
Axell tersenyum menyeringai, "Nanti aku kasih tau dirumah, Yang. Tentang bagaimana seorang istri, berterima kasih pada suami dengan baik dan benar." Ujar Axell dengan satu mata yang sengaja ia kedipkan.
Gleg!
Entah mengapa setelah mendengar apa yang Axell katakan, tiba-tiba Dira jadi tegang sendiri. Mendadak perasaannya jadi tidak karuan. Dira sudah bisa menebak apa yang akan Axell lakukan padanya nanti ketika mereka sampai di rumah.
Ini tidak aman.
Dira lalu beranjak dari sofa yang ia duduki bersama dengan Axell. Bermaksud untuk pindah duduk di kursi samping brankar Mama Diva. Sekaligus untuk menghindari serangan yang mungkin akan Axell lakukan padanya secara tiba-tiba.
Tapi baru saja Dira berdiri, tangan Dira sudah lebih dulu di cekal oleh Axell, seakan ia tak di perbolehkan untuk beranjak dari tempatnya sekarang.
"Eiitss... mau kemana kamu, Yang? Tunggu dulu!" Tanya Axell dengan senyum yang masih terlihat di wajahnya. Menurut, Dira kembali duduk. Dan,
Klik!
"Nah ... selesai." Ucap Axell yang kini menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
Sementara Dira mengrenyitkan dahinya bingung. Apanya yang sudah selesai? Pikir Dira.
"Kamu punya dua hutang sama aku, Yang." Ujar Axell sambil mengangkat jari tangannya membentuk angka 2.
Dira semakin bingung. Kenapa ia bisa tiba-tiba memiliki hutang dengan Axell? Lalu hutang apa yang Axell maksudkan?
Mengerti dengan istrinya yang sedang bingung? Axell lagi-lagi tersenyum menyeringai. Menyadari dirinya yang pasti akan menang banyak.
"Pertama, hutang terima kasih. Karena aku yang udan izinin kamu ketemu sama sahabat kamu tadi. Dan yang kedua, karena aku udah kerjain semua tugas kamu dari pak Dhana." Jelas Axell yang malah membuat Dira terperangah tak percaya.
'Sejak kapan kak Axell jadi perhitungan kayak gini?'
"Aku kayak gini bukan tanpa alasan, Yang. Aku emang izinin kamu ketemu sama Arfen tadi. Tapi bukan berarti kamu bisa bebas ketemu sama dia kapan aja kamu mau. Aku tau dia emang sahabat kamu, bahkan jauh sebelum aku nikahin kamu. Aku bisa ngerti dan hargai itu. Tapi tetep, aku nggak suka kamu deketan sama dia ..." Ujar Axell yang seakan mengerti dengan isi kepala Dira. "... Jadi, setiap kamu ketemu sama Arfen, aku akan minta imbalan sebagai izin yang aku berikan ke kamu. Gimana? Adil bukan?" Sambungnya lagi.
"Hah...?"
Ceklek!
"Kalian belum pulang?"
...***...
__ADS_1
"Kalian sebaiknya pulang, udah hampir malam juga, kan?" Titah Mama Diva yang kini tengah duduk bersandar di brankar. Wanita paruh baya yang sempat merasakan sakit luar biasa pada pada pinggangnya akibat terjatuh di kamar mandi pagi tadi. Kini sudah merasa jauh lebih baik.
"Tapi, ma ... Dira masih pengen disini, nemenin mama?" Cicit Dira. Masih nampak jelas terlihat, raut kekhawatiran di wajah Dira yang ia tujukan untuk mama Diva.
Mama Diva tersenyum melihat ketulusan yang terlihat dari wajah anak sambungnya. "Mama udah nggak pa-pa kok, sayang. Kalian juga harus istirahat. Lihat, kalian bahkan belum mengganti baju seragam kalian." Ucap Mama Diva pada Dira dan juga Axell.
Memang benar, keduanya masih mengenakan seragam sekolah. Sebenarnya tadi Axell berinisiatif untuk mengajak Dira pulang sebentar untuk sekedar mandi dan ganti baju. Tapi Dira menolak dengan alasan masih ingin menemani mama Diva.
"Mama baik-baik aja, sayang. Ada papa yang jagain mama disini. Lagian kamu tadi kan dengar sendiri apa kata dokter? Kalo mama udah boleh pulang besok." Ucap Mama Diva menambahkan
Mama Diva berusaha membujuk agar Dira mau pulang. Bagaimana pun juga, Dira dan Axell juga telah berada hampir seharian di rumah sakit untuk menjaganya.
"Aku setuju sama mama, Yang. Sebaiknya kita pulang. Kamu juga harus istirahat kan." Sahut Axell.
"Tapi, kak -
"Dira, kamu lupa apa pesan papa, nak?" Ujar papa Pras yang kini ikut bersuara.
Dira mengrenyitkan dahinya bingung. Mungkin ia lupa dengan pesan yang papanya maksudkan.
"Pesan apa, pa?" Tanya gadis itu. Lalu bibirnya mengerucut.
