
Axell melihat Dira berada di taman dengan seseorang yang tak ia suka. Bahkan sekarang bisa dibilang Axell benci dengan seseorang yang tengah mengusap kepala gadis yang berstatuskan istrinya itu.
"Gue udah pernah peringati Lo baik-baik. Tapi Lo bandel juga ternyata." Ucap Axell pelan.
Sebenarnya saat Axell melihat tangan Arfen yang mengelus rambut Dira tadi, Entah mengapa ia merasa sangat kesal. Kedua tangannya pun bahkan terkepal dengan sempurna seperti siap mematahkan tangan Arfen saat itu juga.
Axell tak suka miliknya di sentuh orang lain.
Bahkan Axell sempat maju beberapa langkah tadi, tapi niatnya ia urungkan. Bukan Axell takut dengan Arfen, Axell bukanlah lelaki pengecut. Tapi Axell sedang menunggu apa yang akan dilakukan oleh Dira dan juga Arfen.
Axell terus memperhatikan interaksi di antara keduanya. Mulai dari Arfen yang mengelus rambut Dira, Dira yang menurunkan tangan Arfen, Arfen yang memberikan coklat pada Dira dan diterima dengan baik oleh gadis itu, dan sampai pada perginya Arfen. Semua Axell lihat bahkan tanpa berkedip sekalipun.
Dan saat Arfen sudah menghilang dari pandangannya pun Axell masih belum beranjak dari tempatnya. Laki-laki itu sengaja menunggu Dira menghadap ke arahnya. Dan benar saja. Hanya dalam hitungan menit, Dira berbalik dan...
Deg...
"K-kak Axell..." Ucap Dira gugup.
"Lo ngapain di sini?" Tanya Axell dingin.
"Kak Axell, k-kok bisa di-di si -..." Tanya Dira yang terputus oleh Axell.
"Ngapain?" Tanya Axell masih dengan nada yang sama.
"A-aku..."
Lagi, Axell dengan sengaja kembali memotong ucapan yang akan keluar dari mulut Dira.
Glug...
Susah payah Dira menelan salivanya. Gadis itu merasa seperti sudah tertangkap basah melakukan kesalahan yang sebenarnya tidak sengaja ia lakukan.
"Ngapain, Dira? Gue tanya!" Ucap Axell menuntut jawaban pada Dira.
"Aku lagi nggak ngapa-ngapain, kak. Kebetulan lagi pengen kesini aja?" Jawab Dira yang sebenarnya bisa dibilang bohong dan Axell tahu itu. Tujuan gadis itu sebenarnya datang ke taman kan untuk menghindar dari Nayla dan sialnya berujung bertemu dengan Arfen. Jadi Axell pikir, Dira sengaja menemui Arfen di taman.
"OK, gue balik." Ucap Axell. Laki-laki itu menarik satu sudut bibirnya setelah mengetahui Dira yang memilih untuk berbohong dari pada berkata jujur. Laki-laki itu lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Dira.
Baru saja Axell melangkahkan kakinya, terdengar suara Dira memanggil.
"Kak Axell!" Panggilnya.
Axell berhenti dan menoleh ke samping, menunggu apa yang akan Dira ucapkan.
__ADS_1
"Kak Axell tadi ngapain kesini?" Tanya Dira ingin tahu. Gadis itu ingin memastikan, apakah Axell melihatnya saat tengah bersama dengan Arfen tadi.
Axell lalu berbalik menghadap Dira. Laki-laki itu bahkan kembali menarik satu sudut bibirnya. Dari sudut pandang Axell, nampak sekali gadis di depannya ini tengah ketakutan.
"Gue? Lagi liatin istri gue yang lagi pacaran di sekolah." Jawab Axell sarkastik.
Deg...
Mendengar jawaban menohok yang keluar dari mulut Axell membuat Dira semakin gugup dan ketakutan. Bahkan jantungnya pun berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Buang!" Ucap Axell masih dengan nada yang sama. Dira diam. Ia belum mengerti dengan apa yang Axell maksud. Apanya yang harus di buang?
