah yang santai banget menatap wajah Axell, yang sedang menatapnya marah, dan Arfen tahu itu.
"Gue nggak tau." Jawab Arfen.
Axell menarik salah satu sudut bibirnya. Bohong banget. "Lo pikir gue percaya. Jelas-jelas gue liat, Lo bawa Dira tadi."
Arfen terkekeh pelan, "Gue nggak bohong kali, Xell. Kenapa, sih, Lo anti banget percaya sama gue? Lo alergi kalo percaya sama gue?" Pertanyaan yang malah terkesan menyindir. "... Gue bener-bener nggak tau dimana Dira..."
"... sekarang!"
__ADS_1
*Wah... Arfen sengaja nantangin kek nya.
"LO BAWA DIRA KEMANA, ARFEN?!"