Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
164. Penolakan Axell.


__ADS_3

Malam harinya setelah makan malam, Axell dan Dira berjalan bersama menuju ke kamar untuk beristirahat.


Saat sampai di dalam kamar dan setelah menutup pintu, Axell langsung memeluk Dira dari belakang. Ia menumpukkan dagunya di pundak sang istri. Dan hal itu cukup membuat Dira terkejut.


"Kak ..." Panggil Dira lirih.


"Ssstt! Bentar, Yang." Interupsi Axell pelan.


"Kak Axell kenapa?" Tanya Dira mendadak kebingungan.


"Aku cuma mau kayak gini bentar sama kamu." Jawab Axell lirih.


Dira diam. Ia membiarkan apa yang sedang ingin di lakukan suaminya.


Menit berlalu. Keduanya masih dengan posisi yang sama. Hingga kaki Dira mulai terasa pegal karena terlalu lama berdiri.


"Kak ..." Panggil Dira lagi.


"Hmm ..." Jawab Axell dengan gumaman.


Dira mengerutkan dahinya. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh dengan suaminya saat ini.


Tinggal lebih dari tiga bulan bersama Axell, ia banyak tahu hal tentang sifat dan kebiasaan Axell sekarang ini. Dan sekarang, Dira yakin. Pasti terjadi sesuatu dengan Axell. Karena, tidak biasanya Axell seperti ini jika sedang bersamanya di kamar.


"Kak Axell kenapa?" Tanya Dira setelah keduanya hanya diam saja dari tadi.


Bukannya menjawab, Laki-laki itu kini mengangkat tangan yang tadinya memeluk pinggang Dira, menjadi melingkar di pundak istrinya itu. Keduanya pun kembali diam.


Menit kemudian, Axell kini menumpukkan dahinya pada pundak istrinya itu.


Merasa ada yang aneh dengan sang suami, Dira akhirnya kembali bertanya. "Ada apa?"


Satu pertanyaan yang akhirnya Dira ajukan setelah lama diam. Entah kenapa, Dira seperti menangkap sesuatu. Saat Axell mengubah posisi tangannya tadi, Dira yakin, Axell seperti tengah mengusap air matanya sendiri.


Perlahan Dira melepas kedua tangan Axell yang melingkar di pundaknya. Lalu berbalik untuk menatap wajah Axell.


Dan benar saja. Saat Dira menatap kedua mata Axell, terlihat jelas jejak bekas air mata yang masih terlihat di bulu mata lentik sang suami. Axell menangis.


Kalian tahu kan? Bagaimana pun caranya kalian menghapus air mata, jejak bekasnya pasti tetap akan terlihat. Bulu mata pun tidak bisa bohong, pasti dia akan menunjukan kalau dia sempat basah. Kecuali kalian cuci muka.


'Kenapa kak Axell nangis?'

__ADS_1


Dira tersenyum. Bukan karena melihat bulu mata Axell yang masih terlihat basah atau karena senang melihat suaminya itu menangis. Tapi karena dugaannya benar.


Tapi meskipun dugaannya benar, Dira tidak mau mempermasalahkan sikap Axell yang menutupi tentang alasan kenapa dia menangis.


Axell tidak bercerita padanya mungkin karena sesuatu hal itu tidak ingin ia ketahui atau mungkin Axell yang belum siap untuk menceritakan hal itu padanya. Dira tau, Axell pasti memiliki alasan lain.


Tidak ingin membuat suasana hatinya semakin buruk, Dira ingin menghibur suaminya.


Masih dengan senyum yang terukir di bibirnya, Dira berjinjit. Ia meraih kedua sisi wajah Axell agar menunduk. Dan,


Cup.


Dira mengecup kedua mata sang suami secara bergantian dan itu membuat Axell terkesiap. Axell sama sekali nggak kepikiran kalau Dira akan melakukan hal itu.


Lagi,


Cup.


Dira kembali mengulangi aksinya. Lalu turun untuk mencium bibir Axell. Melu**t bibir milik suaminya itu dengan begitu lembut.


Senang dengan apa yang di lakukan istrinya itu, Axell kini membalas ciuman Dira. Ia balas melu**t bibir yang menyerangnya itu.


Brukk!