"Buang, Dira!" Ulang Axell tak mau di bantah. Dira masih diam tak mengerti. Axell yang merasa semakin kesal pun meraih coklat di tangan Dira dan melemparnya begitu saja.
"Lo nggak seharunya nerima barang yang nggak harus Lo terima. Apa lagi dari cowo lain!" Ucap Axell dengan penekanan di setiap kata-katanya.
"Tapi, kak. Kenapa kak Axell ngelarang aku nerima coklat -..." Ucap Dira yang lagi-lagi terpotong oleh Axell.
"Lo lupa status gue disini? Sekarang gue tanya, apa pantes, seorang istri menerima pemberian dari laki-laki lain? Jadi sebagai suami Lo, gue punya hak buat ngelarang Lo. Termasuk nerima pemberian apapun dari sahabat Lo itu." Ucap Axell pada Dira.
Deg...
'Gue tau, kak. Hanya saja, Arfen itu Sahabat gue.' Batin Dira.
'Nggak gitu, kak.'
Dira kembali diam. Entah mengapa lidah Dira tiba-tiba menjadi Kelu. Ia bahkan tak bisa berkata apa-apa.
Awalnya, Dira memang sempat menaruh perasaan pada Arfen, Sahabatnya. Tapi itu sebelum Dira menikah dengan Axell. Kalau sekarang, beda lagi ceritanya. Dira merasa bersalah kalau ia masih menaruh perasaan suka pada Arfen melebihi sahabat. Karena Dira tahu itu tidak di benarkan.
Gadis itu sadar betul dengan statusnya kini yang sudah menjadi istri dan tak sepantasnya seorang istri menaruh hati pada laki-laki lain meskipun ia belum memiliki perasaan pada suaminya.
Axell menghembuskan nafas kasar karena melihat Dira yang hanya diam dari tadi. "Udah bel, mending Lo balik ke kelas." Ucap Axell yang langsung pergi meninggalkan Dira sendirian di sana.
"Sorry, kak." Pada akhirnya, hanya dua kata itu yang mampu Dira ucapkan setelah kepergian Axell.
...***...
Bel sekolah telah berbunyi beberapa menit yang lalu dan seperti biasa, kini Axell tengah duduk di dalam mobil untuk menunggu kedatangan istrinya, Dira.
Tadi sebelum Axell masuk ke dalam mobil, Verrel sempat mendatangi dirinya dan mengajak untuk pergi ke d'Axe Cafe. Awalnya Axell ingin menolak, tapi karena ia yang tak ingin membuat Verrel curiga karena ia yang sering menolak ajakan Verrel, jadilah ia menerima tawaran dari sahabatnya tersebut. Lalu Axell meminta Verrel untuk berangkat ke Kafe terlebih dahulu, karena Axell mengatakan masih ada urusan. Urusan yang dimaksud Axell disini adalah mengantarkan Dira pulang ke apartemen terlebih dahulu. Baru setelahnya ia akan pergi menyusul Verrel ke cafe.
Sembari menunggu kedatangan Dira, kini Axell tengah mengutak-atik ponsel yang ia temukan di taman tadi. Sebuah ponsel yang berlogo sama dengan ponsel miliknya.
__ADS_1
Ya, ponsel milik Dira.
Entah mengapa setelah melihat kejadian antara Arfen dan Dira di taman tadi, ia menjadi begitu penasaran dengan isi dari ponsel gadis itu. Kini Axell tengah membuka room chat antara Dira dan juga Arfen. Axell ingin tahu, apakah Dira dan Arfen sengaja bertemu di taman atau memang Arfen yang sengaja datang untuk menemui Dira seperti yang sudah-sudah.
Namun nihil. Axell bahkan tak menemukan apa-apa. Hanya beberapa pesan yang Arfen kirimkan beberapa hari yang lalu dan Axell sendiri lah yang membuka pesan tersebut. Itu tandanya Dira tidak sedang janjian dengan Arfen, melainkan Arfen sendirilah yang sengaja datang untuk menemui Dira persis dengan apa yang ia duga sebelumnya.