"Jangan suka membantah dengan apa yang sudah Axell katakan sama kamu. Turuti semua apa yang Axell katakan. Kamu lupa, Axell adalah suamimu yang mana ucapannya harus kamu ikuti." Ujar papa Pras mengingatkan.
Dira menghela nafas pelan mendengar kan apa yang papanya katakan. Bagaimana mungkin ia bisa lupa kalau Axell suaminya? Sementara mereka sendiri bahkan sudah pernah melakukan hubungan suami istri bahkan hampir setiap malam.
"Baik, pa. Kalo gitu, Dira sama kak Axell pamit pulang."
...***...
"Mau pulang kemana, Yang?" Satu pertanyaan yang lolos dari mulut Axell, yang saat ini tengah fokus mengemudi. Keduanya kini sedang dalam perjalanan pulang setelah Dira bersikukuh untuk menemani mama Diva di rumah sakit.
Dira menoleh ke arah Axell sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan. "Aku ngikut kak Axell aja." Jawabnya pelan.
Merasa tidak puas dengan jawaban yang ia terima, Axell kembali memberikan pilihan pada Dira. "Mau ke apartemen atau ke rumah papa? Kalo ke rumah ayah, kita masih butuh waktu dua puluh menit lagi untuk sampai." Ucap Axell sambil sesekali menatap kearah gadisnya.
Dira tampak diam berpikir sejenak. Ia tengah menimbang ingin pulang kemana malam ini.
"Rumah papa!" Ucap keduanya kompak di susul dengan tawa pecah keduanya.
__ADS_1
Axell pun semakin mempercepat laju mobilnya, ia ingin cepat sampai ke rumah sang mertua untuk mandi dan membersihkan tubuhnya yang lengket seharian di rumah sakit.
...***...
Di tempat berbeda, lebih tepatnya di d'Dream club'. Arfen yang baru saja turun dari panggung. Kini berjalan santai menuju pintu keluar dari club' tersebut. Ia memutuskan untuk segera pulang setelah hampir dua jam menjadi disk jockey di sana.
Saat akan pulang, Arfen menyempatkan diri untuk menemui Devan, sang bartender.
"Yang kayak biasa, bos?" Tanya Devan saat Arfen menghampirinya.
"Nggak dulu, bang. Gue nggak minum kali ini." Jawab Arfen yang kini mulai meneliti setiap sudut ruangan. Mencari seseorang yang mungkin ia kenal.
"Lo cari siapa?" Tanya Devan saat melihat Arfen yang tengah memperhatikan setiap tempat duduk yang penuh dengan pengunjung tersebut.
"Nggak nyari siapa-siapa, bang!" Jawab Arfen sembari menggeleng.
"Yakin? Kalo Lo nyari Nicholas, dia ada di meja sebelah sana!" Tunjuk Devan pada sebuah meja.
Arfen langsung mengikuti arah pandang Devan. Dan benar saja, Arfen langsung bisa melihat adanya Nicholas dan juga seorang Derry yang tengah asyik minum tak jauh dari tempatnya sekarang. Ralat. Derry yang lebih banyak minum. Laki-laki penyuka minuman beralkohol itu tak henti-hentinya menenggak cairan memabukkan yang tersedia di meja yang mereka tempati sekarang. Berbeda dengan Nicholas yang hanya menyesap minumannya perlahan.
Arfen menggelengkan kepalanya. "Gue langsung pulang aja, bang." Jawab Arfen yang terdengar malas di pendengaran Devan. Tanpa membuang waktu lagi, Arfen langsung melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan sang bartender tersebut.
Tapi, Baru saja Arfen berjalan beberapa langkah. Terdengar suara seseorang yang sangat ia kenal memanggilnya.
"Yo! Arfen!" Teriak laki-laki yang Arfen yakini sudah mulai setengah mabuk itu.
Arfen menghembuskan nafas kasar. Sebelum akhirnya berbalik dan berjalan mendekat ke arak Nicholas dan Derry. Lalu duduk bergabung dengan keduanya.
"Buru-buru banget!" Tanya Nicholas. Laki-laki itu masih terlihat seratus persen sadar.
"Lagi males gue, bang!" Jawab Arfen yang kini menyenderkan kepalanya pada sandaran sofa.
"Males? Nggak ada alasan yang lebih wajar? Lo nggak pinter bohong, Njing!" Sahut Derry sambil menaruh gelas di meja dengan sedikit kasar. Tak ingin menanggapi apa yang Derry katakan, Arfen hanya menatap Derry malas.
"... Gue bisa tebak. Ini pasti ada hubungannya sama gadis bernama Dira? Iya, kan?" Ucap Derry yang mengacungkan jari telunjuknya kearah Arfen.
Masih dengan ekspresi wajah yang sama, Arfen masih enggan membuka mulutnya untuk menanggapi Derry. Tak ada gunanya bicara dengan orang mabuk, begitu pikir Arfen.
Lain Arfen lain halnya dengan Nicholas. Laki-laki itu malah tertarik dengan apa yang akan Derry katakan. Nicholas pikir, mungkin ia melewatkan sesuatu.
__ADS_1
"Lo semua pada tau nggak, belakangan ini gue sering mergokin si Dira-Dira itu, keluar masuk Greenland Residence bersama seorang ... Axello?"