Saat menurunkan tubuh Dira di ranjang, Dira langsung menarik tubuh Axell. Axell yang tak siap dengan serangan tiba-tiba Dira itu pun akhirnya jatuh menimpa tubuh sang istri.


"Yang! -"


Mau protes tapi nggak jadi, Dira sudah lebih dulu membungkam bibir Axell dengan bibirnya. Dira seakan tahu kalau suaminya itu mau protes dengan apa yang dilakukannya barusan.


Menit berlalu, Dira tiba-tiba membuka mata saat Axell yang dengan tiba-tiba menarik diri dan otomatis ciuman keduanya terlepas begitu saja. Laki-laki itu bahkan mengubah posisinya menjadi berbaring di samping Dira.


"Kak Axell ... kenapa?" Tanya Dira bingung.


Dira hafal betul dengan permainan suaminya. Biasanya kalau udah kayak gini, Axell akan melanjutkan ciumannya ke tahap yang lebih. Tapi tadi itu tidak.


Padahal Dira bisa melihat dengan jelas, tatapan mata Axell yang mulai terlihat sayu. Jelas sekali terlihat ada hasrat yang muncul di dalam sana.


"Tidur, Yang! Ini udah malam." Interupsi Axell yang kini mulai menarik selimut.


Dira mengerjap dengan mulut yang sedikit menganga tak percaya dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut suaminya. Aneh sekali. Malam ini Axell bahkan terlihat lain.

__ADS_1


Ini baru jam 8 lebih beberapa menit. Biasanya Axell selalu mengajaknya melakukan aktivitas suami istri sebelum tidur, seperti sebelum-sebelumnya.


Tapi malam ini, Axell seperti menolaknya.


"Tapi, kak ... Ak -"


"Katanya mau sekolah besok?" Potong Axell yang kini bahkan mulai menyelimuti Dira sampai batas leher.


Dira manyun, "Kak! Ini bahkan baru jam 8 lebih -"


"Tidur awal akan membuatmu bangun dengan segar, Yang!" Potong Axell lagi.


Tak menjawab, Dira malah menatap Axell kesal. Lalu memutar badan dan tidur membelakangi Axell.


Axell menghela nafas mengetahui reaksi istrinya yang jelas terlihat kesal.


Bukan ia tak paham dengan ajakan istrinya tadi. Bukan juga Axell tak ingin melakukannya dengan Dira malam ini. Axell cowok normal dan tentu saja ia ingin. Bahkan ciuman Dira tadi bisa dengan begitu mudah mengundang hasratnya timbul dengan begitu cepat.


Hanya saja, mengingat Dira yang baru saja menjalani kuretase akibat keguguran berhasil membuat Axell untuk menunda melakukan kegiatan penuh cinta itu bersama istrinya malam ini. Axell sempat teringat dengan calon jabang bayinya yang telah hilang. Dan itu yang sebenarnya membuat Axell meneteskan air matanya tadi.


Lagi pula, istrinya itu baru pulang dari rumah sakit kan. Axell hanya ingin kesehatan Dira benar-benar pulih lebih dulu.


Axell mendekat. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Dira. Menenggelamkan wajahnya pada leher Dira dan memeluk istrinya itu dengan begitu posesif.


"Jangan mikir macem-macem, Yang! Aku hanya nggak mau kamu kenapa-kenapa. Ingat, kamu baru pulang dari rumah sakit! Kesehatan kamu itu penting!" Ucap Axell dengan begitu hati-hati saat memberikan pengertian pada Dira.


Hening, Dira bahkan tak menjawab. Padahal Axell yakin bahwa istrinya itu belum tidur.


"Yang ... Kamu udah tidur?" Panggil Axell pelan.


Masih tak ada tanggapan karena sepertinya Dira masih merasa kesal.


Axell kembali menghela nafas, "Nice dream, My wife. Love you." Ucap Axell lirih disusul dengan sebuah ciuman yang Axell berikan pada puncak kepala Dira.


Mendengar penjelasan suaminya dan mendapat ciuman selamat malam seperti ini, siapa yang jadi betah kesel lama-lama?


Nggak jadi marah, Dira langsung berbalik. Ia balas memeluk Axell dengan wajah yang sengaja ia benamkan pada dada bidang suaminya.


"Love you too, Kak."


...***...

__ADS_1


__ADS_2