Tak lama kemudian Dira datang dan langsung masuk mobil Axell. Setelah masuk ke dalam mobil, Dira terlihat kebingungan. Sementara Axell langsung mematikan ponsel yang sedari tadi ia pegang dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Laki-laki itu berencana untuk tidak mengembalikan ponsel milik gadis itu sementara ini.
Tanpa sepatah kata, Axell langsung menyalakan mesin mobilnya dan langsung bergegas menuju ke apartemen miliknya.
'Sorry, gue sita ponsel, Lo!'
...***...
Tak butuh waktu lama, kini mobil Axell telah sampai di basseman apartemennya.
"Lo masuk, gue masih ada urusan?" Ucap Axell yang langsung menjalankan mobilnya menuju ke d'Axe Cafe setelah Dira turun dari mobilnya.
Kini Dira telah sampai di kamar Axell. Ia menaruh tas sekolahnya di sofa dan membanting tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi telentang dan kaki yang masih menjuntai ke bawah.
"Gue harus gimana? Apa gue mesti jaga jarak dulu sama Arfen?" Ucap Dira lirih. Dira lalu bangkit dari posisi berbaringnya. Ia memutuskan untuk segera mandi. Tapi baru saja Dira berdiri dari tempat tidur, tiba-tiba saja gadis itu mematung. Tangannya terangkat untuk meremat kain seragam tepat di bagian dadanya. Dada gadis itu tiba-tiba saja terasa sesak, ia bahkan sulit untuk bernafas. Gadis itu meringis menatap tampilan wajahnya di cermin dekat tempat tidur.
"Oh, God. Kenapa bisa kambuh gini, sih?" Keluh Dira pelan.
Asma Dira kambuh.
Mungkin karena Dira yang terlalu berpikir keras tentang hubungannya dengan Axell dan juga Sahabatnya Arfen. Dira lalu mencoba untuk mencari inhaler asma yang biasa ia pakai. Tapi Dira tak juga menemukannya. Gadis itu baru ingat, saat ia mulai tinggal bersama dengan Axell, Dira lupa membawa benda itu.
Dira lalu mencoba menarik nafas lalu menekannya ke dalam dadanya. Tapi sama saja, ia tetap merasakan sesak. Malah semakin berat. Dira lalu berjalan keluar kamar dan memutuskan untuk apartemennya saja, mencari inhaler asma yang biasa ia pakai.
Dira lalu berjalan dengan nafas yang sangat sesak. Sebisa mungkin Dira menekan dadanya sambil berjalan pelan agar rasa sesaknya tak begitu menyiksa dan agar dia bisa segera sampai ke apartemennya.
Saat Dira sudah sampai di apartemennya, ia langsung bergegas mencari inhaler asma di laci meja samping tempat tidur. Tapi sayangnya Dira tidak menemukan benda itu. Lalu Dira membuka laci meja rias dan lagi-lagi tak juga menemukannya.
Dira baru ingat, ia sudah membuang alat itu karena masa pakainya yang sudah terlewat dan Dira lupa untuk memberi yang baru.
"Tuhan... Sakit!" Desah Dira pelan. Tubuh Dira lemas dan jatuh ke lantai. Ia menekan-nekan dadanya yang kian sesak untuk meringankan rasa sakitnya. Namun usahanya sia-sia dan malah semakin sakit.
Dira lalu merogoh ponsel di saku seragamnya namun tak ada. Dira baru ingat kalau ternyata ponselnya itu terjatuh di saat Arfen yang tiba-tiba datang dan membekap mulutnya tadi.
Dengan sisa-sisa tenaganya, Dira mencoba berdiri untuk bisa keluar dari apartemen Axell. Gadis itu memutuskan untuk mencari bantuan. Tapi belum sampai Dira memegang gagang pintu, tubuh Dira sudah semakin terasa berat dan semakin lemas. Pandangan Dira bahkan semakin gelap. Dan...
Brrukk...
__ADS_1