Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
124. Tatapan aneh.


__ADS_3

Nicholas terdiam menatap kosong langit-langit kamarnya. Laki-laki itu tengah memikirkan dua kata yang entah mengapa terus mengusik pikirannya setelah keluar dari kamar Renata sang adik setengah jam yang lalu.


"Hak paten?" Gumam laki-laki itu mengucapkan dua kata yang terkandung dalam isi pesan balasan yang Axell kirimkan pada adiknya.


"Apa jangan-jangan semua yang Derry bilang waktu itu ...". Nicholas tak lagi melanjutkan kata-katanya. Menit kemudian kepala laki-laki itu menggeleng, seakan menyangkal apa yang ada dipikirannya saat ini. "... mereka bahkan masih sama-sama SMA. Nggak mungkin kalo mereka udah nikah, kan?" Lanjut laki-laki yang seusia dengan sepupu Axell, Rheyhan itu.


Laki-laki yang berwajah mirip dengan Mark Prin, aktor asal negri gajah putih itu menoleh ke arah nakas. Dimana ia meletakkan ponselnya saat sebelum berbaring tadi. Tangannya lalu terulur untuk meraih benda pipih tersebut. Menyalakannya lalu mencari kontak seseorang yang mungkin bisa memberinya jawaban atas apa yang sedang ia pikirkan saat ini


"Halo..."


...***...


Hari demi hari telah Dira dan Axell lalui bersama. Tanpa terasa kini usia pernikahan mereka sudah menginjak 3 bulan lebih. Pernikahan yang dulunya didasari dengan perjodohan itu, nyatanya kini telah benar-benar berhasil menyatukan keduanya .


Seiring berjalannya waktu. Kini Dira dan Axell sudah semakin dekat. Layaknya pasangan suami istri pada umumnya yang saling mencintai dan saling menyayangi satu sama lain.


Dira yang dulunya terkesan kaku dan sulit membuka diri untuk Axell, kini pun telah jauh berubah. Bahkan perubahan pada sikap Dira bisa Axell rasakan dengan begitu ketara.


Sifat Dira perlahan berubah setelah Gadis itu menyadari, kalau Axell sudah berhasil menembus dan masuk ke dalam sanubarinya. Mengisi relung hati yang paling dalam, di mana dulu sempat tersemat nama sang sahabat - Arfan. Bergantikan dengan nama Axello di sana.


Dan juga sikap Axell yang selalu memperlakukannya bak permata dunia yang pernah Tuhan ciptakan, membuat dirinya sadar, betapa besar cinta dan kasih sayang yang Axell tujukan padanya. Mengingat itu semua, seketika hati Dira menjadi lulus sendiri. Walaupun terkadang sifat posesif dan over protektif masih sering Axell tujukan untuknya.


Kalau dulu di awal pernikahan Dira sering mengeluh bahkan ketakutan dengan sifat Axell yang seperti itu, maka sekarang beda lagi ceritanya.


Gadis itu sudah bisa menerima bahkan memaklumi, segala bentuk perlakuan Axell padanya. Dia bisa mengerti apa yang akan Axell lakukan hanyalah untuk menjaganya. Karena Axell tak ingin kehilangan dirinya.


Ceklek.


Dira yang pagi itu baru selesai mandi hanya mengenakan bathrobe dan berjalan mendekat ke arah ranjang. Di mana suaminya yang masih terlelap di sana. Bahkan laki-laki itu belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari tidurnya.


Entah sadar atau tidak, seolah senyum muncul begitu saja di bibirnya. Melihat Axell yang begitu tenang dan damai dalam tidurnya.



Tangan Dira terangkat untuk mengusap pelan rambut Axell, guna membangunkan laki-laki itu.

__ADS_1


"Kak Axell ... bangun!" Panggil Dira lirih. Merasa tak ada pergerakan, Dira kembali mengusap rambut Axell dengan sedikit mengacak pelan rambut suaminya itu.


"Kak Axel bangun ... udah siang!" Panggil Gadis itu sedikit lebih keras. Berharap Axell segera bangun dan mandi untuk bersekolah. Dan berhasil.


Axel seketika mengubah posisinya yang tadi miring menjadi terlentang. Dan menampilkan dada bidang miliknya yang tanpa terbungkus selembar kain.


"Morning baby." Sapa Axell dengan suara serak khas bangun tidur. Tapi bukannya langsung bangun dari posisi berbaringnya, Axell malah kembali menutup matanya. Seakan mata laki-laki itu masih enggan untuk terbuka.


"Iihh... kak! Kok tidur lagi, sih! Kak Ayo bangun!" Protes Dira sambil menggoyang-goyangkan lengan Axell.


"Iya-iya, Yang. Aku bangun. Kenapa mau lagi?" Tanya Axell ambigu.


"Hha..." Mata Dira membulat. Detik kemudian ia tahu apa yang Axell maksudkan dengan kata-kata "mau lagi' itu. "... ihh, nggak ya! Aku udah mandi." Tolak Dira tegas yang kini berjalan menjauhi Axell untuk memakai seragam sekolahnya.


Axell yang melihat Dira berjalan menjauh dari ranjangnya pun seketika bangkit dan meraih tangan Dira agar Gadis itu berbalik ke arahnya. Dan,


Brrukk...


Tubuh Dira langsung berbenturan dengan tubuh tegap Axell. Laki-laki itu langsung melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Dira dan membenamkan wajahnya pada ceruk leher milik istrinya itu. Axel hirup dalam-dalam wangi sabun yang menguar dari tubuh dira.


"Mandi kok nggak ngajak-ngajak sih, Yang! Aku kan jadi mandi sendiri." Ucap Axell manja sengaja memotong apa yang akan Dira katakan. Bahkan laki-laki itu semakin mengeratkan pelukannya, karena merasa Dira yang tak membalas pelukan yang ia berikan


Dira mendengus geli mendengar nada bicara Axell yang terdengar manja di pendengarannya.


"Perasaan dulu mandinya juga sendiri-sendiri." Jawab Gadis itu mencibir sambil menggelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir dengan Axell yang seperti sekarang ini.


Dira menghela nafas pelan. Jangankan bisa sedekat ini. Untuk tidur seranjang saja terkadang Dira memposisikan dirinya sedikit jauh dari Axel. Walaupun keesokan paginya Dira dikejutkan dengan posisi Axell yang tidur sambil memeluknya.


"Kak..." Panggil Dira lirih.


"Hmm... Kenapa, Yang?" Jawab Axell dengan posisi yang masih memeluk Dira. Bahkan laki-laki yang hanya mengenakan celana boxer warna hitam itu belum ada tanda-tanda akan melepaskan pelukannya pada Dira.


Dira tak langsung menjawab. Tangan Dira balas memeluk Axell tak kalah erat.


"Makasih untuk kesabaran Kakak selama ini. Kesabaran dalam menghadapi semua sifat dan perilaku aku yang mungkin kelewat batas sebagai istri kak Axell." Ucap Dira lirih.

__ADS_1


"Iya, Yang. Iya ... I love you too." Jawab Axell yang sama sekali tak nyambung dengan apa yang dikatakan tadi.


"Kak Axell kebiasaan, deh. Aku ngomongnya apa, kak Axell jawabnya apa?" Protes gadis itu.


Axell terkekeh geli. Laki-laki itu lalu mengangkat kepalanya guna menatap wajah sang istri yang begitu dicintainya itu.


"Apapun yang kamu katakan tadi, Yang ... jawabannya tetap sama. I love you Andira."


...***...


"Lo ngerasa nggak sih, Dir ... orang-orang di sini pada ngeliatin Lo?" Bisik Melody pada Dira yang sedang menunggu pesanannya.


"Iya-iya gue ganteng. Nggak usah bisik-bisik kali ngomongnya." Sahut Zaki yang tadi sempat melihat Melody yang sedang membisikkan sesuatu pada Dira.


Kini ketigannya sedang duduk di salah satu meja di kantin mbil menunggu pesanan mereka datang.


Dira menggelengkan kepalanya mendengar apa yang Zaki katakan tadi. "Cowok Lo, Mel." Protes gadis itu.


"Iidih... gue nggak pacaran ya sama nih cowok!" Jawab Melody sambil menunjuk ke arah Zaki yang duduk tepat di depannya.


Zaki tersenyum miring mendengar jawaban Melody. Gadis itu bersikukuh untuk menyembunyikan status keduanya."


"Nggak usah bohong kali, Mel! Gue tau kok. Lo berdua udah jadian kan?" Dira mengangkat jari tangannya dan membentuk angka dua. "... dua minggu yang lalu." Lanjut Gadis itu dan langsung membuat Melody tersedak minumannya sendiri.


"Uhuk... uhukk..."


"Pelan-pelan, Mel." Ucap Dira sambil menepuk-nepuk punggung Melody untuk sedikit meredakan batuk dari sahabatnya itu.


Sementara Zaki nampak menghela nafas pelan. "Lo nggak apa-apa?" Tanya Zaki yang langsung mendapat gelengan kepala dari gadis itu.


Dira mendengus pelan mengingat apa yang Melody katakan tadi. Dan, ya. Dira merasakan banyak pasang mata yang menatapnya sedari tadi. Kembali memastikan, gadis itu lalu melihat sekitar di mana beberapa pasang mata yang masih kedapatan menatap ke arahnya. Lalu beberapa lagi ada yang sengaja membuang muka.


Dira tidaklah mengerti, kenapa mereka menatap dirinya dengan tatapan seperti itu. Sampai pada akhirnya Dira merasakan ada satu tangan kekar yang sedang mengusap rambutnya.


"Nggak pesan makan, Yang?"

__ADS_1


__ADS_2